Permulaan
Kebencian yang sedemikian rupa. Dendam yang sudah mendarah daging. Hati yang berubah sekeras batu. Tidak berperasaan hanya tau cara menghancurkan.
~Felix Sender~
Akan aku hancurkan apapun yang menghalangi ku, hingga tak tersisa.
Sebuah gedung tinggi nan mewah berdiri kokoh di tengah kota Jakarta, siapapun ingin masuk dan bekerja di tempat itu. Akan menjadi prestasi yang sangat baik dan membanggakan jika seseorang bisa masuk dan bekerja disana.
Perusahan yang hampir menguasai seluruh bidang perekonomian di kancah nasional dan internasional selama 8 tahun belakangan, semua perusahaan berpusat dan bergantung hanya pada satu perusahaan yaitu perusahaan MBS.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, hiruk pikuk kota Jakarta selalu tampak ramai, seorang pria berdiri menghadap jendela yang tepat mengarah pada jalan, mata coklat pekat dengan bulu mata hitam yang cukup lebat sedang menatap gemerlap lampu yang menghiasi pemandangan kota Jakarta dari atas dan kejauhan.
Kota Jakarta terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan pria yang kini masih menatap jalan dengan pandangan lurus, sorot mata yang tajam mengartikan segala hal. Ia berdiri di dalam ruang gelap tepat di lantai Sembilan.
Dan tempatnya berdiri saat ini adalah ruang CEO utama perusahaan MBS, papan Nama Felix Sender terpampang jelas di atas meja kerja. Ia masih berdiri di sana dengan satu tangan yang dimasukkan kedalam saku celana dan satu tangannya memegang gelas berisi anggur termahal.
Tok… Tok… Tok…
Suara ketukan pintu nyaring terdengar, pria itu mengangkat sudut bibirnya setelah mendengar suara ketukan pintu. Ia langsung membalik tubuhnya dan berjalan mendekat pada kursi besar miliknya, ia meletakkan gelas anggur di atas meja.
Dan mendudukkan diri di atas kursi besar miliknya, bahu yang begitu kekar dan cukup lebar, postur tubuh yang begitu profesional hanya dengan melihat bahu tegapnya saja.
Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya mendekat pada meja, mengangkat kedua tangannya dan menyanggah wajahnya dengan kedua tangannya.
“Bagaimana?” suara berat penuh tekanan terlontar dari mulut pria itu.
“Sudah dirilis Tuan, berita tentang bangkrutnya perusahaan WOR sudah di rilis. Sahamnya ambruk dan merosot tajam, sangat sulit untuk mengembalikan perusahaan ini ke posisinya semula,” jawab pria yang berdiri di hadapan dengan tegas dan lantang, ia menyodorkan sebuah majalah pada pria yang duduk di hadapannya saat ini.
Pria itu masih mengamati dengan sorot mata yang begitu tajam di bawah kegelapan, telinganya mendengar setiap ucapan pria itu dengan begitu jelas. Sudut bibirnya terangkat dan mengembangkan senyum yang begitu sinis, seakan meremehkan dan memandang rendah berita yang baru saja di dengarnya, namun tampak sedikit kepuasan, sungguh raut wajah yang begitu sulit diartikan.
“Yang ku minta?” ujar pria itu dengan datarnya, nada soraya selalu terdengar begitu dingin dan menekan.
“Saya sudah menyelidikinya Pak, Pemilik perusahaan WOR memiliki dua putri. Tapi setelah diselidiki putri pertamanya adalah yang paling dekat dengannya, putrinya bahkan sering mengunjunginya di kantor, membawakan makan siang juga-“ seketika ucapan pria itu terhenti.
“Hentikan, aku tidak terlalu tertarik untuk mendengar semua itu. Letakkan semua berkas itu dan bersiaplah untuk besok, aku inginkan wanita itu,” tukas pria itu.
“Baik Pak,” pria itu menjawab dengan datar sambil menundukkan kepalanya seraya memberikan hormat, ia langsung berbalik dan berniat keluar dari ruangan itu, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti.
“Andreas,” panggil pria itu. Nama pria yang sejak tadi berbicara dan melaporkan banyak hal adalah Andreas, dia adalah sekretaris pribadi pria yang duduk dengan raut wajah penuh keangkuhan.
“Ya, Pak,” jawab Andreas sambil membalik tubuhnya.
“Aku akan ke hotel malam ini, jadi siapkan yang terbaik.”
“Baik Pak,” sergah Andreas yang seakan mengerti dengan maksud dari ucapan pria itu, Andreas langsung membalik tubuhnya dan kembali melanjutkan langkahnya, ia bergegas keluar ruangan.
Pria itu masih duduk mematung di tengah kegelapan. Ia kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Mendongakkan kepalanya sambil menghela nafas berat, Felix memejamkan matanya.
Sepuluh jarinya terkepal erat saat sekelebat ingatannya di masa lalu terbesit di benaknya dengan begitu jelas.
Seorang pria yang masih cukup muda usianya sekitar tiga puluh delapan tahun, pria itu baru saja memasuki rumah dengan tas kerja yang ia pegang.
Suara pintu terbuka membuat dua anak kecil yang tengah bermain di sebuah kamar tersenyum bahagia. Anak laki-laki yang berumur tiga belas tahun sedang mengajak adik perempuannya bermain.
"Kaka Papa pulang, yey. Papa pulang Kakak," Gadis kecil berusia tujuh tahun itu sangat bahagia saat mendengar suara pintu terbuka. Gadis itu langsung meletakan boneka di tangannya dan bangkit, mengambil langkah cepat hingga berlari kecil keluar kamarnya sebari berteriak memanggil Papa.
Anak laki-laki itu lantas bangkit berusaha untuk menyusul anak perempuan itu. Namun seketika.
"Dor..."
Pria itu langsung membuka matanya, kala ia mendengar suara tembakan dengan begitu jelasnya. Hingga menggetarkan gendang telinganya.
Suara tembakan itu terasa begitu nyata. Bahkan masih melekat tajam di ingatan pria itu. Seketika sekelebat ingatan itu membuyar dan menghilang, lenyap begitu saja dari benaknya.
Mata pria itu memerah, degup jantungnya berpacu dengan cepat. Sesuatu menggebu-gebu di dalam sana, ingatan itu berkecamuk luka di hatinya.
Sekelebat bayang di masa lalu itu seolah menorehkan luka yang begitu dalam dan menyiksa. Hingga waktu bahkan sama sekali tidak bisa menghapusnya. Ini sudah empat belas tahun, namun semuanya masih begitu kental teras.
Setiap kali pria itu memejamkan matanya, sekelebat bayangan itu selalu membuatnya terluka semakin jauh. Darah masih begitu terasa hangat dan kental di telapak tangannya, pria itu bisa merasakannya dengan begitu jelas. Rasanya kejadian itu baru terjadi kemarin.
Deru nafas pria itu menggebu-gebu itu terlihat dari dadanya yang mengembang kempis dengan cepat.
"Ini sudah empat belas tahun Papa. Akhirnya aku berhasil meruntuhkan perusahaan itu setelah delapan tahun, semua ini untuk Papa. Aku akan hancurkan mereka semua hingga tidak tersisa lagi. Aku akan balas kematian Papa, akan ku buat mereka semua merasakan penderitaan. Hingga mereka ingin mengakhiri hidup mereka sendiri, aku janjikan itu pada Papa," gumam Pria itu. Sorot matanya menatap tajam pada flapon yang di cat putih mengkilap, namun kini hanya ada kegelapan di ruang itu.
"Akan aku hancurkan mereka semua hingga tidak tersisa Papa."
Pria itu berucap dengan penuh keyakinan, sepuluh jarinya terkepal dengan sangat erat seakan siap menghantam dan melayangkan tinjunya pada benda apapun.
Tangan kekar itu terlihat gemetar hebat bahkan sampai menonjolkan garis-garis urat tangannya. Pria itu menggerakkan gigi, dengan rahang yang tampak mengeras. Pria itu berusaha keras menahan rasa sesak yang berhasil memporak porandakan hatinya hanya dengan mengingat kejadian hari itu.
Bip… Bip… Bip…
Suara dering ponsel berbunyi, Felix mengalihkan pandangannya pada ponsel. Pria itu langsung meraih ponsel yang tergeletak di atas meja dan langsung menekan tombol terima panggilan, kala menatap layar ponsel dan mendapati panggilan masuk dari Andreas.
Ia hanya mengangkat ponselnya ke telinga tanpa mengatakan satu patah kata pun.
"Mobilnya sudah siap Tuan," suara pria terdengar jelas dari dalam ponsel.
"Aku akan turun sekarang," Felix langsung menutup telponnya.
Pria itu memasukan ponsel ke dalam saku celananya, mengambil jas yang tergantung di sudut ruangan. Dan bergegas pergi dari sana.
Bersambung~