Satu Tim

1168 Kata
Suasana di Aula begitu riuh, apalagi saat ini di dalam ruangan sudah banyak mahasiswa yang berdatangan untuk berkumpul mengikuti acara baksos yang akan di adakan dalam beberapa hari ke depan. Akmal pun berdiri di depan, sambil mengucapkan salam. “Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu…” Ucapan salam dari Akmal pun langsung di jawab oleh seluruh mahasiswa yang ada di Aula. "Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatu!” Keadaan pun hening setelahnya. Akmal kembali melanjutkan walaupun sebelumnya dia sempet ingin menunda sambutannya karena menunggu Dyandra yang belum juga terlihat. "Makasih ya buat temen temen yang udah mau luangin waktunya sebentar. Nah, jadi rencananya ini kita mau bikin acara bakti sosial buat anak-anak jalanan hari kamis nanti. Yang ikut kumpul sekarang di sini berarti udah siap buat bantu berarti ya?" lanjut Akmal. "Siaaapp!!!" Saat Akmal sedang menyambut para mahasiswa di depan ruangan dengan alat pengeras suara, Akmal pun tiba-tiba terhenti saat dia melihat kedatangan Dyandra bersama Andy di pintu masuk aula. Dyandra… Akmal langsung tersenyum dan terlihat bersemangat melanjutkan sambutannya ke inti pembicaraan yang ingin dia sampaikan. "Jadi gini, untuk rencana acaranya, kita mulai dari hari Kamis, itu hari pertama kita cari dana untuk pembelian buku, peralatan tulis, dan lain-lain. Kira-kira ada masukan nggak? Atau mungkin ada yang mau ditanyain?" Semua pun saling bertukar tatap dan saling melempar untuk bertanya. Namun, pandangan Akmal kembali tertuju pada Dyandra yang terlihat sedang beradu argumen. Seseorang mengangkat sebelah tangannya pertanda ingin bertanya pada Akmal. “Akmal!” teriak Nisa masih mengangkat sebelah tangannya. Akmal langsung memfokuskan pandangannya pada Nisa. “Iya Nis? Gimana?” "Untuk hari Kamis kita cari dana sumbangannya di bagi kelompok apa kita semuanya turun bareng-bareng aja gitu?" tanya Nisa. "Ya… terserah enaknya kaya gimana?" "Nggak mungkin semua turun sekaligus di tempat yang sama kaya anak bebek anjir!!!" “Iya bener, entar warga ngiranya mau demo lagi.” “Yaudah mendingan bagi kelompok sih, tapi di campur ya? Kakak tingkat campur sama adik tingkat.” “Nah, iya gitu enak tuh.” Celetuk Andy terkekeh dan langsung mendapatkan jitakan dari Dyandra. “Apa sih?” “Keganjenan, GELI!” amuk Dyandra. Andy pun hanya mendelik dan langsung tersenyum pada semua juniornya yang sedang menatap dirinya. Mela dan Putri yang juga sedang menoleh ke arah Dyandra dan Andy pun hanya bisa saling bertukar tatap. Tiba-tiba Nisa yang sebelumnya duduk di tengah kerumunan itu bangkit dari tempat duduknya dan segera berlari kecil untuk menghampiri Mela dan Putri. “Mel, satu kelompol sama Ateu aja!” paksa Nisa langsung menulis nama Mela dan Putri di sebuah note kecil. “T-tapi kan…” “Udahlah biar nggak ribet!” Selesai menulis nama Mela dan Putri, Nisa pun langsung memanggil Dyandra hingga Dyandra pun langsung menghampiri Nisa. “Apaan Ca?” tanya Dyandra. “Kita satu kelompok ya, Ndra?” kata Nisa menunjuk ke sekelilingnya. Dyandra terdiam dan menatap ke arah Mela dan Putri. Jujur, dia agak sedikit malas jika dekat dengan orang baru. Apalagi menurut Dyandra, Putri dan Mela adalah junior yang cerewet dan tidak tau sopan santun pada senior. Saat Dyandra akan menjawabnya, tiba-tiba Andy menyambar bagaikan petir. “Catet! Andy ikut di kelompok ini ya!” Semua pun langsung menatap Andy dengan tatapan nyinyir, karena di antara mereka hanya Andy lah satu-satunya pria. “Nggak usah pada terpukau gitu liat Andy yang ganteng ini.” Kata Andy yang mulai kumat. “Idih!” Nisa pun bergidik geli mendengar apa kata Andy. “Buruan Nisa bin pak Tohir catet!” paksa Andy pada Nisa. “Ogah! AKMAAAALLLL!!!” Nisa