Bab 14.

1016 Kata
Julian mengerjapkan mata, ada Alice dalam pelukannya. Senyum hangat itu terulas di bibirnya. Seandainya Alice bukan wanita yang akan membuat dirinya menjadi bahan olokkan, mungkin semua ini tak akan terjadi. Dia akan memiliki Alice, seperti memiliki apapun yang ingin dia dapatkan selama ini. “Kaisar sudah bangun?!” Alice berusaha bangun dari rasa kantuk yang membuat tubuhnya lemah, dia tersenyum lembut, tangan kanannya membelai rambut Julian. “Tidurlah lagi Alice, aku tahu kau masih sangat lelah.” Julian menempelkan bibirnya pada kening Alice. Dia tahu gadis kecilnya pasti kelelahan karena mereka melakukan hubungan badan lebih dari satu kali, bahkan berkali-kali. “Bagaimana bisa saya tidur ketika anda terus menatap seperti ini, Kaisar!” Alice memanjat tubuh Julian yang penuh dengan otot, sehingga Alice hanya seperti ulat bulu yang menempel pada sebuah batang pohon. “Apa Kaisar merasa lelah?” Julian menggeleng. “Saya juga tidak merasa lelah karena setiap waktunya akan berkurang Kaisar. Saya ingin melakukan banyak hal dengan anda! Wajah Julian berubah mendengar kalimat lembut dari Alice, dan gadis itu sangat mengerti. “Alice…” “Kaisar, saya sangat paham dengan apa yang akan anda katakan. Tapi sungguh saya telah berjanji dengan anda, apalagi yang anda khawatirkan?! mari kita sama-sama bersenang-senang, anda sudah mengajarkan saya banyak hal, Kaisar.” Julian membuang wajahnya! Seharusnya dia senang mendengar perkataan Alice, tapi ini TIDAK! Julian merasa kesal dan sangat ingin marah sampai ke ubun-ubun. Tapi dia tak tahu kenapa dirinya marah. “Alice, bisakah kita tak membicarakannya untuk saat ini.” Julian kembali menatap di sekitar karena dia tidak ingin seseorang menjadikan Alice sebagai sumber kelemahannya. “Baiklah Kaisar! Saya tidak akan membicarakan tentang ini lagi, saya mohon percayalah bahwa saya tidak akan mengacaukan apapun.” Alice menjawab pelan. Mereka pun menjalani hari-hari mereka berdua dengan sangat bahagia. Sekali pun Alice tak pernah lagi mengatakan perasaannya. Begitu juga dengan Julian, mereka hanya saling menikmati, saling melempar senyum dan kebahagian. Kepala melihat Julian sangat berbeda, tak di pungkiri oleh Kepala apa yang terjadi pada Julian saat ini adalah yang pertama kalinya. Dia tersenyum sangat tulus seperti anak-anak. “Anda terlihat berbeda, Kaisar.” Julian terdiam sembari melipat kedua tangannya di d**a. Mata pria ini terus menatap ke arah Alice yang berenang dengan para ikan. Senyum ceria Alice akan berakhir dalam waktu dua hari ini. Dia tak akan pernah melihatnya lagi. “Kepala, aku yang akan mengantar Alice langsung ke rumah yang sekaligus menjadi kafe-nya itu saat tiba di Negeri sihir nanti.” “Tapi Kaisar, saya takut pada wartawan dan paparazi mendapatkan foto anda. Jangan membuat semua menjadi sulit, kita sudah menjalaninya dengan sangat baik sampai sejauh ini.” “Apa gunanya kau jika tak bisa mengawasi aku dari jauh. Siapkan saja Kuda berbeda dan aku akan lewat jalur jalur khusus ketika di bandara. Percuma bagi Kepala untuk menolak segalanya. Julian akan tetap melakukan apapun yang sudah dirinya inginkan. “Saya akan menyiapkan semua yang anda inginkan, Kaisar!” “Baiklah Kepala, bagus sekali! Kau harus segera melakukan yang aku inginkan daripada berada di sini seperti orang bodoh. Benar-benar