Bab 12.

530 Kata
Bibir Alice menjawab di sela-sela desahannya. Ada cairan merah yang keluar, dan Julian tersenyum puas. Dia mendapatkan apa yang di inginkan, hingga miliknya tak bisa lepas dari milik Alice yang panas mengantarkan gairah. "Aku ingin menikmati dirimu lebih dari ini, bisakah?" Alice terlihat malu, ragu dan bingung. Dia bingung harus mulai dari mana dan siapa yang memulainya? Keraguan pun muncul disaat salah satu dari mereka harus saling memuaskan. Julian yang perlahan menjauh, mengambil tisu dan mengelap milik Alice, lalu membuat sang gadis semakin tidak menentu. Julian yang berjalan dengan tubuh polos saat membuang tisu, sungguh membuat Alice tak bisa berkata apa-apa. DIA SANGAT SEMPURNA. Ujung Alice mengeras! Dia tak bisa berkata apapun lagi ketika pujian datang dari dalam hatinya sendiri. Saat Alice yang memandangi Julian tertangkap basah, pria itu hanya tersenyum lalu dia mendekati Alice dengan perlahan. Langkah perlahan Julian membuat Alice semakin merinding geli disekujur tubuhnya. Wajahnya terlihat memerah dan dia berusaha menyiapkan diri untuk pertempuran malam ini lagi dan lagi. Malam pertama yang sangat indah bagi Alice, tapi tidak bagi Julian! Entahalah, ini mungkin malam yang ke seratus kalinya dia menggapai tubuh wanita. Tapi kelembutannya sungguh menjadi candu. Alice merelakan dirinya walau ribuan kali Julian menyentuhnya. ‘PRIA BAIK!’ Lagi-lagi Alice memuji Julian di dalam hatinya. Sekujur tubuh Alice telah berada di dalam bola mata Julian, seperti pemangsa yang akan menerkam mangsanya. Alice dengan senyum telah siap menyerahkan apa yang dimiliki kepada Julian, dia tidak menyesali asal dengan pria yang sudah merenggut hatinya dengan lembut. Jari jemari Julian menari di dagu Alice dan menariknya agar segera meraih bibir tipis wanita ini. Julian meremas kedua buah d**a Alice, melumat dengan lembut bibirnya dengan perlahan. "Akan aku perlakukan dengan lembut agar kau merasakan sentuhan ini menjadi awal hubungan yang indah bagi kita sampai 30 hari ke depan." Julian berkata dengan terengah-engah. Alice yang merasakan sentuhan yang sangat lembut dari Julian hilang akal, Inikah yang dinamakan malam pertama? Terasa begitu menegangkan. Sungguh sangat kaku baginya melakukan ini dengan pria yang sangat ahli. Seluruh tubuhnya terasa menggelikan, begitu geli dan sangat menggelitik sehingga liukan tubuhnya menandakan hasratnya telah menyatu dalam permainan Julian. Dia membuka pakaian yang tersisa pada tubuh Alice, hingga memang benar-benar tanpa sehelai benang pun yang menempel, sama seperti dirinya. Mata Julian membesar tubuhnya telah bergejolak keinginan untuk meraih Alice dalam dekapannya semakin besar. Dia merebahkan tubuh Alice lagi di atas ranjang yang telah dipenuhi dengan warna-warni dan wangi semerbak. “Aku tak suka bermain di antara cairan merah itu, makanya aku harus membersihkannya dulu.” bisik Julian. Alice terkejut! Lalu dia mengangguk mengerti. “Saya mengerti, Kaisar.” Tangan Julian telah berada di d**a Alice meremas dan melumat dengan penuh gejolak. Batang miliknya sudah siap masuk dalam area sensitif Alice, mereka akan semakin menjadi. “Apa yang aku lakukan tadi sakit?! aku sudah berusaha sebaik mungkin agar tak ada kenangan buruk tentang malam pertamu, Alice.” “Saya merasa nyaman, Tuah, Akh!” Alice mendesah di sela-sela kalimatnya. Tak mau ketinggalan, tangan Alice telah diarahkan Julian ke Milik yang sudah mengeras. "Kenapa ini?" Alice tersipu dan tersenyum malu, dia meraih Milik dan meremas. Serta menggosok perlahan hingga benar-benar Milik itu mengeras dan menonjol. Kepala Alice menuju ke milik Julian.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN