1. Pernikahan Dadakan
“Bagaimana para saksi, Sah?”
“Sah.” Saksi berucap pelan, ketara sekali ada keterpaksaan dari suara dan raut wajahnya.
“Alhamdulillah….”
Hanya penghulu yang terlihat lega, entah merasa bahagia atau puas karena telah berhasil menyelesaikan pekerjaannya—mengikat dua orang insan dalam sebuah pernikahan.
Setelah kata sah terucap, kedua mempelai, sama-sama memasang wajah datar dengan sorot mata berbeda. Elsie, Mempelai Perempuan, menatap Ibunya dengan sendu, penuh penyesalan.
Sementara Daniel, sang mempelai Laki-laki tidak bereaksi apa-apa. Tatapannya kosong.
Rona bahagia tidak terlihat dari wajah mereka, termasuk orangtua dari dua keluarga yang turut hadir di sana. Semua kaku.
Tidak ada adegan saling memasangkan cincin nikah.
Tidak ada adegan, istri mencium tangan suami ataupun Suami mengecup kening Istri.
Begitupun dengan ucapan ‘selamat’ yang biasa dilakukan oleh orang-orang kepada pengantin baru. Justru, setelah Penghulu pergi, kedua keluarga yang telah menjadi besan langsung turut membubarkan diri.
Elsie, menunduk. meremas jari-jari tangannya yang dingin. Dirinya memang pantas diperlakukan seperti ini, karena bagaimanapunn juga kejahatannya tidak akan pernah termaafkan.
Dengan tega ia menjebak Daniel, yang notabennya kekasih dari Firda. Sahabat Elsie sejak SMP.
Elsie membuat skenario seolah-olah Daniel telah melecehkan dan memperkosanya, hingga pernikahan pun mau tidak mau harus diadakan.
Kebetulan satu minggu yang lalu Daniel datang ke rumah untuk membantu Alan, Kakak Elsie, dalam mempersiapkan segala kebutuhan pernikahannya yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Tepatnya hari kemarin.
Dengan telaten Laki-laki itu mengecek hal-hal apa saja yang harus Alan bawa, dan semakin lama diperhatikan Elsie semakin yakin bahwa perasaannya untuk Laki-laki itu belum berubah sejak beberapa tahun silam sampai sekarang.
Karena terlalu dibutakan oleh cinta, Elsie jadi tidak berpikir jernih. Disaat keluarga sibuk merayakan pesta pernikahan Alan, justru Elsie sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya ia dapat mengambil hal yang seharusnya menjadi miliknya sedari awal.
Lalu terbesitlah rencana jahat itu. Dimana ia akan membuat Daniel tidak sadarkan diri dan seolah-olah telah menidurinya. Hal itu dilakukan di dalam kamar hotel yang sebelumnya telah dipesan oleh orangtua Elsie untuk Alan dan Istrinya.
Elsie melakukan semua itu bukan tanpa sebab. Ia sakit hati karena Firda berpacaran dengan Daniel, padahal Firda yang paling tahu selama apa Elsie menyukai dan mencintai Laki-laki itu.
Pada saat keduanya memasuki masa-masa SMA, Firda sendiri yang menyarankan supaya Elsie berterus terang akan perasaannya.
“Kalau tidak berterus terang, keburu Daniel mu itu di gaet orang nanti,” begitulah tuturnya.
Saat itu, karena Elsie tidak berani berbicara langsung akhirnya ia memilih cara lain. Ia mengirimkan chat berisi pengakuan cintanya untuk Daniel.
Responsnya justru diluar dugaan. Ternyata Daniel juga menyukai Elsie sejak pertama kali main ke rumah Alan. Tanpa menunggu lama, keduanya langsung jadian.
Dengan senang hati dan tanpa curiga Elsie pun memberitahukan hal tersebut pada Firda. Supaya sahabatnya itu turut merasakan kebahagiaan yang tengah ia rasakan.
Setelahnya entah apa yang terjadi. Tahu-tahu Daniel bersikap cuek dan terkesan telat dalam merespons chat dari Elsie. Sekalinya menelepon, Laki-laki itu langsung memutuskan hubungan mereka yang bahkan belum genap satu minggu tanpa menjelaskan alasan dibaliknya.
Elsie yang tidak mengerti, hanya bisa mengadukan kesedihannya itu pada Firda.
“Ya sudahlah, mungkin sedari awal Daniel memang hanya berniat mempermainkan perasaanmu saja. Tahu sendiri, dia beda lima tahun sama kita, pasti cara pandangnya pada sebuah hubungan juga berbeda. Ayo move on, lupakan dia, lagipula di luaran sana masih banyak cowok yang lebih ganteng dan lebih baik dari dia.”
Ya, setidaknya Elsie masih memiliki Firda yang setia menemani dalam keadaan suka dan dukanya. Bahkan dengan sabarnya ia menenangkan mood Elsie yang kadang bagus kadang sebaliknya.
Hingga pada satu waktu Elsie tidak sengaja menguping Firda tengah berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon. Firda terlihat sangat bahagia di sana, tetapi yang menjadi fokus Elsie tidak tertuju pada itu, melainkan pada suara yang tengah mengobrol dengan sahabatnya.
Ia seperti mengenali suaranya, jika diingat-ingat itu seperti suara Daniel.
Tidak mau menuduh sahabatnya yang bukan-bukan, Elsie pun masih berusaha berfikir positif. Siapa tahu seseorang yang menelepon dengan Firda itu memang memiliki suara yang mirip dengan Daniel.
Tetapi, semakin lama diperhatikan, sikap Firda semakin mencurigakan.
Pada satu kesempatan, Elsie pun memberanikan diri mengotak atik ponsel Firda tanpa sepengetahuan pemiliknya. Ia memulai pencariannya dengan mengetikkan Nomor Daniel. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan kontak Laki-laki itu sudah tersimpan di ponsel Firda dengan nama ‘My Love,’ disertai emoji hati berwarna merah.
Tidak ingin mempercayai, tetapi bukti sudah sangat jelas terpampang nyata dalam pandangan Elsie sendiri. Tanpa menunda-nunda, ia langsung menuntut jawaban dari Firda.
“Baguslah kalau kamu sudah tahu, seenggaknya aku gak perlu repot-repot memikirkan alasan untuk menjelaskannya.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Perempuan yang Elsie anggap sebagai sahabat selama ini.
Tidak ada permintaan maaf, atau ungkapan perasaan bersalah karena sudah memiliki hubungan dengan Daniel di belakang Elsie. Yang ada Firda seakan tidak pernah menganggap perasaan Elsie sebelumnya.
“Dari sekian banyak cowok, kenapa harus Daniel Fir? Kan kamu tahu sendiri bagaimana perasaanku padanya” tanya Elsie, pada saat itu.
“Memangnya kalau Daniel kenapa, Els? Apa ada peraturan tidak tertulis yang menyatakan hanya kamu yang boleh menyukainya?”
Pertanyaan tersebut seakan menyadarkan Elsie, bahwa semua orang memang berhak menyukai siapa saja. Ia tidak boleh melarangnya, apalagi sampai mengemis pengertian dari seseorang.
“Memang bukan aku saja yang boleh menyukai Daniel. Hanya saja, kenapa kamu gak berterus terang dari awal?”
“Apa kamu pikir, berterus terang bisa segampang itu? Gak Els. Gimana aku bisa bilang, kalau kamu selalu antusias membahasnya.”
Saat itu Elsie tidak mampu mendebat kembali, bukan tidak memiliki jawaban tetapi ia sadar, jika Firda benar-benar baik mau sebesar apapun perasaan sayangnya pada Daniel, setidaknya Perempuan itu akan menghargai Elsie terlebih dahulu sebagai sahabatnya.
Tetapi ini tidak.
Kebanyakan yang Firda katakan justru hanya memojokkan Elsie seorang.
Sungguh, Elsie tidak akan melarang. Ia hanya kecewa, karena Firda tidak berterus terang dari awal. Coba saja mantan sahabatnya itu jujur, mungkin Elsie tidak harus merasa terkhianati seperti ini.
Bulir bening yang membasahi lengan menyadarkan Elsie dari lamunan panjangnya. Diliriknya kursi sebelah yang sudah kosong.
Ternyata Daniel sudah pergi, entah kemana.
“Apapun alasannya, perbuatanmu ini tidak bisa dibenarkan Els.” Elsie mengernyit, menatap Alan yang sudah berdiri di hadapannya.
Kenapa kata-kata Kakaknya itu terdengar seperti tahu bahwa Elsie telah menjebak Daniel ke dalam pernikahan dadakan ini.
“Kakak menemukan ini dari dalam tas kamu.” Kemudian Alan meletakkan sebuah obat ke atas pangkuan Elsie. “Itu obat tidur kan?”
Elsie mengangguk kecil hampir bersamaan dengan Kakaknya yang menghembuskan napas kasar.
“Dari awal melihat kalian berada di kamar itu saja, Kakak tidak percaya. Kakak juga tahu, bagaimana Daniel selama ini. Dia tidak akan berani macam-macam, apalagi kepada kamu.”
“Kalau tidak percaya, terus kenapa Kakak tidak buka suara?” cicit Elsie dengan suara pelan. “Kenapa Kakak malah menyetujui pernikahan ini juga?”
Melihat kebencian yang terpancar dari sorot mata Daniel, membuat Elsie sedikit menyesali perbuatannya ini.
“Kakak hanya tidak ingin Mama sama Papa depresi memikirkan masa depanmu. Ingat, bukan hanya satu dua orang yang melihatmu telanjang bersama Daniel, tetapi hampir seluruh keluarga besar kita turut melihatnya juga. Dan saat itu tidak ada keputusan paling tepat, selain menikahkan kalian berdua.”
***