“Pagi Kaisar!”
Senyum Alice begitu lebar, sedangkan Julian kuyu karena cairan yang terlalu banyak keluar.
“Kau terlihat segar sekali!"
"Tentu saja Kaisar, saya sangat bersemangat pagi ini. Apa anda akan mengajak saya berenang, melihat ikan di bawah sana?! itu yang dikatakan Kepala.”
Julian mengangguk! "Iya, kita akan berenang bagaikan ikan di bawah sana. Apa kau ingin menari bersamaku di bawah laut?”
Julian memegang pinggang paha Alice hingga gadis itu tertarik ke arahnya. Mata Alice terkunci, dia semakin merasa berdebar dan terjebak oleh perasaannya sendiri.
“Anda sangat tampan Kaisar, anda juga memperlakukan wanita dengan baik. Bagaimana bisa mereka tak jatuh cinta pada anda? Saya pun telah terjebak!”
Alice tersenyum melihat reaksi Julian yang terkekeh geli.
“Terserah saja! Asal kau tak bunuh diri karena itu, ingat hidup masih panjang! Dan kau sudah aku peringatkan sejak awal. Jangan bodoh Alice!”
“Tenang saja Kaisar, saya tahu dimana posisi diri ini.”
“Oke!”
Julian menjentikkan jari bersemangat! Mereka akan berendam di laut Istana yang terkenal dengan keindahannya. Sudah berjam-jam Julian dan Alice bersenang-senang!
Mereka pun kembali ke hotel, dan Julian kembali mendekatkan dirinya pada Alice yang sangat ceria. Senyum tak lepas dari bibir gadis ini.
“Setelah 30 hari apa yang akan kau lakukan?!”
“Saya akan membuka kafe, berjualan apa saja di sana! Saya juga akan kuliah lagi dan membuat kehidupan lebih baik dari sebelumnya. Saya cukup optimis, Kaisar.”
“Setiap manusia harus optimis Alice, apalagi jika kau menginginkan hidup yang lebih baik. Rasa benci dan dendam hanya tak bisa membuat dirimu berhenti melangkah. Kau akan marah dan terpuruk.”
Lagi-lagi Alice menjadi kagum pada sosok yang ada di depan matanya saat ini. Pria yang luar biasa baginya, dalam hatinya mulai berkata-kata apalagi sejak malam pertama itu. Ini terlihat sangat indah bagi Alice, dia menyukai semua tentang Kaisar secara tiba-tiba.
“Kaisar, anda sangat pandai melakukan segala hal. Apa saya bisa bertemu lagi dengan Kaisar setelah ini?! dan melakukan banyak kegiatan?!”
Julian menoleh ke arah Alice. “Tidak Alice, kau tidak boleh melakukannya! Karena kita berada dalam jenjang yang berbeda. Aku sudah katakan padamu, karena jujur saja, aku tak suka menjadi bahan olok dan tatapan mata orang lain.”
Wajah Alice berubah, dia pikir dirinya sudah sangat dekat dengan Julian, tapi nyatanya semua itu adalah kebodohan yang luar biasa, Kaisar Julian yang dia kagumi itu pasti melakukan hal yang sama pada semua wanita yang ia kencani.
“Baiklah Kaisar, maaf karena saya bertanya lagi pertanyaan bodoh ini. Sejujurnya saya mengerti, hanya saja saya berpikir sedikit naif.”
Julian berjalan mendekati Alice yang sedang membuka pakaiannya. Pelan, dia membalik tubuh Alice, dan dari belakang Julian menghujam Alice hingga gadis itu terkejut dan berteriak kuat.
“Kaisar, pelan-pelan!”
Aku harus bersikap jahat padamu karena ada yang mengawasi kita. Untuk saat ini aku tidak akan memberitahumu Alice, aku tak masalah jika menjadi sebuah kesalahpahaman, bisik Julian dalam hati.
Dia tak menjawab atas permohonan Alice. Tubuhnya masih mengikuti gairah yang tak berkesudahan, mencari kenikmatan yang tersembunyi di balik tubuh Alice yang mungil dan putih bersih.
“Kenapa kau masih ingin bertemu denganku? Kau berani sekali Alice. Padahal sebelumnya kau selalu menghindar, aku suka sekali sikapmu yang seperti ini.”
Julian bertanya sembari menghantam tubuh Alice dengan kasar kali ini. Alice merasakan betapa sakitnya gerakan tubuh Julian. Selama di sini, pria yang ada di belakangnya tersebut tak pernah melakukan dengan kasar.
“Maafkan saya Kaisar, saya tidak akan melakukannya.”
Julian semakin menggila saat remasan tangan yang dia lakukan menghasilkan percikan gairah lainnya.
“Alice! Jangankan untuk bicara, mengangkat kepalamu saja itu sangat di larang ketika kita bertemu lagi setelah ini. Lupakan segalanya dan aku akan dengan senang hati tidak merusak kehidupan masa depanmu.”
Alice mengangguk!
Dia takut karena Julian terasa berbeda. Apa dia sengaja melakukan ini agar dirinya paham dan tak akan melakukan hal bodoh ke depannya?! oh entahlah.
Saat ini hanya sedang berusaha menahan dirinya agar tak terpekik karena Julian semakin gila menekan tubuhnya.
“Kaisar, sakit sekali. Tolong lepaskan saya! Ini sakit sekali. Saya berjanji menuruti apa saja yang anda inginkan. Saya tidak akan pernah mengangkat kepala ini ketika bertemu dengan anda. Maafkan saya karena pembicaraan konyol tadi.”
Alice tersungkur di lantai, cairan putih itu berserakan di wajahnya.
“Alice, ingat siapa dirimu! Bermimpi hanya sebatas jangkauan dirimu saja, tidak lebih dari itu. Aku tak bisa mengulang kata-kataku lagi jika kau masih ingin hal yang lebih.”
Alice yang tertunduk pun menggeleng.
“Saya tidak akan pernah mengulanginya Kaisar, maafkan saya!”
Dia menahan air mata di sudut kelopak mata indah itu. Hari yang ceria pun berakhir dengan sangat buruk. Alice yang di tinggalkan oleh Julian pun hanya bisa meringkuk! Menyatukan lutut pada keningnya. Dia sangat MENYESAL telah berpikir istimewa.
Malam menjelang, Alice tak melihat Julian makan malam! Dia tak keluar dari kamarnya, dan tak menghampiri kamar Alice sejak tadi.
Rasa bersalah kian bersarang karena waktu mereka tinggal 20 hari lagi. Seharusnya Alice bisa memberikan keceriaan pada Julian, namun dia malah melakukan hal bodoh seperti ini.
“Apa Kaisar tidak makan?!”
“Makan?! mana mungkin Kaisar melewatkan makan malam. Hanya saja beliau tidak ingin makan malam di sini. Kaisar Julian ingin saya mengantarkan makanan ke kamarnya tadi. Mungkin belia sangat lelah setelah seharian bermain di laut.”
Alice tak bisa menelan makanannya.
”Apa saya boleh menemui Kaisar Julian?!”
Kepala menggeleng.
“Beliau sedang tak ingin di ganggu Alice. Sebaiknya anda tetap di sini dan kembali ke kamar ketika selesai makan. Aku tak ingin kau membuat masalah, ingat Alice! Kenyamanan Kaisar Julian adalah segalanya. Jangan sampai semua ini menjadi kacau karena sikap egoismu.”
“Baiklah Tuan Kepala, saya akan mendengar larangan anda. Tidak mungkin saya berani melangkahi anda, Tuan. Maafkanlah saya, sungguh tak ada maksud hati saya untuk bermain-main dengan keadaan ini.”
Kepala menatap mata Alice.
“Semua ini tidak akan terjadi di antara kau dan Kaisar Julian jika tak ada yang salah. Beliau orang yang cerdas, tidak mungkin membiarkan masalah berlarut begitu saja.”
Alice mengangguk, dia tak berani memandang wajah Kepala yang pastinya mengerikan.
“Saya akan kembali ke kamar, terimakasih karena sudah menenami saya makan malam.”
Dia berlari cepat menuju kamar yang berhadapan dengan kamar Kaisar Julian! Dari sela-sela jendela, Alice mencoba mengintipnya. Tapi tak ada siapapun di sana, hati Alice cukup kecewa saat ini.
“Kaisar, apa anda sangat marah?”
Alice berkata sendiri sembari melihat ke arah jendela.