Sebelumnya Dyandra dan Andy mencoba menuntun Putri ke tempat yang lebih jauh dari tempat perbaikan gorong-gorong tersebut. Namun Dyandra dengan inisiatif mengambil alih untuk menuntun Putri sendiri dan menyuruh Andy untuk diam dan tidak ikut campur.
Dyandra menuntun Putri untuk duduk di sebuah tembok. Kini, mata Putri sejak tadi tidak beralih menatap Dyandra hingga Dyandra pun tersadar dengan sikap Putri tersebut.
“Kenapa? Kenal?” tanya Dyandra heran.
“Y-ya jelaslah kenal! Orang tadi siang kamu marah-marah!” jawab Putri sedikit membentak.
Dyandra pun terdiam heran, dia mencoba mengingat apa yang di maksud dengan perkataan Putri barusan.
“Marah-marah? Siapa yang marah-marah?” sambar Andy heran mendengar pembicaraan Putri dan Dyandra.
“Iya, tadi siang dia marah-marah sama kita berdua. Terus udah gitu nubruk-nubruk lagi! Heh! Liat tuh, gara-gara kamu tangannya sampe baret-baret!” amuk Putri menunjuk ke arah tangan Mela.
Dyandra pun langsung menoleh ke arah kemana tangan Putri menunjuk, dan di lihatnyalah Mela sedang tersenyum sambil menyembunyikan tangannya.
Dyandra akhirnya mengingat kejadian tadi siang di kampus. “Oh… jadi itu kalian.” Dyandra pun terkekeh sarkas sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Heh! Karena kamu nggak pake mata kamu dengan baik, dan kamu nggak liat papan pemberitahuan kalau gorong-gorongnya lagi dalam perbaikan, liat sekarang! Kaki kamu sakit kan?! Kamu tuh ceroboh tau nggak?! Jadi nggak salah aku udah marah-marah sama kalian siang tadi karena kalian udah ngehalangin jalan!” tegas Dyandra.
“…”
Putri dan Mela pun terdiam sementara Andy masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
“Hidup tuh harus imbang! Kamu pake mata kamu buat liat dan kamu pake kaki kamu itu buat numpu di atas tanah. Kalo kamu nggak pake salah satunya dengan baik. Salah satu yang lainnya pun bakalan ada yang celaka!" kata Dyandra mendorong paksa Putri untuk duduk.
Dyandra mengeluarkan kotak P3K yang selalu dia bawa di dalam tasnya. Dan setelah itu, perlahan dia mulai mengobati luka Putri namun dengan mulut yang masih saja mengomel pada Putri.
Sudah jadi kebiasaan bagi Andy melihat sikap Dyandra yang memang seperti itu. Walaupun Dyandra terkenal sangat cuek namun sebenarnya Dyandra itu sosok gadis yang perhatian dan keibuan.
Andy lebih memilih untuk diam daripada ikut campur. Karena Dyandra bisa saja memarahi Andy dan menjatuhkan imagenya di depan dua gadis yang saat ini bersama mereka.
Mela? Tentu saja dia saat ini dia sedang sangat khawatir melihat keadaan sahabatnya. Apalagi saat itu Mela melihat cukup banyak darah yang keluar dari luka di kaki Putri.
Di tengah-tengah pemandangan itu, beberapa kali Andy mencoba untuk mendekati Mela.
"Hai..." sapa Andy menggeser posisinya sedikit lebih dekat dengan Mela.
Mela menoleh namun hanya merespon Andy dengan senyuman heran karena dia sedang fokus melihat keadaan Putri yang sedang di obati oleh Dyandra.
"MaBa di kampus ya?" tanya Andy berbisik.
Dyandra yang sedang mengobati luka Putri pun mendengar jika Andy sedang melancarkan jurus-jurusnya di belakang. Dia hanya mendengus dan lanjut mengobati Putri.
Sementara Mela, dia saat ini sedang sibuk menatap Andy dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Mela mencoba mengingat apakah Andy ini adalah kakak seniornya atau teman satu angkatan dengannya. Karena Mela sama sekali tidak bisa mengenali wajah Andy yang baru dia lihat.
"Kenapa emang?" tanya Mela sedikit ketus.
"Kenalin... Andy dari semester 5." Kata Andy terkekeh sambil mengulurkan tangannya.
"Oh..." jawab Mela.
Andy hanya bisa terdiam karena uluran tangannya sama sekali tidak di respon oleh Mela. Andy pun segera menarik kembali tangannya.