pun akhirnya berteriak memanggil Akmal. Akmal yang sedang sibuk pun terpaksa mengakhiri obrolannya dan memilih untuk menghampiri Nisa yang sedang berkerumun dengan Dyandra, Andy, dan dua orang junior yang tidak dia kenali. “Eh, kenapa nih?” tanya Akmal membuat Putri dan Mela saling menyikut satu sama lain. Maklum, sejak pertama kali mereka berdua masuk ke kampus, Akmal memang telah mencuri perhatian Mela dan Putri selama ini. Bukan hanya karena Akmal adalah seorang ketua BEM, tapi Akmal juga lah satu-satunya senior mereka yang paling tampan dari semua senior yang mereka temui. “Ini nih, si Andy gangguin mulu!” ceracau Nisa sambil memukul-mukul pelan Andy. “Mal, ya nggak apa-apa dong ya aku gabung ngetim sama mereka?” kata Andy mencoba menjelaskan pada Akmal kenapa Nisa begitu sangat berisik. “Nggak ada ya! Keenakan kamu, cowoknya sendiri!” amuk Nisa. Andy dengan jahilnya langsung membalas perkataan Nisa dengan merentangkan tangannya membuat Nisa jadi kesal gara-gara Andy. Sementara Putri, Mela dan Dyandra hanya menatap heran perdebatan di antara keduanya. "Sebenernya nggak apa-apa sih Nis,” mendengar apa kata Akmal, Andy pun merasa seolah ada yang membela dirinya. “Berarti nanti, Andy yang bagian bawa barang-barang yang beratnya sendirian." Lanjut Akmal terkekeh membuat Andy mendelik kesal menatap Akmal. “Sesama cowok tuh harusnya belain dong Mal!” “Pokoknya aku nggak ikutan ya, aku tunggu list nama-nama kelompoknya paling telat besok… bye!" kata Akmal yang memilih untuk segera pergi dari sana. Namun sebelum melangkah, Akmal dan Dyandra saling tersenyum satu sama lain membuat Andy yang melihatnya pun jadi kesal dan langsung mendorong Akmal agar cepat pergi. Putri dan Mela merasa sedikit terkejut dan saling bertukar tatap karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat baru saja. Setelah Akmal pergi, Andy dan Nisa pun kembali berdebat. Hingga akhirnya Dyandra pun bertindak untuk mengambil jalan tengah. “Gini aja deh, berhubung Andy kekeh banget pengen ikut jadi tim cewek. Jadi gimana kalau nanti biarin Andy teraktir kita makan siang.” Andy yang tadinya memiliki secercah harapan pada Dyandra pun seketika mendelik tajam karena kecewa. “Ndro…” Dyandra pun menoleh ke arah Andy saat namanya terdengar dari mulut Andy. “Mau banget ya liat orang bankrut! Bener-bener.” Kata Andy. “Setuju!!!!!” teriak Nisa terlihat sangat senang. Putri dan Mela pun ikut terkekeh, walaupun sebenarnya keduanya sedikit agak heran pada Andy dan Dyandra. Mereka masih menyangka kalau keduanya memiliki hubungan yang lebih dari teman itu pun menjadi ragu dengan apa yang mereka fikirkan selama ini. *** Mela dan Putri berjalan pulang, keduanya sedang membicarakan tentang kedekatan Andy dan Dyandra di sepanjang perjalanan menuju ke tempat kos mereka. “Mereka sih memang keliatan deket banget, tapi di satu sisi mereka kayaknya nggak ada apa-apa deh Put.” Kata Mela berasumsi. “Iya, aku fikir juga gitu Mel. Merhatiin nggak sih gimana kak Akmal senyum sama dia?” tanya Putri heran dan dibalas dengan anggukan berkali-kali dari Mela. “Nggak biasa kan?” lanjut Putri yang kembali dibalas dengan anggukan kepala Mela. “Iya, mereka saling lempar senyum gitu kan?” Putri terlihat kesal mengingatnya. “Ini apa emang sebenernya dia itu ada hubungan sama kak Akmal?!” Mela pun mengangkat kedua bahunya. “Nggak tau deh…” Putri menatap Mela dengan wajah yang sedikit meledek. “Kok tiba-tiba lesu sih?” kata Putri terkekeh. “Haha, aku sih nggak ya!” jawab Mela menunjukan jari telunjuknya. Putri hanya mendengus pelan. “Jelas! Kamu kan punya Arif!” cibirnya pada Mela. Mela pun terkekeh dan langsung menutup wajah Putri dengan telapak tangannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN