37. Healing

1610 Kata
Akhirnya selama hampir satu bulan Naira ingin melihat kampung ini, Naira kesampean juga karena ada nya satu masalah serius yaitu bencana alam, berupa longsor. Beberapa minggu juga Gara harus meyakinkan diri nya kalau Naira bukanlah mata-mata musuh nya. Dan ternyata itu benar ada nya, Naira hanyalah orang biasa. Naira juga sudah bercerita kalau diri nya tak sengaja menemukan jalan untuk sampai ke kampung ini. Karena waktu itu Naira sedang banyak pikiran, Naira juga sudah bercerita jika dirinya pernah mencintai seseorang tetapi cinta nya hanya bertepuk sebelah tangan. Itu membuat Gara agak tak nyaman, tetapi Gara percaya jika sekarang Naira sudah tak mencintai pria itu, mungkin sebentar lagi atau sekarang sudah, cinta nya Naira ke pria itu sudah tergantikan karena berkat ada diri nya. Sementara Naira dan Gara jalan-jalan sekitaran kampung,. Keisha dan Cindy tinggal di tenda beserta para korban yang hampir semua nya terkena dampak longsor. Semoga prediksi dengan gempa susulan tak terjadi. "Happy?" Tanya Gara membuat Naira mengangguk. "Happy dong, makasih ya Gar, kamu selalu ada buat aku." Ucap Naira membuat Gara tersenyum lalu tak sengaja tangan kekar nya mengacak-acak rambut Naira gemas, membuat Naira menatap manik mata Gara dengan instens. "Ekhmm" Gara berdehem kecil, bukan hanya Naira yang salting tetapi diri nya pun merasakan hal yang demikian. Gara tak tahu jika efek nya akan seperti ini, menetralisir degup jantung karena ia telah gegabah, ya ini adalah kecelakaan yang tak sengaja. Naira merupakan bencana untuk nya, setiap saat merusak pikiran Gara, setiap saat menerobos masuk ke dalam pikiran Gara tanpa di permisi. "Gar, aku boleh nginep gak disini?" Tanya Naira membuat Gara menoleh ke arah Gara. "Tapi Nai, kita aja tidur di pos. Gak ada tempat tinggal yang layak buat kamu." Ucap Gara membuat Naira segera mengembangkan senyum nya. "Aku bisa diriin tenda dekat post kamu, bagaimana? Lagian aku gak b**o-b**o amat masalah kesehatan, sebenarnya itu bidang ku cuman aku pengen lintas jurusan sehingga aku ngambil hukum." Jawab Naira membuat Gara agak berpikir sejenak. "Ayolah, Gar." *** Bukan Naira nama nya jika tak bisa membuat Gara mengatakan 'iya', wanita itu membujuk Gara agar dirinya bisa tinggal di sini untuk beberapa hari. Bagaimana Keisha dan Cindy? Tentu saja mereka berdua ikut senang, ini adalah libur semester yang nanti nya akan mengesankan. Jika mereka masih duduk di bangku sekolah, jika ada guru yang bertanya bagaimana liburan kalian dan menyuruh untuk menceritakan pengalaman libur panjang nya, mungkin guru itu akan bertepuk tangan dan merasa kagum karena liburan di pakai dengan hal yang bermanfaat. Tetapi tak akan mungkin juga, masih duduk di bangku sekolah menjadi team relawan. Minimal delapan belas tahun baru di anggap sebagai orang beranjak dewasa. Walau kenyataan nya dewasa bukan di ukur oleh usia, tetapi pemikiran yang matang. Naira, Keisha dan Cindy tidak tidur di tenda. Melainkan di sebuah rumah yang di pakai oleh Gara selama ini. Rumah itu syukur nya tak terkena longsor, sehingga masih bisa di tempati. Tempat nya pun jauh dari area longsor. Di rumah itu juga tempat team inti pasukan khusus tinggal berjumlah sekitar tujuh orang di tambah tiga orang perempuan sehingga menjadi sepuluh orang. Beruntung Naira membawa kasur pompa, karena kamar itu tak memiliki kasur hanya ada karpet permadani saja di masing-masing kamar nya. Karena keterbatasan tempat tinggal mereka