36. Bertemu dengan Gara

1505 Kata
Hari ini Naira, keisha dan Cindy memutuskan untuk pergi ke kampung yang entah apa nama nya, karena sama sekali Naira tak pernah bertanya kampung apa itu. Mereka bertiga memutuskan untuk memakai mobil Jeep yang di kendarai langsung oleh Naira sendiri, karena hanya wanita itu yang tahu rute jalan. Lagi pula Keisha anak nya mageran, mana mau wanita itu nyetir. Sedangkan Cindy, tak jauh berbeda dengan Keisha. Hanya Naira yang sekarang bisa di andal kan, bisanya Naira akan gantian nyetir dengan Maya, tetapi sekarang keadaan sudah berbeda. Bahkan setelah melepaskan Kenzi pun, Maya masih di tuduh dan di bully oleh Maya. Pernah suatu hari, Maya mengajak nya bertemu di roof top, tetapi saat sudah bertemu. Naya malah di tampar, dan hampir saja Maya membunuh Naira jika Cindy tidak datang, masih bersyukur karena yang datang adalah Cindy bukan Keisha. Jika Keisha maka wanita itu akan mengadu pada Kenzi atau bunda Melati, bisa bahaya. Sejak kejadian itu, Naira sama sekali tak ingin bertemu dengan Maya. Benar-benar melihat wajah nya saja pun, Naira ingin menganggap Naya sebagai orang asing, tetapi entah mengapa. Kenangan kebersamaan mereka dulu selalu terngiang di kepala. "Eh, emang temen lo siapa?" Tanya Keisha. Naira menoleh sebentar pada Keisha yang berada di samping nya. "Nama nya Anggara, dia tentara." "OH MY GOD! NAIRA!!!!" Hampir saja Naira mengerem mobil mendadak, saat mendengar jeritan Cindy yang sama sekali tak bisa terkontrol. Wanita itu membuat Naira sangat terkejut. "Gimana kalau kita celaka! Gue banting stir atau malah ngerem mendadak. Cindy! Lain kali lo bisa santuy kan jadi cewek." Sarkas Naira sembari memutar bola mata nya ke atas dan menetralkan degup jantung akibat ulah sahabat nya, Cindy. Sementara pelaku, hanya menggaruk tengkuk serta senyum-senyum tak jelas. Wanita itu benar-benar ya! "Maaf Nai, gue kaget. Lo kenal sama tentara juga ternyata," ucap Cindy membuat Naira menghela nafas kasar. "Gue kenal sama dia baru aja tiga minggu, tapi rasanya kayak udah berbulan-bulan, nyaman banget gue. Dia tahu bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik," Keisha tersenyum, "Gak kayak bang Kenzi ya! Lo mau berhenti aja cintai Abang gua?" Ada guratan kekecewaan yang di tunjukkan oleh Keisha. Naira meloloskan satu nafas, "Bukan gitu Kei, lo tahu sendiri kan gimana Maya sama gue. Gue... Umhh gue cuman pengen lihat maya bahagia sama Kenzi." Ya! Walaupun perasaan Naira sepenuhnya pada Kenzi sama sekali belum hilang, malah rasa cinta itu semakin tumbuh. Naira tak munafik, itu memang kebenaran nya. "Nay, lo perlu berjuang dikit lagi buat bisa ada di hati abang gue." Lanjut Keisha. Naira segera menggeleng kuat, Keisha tak tahu saja, apa yang sudah di lakukan oleh Ke nzi sehingga membuat diri nya down, merasa berada di titik terlemah kehidupan karena ucapan Kenzi. Singkat tetapi sangat menyakitkan bagi Naira. "Gue bingung Kei, gue mau ngalir aja untuk sekarang. Kalau memang Kenzi jodoh nya sama gue, mungkin bakalan Tuhan pertemukan." Ucap Naira begitu bijak, membuat Keisha dan Cindy terdiam. "Umh, masih jauh gak ni?" Tanya Cindy, mengalihkan pembicaraan. "Lumayan sekitar satu jam lagi," ucap Naira membuat mereka mengangguk, dan fokus pada kegiatan masing-masing, Keisha dan Cindy sama-sama fokus pada handphone. Sekarang ini jam menunjukkan pukul dua belas siang, dan mungkin mereka akan sampai pada jam dua siang bisa jadi lebih dan bisa jadi kurang dari jam yang di perkirakan. Naira kurang fokus menyetir sebenarnya, perasaan nya tak enak setelah Keisha menyuruh diri nya untuk berjuang sekali lagi buat Kenzi. Hati nya memang belum mati, tetapi perasaan Kenzi yang mati. Kenzi bahkan tak melirik nya walau hanya sedikit, pria itu begitu batu sehingga sangat sulit untuk di taklukkan walau dengan perjuangan yang ektra, Kenzi bukan pria yang tahu bagaimana jatuh hati dan menghargai wanita itu seperti apa. * Tepat jam dua, ternyata mobil yang sedari tadi kendarai oleh Naira sampai juga di kampung itu. Keisha dan Cindy selama dalam perjalanan hanya bengong dan sesekali bertanya apa ada binatang buas, atau hantu di sini. Tetapi Naira meyakinkan jika ini tak akan apa-apa. Seperti saat tadi di jalan, Keisha merengek meminta pulang karena melihat kiri dan kanan hutan, Keisha takut jika Naira salah jalan. Dan untuk mengobati ketakutan yang di rasakan Keisha, Naira mengiming-imingi jika di sana nanti banyak pemandangan yang sangat indah termasuk banyak tentara jomblo yang berseliweran. Keisha akhir nya menyerah dan lebih memilih untuk diam saja. Sebelum sampai, Naira sempat menelepon terlebih dahulu pada Gara. Dan Gara menyuruh Naira untuk ke pos nya saja, dengan bantuan share loc. Akhirnya Naira bersama kedua sahabat nya sampai juga. Di depan sana banyak sekali tentara, termasuk Gara ada di sana. Bahkan sekarang para tentara itu melihat ke arah mobil yang di kendarai oleh Naira. "Oh my god! Pada good looking, gue bakalan betah nih di sini. Ah gincu gue bener gak? Sisir mana sisir." Ucap Cindy heboh. "Gue harus bedakan dulu nih," di susul oleh Keisha. Naira hanya menggelengkan kepala nya pelan. "Dasar, temen lucnut! Minta di gampar selera nya om-om pundak berat." Ucap Naira sembari menggeleng kan kepala nya pelan. "Ayo turun ah!" Ucap Naira, sebenarnya nya Naira juga merasa sangat gugup dengan para tentara itu, ah lebih tepat nya Gara. Dia takut kalau kemanjaan nya selama di rumah di bahas oleh Gara. Dari Naira yang ingin di temani tidur lewat video call oleh Gara sampai saat Naira makan pun Naira masih ingin video call dengan Gara. Naira hari ini memakai celana jeans berwarna hitam, taktop berwarna pink serta blazer yang cukup tipis dengan warna senada. Di tambah sepatu cats putih garis pink kesukaan nya, rambut nya sudah dua hari Naira curly agak ke cokelat-cokelat, di tambah Naira tak lupa mengeluarkan kaca mata hitam yang akan membungkus mata nya supaya tak terlalu malu, Naira juga menenteng tas Selempang berwarna hitam yang cukup kecil, ah penampilan sederhana tetapi sangat sempurna. naira turun dari mobil, rambut nya sempat tersibak oleh angin tetapi Naira benarkan. Gara sampai tak kedip melihat Naira yang hari ini entah kenapa begitu cantik. Teman tentara nya pun seperti itu, bahkan lebih. Mereka kagum. "Hai, Gara." sapa Naira membuat Gara segera menetralisir degup jantung, dan segera beranjak untuk sampai ke Naira. "Hai, Naira. apa kabar?" tanya Gara sembari mengacak lembut rambut Naira membuat wanita itu tersipu. Naira tersenyum kecil, "Kabar baik." jawab Naira seadanya, tak tahukan Gara, kalau hati Naira sekarang ini rasanya jedag jedug "Umhh, barang-barang ada di bagasi, makanan pakaian dan juga yang lain nya." ucap Naira membuat Gara menganggukan kepala nya pelan. Tak lama kemudian, ada dua orang wanita lagi keluar. mereka lama di dalam karena seperti apa yang sudah di jelaskan mereka baru saja berdandan ria. Ah sangat menyebalkan mempunyai teman seperti itu bukan? Keisha dan Cindy juga tak luput menjadi perhatian beberapa orang, mereka bertiga memang dasar nya sudah cantik di tambah menarik. penampilan yang seadanya menciptakan kesan yang sangat modis. "Agus sama Dimas, sini." panggil Gara, kedua tentara yang di panggil itu pun segera beranjak untuk sampai ke tempat Gara yang tak sampai sepuluh meter itu. "Siap, Ndan." ucap Keduanya membuat lagi-lagi Naira agak tersenyum. Naira memang pengagum orang berseragam apalagi seragam berat seperti Gara ini, tapi bukan berarti matre. hanya saja yang Naira lihat tanggung jawab yang di miliki itu besar, dan itu sangat keren. "Tolong bawakan sumbangan, di bagasi mobil." ucap Gara yang membuat mereka berdua segera menuruti perintah dari atasan nya, siapa lagi kalau bukan Gara. Bagasi di buka, tetapi Cindy tak henti memandangi tentara yang muka nya entah kenapa malah lebih glow up dari pada muka diri nya yang kerjaannya cuman rebahan saja. apa mungkin Cindy harus menjadi seorang tentara? Ah rasanya tidak mungkin, karena Cindy tak begitu mempunyai keinginan yang besar. "Gak usah malu-maluin gue ya kalian berdua!" ucap Gara menbuat Cindy maupun keisah cekikikan tak jelas. Naira mendelik dengan kelakuan mereka berdua. "oh jadi ini Nai, pengganti abang gue?" tanya Keisha membuat Naya segera membulatkan mata nya. Bisa-bisa nya Keisha merusak suasana hati nya, ah bagaimana kalau nanti Gara bertanya lebih lanjut dan mengancam kalau diri nya tak memberitahukan maka Gara akan cuek, sehingga mereka berdua akan jauh seperti Kenzi dan Naira sekarang. "Selera lu tinggi-tinggi juga ya," kembali Keisha berbicara tanpa filter. Kalau bukan sahabat sudah Naira buang Keisha ke hutan belantara di terkam binatang buas sehingga Naira tak harus mendengar kepolosan keisha kembali. Ah entah Keisha beneran polos atau pura-pura polos saja. Dan yang lebih ajaib nya, Keisha berbicara 'Selera lu tinggi-tinggi itu' sembari berdecak kagum. Aneh bin ajaib sekali bukan satu anak itu, sedangkan Cindy sibuk melihat ke sekeliling sampai akhirnya salah satu tentara yang membantu mengeluarkan barang memanggil, dan Cindy lah yang menghampiri nya. "Maksud nya selera nya tinggi?" jujur, Gara agak sedikit tersinggung dengan ucapan yang terlontar dari bibir sahabat Naira itu, yang Gara sendiri tidak tahu siapa nama nya. Ah ngomong-ngomong tentang Kenzi, bagaimana kabar nya ya? Sudah lama Naira tak pernah melihat Kenzi. Apa sudah bahagia dengan wanita pilihan nya sendiri, bahkan saking Naira ingin melupakan Kenzi, Naira sengaja membalas singkat pesan Bunda nya, siapa lagi kalau bunda Melati. Bahkan Bunda Melati sering mengajak nya untuk menginap di rumah atau hanya sekedar makan malam, tetapi Naira selalu menolak nya. Tentu saja, tolakan itu secara halus di lakukan oleh Naira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN