Air mataku kini tidak hentinya mengalir saat mengenakan seragam yang pernah membuat Diana iri, rasanya begitu sesak nafas yang aku ambil sekarang, bukan pula karena perutku yang mulai membuncit tapi karena rasa sedih yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata. Hanya tangis yang bisa aku keluar, sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak menangis, tetap saja aku di buat sesenggukan tidak berhenti. Bukan hanya aku, tapi hampir setiap wanita yang ada di sini turut menangis sama sepertiku, terisak walaupun kami berusaha tegar menunggu suami kami kembali dari apel yang mereka lakukan. Entah sudah berapa banyak tisu yang aku pakai, entah berapa lama aku menangis, isakan yang meluncur dari bibirku sama sekali tidak berkurang, jika biasanya Rafa akan khawatir melihatku menangis tiada henti, mak