menyebalkan jika kau terus berkomentar tentang hidupku!” Kepala mengangkat kedua tangan sembari berjalan mundur. “Kaisar…” Alice berlari ke arah Julian, lalu memeluk pria itu dengan sangat erat. Alice naik ke atas tubuh Julian, dia menyapu bibir pria yang sejak tadi tersenyum ke arah dirinya, “Kenapa? Apa kau belum puas bermain Alice?!” Julian bertanya dengan lembut, tangan pria itu menyapu bibir Alice dengan ibu jarinya. Dia pun menyelipkan tangan di rambut Alice, Julian berbisik pelan. Terlihat jelas wajah Alice yang sangat bahagia, dia masuk ke dalam handuk kimono milik Julian gadis ini menggeliat. Mereka melakukan penyatuan di depan pantai nan indah, di bawah terik matahari yang luar bisa membakar kulit. “Kaisar, anda sangat luar biasa!” Puji Alice sembari mengelus lembut wajah Julian yang menikmati setiap sentuhan yang terasa bergeriliya di seluruh tubuhnya. “Kau nakal, Alice!” Julian berdecak saat melihat perubahan Alice yang semakin hari, kian pintar nan seksi hingga membuat dirinya candu. “Saya harus menikmati tubuh Kaisar hingga rasa manis menghilang menjadi hambar. Anda tak akan bisa melupakan saya, karena saya sudah mencuri manis tubuh anda.” Alice bergerak sempurna, tubuh ringkik gadis ini bergoyang mengikuti kata hatinya. “Bisakah aku mengambilnya kembali?!” Julian membalikkan tubuh Alice hingga dia berbalik. Melihat tubuh Julian berada di atasnya, Alice tersenyum lebar. Dan pria yang tengah kalut dengan gairahnya ini pun menyesap bibir Alice sangat dalam. “Apa yang anda inginkan dari saya? Waktu kita tak banyak Kaisar. Katakan saja, saya akan melakukannya selagi bisa, kecuali UANG.” “Gadis manis yang pelit.” Julian tersenyum. “Aku tidak mengambil apapun dari orang lain, aku akan membeli jika aku ingin. Jadi tak ada yang perlu kau berikan padaku, Alice. Semuanya sudah terasa sempurna, dan aku sudah sangat refresh sekarang.” “Saya sangat kecewa Kaisar, bisakah anda ke kamar saya setelah kita kembali. Walaupun anda tak ingin saya tetap ingin memberikannya.” Julian tak ingin menolak. “Baiklah Alice, aku akan datang ke kamarmu setelah kita kembali.” Dia mengangguk bahagia. “Saya sangat berterimakasih Kaisar, anda yang terbaik.” Alice yang bersemangat membuat Julian kewalahan. Dia sangat pandai bercinta sekarang, dan Julian mengakuinya. Alice juga tak banyak menuntut dan lebih baik dari wanita manapun sebelumnya. Sayang sekali Julian harus kembali ke perusahaan dan Alice akan kembali ke tempatnya. Mereka berdua tak akan saling bertatap mata lagi karena Alice sudah berjanji tidak akan mengangkat wajahnya jika mereka bertemu nanti. “Alice, akua kan mengantar kamu kembali ke tempat yang Demian beli untuk rumah sekaligus kafe untukmu.” “Tapi Kaisar, itu adalah area ramai. Anda bisa tertangkap kamera.” “Biarkan saja aku mengantarmu, jangan tolak aku seperti aku tidak menolak hadiahmu. Ini benar, bukan?!” Alice hanya bisa mengangguk, setidaknya Kaisar Julian tahu yang dia lakukan. Dan orang-orangnya tak mungkin membiarkan beliau mengalami nasib buruk. “Sekali lagi terimakasih Kaisar, saya sangat senang bekerjasama dengan Anda.” Alice mengulurkan tangan, dan Julian merasa kesal. Entah kenapa dia sakit sekali melihat wajah Alice yang menerima semua ini tanpa emosional seperti para gadis sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN