Perdebatan

1069 Kata
Di hari yang sama, ternyata Andy juga sedangberkeliaran di pasar. Beberapa kali dia mencoba menghubungi ponsel Dyandra namun Dyandra tidak bisa di hubungi sejak tadi pagi. “Si Indro kemana sih? Kok nggak di angkat-angkat telfon sih?” gumam Andy kesal menatap layar ponsel-nya yang menunjukan bahwa dirinya sudah menghubungi Dyandra hampir sebanyak 56 kali hari ini. Namun, tidak ada satupun telfon dan pesan yang di respon oleh Dyandra. Andy pun berdecak, dia kembali melanjutkan langkahnya dan mencoba mencari sesuatu yang bisa dia temukan di sana. Entah kenapa, hari ini rasanya begitu lain. Andy terus saja merasa khawatir karena Dyandra yang sulit di hubungi. Sebenarnya, Andy dan Dyandra sudah berjanji akan memotret di pasar bersama-sama. Namun, sampai saat ini Dyandra malah tidak memberitahu dimana keberadaannya pada Andy. “Minimal sih ngasih tau dimana. Atau kalau memang nggak punya kuota kan bisa angkat telfon aku!” gerutu Andy. Kini, langkah kakinya membawa dirinya ke sebuah warung kecil untuk membeli air mineral. Dan setelah mendapatkannya, Andy memutuskan untuk berhenti di sebuah taman dan dia memutuskan untuk duduk di sekitar sana. Dia berharap bisa menemukan Dyandra walaupun kecil kemungkinannya. Andy terlihat sangat gelisah dan beberapa kali dia kembali memeriksa ponselnya namun, tetap saja tidak ada pesan atau telfon dari Dyandra. “Tuh anak ya! Ugh, bener-bener! Katanya udah janji malah susah di telfon! Blegug emang!” lagi, Andy terus saja menggerutu. Cuaca hari itu cukup panas, idenya untuk membeli air mineral ternyata tidak sia-sia. Seharian menggerutu dan mencari makhluk asing bernama Dyandra benar-benar menguras tenaga. Dia mencoba membuka tutup botol air mineral yang sebelumnya dia beli lalu meneguknya beberapa kali tegukan. “Ahhhhhhhhh…” Andy kembali menutup tutup botolnya lalu menyadarkan tubuhnya ke tembok. Namun, saat Andy menikmati waktu istirahatnya dia tidak sengaja melihat sosok seorang gadis yang sangat tidak asing baginya sedang bertengkar dengan seorang pria di ujung jalan. “Mela?” Ya, gadis itu ternyata Mela. Tadinya Andy tidak ingin ikut campur ke dalam masalah hubungan orang lain. Namun setelah Andy telisik sepertinya Mela memang membutuhkan sebuah pertolongan hingga membuat Andy langsung bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Mela. Saat melangkah Andy terus melihat jika pria itu menarik tangan Mela dengan kasar dan memaksa Mela agar mau ikut dengannya. Juga, terdengar samar di telinga Andy suara pertengkaran diantara keduanya. “Mel, kita harus ngomong!” “Udah nggak ada yang perlu di omongin lagi Rif! Udah cukup!” jawab Mela sedikit menangis. “Tapi Mel, itu semua salah faham! Ayok ikut! Dengerin semua penjelasan dari aku!” paksa Arif. “Arif! Aku bilang lepasin!” kata Mela yang menepis tangan Arif, namun Arif kembali menarik tangannya dengan mencengkraman yang lebih keras hingga membuat Mela kesakitan. Andy datang di antara pedebatan yang terjadi. Entah apa yang terjadi, namun dengan sangat reflek Andy langsung mendorong tubuh Arif hingga Arif tersungkur ke tanah. Mela pun terkejut dengan kedatangan Andy menurutnya tiba-tiba, namun dia segera berlari untuk berlindung di belakang Andy. Pria bernama Arif itu pun menatap ke arah Andy dan Mela. “Heh! Beraninya kasar sama cewek!” amuk Andy menunjuk pada Arif. “Kamu nggak apa-apa kan Mel?” lanjut Andy pada Mela. “Nggak apa-apa kok kak.” Jawab Mela. Arif yang tersungkur pun mencoba kembali bangkit dengan tatapan yang tidak beralih menatap tajam pada Andy. “SIAPA LO? BERANINYA LO DORONG GUE!” amuk Arif dengan suara yang terdengar cukup keras. “Males kenalan!” jawab Andy menutup sebelah matanya seolah merasa bising hingga membuat Arif jadi heran dengan jawaban Andy. Arif terkekeh sarkas, namun dia mencoba untuk kembali mengajak Mela bicara. “Siapa orang nggak jelas ini sih Mel?! Pacar baru kamu? Hah?!” teriak Arif sambil menunjuk pada Mela dan Andy. Hah? Pacar?