Pagi-pagi sekali di lorong kampus, Putri dan Mela yang baru saja datang di kagetkan oleh Andy yang melihat kedatangan mereka saat dirinya akan pergi ke kelas.
Andy yang tiba-tiba muncul di hadapan keduanya pun membuat Putri dan Mela kaget.
"Selamat pagi Mela! Selamat pagi Putri!” sambut Andy sangat rusuh. Putri dan Mela pun mengelus d**a mereka masing-masing.
“Eh, bener Putri kan namanya?" tanya Andy menunjuk Putri. Dia takut keliru soal nama Putri.
Putri pun mengangguk sambil terkekeh canggung. Sementara, Mela yang tidak menyukai kedatangan Andy pun hanya bisa memutar bola matanya malas sambil mendengus kasar.
"Ok, kebetulan ketemu ya kalian berdua di sini,” Andy pun merapihkan rambutnya sebentar. “Jadi gini, aku mau ngasih sedikit pengumuman nih, di suruh sama si Akmal, katanya mau pada ikutan acara baksos nggak?" lanjut Andy menyampaikan pesan yang harusnya di sampaikan pada Dyandra malah dia sampaikan pada Putri dan Mela.
"Baksos buat?" tanya Putri.
"Katanya sih buat sumbangan anak-anak jalanan gitu. Nah, kalo kalian mau ikutan di tunggu di aula katanya nanti siang ok, bye..." jelas Andy yang langsung pamit begitu saja dengan gayanya yang menyebalkan.
Putri dan Mela pun menatap heran Andy yang sudah semakin menjauh dari pandangan mereka berdua.
"Ih, tuh orang. Nggak jelas banget perasaan!" gumam Mela sebal.
Putri pun hanya tersenyum menatap Mela, namun tiba-tiba dia terlihat sangat bersemangat mengingat apa yang dikatakan oleh Andy sebelumnya.
"Ikutan yuk Mel, kayaknya seru deh ikut baksos?" ajak Putri menarik tangan Mela.
Mela pun mendelik ke arah Putri hingga membuat Putri heran dengan sikap Mela. “Yakin?” tanya Mela agak ragu.
“Y-yakinlah… kenapa emangnya?” tanya Putri heran.
Mela pun mendengus pelan, sementara Putri masih menunggu jawaban dari Mela yang terlihat masih berfikir.
“Mel? Ini tuh acara baksos loh, lumayan nambah-nambah pahala juga kan…” kata Putri heran.
Mela pun menatap Putri sambil menarik kembali tangannya yang di tarik oleh Putri. "Iyah iyaaaah Put, aku tau..."
“Ya terus?” tanya Putri heran.
Mela pun melangkahkan kakinya hingga akhirnya Putri pun mengikutinya sekarang.
Beberapa langkah kaki, Putri menunggu jawaban Mela, namun dengan tiba-tiba Mela menghentikan langkah kakinya dan membuat Putri hampir menubruk Mela.
“Hmm, yaudah deh kita ikut bakso!” kata Mela yang akhirnya mengiyakan ajakan Putri.
“Beneran?” tanya Putri memastikan keputusan Mela dan Mela pun menganggukan kepalanya beberapa kali dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
“Yeah… gitu dong.” Kata Mela mencoba merangkul Mela. “Yaudah sekarang kamu mau sarapan apa? Biar aku yang teraktir." Lanjut Putri.
Mendengar apa kata Putri, Mela pun langsung bertanya, “Ini bukan sogokan kan?” tanya Mela terkekeh.
“Ya nggaklah Mel!”
“Yaudah teraktir sayur lontong ya?”
“Oke! Apa sih yang nggak buat Mela ku sayang.” jawab Putri terkekeh sambil mengacungkan jempol tangannya pada Mela.
“Apaan sih!” Mela pun ikut terkekeh.
Akhirnya Mereka berdua pun melanjutkan langkah mereka ke kantin sambil tertawa bersama-sama.
***
Akmal dan beberapa anggota kepengurusan lainnya sedang sibuk menempelkan selebaran di setiap sudut ruangan yang berada di kampus. Tidak hanya menempel, tapi mereka juga membagikan selebaran itu pada beberapa mahasiswa lainnya yang melintas di sekitar mereka.
“Kapan nih, Mal?” tanya salah seorang mahasiswa seangkatan Akmal saat diberi selembar kertas oleh Akmal.
“Pokoknya nanti siang kumpul aja di aula kalau mau ikut.” Jawab Akmal.
“Oh, ok!” jawab orang itu pergi sambil memfokuskan tatapannya pada selebaran di tangannya.
Akmal hanya tersenyum dan dia kembali melanjutkan langkahnya sambil memberikan selebaran yang dia pegang kepada beberapa mahasiswa lainnya yang berpapasan dengannya.
Saat Akmal melangkah, dia sengaja mengarahkan pandangannya ke arah kelas Dyandra, dan disana dia pun melihat Dyandra sedang tertawa dengan teman-temannya yang terdiri dari beberapa gadis dan pria teman satu ruangannya.
Akmal pun terdiam dan menyibukan matanya untuk terus menatap Dyandra.
Rasanya… kaya aku juga ikut dalam kebahagiaan kamu Ndra. Liat kamu ketawa lepas kaya gitu bikin aku juga ngerasain kebahagiaan yang lagi kamu rasain. Terus tersenyum kaya gitu ya Ndra.
Akmal pun menghela nafasnya sejenak dan setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya dengan senyuman yang terukir di wajahnya setelah melihat Dyandra.
Andy, yang sejak tadi berada di balik dinding pun melangkah, dia hanya diam tidak banyak bicara dan hanya menatap heran langkah Akmal. Andy juga bahkan berkali-kali menatap sumber yang di tatap oleh Akmal sebelumnya.
“Dyandra?” gumam Andy terkekeh sarkas.
Andy mendengus pelan, setelah itu dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Dyandra yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
“Ndra, aku ke perpus dulu ya?” pamit salah satu teman Dyandra yang langsung di balas dengan acungan jempol oleh Dyandra.
“Ndroooo!!!” teriak Andy.
Dyandra pun menoleh ke arah Andy. “Apa?” tanya Dyandra heran karena saat itu dia melihat wajah Andy terlihat sedikit kesal.
“Siang ini makan baso yang ada di deket pasar itu yuk?” ajak Andy terdengar sedikit memaksa.
Dyandra menatap wajah Andy sejenak, “Mau neraktir?”
Mendengar Dyandra, Andy pun merubah ekspresi wajahnya menjadi tambah sebal. “Y-ya sendiri-sendiri la!”
Dyandra pun mendengus.
“Dih ngajak tapi gitu. Aku nggak mau ah kalau nggak di teraktir!”
Andy pun menatap Dyandra dengan dengusan kasar membuat Dyandra malah jadi ingin tertawa namun, dia berusaha untuk menahan tawanya itu agar tidak lepas dan membuat Andy jadi semakin kesal.
Dyandra memasang wajah imutnya pada Andy sehingga Andy pun jadi melunak karenanya.
“Yaudah deh… iya aku teraktir! Asal beneran ya!”
Dyandra pun menatap heran pada Andy. Karena sangat jarang baginya Andy bersikap itu padanya. Dan tatapan itu pun berhasil membuat Andy malah jadi salah tingkah.
“Apa sih liat-liat?!” tanya Andy kesal.
Dyandra pun terkekeh, “Ah, nggak kok…” jawab Dyandra terkekeh mengalihkan pandangannya ke arah lain.
***
Di sebuah tempat makan yang sedikit agak jauh dari kawasan kampus. Andy mengajak Dyandra makan siang di tempat bakso yang biasa mereka beli dan jadi tempat favorit mereka berdua selama beberapa bulan terakhir.
