40. Bencana

1250 Kata
Semua orang di kantor polisi sedang ramai, karena keadaan tak baik-baik saja. Gempa sudah berakhir sekitar tiga puluh menit yang lalu. Sudah ada laporan ke pihak Kenzi tentang kota mana saja yang terkena dampak nya oleh gempa itu. Kenzi membaca data satu persatu dan menemukan jika kota yang masih menyimpan banyak sekali misteri terkena dampak paling banyak atau paling parah dari kota-kota lain nya. Kota yang tak memiliki nama itu selalu menjadi korban. Entah itu oleh tangan manusia atau kehendak Tuhan. Mungkin bisa jadi itu adalah ujian, cobaan, atau malah memang bencana yang di kirim kan Tuhan pada kampung itu. Sudah hampir satu bulan, saat diri nya tugas untuk kampung itu tak menemukan titik temu yang jelas. Saat menelusuri hutan untuk menemukan beberapa prajurit yang di tahan itu tak menemukan hasil sama sekali. Para prajurit nyata nya bukan di tahan tetapi ketiduran di tengah hutan yang tak jauh dari jalan. Para prajurit seolah menolak ingat mereka kenapa, di tanya pun tak ada yang menjawab selain kerutan di kening. Dan dua hari kemudian, kampung itu di nyatakan aman oleh pimpinan tentara sebut saja Komandan yang jabatan nya lebih tinggi dari pada Kapten. Sejak saat itu, Kenzi tak lagi pergi ke sana dan tak pernah menyelidiki apapun. Hingga beberapa hari yang lalu diri nya mendengar kabar jika kampung yang tak mempunyai nama itu membutuhkan team relawan dan tenaga medis karena di timpa longsor, bukan hanya itu pengajuan pada pemerintahan untuk menyumbang rumah yang terkena dampak pun sudah di lakukan. Tepat pada hari ini, gempa bumi berskala 7,4 magnitudo terjadi dan menghancurkan beberapa rumah yang ada di kampung tersebut, lebih parah nya tidak ada akses lagi ke sana karena jalan satu-satunya menuju ke sana itu rusak parah akibat Gempa bumi. Jalan itu di bawah nya kosong sehingga jalan ambruk ke bawah, serta sisi kiri dan kanan nya adalah jurang. Kebetulan, jalan yang ambruk itu di sana sehingga tak bisa membuat jalan baru di pinggir nya. Maka akses satu-satunya adalah memakai helikopter dengan pendataan di lapangan buatan yang akan di buatkan oleh para Tentara yang sudah berada di sana. Hanya itu! "Lalu?" Tanya Kenzi kepala Alvian, rekan sekaligus sahabat nya. Dia membacakan info serta data kampung tersebut. "Tidak ada korban jiwa, tetapi rumah hampir semua nya ambruk. Bukan hanya itu ada satu orang wanita, bukan penduduk sana yang sakit akibat gempa tersebut." "Sakit?" Tanya Kenzi. "Bukan penduduk sana? Kenapa bisa masuk ke sana, apa di izinkan begitu saja. Berarti penjagaan di sana tidak terlalu ketat, bukan?" Kenzi bertanya dengan runtun. Alvian meloloskan satu nafas, menaruh beberapa lembar kertas di atas meja. Dia menatap Kenzi dengan serius membuat yang di tatap mengerutkan kening, mengapa sahabat nya itu menatap di jam kerja seperti itu. Kalau sudah begini pasti Alvian ingin berbicara dengan nya sebagai sahabat bukan sebagai partner pekerjaan dan bukan sebagai bawahan kepada atasan. "Kenapa lo?" Tanya Kenzi mengawali pembicaraan, karena suasana ruangan sudah agak beda. Beruntung di dalam sana hanya ada Kenzi, Alvian dan Bayu. Keduanya merupakan sahabat baik Kenzi. "Lo tau ga, Zi?" Kenzi menggeleng, "Mana gue tau. Orang belum di kasih tahu juga kan." Jawab Kenzi. "Yang wanita sakit di sana, bukan penduduk sana itu adalah NAIRA! N A I R A! NAIRA!" Ucap Bayu, karena greget kepada Kenzi sehingga dia saja yang menjelaskan dari pada menunggu Alvian sangat lama banyak basa-basi nya, padahal jika sudah basi tidak akan enak juga kan? "Na...naira?" Tanya Kenzi. Alvian dan Bayu mengangguk mantap secara bersamaan membuat Kenzi mematung. Pria itu sudah lama sekali tak mendengar nama Naira, bahkan bertemu saja tidak pernah setelah hampir satu bulan. Dan kabar nya wanita itu... Wanita itu sedang berada di kampung itu entah tahu dari mana, dan sakit di sana akibat gempa bumi? "Oh." Jawab Kenzi segera beranjak dari sana. Ia tak ingin mendengar nama Naira lagi, menurut nya Naira adalah bencana besar bagi kehidupan nya. "Gilak lo ya!" Teriak Alvin namun Kenzi pura-pura tak mendengar nya. "Emang, Kenzi gila banget." Ucap Bayu membuat Alvian memijit pelipis nya karena merasa pusing, kenapa Tuhan tak memberikan sifat kepo kepada Kenzi sedikit saja. Ah- pria itu apakah benar-benar tidak normal? "Ken, lo harus tahu Naira sakit kenapa." Ucap Alvian yang segera menyusul Kenzi keluar. Mereka bertiga sedang berjalan di lorong kantor. "Gak penting!" Jawab Kenzi. "Tapi ini penting, Ken. Menyangkut masa lalu gadis itu." Jawab Alvian, Kenzi tak memperdulikan dan terus berjalan. "Ken!" Panggil keduanya, dan segera menyamakan langkah nya dengan Kenzi. "Gadis itu gak penting buat gue, kalau gue tahu emang gue harus ngelakuin apa. Lagi pula kenapa masa lalu dia penting buat gue?" Jawab Kenzi membuat langkah Bayu dan Alvian terhenti. "Hati lo batu banget ya, Ken!" Teriak Bayu karena sudah terlanjur kesal dengan Kenzi. Kenzi terus berjalan dan hanya mengangkat satu tangan nya ke atas, sementara itu Bayu dan Alvian sama-sama menghela nafas. Mereka harus memikirkan cara, untuk membuat Kenzi menyesal dengan ucapan nya itu. "Inget jabatan pak!" Seseorang polisi wanita bernama Helen lewat sembari tertawa kecil, membuat Bayu maupun Alvin segera melirik ke arah wanita itu yang terus berjalan. Mereka berdua seolah menurut dan mengangguk. "Iya jabatan! Ide bagus!" Jawab Alvian membuat Bayu memiringkan bibir nya. