Celaka

1417 Kata
Putri dan Mela sedang berada di salah satu pasar swalayan untuk berbelanja kebutuhan bulanan mereka berdua. Awalnya mereka berdua tidak membahas apapun, mereka hanya sibuk dengan beberapa barang belanjaan yang akan mereka pilih. Tapi, entah kenapa Mela tiba-tiba teringat dengan kejadian sebelumnya di kampus. Kejadian dimana Mela melihat Putri terus menatap kakak seniornya. "Put..." kata Mela memanggil Putri yang sedang memilih merk sabun cuci di rak. "Hmm?" "Kenapa ya, tadi kok aku liat kayaknya kamu kaget gitu ngeliatin senior kita tadi? Kenapa?" tanya Mela heran. Putri pun menoleh heran ke arah Mela. "Hmm? Maksudnya gimana Mel?!" tanya Putri mengkerutkan kedua alisnya heran. "Kakak senior yang tadi Put, yang kita papasan, terus dia nubruk-nubrukin kita. Yang bikin kamu gedeg tadi. Ih, masa lupa sih?!" kata Mela mencoba mengingatkan Putri. Putri berfikir sebentar lalu akhirnya dia pun ingat. "Oh dia!" "..." "Nggak tau Mel, tapi kok rasa-rasanya dia kaya nggak asing aja gitu. Aku ngerasa kayaknya aku pernah ketemu sama dia, tapi nggak tau dimana…" "Lah, ketemu dimana emangnya?" "Ck! Kan udah di bilang kayaknya! Kalau pun aku tau juga nggak bakalan penasaran gini kali Mel." Jawab Putri sedikit kurang santai lalu dia memutuskan untuk meninggalkan Mela ke arah rak bumbu dapur. Mela pun mengikuti langkah Putri. "Eh, serius Put?! Kamu penasaran sama tuh kakak senior?” "..." Putri pun menatap wajah Mela yang saat ini sedang menatap Putri dengan ekspresi yang tidak percaya. "Lah, emang kenapa sih?" lanjut Putri heran. Mela pun mendengus pelan membuat Putri semakin heran. "Ya ampun Put, dia itu kan cewek Put? Ya, walaupun kamu belum pernah pacaran, tapi kan tetep aja dia itu cewek, PUTRI IH!" Putri pun mendelik menatap Mela. "Heh! Maksudnya apaan sih ngomong kaya gitu?!" "Ya abis, masa penasaran sama dia sih? Kamu kalau mau penasaran mendingan sama kak Akmal aja deh, atau kalau nggak sama kakak senior lain, jangan sama dia. Please, dia cewek Put!" mohon Mela pada Putri hingga membuat Putri semakin bingung dengan maksud sahabatnya itu. "Ck! Aku faham nih kemana arah kamu ngomong Mel… EMANGNYA KAMU FIKIR AKU APAAN, HAH?!" amuk Putri yang dengan reflek langsung menjitak kepalanya Mela. Mela pun langsung mengusap-usap kepalanya yang sakit akibat di jitak oleh Putri. "Ya kan aku sebagai temen cuma ngerasa khawatir aja gitu Put, was-was. Kalau kamu..." Perkataan Mela pun menggantung tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi. Mela hanya takut menyinggung Putri. "Apa?? Hmmmmmmm?!" Dan sekarang Putri juga sudah mulai melotot menatap Mela dengan tangannya yang sudah mengepal ala-ala petinju. "Hehe, jangan marah dong Put. Gitu aja marah ish." Kata Mela mencolek gemas dagu Putri. "BODO!" jawab Putri menepis tangan Mela dan dia pun langsung pergi ke arah rak lainnya. Karena pusing jika dia harus terus meladeni Mela yang telah menyangka dirinya yang tidak-tidak. *** Setelah pulang kampus, Dyandra tidak langsung pulang ke kosan melainkan pergi ke sebuah bukit yang tidak berada jauh dari tempat kosnya. Memang sudah menjadi kebiasaan seorang Dyandra yang selalu pergi dan menghabiskan waktunya ke tempat tersebut. Bukan