Raisa mulai menimbang-nimbang siapa yang membelikan dia makanan begitu banyak. Inisial BW bisa siapa saja, dan rasanya akan sedikit menyebalkan jika bertanya pada Bima. Bisa saja Bima akan menganggap semua ini hanyalah bualan Raisa yang ingin berbaikan duluan dengan Bima. Setelah menghabiskan satu mangkok mie pedas buatan Bi Minah dan minum s**u hangat, Raisa menghubungi sang ayah yang masih berada di rumah sakit.
Tapi pemandangan Bi Minah yang sedang menyantap ayam panggang membuat Raisa melongo. “Enak, Bi?” tanya Raisa sambil mengaktifkan videonya untuk merekam aksi Bi Minah.
“Enak banget, Non. Sering-sering kirim aja kaya gini. Jangan lupa bilangin sama penggemar Non Cantik.”
“Ga takut, Bi? Kalo makanan itu ada racunnya gimana?”
Sontak saja Bi Minah berhenti mengunyah dan meletakan paha ayam yang besar itu ke atas piring lagi dan menatap horor ke arah Raisa. “Jangan nakutin saya, Non. Kalo saya mati, Non mau beresin ayam dan kambing di belakang?”
“Engga. paling saya kasih Pak Sunu. Biar dibawa ke kampung sekalian!” jawan raisa enteng.
Mendengar kata Pak Sunu, Bi Minah langsung melesat ke luar menuju pos istirahat supir pribadi keluarga Anggara. “Pak Sunu, sini!” panggil Bi Mina dengan suara super TOA.
“Ada apa Bi? Nona mau pergi?” tanya Pak Sunu.
“Engga. Saya ada makanan. Kata Non Rai beracun, nah sekarang coba Pa Sunu coba!”
Pa Sunu hanya melongo mendengar ucapan Bi Miana,”kalo saya mati, anak-anak saya gimana?”
“Tenang aja, saya temenin. Saya juga udah makan ini, kok!”
Dengan berat hati Pak Sunu memakan satu paha ayam panggang besar yang tadi disinyalir beracun. Bi Minah cukup sabar menantikan perubahan Pak Sunu. “Ga ada tanda-tanda kejang atau menggelepar. Seharusnya aman ka, ya?”
“Enak loh ini. Ada lagi ga,Bi?” kata Pak Sunu dengan mulut yang penuh.
“Kan bener ya? Ga ada racunnya, kan?” tanya Bi Minah lagi memastikan wajah Pak Sunu sampai di senter dan memakai kaca pembesar selayaknya detektif conan.
“Saya masing ngunyah ini. Enak!”
Setelah beberapa waktu dan tak terjadi perubahan pada Pak Sunu, Bi Minah masuk kembali dan melihat Raisa sedang santai nonton televisi dengan sekotak popcorn di tangan. “Non, ga beracun kok! Saya habisin ya?” ujar Bi Minah meminta izin.
“Jangan. Kasih ke Pak Sunu aja. Nanti kalo bibi obesitas gimana? Aku ga mau jebol pintu rumah aku lagi untuk kedua kalinya.”
Bi Minah langsung misuh-misuh mendekat ke arah Nona besarnya ini sambil membisikan sesuatu. “Saya dengar oma sudah sadar dan minta nona menikah secepatnya. satu kali dua puluh empat jam!”
“WHATTTT???” Raisa sampai menumpahkan popcorn saking kagetnya. Pernyataan Bi Minah bisanya selalu benar, apa yang terjadi sebenarnya selama dia berada di rumah Bima? Raisa merasa kecolongan info.
Tak lama kemudian terdengar ponsel Raisa berbunyi. Tampak di layarnya nama sang ayah, “Rai. Kamu dari mana saja? Dari tadi ayah telepon tidak aktif.” Raisa lupa jika sejak tadi dia menonaktifkan ponselnya karena masih kesal dengan ulah Bima.
“Iya yah? Gimana keadaan oma?”
“Oma sudah sadar. Oma minta kita melangsungkan pernikahan kamu dengan calon yang sudah dipilihkan oma. Dan papa menyetujuinya.”
Jeder …! Bagai guntur di tengah hari bolong. Perkataan ayahnya yang tidak masuk akal membuat pandangan Raisa mendadak berkunang. Padahal dia sudah setengah mati menolak untuk perjodohan yang selalu oma paksakan. Dengan dalih penerus generasi, Raisa harus menanggung isu sebagai penampung benih. Semuanya demi kelangsungan sebuah generasi bisnis yang sudah mengakar ini.
“Yah. Kenapa isu ini mencuat di tengah kesadaran oma? Rai rasa ini terlalu berlebih.”
