Rambut Alice yang panjang diremas dan kepalanya diarahkan ke Milik lagi dan lagi! Hingga gelanyar gairah tak bisa di pungkiri. Saat inilah Alice menyaksikan milik Julian yang sangat tampan dengan jelas, dia pun meremas dan melumat Milik yang berdiri kokoh hingga terdengar suara desahan Julian.
Tak tahan Julian dengan apa yang dilakukan Alice, dia langsung menarik tubuh Alice dan membaringkannya kembali ke ranjang. Dia mulai menyiapkan landasan yang akan dimasukkan oleh miliknya yang telah membesar dan kokoh.
Jemarinya meraba di suatu tempat dan membuat Alice menggeliat hingga dipenuhi oleh cairan panas darinya. Liang surga ini yang telah dinantikan oleh Julian. Dia mulai menggerakkan Milik kokoh ke arah liang surga. Memang sedikit sulit bagi Julian untuk melakukannya walaupun ini yang kedua kali dia memulai.
"Owh... Kenapa sulit begini?"
Julian mengeluh tapi dia terus mencoba dan mencoba.
Alice merasa sesuatu yang kokoh itu memaksa masuk hingga suara desahannya bergema di dinding kamar.
“Kaisar.”
Suaranya terputus.
"Kenapa?!"
Julian yang mendengar suara dan melihat wajah Alice merintih pun bertanya. Alice menggelengkan kepala sambil menebarkan sedikit senyuman kepada Julian agar suasana penyatuan ini tidak hilang begitu saja.
Dan, Opss…
Julian menggigit Ujung Alice dan menancapkan Miliknya hingga masuk dalam liang surga Alice. Dengan perlahan Julian bergerak agar percikannya tidak diluar kendali.
Alice meraung hebat dan menggeliat tak terkendali. Tangannya menjambak rambut Julian tanpa sengaja karena menahan rasa perih yang saat ini menyelimuti dirinya.
Tubuh Alice menegang!
Tak lama, Julian merasakan adanya lahar panas yang akan menyembur keluar.
"Apa kau merasakannya?" Bisik Julian.
Alice hanya mengangguk tak berdaya dengan hujaman Julian sambil menggigit tipis bibirnya.
“Kaisar…” rintih Alice.
"Mau keluar!"
Julian menjerit!
Akhirnya Milik itu menyemburkan lahar panasnya. Julian merebahkan dirinya disamping Alice, terlalu cepat bagi Julian memuntahkannya. Lain kali ia harus lebih memuaskan Alice dan dirinya.
Beberapa menit kemudian, Julian yang terlelap dalam pelukan Alice harus terganggu dengan gerakan gadis itu yang akan menuju ke kamar mandi.
"Mau kemana?"
“Saya ingin membersihkan diri!
Wajah Julian terlihat sangat senang, dia berdiri dari atas ranjang.
“Aku ikut denganmu!”
Dia meraih tangan Alice, mereka masuk ke dalam kamar mandi.
“Apa Kaisar juga akan membersihkan diri?!”
“Iya, kita akan mandi bersama! Aku suka bermain air, apa kau menginginkannya juga?!”
Alice tersipu malu, sungguh dia tak bisa menahan dirinya melihat tubuh polos Kaisar Julian. Dia sangat tampan dalam kondisi apapun, bahkan dari ujung kaki hingga ujung rambut dia sangat istimewa.
Tangan Alice di sambut oleh Julian, mereka bermain di dalam bathtub. Alice candu atas setiap sentuhan yang di berikan Julian, dia sudah lama tak tertawa lepas seperti ini. Mereka seolah akan bersama selamanya berdua.
Julian membelai seluruh tubuh Alice dengan bibirnya!
Bunga-bunga yang indah bertabur di dalam bathtub hingga tubuh mereka tertutup rapat. Air hangat yang merendam diri mereka menjadikan Alice dan Julian betah untuk berlama-lama.
“Alice.”
Jantung gadis itu berdesir, dia tahu tak seharusnya dia meletakkan hati pada Kaisar Julian yang sudah pasti BUKAN MILIKNYA saja, dan Alice harus ingat tujuan utama mendekat Kaisar.
Cup, bibir Alice menempel pada pipi Julian. Pria itu mengembangkan senyum. Alice tak sadar, seharusnya dia MENEPI. Tapi hatinya terlalu candu untuk melakukan hal itu!
“Kaisar”
Alice memanggil Julian sembari membalik tubuhnya hingga mereka saling bertatap mata.
