Cinta? lupakan! Kata itu tidak ada di kamusku, cintaku hanya sebatas di atas ranjang setelah itu, lupakan saja. Aku bahkan tidak akan pernah mau memandang wanita yang pernah menjadi teman tidurku.
~Felix Sender~
"Aku akan turun sekarang," Felix langsung menutup telponnya.
Pria itu memasukan ponsel ke dalam saku celananya, mengambil jas yang tergantung di sudut ruangan. Dan bergegas pergi dari sana.
Felix berjalan dengan langkah pasti. Saat pria itu berjalan, bahkan terlihat seperti model pria yang tengah berjalan di catwalk, tubuh proporsional dan pakaian yang melekat pada tubuhnya. Kaki jenjang dengan kulit putih nya, sorot mata yang selalu saja tajam. Membuat wanita manapun akan sangat terpesona hanya dengan melihat pria itu berjalan saja.
Langkah kakinya kini menapaki lobby, tidak ada siapapun disana semua pegawai sudah pulang. Hanya ada security yang berjaga, mereka menundukkan kepalanya seraya memberikan hormat saat pria itu melintas di hadapan mereka.
Pria itu langsung masuk kedalam mobil yang sudah terparkir tepat di depan gedung. Beberapa saat kemudian mobil itu memasuki area gedung parkir hotel dengan bintang lima. Seperti biasa Andreas pria dengan kemeja putih itu sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat rapi, dan pastinya sesuai dengan keinginan Felix dan juga seleranya.
Felix dan Andresa berjalan masuk kedalam gedung hotel, langkah mereka langsung tertuju pada lantai tiga, dengan kamar nomor 344 kamar suite room dengan fasilitas lengkap nan mewah. Kamar yang sama, yang selalu Felix gunakan jika ia sedang suntuk dan ingin melepaskan rasa penat nya, bersama dengan para wanita bayaran yang selalu berubah –ubah setiap kalinya.
Entahlah hanya saja, kamar ini selalu Felix gunakan seakan ada cerita tersembunyi yang Felix simpan di dalam karam itu. Dan hanya diketahui oleh Felix saja. Bahkan Felix sampai rela membeli kamar hotel itu dengan harga fantastis yang jika dihitung mungkin harganya kisaran setara dengan harga satu rumah mewah.
Langkah Felix dan Andreas sampai tepat di depan pintu kamar itu, seperti biasa Andreas selalu mengantar Felix sampai di depan pintu.
“Aku tidak ingin ada yang mengganggu, apapun itu,” ucap Felix dengan suara datar sebelum memasuki kamar.
“Baik Tuan,” Andreas menjawab dengan suara rendah sambil menundukan kepalanya seraya memberikan hormat. Pria itu langsung bergegas pergi dari sana, masuk kedalam kamar lainnya yang hanya berjarak dua kamar dari kamar Felix.
Itu selalu terjadi, jika Felix datang ke hotel, Andres akan memesan kamar yang tak jauh dari kamar Felix agar pria itu bisa datang tepat waktu jika Felix membutuhkan sesuatu.
Kreak,
Suara Pintu terbuka, Felix melangkah masuk kedalam kamar hotel. Wanita berambut ikal sebahu berwarna kecoklatan dengan paras yang cantik, bibir merah merona kulit putih mulus dan body seksinya tengah duduk di atas ranjang menunggu pria itu.
Wanita itu mengenakan gaun merah transparan yang sampai memperlihatkan lekuk tubuh indahnya serta pakaian dalam yang berwarna senada dengan gaun yang ia kenakan.
Belum sempat Felix mengambil langkah untuk mendekat, wanita itu sudah bangkit dari atas ranjang berjalan mendekat pada Felix dengan senyum manis yang mengmbang di bibirnya. Wanita itu tampak sangat menggoda, cara berjalannya saja bahkan sampai membuat para lelaki bergidik dan berhasrat untuk memiliki tubuh wanita itu.
“Tuan Felix kau sudah datang, aku menunggumu sejak tadi,” ucap wanita itu dengan sangat manja. Wanita itu sekan sudah sangat berpengalam dan tahu apa yang harus dilakukan.
