Tidak ada jawaban dari Bima, semuanya begitu baur dan Raisa merasa terlalu cepat untuk mengatakan masalahnya pada Bima. Raisa tidak mau bikin masalah baru dengannya dan berencana untuk diam terlebih dahulu sampai ada kejelasan dari oma atau ayahnya tentang perjodohan ini.
“Bercanda. Aku cuma bercanda. Om, lagi apa?” tanya Raisa mengalihkan percakapan. Semoga Bima tidak mengejarnya dengan pertanyaan sebelumnya. Rasanya dia belum siap untuk cerita pada Bima, dan malah berharap seakan tidak mendapat berita ini dari sang ayah.
“Saya ga tau. Saya cuma merasa harus bicara sama kamu karena masalah tadi siang. Kamu masih marah?”
Raisa tersenyum sambil memeluk gulingnya. Tidak percaya jika Bima bisa selembut dan semanis ini. Memang bukan pertama kali, karena ciuman itu juga sudah mengindikasikan bahwa Bima mulai menyimpan rasa padanya.
“Aku ga marah. Memang ada hubungan apa om sama cewe tadi? Mesra banget keliatannya!” sindir Raisa yang masih ingin bermain-main dengan Bima. Kapan lagi bisa bermarah-marah dan sedikit cemburu pada seseorang yang bukan siapa pun bagi kita?
“Mana ada mesra. Dia itu hanya temen sejak kecil. Jadi waktu rumahku bukan di sini, kami tetangga. Dia itu masih kecil.” Suara pembelaan terdengar sumbang di telinga Raisa. Tapi apa mau dikata? Raisa lebih senang mendengar suara Bima dari pada kisahnya dengan Sovia.
“Ya dulu masih kecil, kalo sekarang tubuh seksi gitu mana ada kecilnya sih, Om?” timpal Raisa ala-ala demonstran yang sedang orasi ‘kecemburuan sosial’.
Bima langsung meneguk ludah kasar saat mendengar kata seksi, karena yang ada di bayangannya tentu Raisa dan aksi mereka di kelas kemarin. Membuat keringat dingin tiba-tiba hadir di ruangan yang sejuk ini. “Seksian kamu juga!” tutur Bima pelan.
Raisa tidak salah mendengar, bukan? Apa manusia kulkas ini baru saja menyebutnya seksi? “Percuma seksi juga kalo om-om kesayangan aku tuh nolak terus.” Kata Raisa dengan celotehan ala ‘barbie’.
“Ga usah sok imut. kamu ga pantes!”
“Pantesnya?” tanya Raisa balik dengan serangan ‘bucin’ yang menggelora. “Aku tuh pantesnya jadi istrinya om. Kalo ga, aku bisa diambil orang loh!” Mendadak Raisa ingat masalah pelik yang tengah dihadapinya.
“Emang kamu ikan asin? Bisa diambil gitu aja? Ngomong-ngomong. Makanan kamu enak, Rai. Nanti kirimin lagi, ya?”
“Ga gratis.”
“Bayarannya apa?”
“KAWININ AKU OM!”
Mendadak sunyi setelah teriakan Raisa yang cukup membuat Bima sepertinya kaku. Wanita cantik ini minta nikah kayak yang minta gorengan. Membuat Bima sedikit oleng mendengar rengekan Raisa yang menggedor sisi kelelakiannya. Bayangan Raisa dengan dress warna putih yang sedang berjalan di altar sukses menggiring Bima untuk meluluskan keinginan wanita itu. Tapi tidak! Dia tidak bisa bersama Raisa. Akan menjadi bencana saat Raisa tahu siapa dia dan keluarganya yang sebenarnya.
“Om … jangan pingsan dulu! Kita belum lamaran, loh?”
“Kamu jangan bercanda.”
Raisa menarik napas berat. Bima tidak tahu bahwa itulah yang dia inginkan sebenarnya. Dia tidak mau dengan lelaki lain, dia hanya mau dengan Bima seorang. “Aku ga bercanda, Om!”
Cukup lama Bima menjawab dan Raisa tahu lelaki yang dicintainya itu tidak akan memberikan jawaban yang serius atas permintaannya itu.
“Saya mau tidur. Tesis kamu bab 3 diperbaiki!”
“Hemmm …”
“Besok saya di rumah sakit.”
“Hemmm…”
“Kamu bisa kirim makanan jam 7 malem. Kalo ga keberatan!”
“Hemmm…”
“Raisa! Ham hem aja. Kamu kesambet?”
“Hemmm…”
“Ya sudah hem … malem, hem!”
***
Keesokan harinya, Raisa pagi sekali pergi dengan Pak Sunu yang mengantar. Karena entah kenapa, Raisa merasa malas sekali mengendarai mobil. Dia tidak semangat melakukan apa pun karena masalah perjodohan ini membuatnya pusing setengah hidup.
“Ko diem aje, Non? Udah sarapan?” tanya Pak Sunu yang sudah menjadi supir keluarga Raisa sejak Raisa masih ada di kandungan Ibu Alicia.
“Udah,” jawaban Rai singkat sambil ‘manyun’.
“Tumben diem aja? Biasanya maen mahyong!” Ujar Pak Sunu asal. Mereka memang suka bermain mahjong dengan Raisa itu saat santai.
“Ga lucu. Aku lagi pusing tau ga, Pak!”
“Pusingnya dibagi ajah. Pak Su siap menampung!”
“Bapak tau siapa orang yang mau dijodohkan sama aku?” tanya Raisa pada akhirnya. Dia tidak suka main rahasia dengan siapa pun. Terutama orang-orang yang ada di sekelilingnya.
“Engga tuh. Siapa memangnya?”
“Namanya Bayu Waji. Orang kaya dari mana lagi?” tanya Raisa skeptis. Rasanya sudah lelah dengan anak orang kaya yang mau dijodohkan sang ayah dan oma.
“Ya sudah dilihat saja dulu orangnya. Pilihan orang tua tuh biasanya cocok, Non.” Kata Pak Sunu dengan bijak. Tapi, Raisa tidak mau menjadi dewasa saat ini. Dia mau menjadi egois meskipun hal itu sulit karena perjodohan ini mengiringi perjalanan kesehatan oma.
“Males sebenernya. Tapi mau gimana lagi? Nasih seorang putri yang ga kawin-kawin di umur yang udah mau 30!” Raisa dan repetannya pun menggelegar di mobil Pak Sunu. Bukan sekali ini saja Raisa begini. Bahkan sering sekali dan Pak Sunu lah yang menjadi tong sampah Raisa ketika semua ini kembali terulang.
“Kali ini alasannya apa?”
“Aku punya yang aku suka.”
“Loh! Berarti bagus, dong? Tinggal bawa ke oma sama Ayah?” saran Pak Sunu yang seringan kapas.
“Ya pengennya gitu. Tapi ini cowoknya belum suka sama aku. Terus mau gimana?” jawab Raisa yang sudah pasrah akan nasib dirinya.
“Pernah nonton pilem bioskop yang 30 hari mencari cinta?”
“Pilem lama banget ituh… tapi apa hubungannya?” tanya Raisa penasaran.
“Kasi waktu sama kekasih Non itu. Tiga puluh hari untuk mencintai Non. Kalo memang tidak cinta-cinta … Ya berarti bukan jodohnya!” Saran Pak Sunu yang membuat satu ide muncul di benak Raisa.
“Bapak … tumben bener hari ini. Ide yang bagus!”
***
Sesampainya di ruangan perawatan oma, Raisa mendengar sang ayah sedang bicara serius dengan omanya.
"Kita ga bisa maksa Rai, Ma!"
"Kamu tuh lemah sama anak sendiri. Kamu mau dia jadi perawan tua? Oma sudah mau mati begini Anggara, kamu tega biarin mama mati penasaran karena Rai belum. Nikah?"
"Anggara juga mau, mah. Tapi kan yang lakuin itu Rai. Kalo dia ga bahagia gimana? "
"Kamu dan Alicia saja bahagia. Mama dan papi kamu juga bahagia. Cinta bisa tumbuh karena bersama."
"Iya sih. Anggara juga butuh penerus perusahaan ini. Menantu yang bisa membantu Anggara."
"Pokoknya kamu sandingkan dengan BW. Mau ga mau dia harus nurut sama orang tua. Atau dia mau oma sama papanya mati apa?"
Mendengar semua percakapan itu dari balik dinding membuat d**a Raisa semakin sesak dan sakit.
