Pagi menyapa dengan sangat indah, rencana nya Naira sekarang akan pergi ke tenda penginapan orang-orang yang terkena dampak longsor.
Dengan memakai outfit yang sederhana seperti kemaren, hari ini Naira hanya menggunakan celana jeans, tanktop berwarna hitam serta kemeja untuk luaran nya, hal itu membuat Naira nyaman dengan outfit yang seperti itu.
"Udah cantik, mau kemana nih?" Tanya Gara membuat Naira tersenyum kecil, sebenarnya Naira agak canggung bertemu dengan Kenzi karena perihal semalam yang membahas dua telur. Ah Naira seperti tak punya muka saja berada di depan Kenzi kali ini. Naira terlalu sompral untuk Gara yang tak petakilan seperti Naira.
"Mau ke tenda, boleh kan?" Tanya Naira.
Gara menganggukkan kepala, "Bareng aja yuk. Temen-temen kamu mana?" Tanya Gara,
"lagi siap-siap dulu, ada yang mandi juga sih."
"Kita duluan gimana?" Tanya Gara membuat Naira menganggukkan kepala tanda setuju, lagian Keisha dan Cindy tak mungkin mencari nya, mengingat mereka juga sedang dekat dengan beberapa tentara.
Naira dan Gara berjalan berdampingan, sepanjang jalan ada saja yang mereka obrolkan, dan dari semua obrolan itu tak ada sama sekali yang penting. Mereka hanya mengobrolkan hal random tetapi tak sama seperti malam tadi. Ya kali, Naira harus malu dua kali di hadapan Gara, andai Gara tak memancing nya dengan kata 'Telur' mungkin semalam juga Naira tak akan berbicara seperti itu. Ah ini semua salah Gara!
Sepanjang perjalanan mereka bertemu dengan tentara yang berseliweran, entah itu lari, hanya jalan biasa atau sekedar mengobrol ya tentu nya mengobrolkan untuk evakuasi korban, menurut daftar ada korban sekitar satu keluarga yang tertimbun oleh tanah longsor. Hal itu membuat mereka harus gerak cepat tetapi harus menerima resiko dari semua perbuatan, resiko pasti ada mau itu berbahaya atau tidak. Sekarang juga Gara akan mengontrol langsung di mana keluarga itu terkubur dengan tanah. Ah karena bencana alam ini, harus ada korban membuat Gara sedih juga.
***
Mereka sudah berapa di tenda, Naira segera menggendong anak bayi yang tengah menangis. Mungkin anak bayi itu membutuhkan s**u sedangkan orang tua nya sedang tidak baik-baik saja. Naira meringis kecil kala tangisan bayi itu semakin intens. Naira mencoba untuk meraih air dan meminumkan nya sedikit demi sedikit sampai bayi itu tak terdengar tangisan lagi. Naira membawa bayi itu keluar dan melakukan hal yang sama seperti tadi.
"Kamu laper ya, nak. Sabar ya, s**u nya lagi di perjalanan ke sini dulu." Ucap Naira pada bayi itu, Naira menaruh gelas setelah merasa cukup dan berinisiatif untuk memandikan bayi itu.
"Gara!" Teriak Naira saat Gara tengah duduk, di depan nya ada sebuah bangku yang di atas nya ada kertas seperti pola yang Naira saja tidak tahu pola apa itu. Sedangkan di sisi kanan nya ada team Gara yang segera menoleh ke arah Naira. Termasuk Gara.
Naira mencoba berjalan untuk sampai ke tempat Gara yang tak jauh dari tempat nya tadi.
"Kenapa Nai?" Tanya Gara sembari mengerutkan kening, pasal nya Naira membawa bayi yang di perkirakan masih berumur lima bulan.
"Umhhh, bayi nya kesian laper gak ada susu." Ucap Naira, "Gak ada peralatan mandi juga." Sambung Naira.
"Hum bukan hanya satu bayi, tapi ada tiga bayi lagi di dalam." Kembali Naira melontarkan keluhan nya.
Gara tersenyum, dia beranjak dari duduk untuk sampai ke Naira yang berada dua meter dengan nya. Gara berjongkok sedikit untuk mensejajarkan tinggi nya melihat bayi itu yang tengah mengemut jempol nya, ah sungguh bayi yang malang.
Gara kembali merubah posisi, dia mengacak lembut kepala Naira. "sabar dulu ya, lagi di perjalanan." Ucap Gara memberi tahu agar Naira tak khawatir.
