Kedekatan Naira dan Gara semakin dekat setelah perkenalan pertama yang tidak mengesankan sama sekali. Gara nyaman dengan Naira begitu juga sebalik nya.
Sekarang ini, mereka juga sedang chatting riang, Gara juga tersenyum dengan tingkah Naira yang kelewat polos, ah seperti nya Gara sudah mulai mencintai Naira.
"Kapan aku bisa ke kampung itu lagi?" Naira bertanya lewat telepon dengan manja, membuat Gara terkekeh pelan.
fyi, Naira sudah tinggal di rumah nya sendiri karena satu minggu yang lalu Popi pulang ke rumah, setelah menjalankan bisnis hampir satu bulan lama nya.
Gara menyunggingkan senyum nya. "Nanti ya, Nai. Belum saat nya,"
"Vidio call yuk, kangen."
Gara tertawa, lagi-lagi sikap manja Naira membuat Gara semakin terpesona dan betah jika lama-lama bersama dengan gadis mungil itu.
Bagaimana hubungan Naira dengan Kenzi, masih seperti dulu. Bahkan saat tak sengaja bertemu pun mereka tak saling sapa sama sekali, perlahan Naira mulai melupakan Kenzi dan berpindah hati pada Gara. Walau sampai saat ini, Kenzi mempunyai ruang tersendiri di dalam hati Naira.
Untuk apa mempertahankan cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan. Lebih baik, jelas memperjuangkan cinta yang sama-sama ingin mendapatkan. Contoh nya, Gara dan Naira.
Naira sudah sangat nyaman dengan Gara, tetapi cinta itu belum hadir. Gara tak kunjung menyatakan perasaan cinta, begitu pun sebalik nya. Karena prinsip nya Gara tuh berbeda, jika Gara ingin terjun serius dalam cinta maka dia akan langsung mengajak nya serius, mengajak nya untuk menikah langsung. Jika di terima berarti jodoh nya jika tidak maka sebaliknya, Naira bukan lah jodoh nya.
"Iya bentar, manja banget sih." Ucap Gara di selingi dengan kekehan andalan nya.
Beberapa detik kemudian, wajah Gara terpampang jelas di layar. Membuat Naira melebarkan senyuman. Para sahabat nya tidak tahu kalau Naira sedang dekat dengan Gara, ia tak ingin kejadian dimana Maya dan Kenzi terulang kembali. Itu sangat cukup sakit menusuk hati nya.
"Hallo, pak. Udah mau berangkat tugas ya atau cuman ke kantor biasa aja?" Tanya Naira membuat Gara tersenyum kecil.
"Iya nih mau tugas Nai, tapi ada hal yang bikin sedih, bisa jadi kabar buruk." Ucap Kenzi membuat Naira mengerutkan kening nya.
"Kabar buruk apaan?" Tanya Naira, ia juga pemasaran dengan kabar buruk dari Gara.
"Kampung yang awal pertama kita ketemu, sekarang sedang kena musibah." Ucap Gara dengan sendu.
"Musibah?" Naira seakan bertanya, musibah apa yang menghantam kampung itu.
Sejak saat dimana Naira membagikan makanan itu, Naira belum pernah ke kampung itu lagi. Karena Gara tak mengizinkan nya sama sekali.
"Longsor besar, dan menimbun banyak rumah warga. Beruntung tak ada korban jiwa, hanya saja banyak yang terluka." Ucap Gara membuat Naira terkejut bukan main.
"Hah serius?" Tanya Naira, Gara menganggukkan kepala cepat.
"Terus mereka gimana?" Tanya Naira.
"Mereka untuk sementara waktu, sebelum ada pemerintah yang nyumbang dana tinggal di pengungsian dulu." Jawab Gara sendu.
"Aihh, kebetulan aku libur semester boleh gak aku kesana? Sama temen-temen aku juga, galang dana sama makanan dan baju. Pasti mereka butuh kan?"
Gara sebenarnya tidak setuju, ia tak ingin jika Naira dalam bahaya, tetapi banyak juga tenaga medis yang menjadi relawan, sehingga Gara mengangguk.
"Boleh, asal kamu harus janji, jaga diri baik-baik. Tugas aku di sana lumayan, jadi aku gak bisa lindungi kamu setiap saat, okay?" Ucap Gara setelah meloloskan satu nafas dia berbicara seperti itu.
Naira tertawa kecil. "Siap ndan," sembari meniru kan gaya hormat anak buah Gara kepada Gara saat di berikan sebuah tugas atau terpanggil oleh Gara.
"Besok aja ya, jangan sekarang. Kalau sekarang team medis pun hanya sebagian." Ucap Gara, ia takut jika Naira malah hari ini datang nya, karena jujur di sana Gara pasti sangat sibuk melakukan tugas nya sebagai seorang abdi Negara.
"Iya. Iya, lagian aku juga mau bilang dulu ke temen-temen aku, kapan ada waktu luang nya. Kebanyakan kan pada liburan keluar kalau libur semester." Jawab Naira agak memanyunkan bibir nya.
Gara kembali terkekeh, "Kamu juga main aja."
"Pengen sama kamu, Gar."
Karena mereka hanya pernah dinner itu pun dua kali, Gara terlalu sibuk dengan pekerjaan nya yang wajib itu.
"Iya nanti ya Nai, aku ajak kamu jalan-jalan setelah tugas ini selesai."
"Janji?"
Gara tersenyum. "Aku mau berangkat dulu, ya. Doa'in biar selamat."
Gara tak ingin mengumbar janji, ia takut jika janji itu hanya menjadi penenang semata bagi Naira. Menurut nya, tak ada janji ada nya adalah bukti.
Naira menghela nafas lalu mengangguk, "semangat ya Gar, kalau udah selesai jangan lupa kabarin aku." Jawab Naira membuat Nara mengangguk lalu tersenyum.
Telepon pun mati setelah mereka berdua berpamitan. Naira tersenyum kecil, seperti nya dia sudah nyaman bersama Gara tanpa ada nya status.
Ah dari pada memikirkan Gara yang membuat diri nya candu, lebih baik Naira masuk ke dalam grup dan mengumumkan niat nya.
Naira
_ guys, ada kampung temen gue yang kena bencana, lokasi nya di kampung dekat ujung tol. Kalau kita galang dana atau ada baju yang sudah tak di pakai, sumbangin aja yuk. Besok kita langsung ke lokasi gimana?
Naira selaku pembawa berita pun mengumumkan nya ke grup yang berisi hanya tiga orang itu, termasuk Naira di dalam nya. Siapa lagi kalau bukan Cindy dan Keisha. Awal nya grup pribadi itu di isi oleh empat orang bersama dengan Maya, tetapi sejak kejadian itu mereka tak lagi satu grup dengan maya. Bahkan jika bertemu di kampus pun hanya sesekali saja, dan itu pun tak pernah bertukar sapa.
Tak lama kemudian, handphone Naira berdering.
Keisha
_ Wah ide bagus itu. Yo kita bertiga aja dah biar kagak ribuk.
Cindy
_ Yoi, gimana kalau 10 juta bagi tiga?
Keisha
_ setuju
Ide cindy sangat bagus, mereka semua dari golongan keluarga berada dan uang sekitar tiga juta untuk patungan sangat lah mudah. Mengingat jika uang jajan bulanan nya pasti bernilai fantastis.
Naira.
_ deal ya? Gue punya banyak hoodie yang udah lama tapi masih bagus, mungkin satu dus. Gue bakalan sumbangin itu.
Naira baru ingat jika diri nya sudah melungsur kan beberapa Hoodie lama untuk ia simpan nanti nya, karena bingung harus di kemana kan. Sehingga sekarang dia memutuskan jika ia akan membawa Hoodie-hoodie itu untuk di kasih kan pada warga yang terkana longsor.