… Arif pun kaget, dan entah kenapa dia terlihat tersenyum malu setelah itu. “Bukan urusan kamu Rif!” bentak Mela. “JAWAB MEL!!!” teriak Arif kasar mencoba melangkahkan kakinya ke arah Mela. Namun, dengan tiba-tiba Andy pun kembali mendorong Arif, “Udah di balangin jangan kasar sama cewek! Masih aja!” Arif pun menahan dorongan Andy. Arif tambah kesal pada Andy, yang menurutnya Andy terlalu ikut campur soal masalah pribadinya dengan Mela. “Rese lo!” Arif segera melayangkan pukulan pada Andy dan sayangnya Andy tidak sempat untuk menahan pukulan Arif yang mendarat di wajahnya. Mela yang melihat hal itu pun kaget dan langsung menghampiri Andy yang sekarang tersungkur di tanah. “Arif!!! Kamu apa-apaan sih?!” teriak Mela kesal. Ternyata, Andy baik-baik saja. Dia bahkan bangkit sambil tertawa membuat Mela dan Arif keheranan. “Rata-rata cowok yang nyelesain masalahnya pake otot itu biasanya otaknya, NOL!” ledek Andy kembali tertawa. Amarah Arif pun kembali tersulut. Dia bahkan beberapa kali mengepalkan tangannya kesal. Hingga akhirnya dia pun tidak bisa menahan untuk kembali memukuli Andy. BUGGHHHH! BRUUGGHHH!! BUGGGHHH!!! Tidak ada balasan apapun dari Andy. Dia masih saja tetap tertawa dengan wajah yang sudah babak belur akibat ulah Arif. “Arif berenti Arif! STOPP!!!” Mela pun mulai berteriak namun Arif masih saja sibuk memukuli Andy. “RIF! KALAU KAMU MASIH MUKULIN DIA! AKU BAKAL TERIAK MINTA TOLONG!” amuk Mela dengan mata yang mulai melotot kemerahan dan berkaca-kaca. Akhirnya Arif pun terdiam dengan tatapan yang tidak beralih menatap Mela. “Berenti!” tegas Mela. Entah kenapa Arif terlihat sangat takut. Bukan karena ancaman Mela yang membuatnya takut. Namun, ini adalah kali pertama dia melihat Mela semarah itu padanya. Karena sebelumnya, memang belum pernah seperti itu. Mela adalah sosok gadis lembut yang selama ini selalu menuruti apa yang Arif katakan. Tapi sekarang, tidak lagi. Mela bahkan terlihat sangat berbeda padanya kali ini. Tidak seperti Mela lemah yang dia kenal selama ini. Arif pun mendengus kasar. Terlihat jelas dari raut wajahnya kalau dia sangat kesal. “Heh! Lo yang nggak tau apa-apa mau jadi sok pahlawan biar Mela kagum gitu sama lo?! Hah?! Liat aja gue nggak bakalan tinggal diam!” kata Arif meludah pada Andy lalu dia memutuskan untuk pergi dari sana. Andy masih saja terkekeh dengan wajahnya yang penuh luka. Mela segera membantu Andy yang terlihat lemas namun memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. “Kak, kakak nggak apa-apa kan?” tanya Mela begitu sangat khawatir lalu dia segera membantu Andy untuk bangkit yang hampir terjatuh menahan posisi berdirinya. “Nggak kok, aku nggak apa-apa. Ini nggak seberapa kok Mel...” jawab Andy sombong. Namun sebenarnya dalam hatinya Andy sedang menjerit kesakitan. Mela terlihat sangat khawatir dan memutuskan untuk mengobati luka-luka di wajah Andy. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN