38. Membuang Ego?Ajeng menutup pintu rumahnya agak kasar. Hilang sudah kesempatan untuk meminta Naren agar memperjuangkannya. Kenapa Ajeng masih saja gengsi padahal ia sendiri butuh bantuan Naren? Sebab dalam kamus hidup Ajeng, enggak ada ceritanya cewek mohon-mohon buat dinikahi. Hell No! Terus sekarang apa Jeng? Kamu nikah sama orang asing? Orang yang bahkan enggak pernah kamu lihat wajahnya? Saat melihat Aksa yang baru saja turun dari anak tangga, Ajeng buru-buru menghadang langkah cowok itu. “Mas! Aku mau ngomong!” “Apaan?” Sebelah alis Aksa terangkat tinggi. “Kalo ini soal Ibunda sama kamu, aku udah angkat tangan ya. Jangan paksa lagi.” Bibir Ajeng sontak mengerucut. “Kok gitu sih? Ini masa depan adikmu loh. Kalau nanti yang dijodohin ke aku om-om gendut yang botak dan punya anak