"Menikah? Siapa yang akan menikah?"
Suara yang sangat Raisa kenal tiba-tiba terdengar.
"Pokoknya kamu sandingkan dengan BW. Mau ga mau dia harus nurut sama orang tua. Atau dia mau oma sama papanya mati apa?"
Mendengar semua percakapan itu dari balik dinding membuat d**a Raisa semakin sesak dan sakit. Ternyata mereka berdua sangat menderita akibat dirinya yang sangat keras kepala. Raisa merasa sedih dan menyesal sudah membuat hati oma dan ayahnya menderita seperti ini.
Perlahan Raisa muncul dengan wajah yang dibuat ceria mungkin. Dia ingin mengibarkan bendera putih tanda perdamaian. Setelah ini dia janji tidak akan egois lagi jika menyangkut kepentingan keluarga.
"Oma … Rai bawa apa coba nih?" Sapa Raisa sambil membawa bungkusan kwetiau goreng kesukaan sang oma.
"Rai… kapan kamu datang?" Tanya oma dengan suara yang masih lemah.
"Baru aja. Maaf lama ya, Oma!"
"Yang penting kamu datang. Ada yang ingin oma bicarakan. Ayahmu juga… " Oma melihat Rai dengan seksama. Dan dia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini bagaimana akhirnya.
"Iya. Gimana oma? Ayah?" Raisa merasa di sidang. Bahkan sidang ini jauh lebih horor dari sidang skripsinya dulu.
"Kita mau menjodohkan kamu. Jangan menolak dulu. Dia anak yang baik dan bertanggung jawab. Jadi setidaknya cobalah untuk saling mengenal lebih dulu! "
"Baik oma." Jawab Raisa tanpa membantah. Membuat oma dan Anggara malah bingung dengan sikap Raisa.
"Ga nolak?"
"Engga oma. Rai terserah oma sama ayah aja."
Oma dan ayah Anggara saling tatap dan akhirnya tersenyum bahagia mendengar keputusan Raisa. Sontak, jawaban Raisa membuat keduanya menari. Oma yang masih terbaring menggunakan tangannya untuk menari. Oma dan ayah berceloteh bersama lalu berangan-angan memiliki cucu banyak yang akan menghiasi rumah besar mereka.
Sampai kedatangan Bima pun tak mereka sadari. Saat Bima bicara barulah ayah dan oma langsung diam.
"Oma sudah sehat ini. Mau pulang ya oma?" Ledek Bima sambil memeriksa indra vital Oma.
"Gimana ga seneng. Raisa-cucu oma setuju untuk menikah!" Kata Oma dengan wajah sumringah. Siapa pun yang melihatnya tidak akan sampai hati untuk mengecewakan wanita dengan rambut putih di seluruh kepala itu.
Tapi tidak dengan Bima. Ucapan oma membuat warna mukanya berubah mendadak. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dalam hati Bima, yang pasti dia berhenti memeriksa oma akibat terkejut dengan pernyataan nenek tua itu.
"Menikah oma? Se– sela–"
"Bima ini dosen pembimbing tesis Rai, Oma. Jadi pasti kaget!" Potong Raisa untuk menutupi kegugupan Bima.
"Oh dokter ini berarti dokter Bima yang waktu itu diceritakan Nandi?" Ucap Oma.
Mendengar kata Nandi disebut membuat Bima langsung menatap ke arah Raisa. Sedangkan Anggara malah tertawa dalam diam. Andaikan Raisa tahu ini semua untuk mengerjai anaknya itu.
"Nandi masih sepupu Raisa, Dok! Neneknya Nandi adiknya Oma. Bisa nikah sih sebenarnya sama Nandi, dia juga kejar-kejar Raisa dari dulu." Raisa langsung menepuk jidatnya karena Oma tanpa lampu merah menyebutkan semua kisah keluarganya yang belum pernah sekalipun dia ceritakan pada Bima.
"Terus gimana, Oma?" Tanya Bima lagi menimpali, berharap semua cerita keluar dari mulut kecil Oma.
"Ga papa, Dok. Saya malu jadinya. Silakan dilanjutkan periksa, Dok!" Potong Raisa yang tidak ingin memperpanjang adegan menguak rahasia ini.
"Nanti datang ya ke nikahannya Raisa!" Pinta Oma dengan sungguh-sungguh. Membuat hati Raisa mencelos karena melihat wajah Bima sudah memerah sempurna.
"Yang penting oma sembuh dulu ya!"
"Oma jadi semangat sembuh kalo Raisa nikah. Untungnya Raisa setuju! "
Jeder… !
Kata-kata Oma membuat Bima langsung memicingkan mata elangnya pada Raisa. Tidak salah lagi, Bima sudah kehilangan konsentrasi nya akibat perkataan oma. Sedangkan Raisa hanya bisa menunduk karena takut melihat tatapan tajam Bima.
"Dokter udah nikah belum? "
"Hemm… belum oma! "
"Nah. Cucu oma cantik kan? " Tanya oma santai.
"Cantik oma."
"Ga salah berarti. Calonnya Raisa pasti suka juga kalo dokter yang ganteng ini aja bilang Raisa cantik."
Raisa langsung mendekati omanya agar berhenti mengoceh, karena Raisa sudah merasakan akan ada perang dunia antara dirinya dan Bima setelah ini.
Anggara pun langsung menengahi sang ibu agar tidak terlalu antusias dengan rencana pernikahan Raisa.
Setelah pemeriksaan selesai, Bima langsung minta izin untuk keluar dan meminta oma untuk beristirahat yang banyak agar kondisi stabil ini bisa dipertahankan sampai kepulangan oma nanti.
Raisa yang sudah kalap, tidak tahu lagi harus bicara apa dengan Bima. Saat ini yang ada di pikiran Raisa hanya menjelaskan duduk perkaranya agar Bima bisa memahami posisinya.
"Langsung kabur kan dia!" Batin Bima saat melihat tidak ada Raisa di luar kamar.
Bima langsung menuju ke kantornya lagi dengan perasaan yang berkecamuk. Dia tidak menyangka apa yang dikatakan Raisa malam kemarin adalah kebenaran. Sebelumnya Bima kira semua itu candaan biasa untuk menggodanya.
Bima langsung melepas jas nya dan melempar begitu saja saat masuk ke dalam kantor. Tanpa melihat ada Raisa yang sudah menunggu disitu.
Raisa langsung berdiri dan mengunci pintu ruangan Bima lalu mendekati pria gagah itu dengan berani.
Raisa langsung memeluk Bima dari belakang, berusaha meminta maaf. "Maaf om. Aku bingung mau bilang gimana sama om."
Bima tetap diam dan malah melepaskan genggaman Raisa di pinggangnya. "Kamu dan wanita lain memang sama saja! "
"Sama gimana? "
"Sudahlah! Lebih baik kamu urus pernikahan kamu itu. Kita juga ga ada hubungan apa pun! "
"Jangan ngomong apa pun lagi. Nanti kamu menyesal." Kata Raisa yang langsung membungkam Bima dengan satu ciuman yang cukup keras dan terburu.
Raisa menarik dagu Bima untuk memperdalam ciumannya meski Bima tidak membalas sedikit pun. Tidak perlu berpikir banyak untuk membuat Bima paham maksud dan tujuannya. Raisa melepas ciuman itu setelah dia merasakan Bima cukup tenang untuk bicara.
Tapi bukannya bicara, Bima malah menarik pinggang kecil Raisa lalu balas mencium Raisa dengan kasar dan dalam. Perasaan menggebu yang dirasakan Bima sejalan dengan perasaan wanita yang sedang dalam dominasinya tersebut. Pelan tapi pasti Bima menancapkan eksistensinya sebagai lelaki yang pantas untuk Raisa.
Tidak takut, Raisa yang terpojok malah senang karena itu tandanya Bima memang gelisah akan pernyataan oma tadi. Itu tandanya dia suka kan?
"Bi - bi… lepasin!" Ujar Raisa yang sudah kehabisan napas. Bima melepaskan dan menatap Raisa beberapa detik sebelum kembali meraup bibir manis itu untuk dia rasakan.
"Kamu selalu bikin dunia saya jungkir balik." Ujar Bima di sela ciumannya yang b*******h.
"Aku kasih waktu 30 hari untuk mencintai aku dan keluargaku." Ujar Raisa sambil menahan rahang Bima seakan mengatakan kalau dia sangat serius untuk hal yang satu ini.
"Kalau tidak?"