"Nama kamu siapa, mohon maaf..." kata Andy sedikit memaksa.
"..." Mela hanya mendelik pada Andy dan Andy malah tersenyum sambil merapihkan kembali rambutnya. "Ck! Aku kan udah kasih tau nama aku sama kamu. Jadi, sekarang giliran kamu yang kasih tau siapa nama kamu..." lanjut Andy masih berusaha untuk berkenalan dengan Mela.
Mela pun mendengus pelan Sebelum akhirnya dia memberitahu Andy namanya.
"... Mela!" jawab Mela masih terdengar ketus.
"Oh, Mela... hehe nama yang cantik secantik orangnya ya..." kata Okan terkekeh.
Mela hanya memutar bola matanya malas saat dia mendengar rayuan Andy yang menurutnya terdengar sangat klasik.
Sementara itu, Dyandra telah menyelesaikan pekerjaannya dan merapihkan kembali semua obat-obatnya ke dalam kotak P3K miliknya. "Masih bisa bediri kan?" tanya Dyandra dengan mata yang tidak beralih menatap kaki Putri.
"B-bisa kok." Jawab Putri.
Dyandra pun bangkit sambil memasukan kotak P3K miliknya itu ke dalam tas. "Yaudah, sampe di rumah jangan lupa di balurin kakinya pake minyak kayu putih. Aku yakin kamu juga pasti keseleo... jalan aja pelan-pelan, nggak usah grasak-grusuk! Dan, yang pasti tuh mata di pake!" omel Dyandra.
Putri hanya bisa mengangguk mengiyakan apa kata Dyandra.
"Andy, balik yuk!" ajak Dyandra pada Andy yang sedang sibuk menggoda Mela.
Andy yang di sebut namanya oleh Dyandra pun menoleh. “Hah?”
“Apa maksudnya, hah? Ayok balik!”
“T-tapi kan...”
Dyandra pun kesal, dia segera menghampiri Andy dan menarik kerah baju Andy untuk pulang.
“Buruan balik! Heran deh ngardus mulu!” omel Dyandra.
Saat Dyandra melangkahkan kakinya, Putri pun menahan Dyandra dengan menarik tas milik Dyandra. Dyandra dan Andy pun terhenti dan menoleh ke arah Putri.
"M-makasih ya..." kata Putri sedikit terbata-bata.
Dyandra dan Andy saling bertukar tatap, Andy bahkan memberikan isyarat agar Dyandra menjawab ucapan terimakasih dari Putri.
"Sama-sama." Jawab Dyandra dingin.
Dyandra pun kembali menarik kerah baju Andy dan pergi meninggalkan Putri sambil menyeret paksa Andy yang sedang tebar pesona melayangkan kiss bye pada Mela.
"Berhenti tebar pesona bisa nggak sih!" amuk Dyandra semakin menarik Andy dengan kasar.
“AW!! Sakit Ndro!”
Putri dan Mela saling bertukar tatap setelah mereka melihat sikap Dyandra dan Andy. Mereka jadi tidak enak pada Dyandra apalagi Mela, karena Mela dan Putri menyangka jika Andy dan Dyandra memiliki hubungan.
***
Saat ini Putri sedang membalurkan kakinya yang sakit dengan kayu putih di kamarnya. Dia menuruti semua pesan Dyandra sebelumnya. Bahkan amukan Dyandra itu pun sukses membuat telinganya terngiang-ngiang dengan ucapan Dyandra.
Yaudah, sampe di rumah jangan lupa di balurin kakinya pake minyak kayu putih. Aku yakin kamu juga pasti keseleo... jalan aja pelan-pelan, nggak usah grasak-grusuk! Dan, yang pasti tuh mata di pake!
Putri pun terdiam sejenak mengingat setiap perkataan Dyandra padanya. "Mata orang tadi, gerak gerik orang tadi, kok malah ngingetin aku sama Iyan yah?" gumam Putri.
Hidup tuh harus imbang! Kamu pake mata kamu buat liat dan kamu pake kaki kamu itu buat numpu di atas tanah. Kalo kamu nggak pake salah satunya dengan baik. Salah satu yang lainnya pun bakalan ada yang celaka!
"Yang di bilang sama dia bener, mungkin ibaratnya kaya aku sama Iyan kali ya… Iyan itu udah kaya mata buat aku, dan aku sendiri kaki buat Iyan. Di saat aku butuh mata buat liat. Aku pun jatuh dan terluka sekarang." Gumam Putri sambil menatap langit malam itu dari jendela.
***