28. Seribu Kota Ajeng menatap jam yang menempel di dinding, mendadak gelisah. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Harusnya ia ke pendopo untuk bertemu dengan Naren. Tapi ia juga merasa gamang untuk ke sana atau tidak. Kira-kira, apa yang akan Naren bicarakan? Bangkit dari duduknya di atas ranjang, Ajeng meraih tas selempangnya dan keluar. Mungkin ini waktunya untuk bicara lebih serius dengan Naren, membicarakan masa depan mereka. Apa tadi, masa depan? Ajeng bahkan tidak pernah berpikir akan menghabiskan sisa hidupnya dengan Naren. Sampai di pendopo, Ajeng mengenali punggung tegap Naren yang membelakanginya. Cowok itu sedang duduk di ujung tangga beton sambil memetik gitar. Sayup-sayup, Ajeng bisa mendengar alunan nada yang halus, sangat familiar di telinga Ajeng. Lagu dari maroo