Keisha
_ kalau baju sih gue enggak ada. Tapi gue mau nyumbang makanan mie instans aja deh beberapa dus.
Cindy.
_ gue banyak baju lungsuran.
Oke fix ini berjalan dengan lancar, besok mereka semua akan pergi ke kampung itu. Ah naira tak sabar bertemu dengan Gara.
Selama lepas dari Kenzi, hanya Gara-lah yang menjadi penghibur rahasia untuk hati Naya. Walau ada sedikit ketakutan, jika Naya takut kalau diri nya hanya menjadikan Gara sebagai pelampiasan belaka. Naya tak ingin menyakiti hati seseorang, walau nyata nya dia juga sering di sakiti oleh seseorang itu.
Naira belum bisa tidur, dia memutuskan untuk pergi ke balkon kamar dan duduk di sofa yang sudah berada di sana, tak beda jauh dengan balkon milik Kenzi. Ah mengingat tentang Kenzi, sedang apa manusia ice itu? Apa ice nya sudah mencair? Atau masih membeku hingga hati nya keras. Atau lebih parah nya, pria tampan itu tengah menikmati hari dengan Maya. Kabar nya sih begitu, beberapa hari yang lalu Cindy melihat jika Maya satu mobil kembali dengan Kenzi, bahkan jika Kenzi tak di sapa oleh nya, Maya akan menggandeng tangan Kenzi. Tatapan yang di berikan pada waktu itu kepada nya pun sangat sinis seolah-olah berkata jika ia adalah wanita yang beruntung sudah mendapatkan Kenzi.
Flash back on.
"Kak Kenzi!" teriak Cindy di depan taman, mereka mungkin baru saja dari taman dan akan pulang. Waktu itu sudah malam sekitar pukul sebelas malam.
Kenzi yang merasa nama nya terpanggil pun segera menoleh, dan mendapati satu wanita yang tak asing tetapi Kenzi lupa siapa nama nya. Yang ia tahu, itu adalah sahabat Keisha, Maya dan..... Naira.
"Ya kenapa?" tanya Kenzi, nafas Cindy terengah-engah karena berlari cukup jauh.
"enak ya pacaran, sementara ada satu hati yang di patahkan." ucap Cindy, sembari tersenyum sinis saat sudah berada di hadapan mereka berdua; mereka tampak seperti pasangan berbahagia.
Maya di sebelah Kenzi tersenyum miring, smirik jahat nya sangat kentara sekali.
"Karena semua cinta butuh perjuangan," ucap Kenzi seolah-olah membela Maya. Padahal harus nya Kenzi tahu, kalau yang paling tersakiti adalah Naira.
"Lo berdua emang spesies manusia terjahat, terbatu dan ter-"
"Sudah lah Cindy, gak usah membela sebelah pihak. Kamu juga enggak tau yang sebenarnya bagaimana, bukan kah menilai orang tanpa tahu alasan itu tidak baik?" ucap Maya.
Cuih!
Cindy ingin sekali meludah di hadapan Maya, kalau tidak ada Kenzi di sana. Perkataan nya sangat memuakkan. Selain ingin meludahi Maya, Cindy juga ingin menjambak rambut dan menghabisi wanita itu sampai meminta ampun dan mengakui kesalahan.
"Lo!" tunjuk Cindy.
Maya menampilkan kembali senyum jahat nya. "Santai aja, Cin. Jangan kayak gini," ucap Maya sambil menyingkirkan jari telunjuk Cindy di depan nya.
"KARMA MENUNGGU KALIAN BERDUA!" Cindy berkata seperti itu dengan teriakan yang cukup keras membuat Kenzi menghela nafas kasar. Cindy pergi dari sana dengan perasaan kesal dan jengkel.
Bisa-bisa nya mereka tak ada otak seperti itu.