Hari ini Dyandra sedang berjalan sendirian di sebuah pasar, bukan hanya berniat untuk berbelanja, namun dia juga sesekali memotret beberapa keadaan di pasar yang menurutnya terlihat sangat aesthetic dan cocok untuk di abadikan oleh kamera kesayangannya.
Saat ini Dyandra melangkahkan kakinya di sebuah jajaran barang-barang bekas yang letaknya pun juga tidak terlalu jauh dari pasar induk.
Dyandra terlihat sibuk memotret sampai-sampai dia tidak sadar kalau orang yang dia ambil gambarnya itu adalah Akmal.
Ya, ternyata Akmal juga sedang berada di pasar barang-barang bekas itu untuk mencari beberapa buku bekas yang dia cari selama ini. Memang sudah jadi kebiasaan untuk Akmal pergi ke tempat itu. Jadi, Akmal terlihat sangat dekat dengan beberapa pedagang di sana.
Ketika Dyandra melihat hasil gambarnya, dia pun sedikit terkejut.
Akmal....
Dyandra pun kembali memusatkan pandangannya pada Akmal yang saat ini sedang berjalan sambil menatap buku yang dia dapatkan dari salah seorang pedagang buku bekas.
Beberapa langkah ke depan, langkah Akmal pun semakin memelan kala Akmal melihat Dyandra sedang tersenyum di hadapannya.
"Dyandra?" gumam Akmal sedikit terkejut.
Dyandra melemparkan sebuah senyuman ada Akmal lalu dia berlari kecil menghampiri Akmal. "Ngapain kamu Mal?" tanya Dyandra antusias.
Akmal masih tidak percaya dengan kehadiran Dyandra di hadapannya saat ini. Dia bahkan membuat Dyandra menunggu jawabannya.
Akmal pun tersadar, dia terlihat salah tingkah sambil menatap ke sekitar. "Itu pertanyaan yang mau aku tanyain ke kamu Ndra..." kata Akmal menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal.
Setelah pertemuan mereka, akhirnya Dyandra dan Akmal memutuskan untuk pergi bersama. Mereka berdua pergi ke sebuah kedai yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat sebelumnya. Masih area pasar barang-barang bekas.
Kala itu, Dyandra terduduk menatap Akmal yang sedang memesan minuman pada salah seorang pemilik kedai yang mereka temui.
Setelah selesai dengan semua urusannya, Akmal pun kembali menghampiri Dyandra yang sedang duduk menunggunya dengan membawa dua buah minuman dingin di tangannya.
"Minum Ndra... panas-panas gini enak minum yang dingin-dingin kan?" kata Akmal menyodorkan salah satu minuman di tangannya.
Dyandra tersenyum. "Makasih Mal." Katanya.
Akmal mengangguk lalu dia duduk di samping Dyandra. "Jadi, kamu lagi motret pasar barang bekas Ndra?" tanya Akmal.
Dyandra menelan air minum yang dia seruput sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Akmal. "Nggak sengaja sih Mal. Aku justru baru pertama kali kesini."
"Serius?"
Dyandra pun mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya meyakinkan Akmal.
"Kalau aku sih sering banget ke sini Ndra."
"Ngapain Mal? Beli buku?” tanya Dyandra menatap buku milik Akmal yang dia dapatkan dari pedagang barang bekas.
Akmal mengagguk sambil menatap buku yang baru dia beli.
“Kenapa harus jauh-jauh nyari ke pasar barang bekas Mal? Emang di toko buku nggak ada?” tanya Dyandra heran.
“Nggak ada. Soalnya buku yang aku cari kebanyakan buku yang udah di tarik dari toko buku.” Jelas Akmal.
“Aku curiga, jangan-jangan kamu nyarinya buku-buku jadul lagi.” Kata Dyandra terkekeh.
Akmal hanya tertawa mendengar apa kata Dyandra, dan itu membuat Dyandra tidak berhenti terkekeh.
“Oh iya, gimana untuk acara baksosnya Mal? Aku liat, banyak juga yang mau bantu.” Kata Dyandra sedikit penasaran dengan progress acara yang Akmal buat.
“Alhamdulillah Ndra, ternyata respon dari anak-anak cukup bagus.” Jawab Akmal tersenyum.
Dyandra pun kembali tersenyum melihat Akmal tersenyum padanya, dan mereka pun tidak menyadari sedang saling bertukar tatap.
“DEDE!!!”
Namun dalam sekejap keduanya pun tersadar karena suara teriakan seorang ibu yang sedang memanggil anaknya.
Setelah istirahat sejenak, kini Akmal menemani Dyandra berkeliling untuk memotret. Akmal bahkan tidak ragu untuk menunjukan beberapa tempat yang belum Dyandra lihat sebelumnya.
