"Belum matang?" Pertanyaan di sertai pelukan dari Mas Dika membuatku bergidik di saat bersamaan, bagaimana tidak, aku sedang menyiapkan sup untuknya agar dia yang sedang demam makan dengan mudah, malah sekarang dia memelukku kembali dengan eratnya, mengusap perutku berulangkali sembari menciumi tengkuk dan juga pipiku seolah-olah dia sedang gemas padaku. Hiiissssh, kelakuannya seperti ini membuat Mas Dika tidak ada bedanya dengan Rafa jika bocah itu sedang masuk angin, dan sekarang Rafa justru anteng di kursinya, memegang sendoknya dengan sabar menunggu makan malam dan berbanding terbalik dengan sikap Ayahnya yang justru seperti bayi. "Gimana mau matang kalau aku mau masak sama koreksi rasanya kamu pelukin kayak gini, Mas." Aku berusaha melepaskan pelukan Mas Dika, tapi yang ada dia

