Bab 7 :
Jatuh Cinta Padanya (1)
******
JOSH membuka pintu studionya. Cahaya matahari masuk melalui jendela studio yang tertutupi oleh gorden berwarna putih, membuat studio itu cukup terang meskipun lampunya mati. Tadi, saat Alvin dan Kei pamit untuk pulang, Josh telah mematikan seluruh lampu downlight dan menutup pintu studionya. Ia pikir, siang ini ia takkan masuk ke studio lagi karena ingin beristirahat.
Akan tetapi, kata-kata Kei tadi mendadak terngiang-ngiang di telinganya.
Josh melangkah masuk ke studio itu, lalu menutup pintunya kembali. Ia berjalan dengan pelan, melangkahkan kakinya seraya melihat ke sekeliling ruangan. Maksudnya, ke seluruh karyanya. Hingga kemudian, mata Josh sampai kepada sebuah foto, yaitu foto berbingkai yang dipajang di area dinding dekat pintu. Foto yang tadi diulas oleh Kei.
Foto Windy.
Josh pun mendekati foto itu. Ia berjalan seraya menarik sebuah kursi, lalu meletakkan kursi tersebut di depan foto yang dimaksud. Di antara kesunyian studio itu, Josh mulai duduk di kursi yang ia bawa dan memperhatikan foto itu dengan lekat.
Di foto itu, Windy sedang memakai dress yang berwarna putih. Foto itu diambil dari dekat sehingga hanya menampakkan bagian kepala hingga pinggang Windy, tetapi Josh ingat bahwa dress itu memang hanya selutut dan berlengan pendek.
Windy sedang tertawa bahagia di foto itu. Ia melakukan gerakan memutar, membuat dress-nya mengembang dan ikut berputar bersamanya. Rambut hitamnya juga ikut berputar dan sedikit tertiup angin. Di belakangnya ada pemandangan berupa rumput hijau yang luas.
Dia, Windy Alisha, terlihat sungguh indah di foto itu. So soft, so warm, so dreamy…
‘Kok aku ngerasa kalo…dari foto ini perempuan itu keliatan…jauh?’
Tiba-tiba, kata-kata Kei tadi terngiang-ngiang di telinga Josh.
Jauh…?
Benarkah?
Rasanya…seperti ada sebuah jarum yang pelan-pelan menusuk jantung Josh. Perlahan-lahan pula, ada setitik rasa sakit yang muncul…dan akhirnya titik-titik itu menyebar. Rasa sakit itu membuat jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, mengirim satu sinyal yang memelesat langsung ke otaknya.
Apa aku…salah?
Nggak. Nggak. Nggak mungkin.
Tapi…kenapa pas denger kata-kata itu…badanku refleks ngerespons?
Sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Josh tersentak. Ponselnya berbunyi singkat, pertanda ada sebuah notifikasi yang masuk. Ia langsung merogoh saku celana jeans-nya dan mengambil ponsel itu. Ternyata, itu adalah notifikasi dari aplikasi w******p; ada sebuah chat yang baru saja dikirim oleh Alvin. Josh pun langsung membuka chat itu.
Alvin
Josh, nomor lo udah gue kasih ke Kei, ya. Biar lebih gampang aja buat komunikasinya.
BTW, ini nomor Kei. Save aja, Josh.
Attachment: 1 contact
Josh langsung membuka attachment itu. Ada sebuah kontak yang Alvin beri nama ‘Keisha Nathalie’ di sana. Tanpa pikir panjang, Josh pun langsung membuka profil Kei, lalu melihat display picture-nya.
Di foto itu, Kei memakai sebuah crop top tanpa lengan yang berwarna hijau. Ia juga memakai pareo skirt berwarna sama yang dililitkan di pinggang sebelah kirinya. Ia bersandar pada railing dan kedua sikunya pun bertumpu di railing itu. Kepalanya mendongak; ia tampak sangat menikmati udara di sekitarnya.
Apakah foto itu diambil saat Kei sedang berkunjung ke pantai? Hm… Ke Bali, misalnya?
Kei cantik sekali. Kulit wajah dan tubuhnya sangat sehat, mulus, glowing, dan eksotis. Di foto itu, Kei sepertinya tidak memakai makeup. Rambutnya juga hanya dijedai. Omong-omong, karena memakai pareo skirt, kaki jenjangnya itu jadi terlihat hingga ke paha, apalagi dia juga berpose dengan sedikit memajukan kakinya.
Bagaimanapun juga, Kei sangat cantik. Sesuai ekspektasi, dia memang merupakan seorang model.
Josh tersenyum. Pria itu akhirnya menghela napas. Pikiran tentang Windy—yang tadi sempat mengganggunya itu—tiba-tiba hilang; dia bersyukur Alvin memberikannya sebuah distraksi di saat yang tepat karena jika tidak begitu, mungkin kepalanya akan sakit minta ampun. Dia sangat mencintai Windy, jadi pikiran-pikiran seperti itu tentu akan sangat menghancurkan hatinya.
Udah, nggak apa-apa. Nggak usah mikir terlalu jauh.
Selama ini juga baik-baik aja kok.
Josh mulai menyimpan nomor Kei di ponselnya. Pria itu memberi nama kontak yang simpel berupa ‘Kei’, lalu membuka kembali chat dari Alvin.
Josh Andriano
Ok, bro. Thanks, ya
Alvin
Okee
Josh pun kembali memandangi foto Windy yang ada di hadapannya. Melihat foto itu dengan lekat begini…membuat pikirannya jadi melayang ke masa lalu. Ke masa-masa…di mana ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Windy. Masa-masa yang sangat indah, masa-masa remaja yang melambungkan kisah cinta di sekolah…meskipun sebenarnya Windy tidak tahu dengan perasaannya saat itu. Namun, tetap saja, hati Josh berbunga-bunga saat memikirkan masa-masa itu kembali. Jantungnya berdebar-debar.
Masa di mana semua kisah cintanya dimulai.
Masa SMA.
******
KOTA JAKARTA
BEBERAPA TAHUN YANG LALU
“Josh! Lo denger nggak?!” teriak Alvin, cowok itu memukul bahu Josh yang sejak tadi tak kunjung mendengar ucapannya. Josh sibuk memandang ke depan, matanya nyaris tak berkedip, tak tahu sedang memandangi apa. Hal itu membuat Alvin jadi keki setengah mati. s**l, rasanya Alvin sudah berbicara panjang lebar sejak tadi, membicarakan Rafael yang sibuk meneleponnya tadi malam karena ingin menyalin tugas Bahasa Indonesia. Well, kalau PR mereka saat itu adalah menyelesaikan soal-soal di buku, sih, tidak apa-apa. Ini mereka disuruh membuat puisi, bro! Puisi yang Alvin buat hanyalah puisi cinta murahan yang dia copy dari Google, tetapi dia ganti judulnya jadi ‘Ibu’ supaya tidak malu. Makanya, Rafael itu mau nyalin apa coba?
Namun, percuma saja. Bukannya mendengarkan keluhannya, Josh malah terus menatap ke depan. Akhirnya, karena kekesalannya mulai menjadi-jadi, dia pun memukul bahu Josh dengan kencang. Josh tersentak; dia kaget bukan main.
Josh lantas menoleh kepada Alvin; mata cowok itu kontan melebar. “Apaan, sih, Vin?!”
“Dari tadi gue udah ngomong sama lo, woy,” jawab Alvin dengan ekspresi datar. “Lo ngeliatin apa, sih?”
Josh mendengkus. Cowok itu lalu menunjuk ke depan sana (ke arah murid-murid yang duduk di depan, tetapi berbeda barisan dengan mereka) dengan dagunya.
“Itu,” jawab Josh. Cowok itu mulai senyum-senyum sendiri. Alvin kontan mengernyitkan dahi.
“Siapa? Yang mana?” tanya Alvin. Cowok itu memanjangkan leher dan memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan hanya untuk melihat apa yang Josh tunjukkan barusan. “Banyak orang di sana, Bro. Nggak cuma satu.”
Josh tertawa kecil. “Itu. Si Windy.”
Alvin pun memperhatikan Windy yang duduk di kursi paling depan bersama teman sebangkunya. Windy dan teman sebangkunya itu terlihat sedang bercanda sambil tertawa; mereka sepertinya tengah membicarakan sesuatu yang sangat menarik.
Bagi Josh, pemandangan itu indah sekali. Windy tertawa riang seperti itu…di bawah sinar mentari yang menyinarinya pagi ini. Sinar mentari yang masuk melalui jendela kelas seolah-olah berkumpul hanya untuk menerangi sosoknya, membuatnya terlihat begitu indah. Seperti bidadari yang sedang tertawa. Rambut hitamnya yang digerai, wajah cantiknya…
Semuanya sempurna.
Namun, berbeda dengan Josh, tatkala Alvin melihat sosok Windy di depan sana, Alvin spontan memutar bola matanya. Cowok itu berdecak. “Windy lagi…Windy lagi. Sampe bosen gue dengernya. Terserah lo dah.”
Kini, gantian Josh yang berdecak. Cowok itu langsung menoleh kepada Alvin dan berkata, “Vin, Windy itu baik, lho. Kok lo kayak nggak suka banget, sih, sama dia? Heran gue.”
Malas menjawab (karena tak ingin bertengkar dengan Josh), Alvin pun akhirnya mengalihkan pandangannya dan mengedikkan bahu. Dia mulai mengeluarkan buku cetaknya karena sebentar lagi bel akan berbunyi. “Entahlah. Males aja gue.”
Akhirnya, Josh pun mendengkus. Dia memilih untuk kembali memandangi Windy; dia terjebak pada kecantikan Windy lagi, lalu tersenyum lembut.
Namun, beberapa detik kemudian, seisi kelas itu tiba-tiba dikejutkan oleh satu teriakan kasar. Ada suara mengerikan seorang laki-laki yang agaknya berteriak di depan kelas mereka.
“WOY, KELUAR LO SEKARANG!!!”
Seisi kelas itu—termasuk Josh dan Alvin—spontan menoleh ke asal suara. Ternyata, suara itu berasal dari ambang pintu kelas mereka. Di ambang pintu itu, berdiri beberapa kakak kelas laki-laki yang berbadan tinggi dan besar. Ekspresi wajah mereka tampak bengis dan mata mereka nyalang; mereka terlihat murka. Sepertinya, mereka sudah siap untuk menyiksa habis seseorang yang sedang mereka cari di kelas itu.
Namun, anehnya…
…tatapan mata mereka semua tertuju kepada Josh. []