cuma untuk memotret dan mencari sebuah inspirasi, namun juga untuk menenangkan diri. Dyandra memang sangat menyukai keheningan, walaupun faktanya dia ini sedikit penakut dan suka berhalusinasi yang aneh-aneh apalagi soal hantu dan Zombie. Saat ini Dyandra sedang duduk sendirian sambil menikmati indahnya pemandangan kota di sore hari di atas bukit itu sambil memotret beberapa pemandangan di sana. Setelah memotret beberapa kali, Dyandra pun memasukan kameranya ke dalam tas lalu mengeluarkan sebuah foto yang dia temukan kemarin saat pulang ke rumahnya. Ya, foto seorang anak kecil bernama Putri. "Apa Putri masih inget sama aku? Dia udah gede sekarang, seenggaknya walaupun hanya sedikit, dia pasti inget beberapa momen kita dulu. Aku tau kalau itu udah lama banget dan samar dari ingatannya. Tapi... ah! Putri... kemana lagi sih aku harus cari kamu?" gumam Dyandra. Tujuan hidup Dyandra sekarang selain lulus dari akademiknya, dia juga ingin sekali bertemu dengan Putri dan membawanya kembali rumah orang tuanya agar sang Mama kembali ceria seperti dulu. Walaupun memang kecil kemungkinannya untuk semua itu. Namun, keyakinan Dyandra memang terasa seperti Roller Coaster, terkadang keyakinan itu terasa begitu menggebu, namun terkadang juga terasa begitu pesimis dan menyerah dalam mencari Putri. Hari semakin sore, dan Dyandra pun memutuskan untuk pulang. *** Dyandra yang sedang menyusuri jalan pulang pun tidak sengaja bertemu dengan Andy yang entah datang darimana. "Ndro!!! Woy!!" teriak Andy sangat kencang. Dyandra berhenti lalu menoleh ke belakang. Dan dilihatnya Andy yang sedang berlari menghampirinya sekarang. "Abis darimana?" tanya Andy. "Bukan urusan kamu ya!" "Dih, jutek banget sih cabatku." Jawab Andy manja sambil mencubit pipi Dyandra. Dyandra pun bergidik geli melihat sikap Andy. Dia pun mencoba menjauhkan pipinya dari Andy. “Ih, apaan sih ah! Geli banget deh!" kata Dyandra mendorong Andy. Andy pun hampir terjatuh karena ulah Dyandra, namun dengan sigap dia bisa menyeimbangkan posisinya kembali. "Kasar amat sih jadi cewek! Kamu abis dari bukit ya Ndro? Abis motret kan kamu? Ayok jawab!" "Terus kalau tau ngapain nanya?" "Ya, aku kan cuma mau mastiin aja, bener apa nggaknya." Dyandra pun mendengus pelan lalu dia memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya daripada harus menanggapi ocehan Andy yang menurutnya sangat tidak jelas. Melihat Dyandra pergi, Andy pun langsung mengikuti langkah Dyandra berikut dengan segudang pertanyaan yang siap ditanyakan pada Dyandra. "Kamu kenapa sih Ndro, perasaan hobi banget kamu pergi ke bukit itu tiap sore? Kamu nggak lagi muja monyet kan, Ndro?" Dyandra pun terkejut mendengar pertanyaan Andy. Matanya bahkan sudah melotot pertanda bahwa dia akan marah. "Apa kamu bilang, hah?!" Andy pun terdiam saat melihat wajah Dyandra yang mulai naik darah akibat pertanyaannya. "Hehe canda cabatku." Kata Andy merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Dyandra. "Idih! Jauh-jauh ah! Males banget!" respon Dyandra langsung mendorong tubuh Andy dengan jurus silat Cimande. Andy pun terkekeh melihat Dyandra yang sudah mulai ngamuk. Entah kenapa, setiap kali Andy melihat Dyandra mengamuk itu