"Nai," panggil Gara membuat Naira segera menoleh kan kepala ke arah Gara.
"Kita udah hampir tiga puluh menit di sini, bayi nya udah hangat kita balikin yuk ke orang tua nya." Ucap Gara membuat Naira menghela nafas. Jujur Naira sangat betah dengan bayi yang berada di pangkuan nya ini. tetapi, apa yang di ucapkan oleh Gara ada benar nya.
"Tapi boleh gak, aku main lagi sama bayi ini nanti di sana?" Tanya Naira membuat Gara gemas, sesuka itukah Naira dengan bayi?
Gara menganggukkan kepala. "Boleh, tentu saja dengan persetujuan ibu nya. Deal?"
"Deal." Ucap Naira membuat Gara tersenyum.
Lalu mereka berdua segera berjalan bersama untuk sampai ke tempat tadi, jarak nya tidak jauh hanya beberapa meter saja. Saat mereka berdua sudah dekat dengan tenda penginapan, banyak sekali tentara atau bahkan warga sekitar dan team relawan yang tersenyum, Gara dan Naira begitu romantis seperti keluarga kecil yang tengah berbahagia.
Gara sudah lega saat menyatakan cinta nya kepada Naira tetapi di satu sisi dia takut jika Naira tak akan pernah membalas perasaan nya. Gara, harus mencintai wanita yang tidak mencintai nya?
Saat akan masuk ke dalam tenda, tiba-tiba saja tanah seperti bergeser, pohon-pohon serta bangunan yang tersisa goyang sampai beberapa ada yang sudah mulai rubuh. Dengan sigap Gara mengintruksikan dengan suara bariton nya supaya mereka semua menuruti ucapan nya.
"PERGI KE LAHAN YANG KOSONG!" teriak Gara, membuat hampir semua orang berlarian untuk sampai ke lahan kosong, karena kebetulan depan tenda pengungsian adalah lahan kotor seperti lapangan.
Gara segera memeluk Naira dan bayi itu, menyembunyikan kepala Naira dalam pelukan hangat nya. Ia tak ingin jika Naira atau ada orang lain yang celaka menjadi korban jiwa dalam gempa ini
Akhirnya setelah Beberapa detik, gempa reda juga. Gara menghela nafas lega begitu juga dengan yang lain nya. Tetapi saat melihat sekitar ternyata banyak bangunan rumah yang tak utuh.
Kenapa ini Tuhan? Setelah longsor terjadi gempa pun ikut menjadi. Semoga bencana segera berakhir untuk kampung ini.
"Gara.." Naira melirih di pelukan Gara, badan nya bergetar hebat. Bahkan mata Naira sangat sayu wajah nya juga pucat.
Keisha segera berlari ke arah Naira, membawa Bayi itu ke dalam pelukan nya. "Naira trauma sama Gempa!" Ucap Keisha membuat Gara terkejut. Pantas saja Naira sampai gemetar seperti itu.
"Gak apa-apa ya, Nai. Gempa nya udah berakhir, kamu kuat kamu gak apa-apa." Ucap Gara sembari memeluk tubuh gemetar Naira.
Brak..
Tubuh Naira lunglai ke bawah, untung saja masih bisa di tahan oleh Kenzi. Kenzi semakin terkejut kala mendapati jika wanita yang di cintai nya pingsan.
Tanpa berbicara apa-apa, Gara segera menggendong Naira ala bridal style ke posko. Di sana sudah ada beberapa tentara yang memeriksa. Untung bangunan ini terbuat dari kayu jati sehingga kuat tidak rubuh seperti bangunan yang lain nya.
"TIM MEDIS, CEPAT!" teriak Gara penuh khawatir. Bahkan rekan-rekan nya pun sampai terkejut dengan suara Gara yang tegas dan lantang. Sepenting itu kah Naira sehingga membuat Gara sepanik itu?
Dua orang team medis segera masuk ke dalam posko.
"Ada apa?" Tanya team medis mencoba berusaha tenang. Itulah yang harus di lakukan team medis di segala kondisi, mental memang harus kuat.
"Naira.. dia trauma gempa bumi," Gara menunjuk Naira yang terbaring di karpet, badan nya masih agak gemetar.
Team medis wanita itu segera melirik ke arah rekan nya yang juga sesama wanita lalu mengangguk membuat Gara kebingungan.
"Coba tenangin sama bapak, siapa tahu tenang dan bangun." Ucap Dokter itu membuat Gara mengangguk.
"Naira, bangun hei. Gak apa-apa ya," ucap Gara membuat Naira menggeleng kuat, keringat di pelipis nya sangat kentara. Bahkan Cindy dan Keisha serta sebagian rekan Gara pun ikut menyaksikan.
"Naira! Lo wanita kuat, gue gak mau liat lo lemah!" Ucap Cindy yang berada di sisi kiri Naira sedangkan di sisi kanan nya ada Gara yang juga berusaha menenangkan Naira.
Beberapa detik kemudian, Naira menangis menjerit dengan histeris.
"Mamihhhhhhhh!!!!!!" Teriak Naira membuat seisi ruangan terdengar oleh suara Naira.
"Papih tolong!" Kembali Naira berteriak. Membuat Gara langsung membawa Naira ke dalam pelukan nya.
"Udah ya tenang," Gara mengecup puncak kepala Naira membuat Naira menangis di pelukan Gara. Gara juga memeluk Naira dengan erat.
"Hei, its okay. Udah enggak apa-apa,"
Tangisan Naira hanya terdengar isakan nya saja sekarang. Naira sudah sedikit tenang di pelukan Gara.
"Kok bisa trauma?" Tanya Gara, sembari menatap Keisha dan Cindy bergantian.
Keisha meloloskan satu nafas. "Naira pernah di culik waktu kecil, dan pada saat di culik gempa terjadi." Ucap Keisha membuat Gara mengerutkan kening nya.
"Naira waktu itu masih kecil, dan Naira juga enggak ingat apa-apa. Tetapi saat Naira berbicara pada Mamih nya, beliau seakan menolak untuk menceritakan. Selalu mengalihkan pembicaraan." Sambung Keisha.
"Mungkin Mamih-Nya Naira juga masih menyimpan trauma, karena sejak kejadian itu papih Naira meninggal karena kecelakaan." Ucap Keisha membuat Kenzi semakin terkejut.
"Sudah berapa tahun lama nya?" Tanya Gara.
"Mungkin sekitar sebelas tahun yang lalu." Ucap Keisha membuat Kenzi mengangguk. Sudah lama sekali ternyata Naira menyimpan trauma. Trauma nya juga tak main-main, Naira kecil itu pernah di culik dan-
Ah sudahlah!
"Tetapi memang ada yang janggal." Ucap Gara sembari mengelus rambut Naira dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Ternyata di balik sikap Naira yang cerita menyimpan banyak luka.
Indonesia merupakan salah satu negara yang paling sering mengalami gempa bumi. Letak kepulauan Indonesia yang berada di perbatasan lempeng tektonik serta banyaknya gunung berapi di Indonesia membuat negara Indonesia sangat sering diguncang gempa bumi.
Gempa tidak hanya berdampak pada hancurnya berbagai infrastruktur dan perekonomian, namun gempa juga dapat mempengaruhi kesehatan. Banyak korban yang meninggal akibat gempa, sebagian lainnya mengalami luka-luka, dan sebagian lagi dapat mengalami gangguan trauma pascabencana.
Gangguan trauma pascabencana merupakan sebuah kondisi gangguan kesehatan mental yang dipicu oleh sebuah kejadian mengerikan, seperti gempa bumi atau bencana lainnya, pembunuhan, dan kejadian mengerikan lainnya. Kejadian ini bisa merupakan kejadian yang dialami sendiri maupun kejadian yang disaksikan langsung oleh seseorang.
Gangguan trauma pascabencana merupakan salah satu gangguan psikologis yang paling sering terjadi pada anak, remaja, dewasa, bahkan pekerja medis yang terpapar pada bencana.
Dan Naira salah satu orang yang memiliki trauma dengan Gempa bumi. Ah sangat tidak menyangka sekali bukan?
Naira masih belum sadarkan diri, tetapi tangisan nya sudah reda. Wanita berbadan mungil itu masih betah dengan mata terpejam nya.
"Naira.." panggil Gara sekali lagi.
"Naira, bangun hei. ini gak akan apa-apa," ucap Gara dengan lembut juga.
Naira nampak menghela nafas, bahkan nafas nya terengah-engah seperti habis lomba lari.
"Gara...." lirih Naira.
"Iya, Nar. bangun yaa." ucap Gara.
"A..aku ta.. ta.. takut, Gar." ucap Naira terbata-bata.
"gak usah takut ada aku yang bakalan jagain kamu terus." ucap Gara sembari memeluk dan menciumi puncak kepala Naira. Terlihat sangat jika Gara mencintai Naira dengan sungguh-sungguh, bahkan mereka yang berada di sana yang menyaksikan semua nya pun ikutan baper karena perlakuan Gara kepada Naira
Perlahan tapi pasti mata Naira terbuka sedikit demi sedikit mereka semua mengucap kata syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Naira melepaskan pelukan Gara dengan perlahan, melihat sekeliling dan mengerutkan kening.
"Serius? Apa aku baik-baik saja?" tanya Naira sembari menatap Gara dengan sisa-sisa air mata nya.
Gara tersenyum walah nyata nya dia begitu khawatir kepada Naira. "Kamu baik-baik saja, kamu aman Nai." ucap Gara sembari menghapus jejak air mata Naira yang belum selesai.
Jika mereka sekarang ini adalah sepasang kekasih atau suami istri, maka semua orang akan bilang jika mereka berdua adalah pasangan fenomenal yang sangat romantis dan harmonis. tetapi kenyataan nya, Naira menggantung cinta Gara dengan alasan takut pada sebuah obsesi. padahal harus nya mereka mencoba terlebih dahulu membangun sebuah hubungan. dan jika memang cocok maka jalur pernikahan adalah satu-satunya untuk menyatukan dua insan yang di landa asmara.
"Kamu gak becanda atau gak lagi bohong kan, Gar? Kamu... kamu gak akan pernah menipu aku supaya masuk ke jebakan kamu kan Gar, kamu gak akan pernah biarin aku terjebak dalam ruangan ya-"
"Syuttt..." Gara menaruh telunjuk tangan nya di depan bibir Naira.
"Semua sudah ada porsi nya masing-masing, Naira. Kamu bisa bangkit, kamu bisa belajar dari masa lalu. dan tak semua orang atau kejadian berakhir menyedihkan seperti dulu, percaya Nai semua akan baik-baik aja." jawab Gara membuat Naira menundukkan kepala nya.
Apa-apaan Naira, tidak bisa mengontrol ketakutan nya, tidak bisa menutupi kesedihan nya, kemana Naira yang selalu ceria, kemana Naira yang tak pernah berbagi atau mengeluh ke sesama. Kemana Naira yang dulu, yang selalu kuat walau sudah di jatuhkan beberapa kali oleh keadaan
Buru-buru Naira mengusap sisa air mata yang mengalir deras beberapa saat yang lalu. Naira menatap laki-laki yang sedari tadi pasti setia menemani nya, laki-laki yang benar-benar menjadi pelindung untuk nya. Lalu mengapa diri nya masih belum bisa menerima laki-laki tulus seperti Gara.
Naira menatap manik cokelat milik Gara, dia tersenyum lalu mengangguk. "Aku gak apa-apa kok, Gar." ucap Naira lalu bangkit dari duduk nya, wanita itu pergi keluar. Mungkin udara luar bisa membuat mood nya naik, tak berantakan lagi.
Ternyata keadaan di luar tak seperti apa yang di bayangkan oleh Naira. Keadaan di luar benar-benar rusak, bahkan entah bagaimana Naira menggambarkan nya. Kampung seindah ini harus rusak akibat puing-puing bangunan yang rubuh. sudah jatuh tertimpa tangga juga, mungkin itulah pribahasa yang cocok untuk menggambarkan kampung ini sekali.
"Nai..." panggil Gara dengan lembut, "Aku harap kamu tetap baik-baik saja." sambung Gara.
Sebenarnya Naira ingin menangis melihat semua yang ada di hadapan mata nya, tetapi keadaan memaksa diri nya untuk tetap kuat, bertahan mempertahankan ego dan air mata.
Naira mencoba memaksakan senyum di tengah bencana yang hinggap, Naira mengangguk yang dapat Gara artikan jika Naira memang kuat dan tak ada apa-apa. Naira tak akan seperti tadi yang lemah.
"Lapor kapten!" ucap salah satu pria bertubuh atlentis berpakaian sama dengan Gara, pria itu memberi hormat kepada sang komandan, siapa lagi kalau bukan Gara.
Gara menerima hormatan itu. "Ada apa?" tanya Gara.
"Jalan menuju kampung di sini di kabarkan rusak, aset satu-satunya untuk ke sini hayalan helikopter sebelum jalan di perbaiki." ucap seseorang itu membuat Gara serta Naira yang mendengar terkejut, tetapi sebisa mungkin Gara menahan keterkejutan nya.
Gara meloloskan satu nafas lagi dan lagi, d**a nya terasa sesak mendengar kampung yang ia cintai harus terkena bencana lagi dan lagi. Kasus yang pertama saja belum selesai, Tuhan.
"Apa rusak nya parah? Kita bisa membuat jalan baru di pinggir nya, mungkin tak akan membutuhkan waktu lama kan? Nanti akan saya laporkan pada atasan." jawab Gara, perkataan nya tenang walau pun banyak pikiran, terkejut serta d**a nya terasa sesak akibat bencana yang ia alami.
"Maaf, jalan ambruk ke jurang. sehingga memang akan lama untuk di perbaiki. Rute yang rusak adalah jalan yang sisi kanan nya jurang."
Ah ini yang Gara khawatirkan, jalan itu sedari pas awal dia masuk ke desa terpencil ini. Jalan nya rusak akibat kikisan tanah; longsor.
"Apa ada akses lain untuk menuju kesini?" tanya Gara pada bawahan nya.
.
Bawahan yang di ketahui bernama Faisal pun mengangguk-anggukan kepala nya. "Hanya helikopter."
Meloloskan satu nafas agar tak terasa sesak, itulah yang Gara lakukan saat ini. Sungguh di luar dugaan nya, ternyata rencana Tuhan berbeda dengan rencana nya. Sehingga mau tak may harus menjalani nya dengan tulus, ikhlas dan lapang d**a. Karena di setiap ujian dan cobaan maka jika sabar dan ikhlas, akan Tuhan datang kan kebahagiaan setelah nya. Kebahagiaan yang tiada tara.