Keduanya terlihat sangat rusuh saat memasuki area jajanan tersebut. Mereka bahkan langsung memesan pesanan bakso sesuai selera mereka berdua dengan tanpa santai membuat pedagang bakso pun kewalahan menghadapi mereka berdua.
Setelah memesan bakso, mereka berdua pun melangkah mencari tempat duduk yang kosong. Dan mereka memilih untuk duduk di meja yang berada di sudut kanan ruangan tersebut. Dyandra dan Andy pun berlari untuk memperebutkan kursi kosong yang berada di dekat tembok. Namun, karena Dyandra sangat cepat melangkah akhirnya Andy pun harus mengalah membiarkan Dyandra duduk disana.
Andy pun menggerutu sambil mendelik ke arah Dyandra yang saat ini sedang memasang wajah yang mengejeknya.
Tidak sampai disitu, setelah usaha memperebutkan tempat duduk di menangkan oleh Dyandra, kini keduanya saling menatap sengit saat mengetahui jika garpu di tempat sendok yang berrada dihadapan mereka berdua, hanya tinggal satu buah.
Pertarungan memperebutkan garpu pun dimulai.
“Neng, yang nggak pake bihun pake sayur nggak?!!” teriak pedagang bakso pada Dyandra.
“Hah?” Dyandra yang akan meraih garpu pun kehilangan fokus. “Pake mas!”
Hingga akhirnya garpu terakhir yang ada di meja tersebut pun berhasil di dapatkan oleh Andy.
“Andy!!!! Itu garpu punya aku ya!”
“Bodo amat!”
“Jadi cowok rese banget sih, Ndy!”
Semua pengunjung di tempat bakso pun menatap ke arah Dyandra dan Andy dengan heran.
Abang bakso itu pun mengantarkan dua mangkok bakso pesanan Dyandra dan Andy. “Ini Dek, baksonya.”
Dyandra dan Andy pun terdiam menatap mangkok yang datang di hadapan mereka. Saat abang bakso itu pergi, dia pun kembali dengan membawa banyak garpu yang dia pindahkan dari meja lainnya hingga membuat Dyandra pun merasa sangat bahagia. Maklum, Dyandra memang sering merasa kesulitan dalam hal memotong bakso, itu sebabnya dia membutuhkan garpu sebagai alat perangnya.
Akhirnya suasana pun kembali kondusif saat keduanya di hadapkan dengan makanan. Namun saat Dyandra akan menyuap makanannya, tiba-tiba dia melihat ponselnya menyala.
Dia pun mengurungkan niatnya untuk makan dan lebih memilih untuk memeriksa pesan masuk dari Akmal.
Akmal : Ndra, dimana? Kok aku cari nggak ada? Kita kan mau kumpul di Aula.
Dyandra pun menggaruk-garuk kepalanya. Dia benar-benar sangat lupa kalau siang ini akan diadakan kumpulan untuk acara baksos nanti.
Dyandra pun membalas pesan Akmal dan setelah itu dia melanjutkan kembali untuk memakan bakso.
“Ndy, aku lupa nanya.”
Andy yang sedang serius makan pun menghentikan aktifitasnya.
“Nanya apaan?” tanya Andy heran.
“Kenapa sih kamu nggak bilang kalo Akmal sama anak-anak kepengurusannya mau bikin acara baksos. Katanya kamu ikutan…”
“Eh, serius Akmal bilang gitu?”
“Ah, elah… pura-pura nggak tau lagi!”
Andy pun bungkam dan tidak menjawab perkataan Dyandra.
“Abis ini kita balik lagi ke kampus ya…” lanjut Dyandra.
“Lah, kok…”
“Ada acara ngumpul buat bahas baksosnya di aula sekarang!”
Andy pun mendengus kasar. Fikirnya, percuma mentraktir Dyandra jauh-jauh jika akhirnya Dyandra juga harus kembali ke kampus dan bertemu dengan Akmal hari ini.
“Buruan abisin!” bentak Dyandra.
Andy pun mendelik dan kembali memakan makanannya dengan kesal.
***