bagaikan kebahagiaan yang turun dari surga untuknya. Itulah kenapa sebabnya Andy sangat seneng membuat Dyandra kesal. Bukan hanya setiap hari tapi juga setiap detik dan nafas berhembus. "Ketawa lagi!" bentak Dyandra mendelik. "Bukan ketawa..." "..." Dyandra pun mendelik menunggu lanjutan dari perkataan Andy. "Tapi, aku tuh lagi nyoba buat tahan perasaan ini biar aku nggak cinta sama kamu, Ndro HAHAHAHA." "ISH, NORAK!!!" Andy pun malah semakin terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Dyandra yang sudah terlihat tambah kesal dengan sikapnya. "Bisa Gila kamu lama-lama Ndy!" bentak Dyandra menoyor kepala Andy namun tidak berhasil karena tubuh Andy yang menjulang seperti tower. "Bodo amat! Aku nggak denger." Jawab Andy menjulurkan lidahnya meledek Dyandra. Dyandra terus saja mendelik menatap Andy dengan tatapan sinisnya. Sementara Andy, dia masih terus saja tertawa seperti orang yang yang sedang di dekati makhluk halus. Di sisi lain di tempat yang sama, Putri dan Mela yang habis berbelanja bulanan pun terlihat sangat kerepotan dengan barang bawaan mereka masing-masing. Awalnya Dyandra tidak sadar jika di sana ada juniornya. Namun, Andy dia bahkan sekarang sudah bersiap-siap merapihkan rambutnya dengan uap mulutnya untuk mulai tebar pesona. "Wahh, pucuk di cinta ulam pun tiba." Kata Andy tersenyum sumringah menatap dua orang gadis yang sedang berjalan ke arahnya sambil menepuk-nepuk pelan bahunya Dyandra. Dyandra pun mendelik hingga akhirnya dia pun menoleh ke belakang untuk mencari tahu apa yang membuat sahabatnya itu berubah genit. Dyandra yang akhirnya tahu jawabannya pun langsung memutar bola matanya malas. "Mulai deh..." gumam Dyandra malas, dia sudah sangat menduga jika Andy pasti bersiap-siap untuk tebar pesona. Namun, tiba-tiba keduanya pun mendengar suara teriakan. "PUTRI!!!" Mendengar teriakan Mela yang memaanggil nama Putri itu pun berhasil membuat Dyandra menoleh ke arah mereka berdua. Entah hanya reflek atau bagaimana, namun Dyandra langsung berlari menghampiri Putri yang saat ini terjatuh ke dalam sebuah lubang gorong-gorong yang sedang dalam perbaikan. Bukan hanya Dyandra, tapi Andy juga ikut panik menghampiri dua gadis itu. Dyandra pun segera membantu Putri berdiri. Berbeda dengan Mela yang saat ini sedang terdiam menatap Dyandra. Bukannya itu senior rese tadi siang? Apa emang sore gini dia berubah jadi bundadari?? Batin Mela heran. Andy yang baru saja tiba pun bukannya membantu Dyandra dia malah parno melihat luka di kaki Putri. Putri yang juga menyadari bahwa dia ternyata di bantu oleh kakak seniornya. Bohong jika dia tidak terkejut. Tentu saja Putri sangat terkejut. Pasalnya, kakak senior yang sedang berada di hadapannya itu sudah membentak-bentak dirinya dan Mela tadi siang, bukan hanya itu, Dia bahkan sudah menubruk Mela dan Putri. Dan sekarang, dia malah membantu Putri untuk berdiri. Putri tidak bisa berhenti menatap Dyandra saat mata Dyandra juga menatap Putri. Seolah mengenali mata itu dan rasanya begitu tidak asing hingga membuatnya jadi tambah bertanya-tanya. Sebenernya siapa kamu? Mata itu bener-bener nggak asing! Gumam Putri dalam hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN