39. TerbukaAjeng mengulas senyum kaku. Sikap duduknya begitu tegang dan tidak nyaman. Di sebelah Ajeng, Naren justru bersikap begitu santai dan malahan menawari Ajeng buku menu. Sementara di depan Ajeng, Dinda masih saja mengulas senyum. Diam-diam Ajeng merasa heran, apa gigi Dinda nggak kering kalau kelamaan senyum? “Kenapa cuma dilihatin aja menunya? Kamu nggak pesen? Aku bayarin khusus hari ini.” Suara berat Naren membuyarkan lamunan. Ajeng menyelipkan rambutnya ke belakang telinga untuk membunuh gugup. Jujur saja, setelah pertemuan terakhirnya dengan Dinda yang tidak berakhir baik, Ajeng agak segan bertemu lagi dengannya. Apalagi ia masih kesal gara-gara perbuatan Dinda di masa lalu. Memang, Ajeng sudah memaafkan Dinda. Tapi tidak untuk melupakan. Kebohongan Dinda sudah membawa malap