Di sebuah tempat yang tidak jauh dari sana, Dyandra melihat beberapa anak kecil yang berkeliaran di jam sekolah dengan menjinjing sebuah karung sambil memeriksa beberapa tempat sampah yang ada di pasar.
Dyandra pun memotret pemandangan tersebut, bahkan dia pun sulit menahan rasa pilu yang muncul saat dia melihat anak-anak itu.
“Mereka harus putus sekolah karena faktor ekonomi.” Kata Akmal yang mencoba menjelaskan pemandangan di depan Dyandra.
Dyandra terdiam menahan tangisnya.
Rasanya kenapa begitu menyakitkan melihat anak-anak itu, kenapa mereka harus menanggung beban seperti itu?
Daripada semakin larut, akhirnya Akmal pun mengajak Dyandra ke tempat lainnya. Dan saat mereka akan menyebrang Akmal tiba-tiba menuntun seorang nenek tua yang yang juga akan menyebrang. Akmal bergeser sehingga nenek tua itu berada di tengah-tengah antara Dyandra dan Akmal. Dyandra tersenyum dan ikut menuntun nenek itu menyebrangi jalan raya.
Sampai di seberang nenek itu tersenyum dan beberapa kali mengatakan rasa terimakasihnya.
“Kalian pasangan yang sangat serasi dan baik hati. Semoga kalian langgeng sampai tua nanti. Terimakasih ya cu.” Pamit nenek itu terkekeh.
Dyandra dan Akmal hanya saling menatap malu. Keduanya jadi terlihat salah tingkah setelah mendengar apa yang di katakan nenek itu sebelum pergi.
***
Akmal dan Dyandra duduk di tepi sungai, Dyandra beberapa kali memotret pemandangan tersebut. Dia juga bahkan dengan jahilnya mencoba memotret Akmal yang terlihat sangat malu-malu memalingkan wajahnya agar Dyandra tidak memotretnya.
“Ya ampun Akmal, sekali aja.” Kata Dyandra sedikit protes.
Akmal hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya pertanda jika dia memang tidak ingin di foto oleh Dyandra.
Menurut Dyandra, Akmal cukup tampan untuk menjadi modelnya, tapi Akmal memang bukan tipe orang yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi seperti Andy. Jadi dia merasa tidak nyaman jika berhadapan dengan kamera.
Akmal juga satu-satunya pria yang cukup populer di kampus karena ketampanan dan kepintarannya. Banyak gadis-gadis yang mengejar dan mencari perhatiannya agar bisa dekata dengannya. Itulah alasannya kenapa Dyandra tidak memiliki banyak harapan pada seorang Akmal. Walaupun pada kenyataannya Dyandra ini terlalu cuek dan hatinya tidak berdungsi dengan baik, namun ternyata dia juga tertarik pada Akmal sejak pertama kali mereka saling mengenal satu sama lain.
Dyandra hanya mencoba bersikap sewajarnya pada Akmal karena dia hanya sedang menjaga dirinya agar tidak merasakan sakit di hatinya. Ya, dia tidak mau terlalu banyak berharap pada Akmal.
Dengan jahilnya Dyandra beberapa kali memotret Akmal dan tidak peduli hasilnya walaupun Akmal menutup wajahnya. Dyandra pun tertawa ketika dia melihat semua hasil gambar yang dia ambil.
“Akmal… kenapa harus di tutup sih mukanya? Padahal bagus tau…”
Akmal hanya menunjukan wajah meledeknya pada Dyandra, dan Dyandra pun hanya mendelik merespon Akmal.
“Beneran Akmal… aku nggak bohong tau.”
“Nggak, aku nggak percaya.” Jawab Akmal.
Dyandra hanya tersenyum dan memilih untuk kembali melihat hasil-hasil gambarnya di kamera.
***
Di sebuah persimpangan, Akmal dan Dyandra menghentikan langkahnya. Sebenarnya Akmal berniat untuk mengantar Dyandra pulang. Namun sepertinya Dyandra tidak mau merepotkan Akmal dan malah mengucapkan perpisahan.
“Mal…” seru Dyandra membuat Akmal langsung menoleh ke arahnya. “Makasih ya buat hari ini. Ini bener-bener seru. Dan aku suka.” Lanjut Dyandra terlihat senang.
Akmal tersenyum menatap Dyandra. “Sama-sama Ndra.”
“Hmm, yaudah kalau gitu. Aku pulang ya, Mal...”
Akmal pun mengangguk sambil berkata, “Hati-hati ya Ndra.”
Andra tersenyum lalu dia pergi meninggalkan Akmal yang masih berdiri memperhatikannya.
***