Naira terdiam, sungguh perlakuan Gara membuat semua orang yang menyaksikan nya baper. Termasuk para team relawan dan tentara lain nya.
"Umh okay," ucap Naira. "Aku mandiin bayi ini boleh enggak? Lap aja kebetulan aku kemana-mana suka bawa minyak telon sama bedak bayi."
Ucapan Naira membuat Gara membulatkan mata nya, "Serius kamu?" Tanya Gara terkejut ternyata Naira masih seperti- ah lupakan.
"Iya Gar, aku kalau abis mandi harus pake minyak telon." Ucap Naira. "Karena wangi nya suka." Sambung Naira dengan manja nya membuat Kenzi mengangguk.
Sementara yang lain sudah tertawa, bahkan team Gara hanya menahan senyum dengan pasangan sejoli itu, hah pasangan?
"Aku mandiin dulu ya, tapi aku bawa ke mess." Izin Naira yang di angguki oleh Gara.
"Nanti selesai ini aku nyusul." Jawab Gara yang di angguki setuju oleh Naira.
Sementara yang lain saat Gara menoleh team nya pura-pura sibuk dengan ke-saltingan nya membuat Gara menggeleng-gelengkan kepala nya pelan.
"Ayo lanjut!" Ucap Gara.
"Siap Ndan." Jawab mereka serempak.
"Tapi kalau Ndan mau nemenin calon istri juga gak apa-apa." Itu sudah tentu yang berbicara adalah Devin, sahabat baik Gara.
Ucapan Devin membuat mereka semua tertawa, karena puas menertawakan nya
"Mau di hukum lari berapa kali?" Tanya Gara sembari bersedekap d**a membuat mereka semua segera terdiam dan pura-pura fokus dengan rapat nya. Ah sungguh menyebalkan sekaligus membahagiakan untuk Gara, andai Naira memang benar calon istri nya.
***
Pertama-tama Naira membawa peralatan bayi ke dapur, niat nya dia akan memandikan bayi itu di wastafel, dengan izin ibu nya tentu saja. Karena nanti ia takut ibu nya jadi salah paham anak nya hilang, tentu saja ibu muda itu sangat senang anak nya ada yang merawat, nama nya Rumi. Nanti Naira akan mengobrol lebih banyak lagi dengan Rumi, yang umur nya terlihat masih muda mungkin sekarang dua puluh dua tahunan.
Naira hanya mengelap badan nya saja, tak memandikannya betul-betul karena tidak ada sabun mandi. Rambut nya yang tak tebal dan hanya sedikit itu di basuh oleh Naira, sehingga bayi itu menjadi bersih. Karena tadi ada kotoran tanah yang menempel di pipi bayi itu, ah nasib nya sangat malang sekali.
Setelah selesai dengan urusan air, Naira segera masuk ke dalam kamar, memberi bayi itu minyak telon karena Naira takut jika bayi ini tak memakai bedak.
Naira kebingungan masalah baju, sehingga dia berinisiatif untuk mengelep seluruh badan bayi itu sampai kering, terakhir memakaikan bedong bayi menggunakan handuk wajah diri nya yang bersih dan kering karena belum di pakai dan selimut bayi bersih dari Keihsa, ah anak itu memang selalu berpikiran jauh jika yang membutuhkan sandang bukan hanya orang dewasa.
Setelah bayi itu hangat, Naira membawa nya keluar. Matahari baru saja keluar dengan malu-malu, sangat pas untuk berjemur. Sekalian Naira juga akan berjemur, karena tadi dini hari diri nya sudah mandi.
Naira duduk di sebuah bangku panjang terbuat dari bambu yang di anyam, menghadap langsung ke arah sawah, suara hewan saling bersahutan dengan burung. Membuat suasana teduh dan nyaman, ah Naira betah jika berada di sini.
Naira memandang wajah bayi berjenis kelamin laki-laki itu, perlahan mata bayi itu menutup, mungkin badan nya merasa enak dan hangat akibat sinar matahari yang hangat. Naira tersenyum kecil, bisa membantu orang-orang yang kesusahan. Menurut Naira ini adalah healing terbaik.
"Hi, disini ternyata, aku cariin dari tadi." Ucap seorang pria membuat Naira segera menoleh ke arah asal suara.
"Eh Gara, rapat nya udah beres kan?" Tanya Naira membuat Gara mengangguk.
Gara segera duduk di samping Naira, Gara kagum kepada Naira karena mengurus bayi dengan sangat telaten dan penuh dengan kasih sayang. Ah melihat Gara, Naira dan bayi itu seperti melihat gambaran di masa depan.
"Lucu banget bayi nya." Ucap Gara membuat Naira mengangguk membenarkan ucapan Gara.
"Jadi mau," celetuk Naira membuat Gara tersenyum kecil
"Mau buat apa mau bayi nya?"
"Gara mulaii deh!" Kesal Naira, padahal kesal nya hanya sepuluh persen dari seratus persen, sisa nya dia malu.
"Nai,"
Naira melirik ke arah Gara, "Kenapa Gar?" Tanya Naira.
"Kalau aku suka kamu gimana?" Itu adalah perkataan yang mampu membuat Naira terdiam.
Gara menyukai nya? Ah tenang hanya menyukai bukan mencintai.
"Gar, kamu?"
"Aku beneran Naira." Ucap Gara.
Gara meloloskan satu nafas, "Aku gak bisa tahan perasaan ini lebih lama, aku menyukaimu lebih dari sekedar teman. Sebut saja aku mencintai mu,"
Naira bingung harus menjawab apa, jujur saja dia sangat terkejut. Gara mengucapkan cinta secepat ini, dan dalam keadaan seperti ini. Tetapi tak bisa di bohongi perhatian, perlakuan, sikap dan sifat Gara pada nya itu sangat membuat Naira nyaman. Tetapi, bagaimana dengan Kenzi?
Ah dalam keadaan seperti ini, bahkan Naira masih memikirkan Kenzi. Bay the way apa kabar dengan Kenzi, apakah baik-baik saja?
"Gar... Aku,"
"Aku gak minta buat kamu jawab sekarang pertanyaan dari ku."
"Gar aku-"
"Udah ya, yang penting aku lega udah bisa ngungkapin ini semua..." ucap Gara sembari menatap Naira dalam yang juga tengah menatap nya.
"tapi, aku punya masa lalu yang belum selesai, Gar."
"aku bakalan bantu buat menyelesaikan masalah kamu dengan masa lalu mu, aku akan menarik kamu dalam zona itu. Naira, aku-"
Naira menunduk, air mata sudah tak bisa ia tahan lagi. di depan bayi yang masih suci, Naira menangis kembali karena cinta. Jujur, Naira bingung sekarang ini
"Gara, aku-"
"sekali lagi, aku gak minta jawaban kamu sekarang." ucap Gara membuat Naira menghela nafas kasar karena kesal.
"JANGAN SAMPE AKU LEMPAR INI BAYI GARA-GARA KESAL SAMA KAMU YA GAR."
Gara membulatkan mata dengan ucapan Naira yang sangat ekstrim di pendengaran nya.
Siapa yang tak kesal, jika saat akan berbicara pembicaraan itu selalu di potong oleh lawan bicara, seolah tak memberikan celah untuk menjelaskan sesuatu padahal Naira punya jawaban yang tak jelek-jelek amat.
"ah iya maaf, Nai. sekarang kamu mau jawab apa, aku bakalan terimain apa pun. aku sanggup sama semua konsekuensi nya." jawab Gara dengan lembut, ia tak ingin menganggu moment yang harus nya romantis malah abstrak seperti ini. mana menyatakan cinta di depan bayi yang tak berdosa lagi.
"Aku juga menyukai kamu, tapi aku belum bisa cinta sama kamu."
Klasik! Ya ini adalah alasan klasik berupa penolakan menjali sebuah hubungan bernama 'Pacaran', Naira belum selesai dengan masa lalu nya apa harus Naira menjalin hubungan baru, tetapi jujur jika memilih antara keduanya; Kenzi dan Gara Naira tak akan pernah bisa memilih. Naira menyukai keduanya, egois memang tapi itulah kenyataan nya.
"Gar, apa kamu mau nunggu aku buat cinta sama kamu?" tanya Naira membuat Gara tersenyum kecil, senyum miring penuh kemirisan, jarang sekali bahkan terhitung jari jatuh cinta, tetapi saat dia jatuh cinta maka cinta nya tak jatuh pada diri nya. Bohong kalau tak sakit, bohong kalau Gara tak kepikiran semua tentang Naira.
Gara mengangguk menatap Naira penuh dengan senyuman yang lembut, dua pasangan yang entah apa itu status nya pun sama-sama bingung dengan keadaan. mereka berdua sungguh tak bisa mengartikan semua ini.
Apa cinta atau sekali lagi hanya sekedar obsesi, termasuk Naira! Dia begitu bingung, kepada Kenzi saja belum bisa di sebut cinta bagaimana dengan Gara, yang hanya orang baru tak sengaja membuat nya nyaman.