“Ini permintaan oma kamu. Ayah ga bisa nolak. Permintaan oma membuat ayah takut, Rai!”
Pesan sebelum hari akhir. Rai merasa itulah yang sekarang sedang terjadi. Jika sudah seperti ini, tidak bisa tidak, dia harus mengikuti kemauan oma dan ayahnya.
“Namanya Bayu Waji. Persiapkan diri kamu, Rai!”
Jadi BW itu Bayu Waji dan bukan Bima Wiranata.
“Ayah ga bisa kaya gini dong … Raisa ga bisa mendadak begini!”
“Hanya ini jalan untuk kesembuhan oma.”
Raisa langsung terdiam dan mendadak degup jantungnya berdetak lebih cepat. Bagaimana bisa dalam semalam semua usahanya dalam merebut hati Bima menjadi hancur begitu saja?
“Terserah ayah saja.” Hanya itu yang bisa Raisa katakan saat ini. Dia harus berpikir cepat dan tepat untuk semuanya.
“Sejak kapan Bi Minah tau berita ini?” tanya Raisa setelah ayahnya menutup sambungan.
“Tadi sore … pas Non Raisa ga ada di rumah karena mau ke siapa gitu?” jawab Bi Minah sambil ngemil popcorn yang berjatuhan di karpet. “Terus kenapa ga bilang pas aku pulang?”
“Bukannya non sempet tidur?”
Raisa jadi merasa bersalah karena sudah menumpahkan kekesalannya pada Bibi yang sudah melebar sejak zaman purbakala itu. “Ya udah deh!”
“Emangnya kenapa toh, Non? Apa Non ada pacar?” tanya Bi Minah seakan tahu kegalauan Raisa.
“Ada yang aku suka dan dia memang belum suka. baru sinyal uah positif. “ JAwab Raisa sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. betapa sulit baginya untuk menerima semua perjodohan ini, karena Bima tentunya. Jika saja dia bisa lebih cepat menemukan dan memastikan hati Bima untuknya, Rasanya kejadian ini tidak akan terjadi.
“Oma dan Pak Anggara udah kasih waktu, Non. Arogan rasanya jika kita masih ngeyel? Toh ga mungkin sama lelaki b***t, toh?”
Benar juga kata Bi Minah. Bagaimanapun oma dan ayah pasti sudah memikirkan jauh sebelum memutuskan hal ini. Mungkin sudah waktunya Raisa menuruti kemauan oma dan ayah.
“Saya harus ke kamar, Bi.”
Sesampai di kamar, Raisa langsung merebahkan tubuhnya dan mengingat kembali janjinya pada sang ayah dan juga oma. Beberapa tahun sebelumnya, Raisa pernah dijodohkan dan berhasil dia tolak beserta ancaman keluar dari rumah. Namun, sekarang tampak berbeda. Bagaimana bisa dia mengabaikan perjodohan yang sudah kesekian kali ini, ditambah dengan kondisi kesehatan oma yang rawan.
Rasanya seperti sinetron yang menjadi nyata saat Raisa mengalami sendiri. Mungkin karena di dalam hatinya masih jelas nama Bima Wiranata yang bersemayam. Jika boleh egois? Tapi tidak mungkin lagi.
Bisakah dia meminta Bima? Sebagai pangeran untuk menyelamatkannya di tengah ketidakberdayaannya dalam menyanggupi permintaan orang tua? Bukankah Bima menciumnya? Setidaknya dia bisa berharap pada rasa itu, bukan? Ya Tuhan, Rai benar-benar putus asa karena masalah ini. Apa yang harus dilakukannya? Buntu semua. tidak ada jalan untuk selamat dari upaya perjodohan ini.
Tring …
“Kamu sudah tidur, Rai?”
Bima? Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat Raisa memikirkan Bima dan lelaki itu mengirimkan pesan. Aneh sekali dia menyempatkan untuk chat. Rasanya janggal karena selama ini Bima tidak pernah sekalipun mau berinteraksi jika bukan langsung.
“Belum. Aku memikirkan kamu.”
“Kenapa? Butuh bantuan untuk tesis?”
Ahh … Bima, seharusnya basa basi seperti itu tidak ada lagi sekarang. Tapi baiklah, Raisa rasa ini kesempatan untuk mendekatkan diri pada Bima dan bicara jujur tentang masalahnya.
“Tidak. Aku ada masalah. Terkait oma.”
“Oma? Bukankah sudah lebih stabil?”
Raisa menarik napas panjang. Rasanya begitu berat untuk berkata, tapi dia benar-benar harus cerita.
“Aku dijodohkan!”