Tanpa basa basi ia langsung mengalungkan tangannya di leher pria itu, tinggi mereka yang hampir sejajar memudahkan wanita itu untuk meraih bibir Felix. Ia langsung mendaratkan kecupan singkat di bibir pria itu.
Sementara Felix masih terdiam tak bergeming, pria itu mematung dan hanya diam saja. Sementara wanita itu terus saja mendaratkan kecupan-kecupan manja di leher Felix sambil membuka jas yang felix kenakan melemparnya ke sembarang tempat, lalu setelahnya membuka kancing kemeja Felix.
Wanita itu dapat melihat tubuh Felix, otot perut yang kekar lengan yang berotot, bahu yang tegap membuat wanita manapun pasti akan b*******h untuk memiliki tubuh itu. Tak menunggu lama, wanita itu langsung menyambar tubuh Felix memberikannya sentuhan hangat hingga mereka berdua berbaring bersama di atas ranjang.
Wanita itu sangat lihai memberikan sentuhan. Pada tubuh Felix, pria itu tampak menikmati setiap sentuhan wanita itu. Hasrat dan gairah sama-sama membakar tubuh mereka, hingga mencapai kepuasan mereka baru berhenti bercinta.
Pria itu kini tengah menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang sambil menikmati segelas anggur merah. Wajah dingin itu tampak sedikit lelah. Sementara wanita itu terus saja menggelayut di tubuh Felix. Wanita itu seakan sama sekali tidak merasa lelah setelah aktivitas panas mereka, ia masih sibuk menciumi leher dan d**a bidang pria itu seakan belum merasa puas.
"Tuan Felix bolehkah aku menjadi wanita mu untuk selamanya, aku bisa memuaskanku setiap saat kapanpun kamu mau, aku bisa menjadi apapun yang kamu inginkan."
Felix mengangkat sudut bibirnya menciptakan senyum sinis yang sangat sulit diartikan.
"Apapun yang aku ingin kan?" sura datar Felix membuat wanita itu mengembangkan senyum manis yang menggoda.
"Ya, apapun yang kau inginkan. Aku bisa memberikan tubuhku dan juga hatiku hanya untukmu seorang, aku bisa memberikan cintaku juga padamu," wanita itu berbicara diiringi desahan yang sangat menggoda.
"Cinta? Hahaha," Felix tertawa meremeh. "Aku tidak butuh cinta, wanita sepertimu aku bisa mendapatkan yang lebih dari pada dirimu. Ada banyak wanita yang mengantri untukku, kenapa aku harus bersama satu jalang sepertimu jika aku bisa mendapatkan lebih," ungkap Felix dengan begitu tajam.
Wanita itu langsung bangkit dan menatap Felix dengan nanar keningnya berkerut alisnya ikut menekuk. Raut wajah tampak terperangah seolah tak percaya. Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang pria di hadapannya saat ini benar-benar tidak berperasaan cara bicaranya begitu kejam dan hanya tahu cara memuaskan dirinya.
Pria itu langsung meletakan gelas anggur di meja tepat di samping ranjang, lalu memalingkan wajahnya lagi. Felix balik menatap wanita itu dengan sorot mata yang semakin tajam, seakan ada bara api di bola mata Felix yang siap melahap wanita itu.
Pria itu langsung mengangkat tangannya dan mencengkram wajah wanita itu dengan sangat kuat. Tatapan yang semakin aneh ia lempar pada wanita itu, hingga membuat wanita itu bergidik dan merinding karena perbuatannya saat ini.
"Kenapa? Apa aku salah. Jangan menatapku seperti itu, aku tidak suka ada orang menatapku. Beraninya jalang sepertimu menatapku seperti itu," ucap Felix dengan datarnya ekspresinya sangat dingin.
"Ti-tidak Tu-tuan, se-semuanya benar. Yang kau ucapkan itu be-benar. Aku meminta maaf tolong maafkan aku. Jangan lakukan ini padaku," wanita itu berbicara terbata-bata helaan nafasnya tersendat-sendat.
Sambil memegang pergelangan tangan Felix wanita itu memohon untuk dimaafkan Karena sudah sangat lancang menawarkan dirinya pada pria itu.
Bersambung~