Entah apa yang di pikirknya saat ini, tapi gadis kecil milik Kaisar Julian mulai berani. Dia merayu, menggerakkan tubuhnya, menggoda hingga Julian berdesir hebat. Alice sangat lembut, seolah tak bergejolak! Tapi gairah yang dirinya keluarkan sungguh luar biasa. Dia menginginkan pria yang ada di hadapannya, walaupun sesaat!
Desiran di jantung Alice berubah menjadi rasa suka, yang di mulai dari rasa mengagumi. Alice akan jatuh dalam pelukan Julian! Seperti itulah yang terjadi selama ini pada gadis-gadis yang Julian tiduri.
Mereka bermimpi seperti Alice! Mereka menginginkan Julian lebih dari yang semestinya, dan itu tak akan pernah terjadi. Julian tak akan menginginkan mereka! Dan akhir yang menyedihkan akan terjadi.
“Ouh, Kaisar!”
Alice berteriak saat dia merasa Julian semakin dalam merasuki dirinya. Tubuh Alice terasa dingin menyatu dengan air yang kian hilang hangatnya.
“Alice…”
Julian memanggil nama gadis tersebut sebelum dirinya kehilangan diri karena gairah yang membara. Entah berapa kali Julian mengeluarkannya di tempat paling dalam milik Alice. Dia sangat menikmati ini! Penghilang stres yang paling hebat di dunia.
“Kaisar!”
“Ya, Alice!”
“Anda mengeluarkannya sangat dalam.”
Cup, Julian menyapu sedikit pipi Alice.
“Bukankah Kaisar Damian sudah memberikan dirimu suntikan untuk satu bulan ini?!”
Alice mengangguk.
“Benar Kaisar, saya bukan mengatakannya karena takut hamil, tapi lebih karena anda melakukannya dengan begitu luar biasa.” Alice mendekatkan bibirnya pada Julian. “Saya tak bisa berbicara apapun, bahkan hanya untuk mendesah saat anda memasukkan lebih dalam, lalu semakin dalam.”
Bisikan Alice membuat Julian tersenyum, jika pria itu bisa mengatakan sesuatu. Maka dia bisa berteriak, AKU MALU.
“Jangan membuatku menghujam dirimu sekali lagi!”
Julian menggigit telinga Alice pelan, hatinya berbunga-bunga. Ada desiran yang tak sama di hati Julian, tapi dia tak akan mengakuinya.
“Kaisar, bisakah kita menambah air hangat jika anda belum ingin keluar dari sini?!”
“Lagi-lagi kau menggodaku! Tentu saja aku belum ingin keluar dari tempat ini.”
Julian menghidupkan air hangat yang kembali mengisi bathtub, dimana airnya hanya tinggal setengah.
“Kaisar, apa menjadi orang kaya itu sulit?!”
Julian tersenyum mendengar pertanyaan polos Alice.
“Sangat sulit Alice! Bukankah asal kita bernapas saja maka masalah akan datang menghampiri kita seolah hanya kita saja yang mengalami nasib buruk?! banyak orang di dunia ini yang mengumpat karena terlalu kesal dengan keadaan. Karena apa Alice?! jawab!”
“Karena merasa tak bersyukur?! dan masalah menghampiri tanpa pilih kasih!”
Julian mengecup singkat tangan Alice.
“Iya Alice, MASALAH tak pilih kasih.”
Jawaban Julian tentu saja membuat Alice bernapas dengan berat. Dia tak tahu jika semua akan seberat itu, Alice pikir masalah hanya tentang ada uang atau tidak.
“Kaisar, saya sangat berterimakasih pada anda!” Alice tertunduk sejenak. “Jika bukan anda saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup saya! Saya tak bisa membayangkan semuanya.”
Alice memeluk tubuhnya sendiri, tapi tangan Julian membalutnya lagi dengan lembut.
“Apa yang kita dapatkan, akan sesuai dengan apa yang kita lakukan Alice. Jangan berterimakasih padaku! Karena aku adalah pria jahat yang mengambil keperawanan dirimu setelah meratakan negerimu. Bahkan orangtuaku mengutuk apa yang aku lakukan jika masih hidup.”
“Kaisar, mereka sangat menyayangi anda! Kenapa anda bertingkah seperti anak kecil?!”
Alice mendongak, dia mengecup dagu Julian yang terlihat sangat indah. Pelan, Alice melumat ujung dagu Julian.
“Ekhm!”
Julian berdehem karena dia mulai kembali terpancing. Alice tak tahu tingkahnya barusan membuat Julian sungguh menggila. Dia ingin Alice kembali jatuh dalam pelukannya, tapi itu tidak mungkin ‘kan? Semuanya hanya bisa mendatangkan masalah saja.
Lagipula akan ada wanita lain yang akan menggantikan Alice suatu saat nanti.