37. Permintaan Maaf Naren keluar kamar mandi sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk. Tetes-tetes air menjatuhi kaus putih polos yang Naren kenakan, membuat d**a bidang cowok itu tercetak. Naren baru akan menjatuhkan tubuhnya ke kasur saat melihat sebuah amplop di atas meja kerjanya. Naren mengambil amplop itu, membolak-baliknya. Perasaan tadi pas masuk enggak ada deh. Masa tiba-tiba bisa jalan sendiri amplopnya? Dan seolah pikiran Naren terhubung dengan ibunya, Sang Ibu menimpali dari balik pintu. “Tadi Izam dapat surat dari gurunya. Katanya khusus buat kamu. Ibuk taruh di meja kerjamu.” Diam-diam, sudut bibir Naren tertarik membentuk senyuman. Ia mengeraskan suara untuk membalas, “Iya Bu.” Masih dengan senyum yang tak kunjung padam, Naren membuka amplop itu dan mengambil is

