Hari yang di tunggu-tunggu oleh Asuka telah tiba. Wanita itu sudah sibuk sejak pagi buta. Matahari bahkan masih enggan untuk menunjukkan cakrawalanya, namun Asuka sudah tampak tak sabar untuk melenggang menuju pelaminan impiannya. "Kenapa terlalu tebal...dasar payah! aku membayarmu mahal dan lihatlah hasilnya...kau membuatku seperti badut ketimbang seorang pengantin wanita paling cantik di jagat raya ini." Ketus Asuka merampas kuas dari tangan sang perias, lalu menutupi perona pipinya menggunakan polesan bedak tabur. "Tapi ini sudah paling natural seperti yang anda minta nona," protes sang MUA sedikit kesal. Ia harus merelakan subuhnya di recoki oleh panggilan juga pesan berderet dari Asuka. Padahal sesuai perjanjian, ia akan datang pukul 4 dini hari. Namun baru pukul setengah tiga subuh

