“Ini adalah Bunga Melia yang hanya tubuh di dataran dingin. Dia tidak akan bisa di petik dengan cara biasa karena hanya orang yang rela mengeluarkan mana tinggi yang bisa mengambilnya. Aku di sini rela kehilangan mana agar bisa memberikannya padamu, Bunga ini tidak akan layu sampai aku mati nanti. Bunga ini menunjukkan betapa cinta aku padamu, terserah saja jika kau tidak percaya padaku, Alice. Tapi ini adalah hatiku yang sesungguhnya, aku harap kau dapat percaya perasaan ini.”
Alice menerima Bunga Melia yang berwarna putih bersinar, terlihat sangat indah dan mengagumkan. Hatinya tersentuh, apalagi saat merasakan detak jantung dan hawa Julian di sana. “Apa kaisar akan bermalam di sini?! atau ada suatu tempat yang bisa menjadi tempat kita?!”
Mendengar pernyataan itu Julian merasa takjub, “Tunggulah sebentar Alice.” hingga tak lama kemudian.
Kaisar menuntun langkah sepasang kaki Alice, hingga menapaki ruangan intim bermandikan cahaya temaram bohlam pijar. Aroma kelopak mawar yang behamburan rapi tak hanya menyambut kedua mata indah Alice. Namun, aromanya yang khas menyeruak masuk ke indra penciuman gadis itu, Julian pun memanjakan hingga membuat Alice kelimpungan sejenak.
Ada satu objek utama dan menjadi fokus Julian dan Alice canggung sesaat. Ranjang tidur bermandikam taburan kelopak mawar membuat Julian spontan dirayapi gerah membakar gairah. Sesaat dia menyadarkan diri untuk bisa mengendalikan. Namun, tembok pertahanann runtuh oleh gairah yang memuncak. Pandangan kedua mata yang sudah berkabut nafsu.
Hal berbeda dengan si gadis polos yang digelayuti kebingungan. Otak Alice seketika lumpuh tak mampu bekerja baik. Alice bagaikan sebuah manueqin menggoda iman di hadapan Julian, berdiri mematung dengan kulit wajah diselimuti rona merah akan tersipu malu.
Harus memulai bagaimana?
Pertanyaan muncul bersamaan di benak keduanya. Namun, kecanggungan itu lenyap oleh Julian karena gerak tubuhnya sudah memulai, mengkhianati. Julian mendekati Alice, langkah kedua kakinya seirama dengan gemuruh detakan jantung Alice riuh di dalam jiwa. Tatapan tajam memangsa Julian menghantarkan senyar menegang di sekujur tubuh gadis polos berparas cantik itu. Saliva tertelan dalam-dalam. Alice harus menyiapkan mental untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang gadis yang telah di beli untuk memuaskan Kaisar Julian.
Kedua mata Julian yang memangsa lapar menelisik sekujur tubuh Alice lalu mengunci tiap detail lekukan tubuh menggoda syahwat. Julian menyeringai ngeri lalu dibalas oleh Alice yang tersenyum tulus seolah mental dan jiwanya telah siap digagahi pria yang telah menjadikan dirinya pilihan.
Status Kaisar dan pelayan sudah disandang, artinya sudah pula sekujur tubuh Alice seutuhnya milik Julian hingga dia rela dan pasrah disetubuhi. Kaki Julian menekan kaki Alice yang berada di bawahnya! ini hanya nafsu, itulah yang Julian coba katakan dalam dirinya seolah lafal mantra yang tak bisa lepas karena akan berakibat fatal jika hatinya ikut bermain.
Tidak ada suara dia antara mereka, hanya desahan kecil kekaguman Alice atas sosok Julian yang menjadi Kaisar-nya. Kembali dengan semua yang orang pertanyakan, apa yang di lihat Julian pada gadis tersebut?
Alice masih masih sangat muda!
Julian lelaki yang pantas menjadi Kaisar karena fisik dan kekayaannya tak main-main! bukankah harus memiliki uang untuk membeli seseorang ataupun menghancurkan sebuah negara?
"Kaisar..."
Alice mendesah saat Julian semakin kuat menekan pinggulnya. Tak cukup sekali, Julian melakukannya berkali-kali. Dia melakukan banyak hal dengan tangan dan bibirnya! gerakan pria itu membuat Alice merinding. Dia mengagumi Julian seperti wanita normal lainnya.
"Aku Kaisarmu, layani aku."
Julian menggeliat setelah mengatakan itu di telinga Alice.
“Ya, Kaisar!”