sekamar bertiga. Untuk baju nya, mereka menyuruh orang rumah untuk mengirimkan baju lewat paket sampai depan gerbang menuju kampung ini, karena tak mungkin bukan ada kurir yang mau ke daerah rawan seperti itu? Kasur sudah berada di dalam kamar, baju juga sudah sampai beberapa menit yang lalu. Mulai hari ini mereka akan diam di sini untuk beberapa hari ke depan, karena kebetulan libur semester lama nya adalah dua bulan. Itu berarti waktu masih panjang, untuk mereka bersenang-senang. Sekalian ini adalah bentuk healing dari sakit dan luka yang Naira terima, healing dan liburan itu perlu. Karena tak ada obat mujarab sakit atau patah hati selain bisa mengikhlaskan patah hati dan takdir tersebut. Naira misal nya, mencoba untuk ikhlas walau cinta nya bertepuk sebelah tangan, mencoba untuk menerima takdir yang di kirimkan Tuhan pada nya. Ia yakin, di balik kesedihan pasti ada banyak kebahagiaan yang akan datang. Naira tak perlu menangis, tetapi boleh menangis hanya saja sesekali saja setelah menangis maka harus bangkit lagi. Tak boleh menyesal, tak boleh menyerah dan tak boleh putus asa, patah satu tumbuh seribu. Tok tok tok... Tiba-tiba saja pintu kamar tempat Naira, Keisha dan Cindy di ketuk. Mereka semua saling pandang dan segera beranjak tiga-tiganya untuk sampai ke depan pintu melihat siapa yang mengetuk pintu barusan. "sudah malam, mau makan dulu gak? sebelum aku pergi tugas kontrol." ucap Gara membuat Nara mengangguk. "berdua?" Gara mengerutkan kening sembari tersenyum kecil, "Ah berdua?" Naira mengangguk. "Hanya berdua, hanya kita berdua." ulang Naira membuat Gara mengacak gemas rambut Naira. sedangkan Cindy dan Kesiha mendelik tak suka. "Kita ngontrak!" ucap Keisha sinis membuat Naira tertawa lepas. "Di belakang yuk, kebetulan pemandangan nya langsung ke sawah." ucap Gara membuat Naira membulatkan mata lantas tersenyum senang. Saat akan beranjak tangan Naira di tahan oleh Kenzi. "Masuk ke dalam, pakai sweater udara di sini kalau malah cukup dingin beda sama di kota." ucap Kenzi membuat Naira segera menganggukkan kepala patuh. * Di sinilah mereka berdua berada, di belakang halaman rumah ada saung yang terbuat dari bambu yang sangat nyaman. Naira tak jadi makan dengan Nasi, wanita itu malah memilih memasak mie serta dua telur sekaligus, membuat Gara segera membulatkan mata nya karena tak percaya, tetapi Gara sangat senang karena Naira tak seperti kebanyakan wanita lain nya yang jaga image, padahal di belakang rakus. Setelah telur dan mie matang, Naira dan Gara segera keluar dan di sini lah mereka tengah melihat pemandangan sawah yang agak remang-remang, angin sepoi-sepoi membuat momen semakin damai, tak lupa semangkuk mie menemani mereka. ah suara hewan seperti jangkrik pun turun menyaksikan betapa mereka berdua sedang dalam keadaan bingung karena hati mereka merasakan sesuatu yang aneh. "Gar/Nay." mereka berdua menoleh dan menatap manik mata masing-masing. keduanya sama-sama canggung saat menanggil bersamaan. "Ladies first." ucap Kenzi. Naira meloloskan satu nafas, "Im so happy. thanks for everything, Gar." ucap Naira. Gara segera menoleh ke arah Naira, dan mengerutkan kening bingung. kenapa Naira berbicara seperti itu, apa luka Naira sudah sembuh? "Itu bukan apa-apa kok, Nai." Naira menganggukkan kepala nya. "Gar, dari tadi aku mau nanya ini. aku takut halusinasi," "Kenapa?" tanya Gara. "Aku denger suara desiran ombak, tapi agak samar. Ahh aku takut Gar..." Gara sedikit tertawa, Naira jika seperti ini manja nya kumat. "Iya kayak nya kamu halusinasi deh!" "Ah gara! serius!" "Hati-hati di sini banyak setan nya," "Gar, aku... aku ah... aku mau-" "Aku gak mau nganterin kamu pulang jam segini, gak apa-apa setan di sini udah kenal semua jadi gak akan gang-" "Gara jangan bahas setan! Aku takut!!!!" Gara tertawa renyah, enak juga menjahili Naira. Ah kasihan juga terus menjahili Naira, yang ada nanti diri nya harus menghantarkan Naira pulang malam-malam kan tidak lucu bukan? "Makan nya mie nya abisin cepet siapa suruh telur nya dua. aku aja cowok satu," "Kamu punya dua lo..." AMBIGU! *** Naira sedari tadi menggetok-getokkan kepala karena malu dengan ucapan nya waktu malam. bisa-bisa nya membahas telur yang sangat Unfaedah sekali, lalu sekarang harus di taruh dimana muka nya kala nanti bertemu dengan Gara, semalam saja suasana di antara mereka berdua sangat canggung sekali. Dan alhasil, Gara memutuskan untuk berangkat dengan tawa yang ia tahan sedari tadi saat Naira becanda nya kelepasan. sedangkan Naira masuk ke dalam rumah dengan perasaan malu yang luar biasa. Ah, Naira rasanya ingin pulang malam itu juga. Keisha dan Cindy yang melihat Naira bertingkah aneh segera menghampiri nya. "Kenapa lo?" tanya Cindy. Naira melihat mereka berdua, lantas mendelik tak suka. Ah jika diri nya bercerita pada kedua sahabat nya, wajah nya akan di taruh di mana. Atau jika memang Gara yang akan mengasih tahukan semua perkataan diri nya pada rekan nya. Ah Gara tak akan mungkin berbicara seperti itu, mengingat jika cuek dan irit bicara nya Gara tak bjsa di ragukan lagi. "Jangan-jangan lo kesurupan ya, Nai!" heboh Keisha membuat Naira mendelik tak suka. Niat nya sih sekarang Ini Naira ingin menjahili Cindy dan Keisha dengan berpura-pura kesurupan, tetapi ini adalah kampung orang yang harus ada batasan, harus ada image, Attitude, dan tak boleh melakukan hal sembarangan. "Gue... gue salah bicara di hadapan Gara, sumpah malu banget." ucap Naira sembari menggigit bibir bawah nya, karena serius kali ini Naira malu akibat membahas satu telur dan dua telur.. "Lah emang lo malu kenapa Nai?" tanya Keisha membuat wajah Naira merona. Naira menggigit jari telunjuknya supaya bisa menetralisir. Malas juga menjawab pertanyaan mereka karena Naira takut di tertawa kan juga oleh kedua sahabat nya. "Lo abis ciuman ya sama Gara." "Dan lo nyosor duluan." Tebak keduanya, membuat Naira memutar bola mata jengah. Ya kali diri nya berciuman di saat jam kerja memang nya ini adalah drama korea yang di bintangi oleh Song jong ki dan song Hye Kyo apa? Yang membintangi drama berjudul "Descendats of the sun" Ah tapi di pikir-pikir, kisah hidup mereka seperti drama Korea saja. sudah banyak drama, percintaan nya pun sama tak berjalan dengan mulus. "Mulut kalian berdua jaga ya! Enak aja gue kayak gitu. Bibir gue ini meskipun suka gibahin orang, bicara kasar sama ceplas-ceplos tenang aja masih perawan kok. Memang nya bibir kalian berdua udah ke sosor. Kalau gue sih terseksoy-seksoy." ucap Naira penuh dengan dramatis. satu bantal hingga di kepala Naira membuat Naira meringis pelan. "Sakit ogeb!" ucap Naira. "Lo kalau bicara filter dikit napa sih, biar cantik. Kalau ada yang denger kan gue malu, mali!" ucap Cindy yang merasa jika bibir nya sudah tak perawan lagi. Naira dan Keisha sontak tertawa, persahabatan yang sangat indah bukan? Tetapi dulu saat Kenzi datang di kehidupan Naira semuanya lebih indah dari ini
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN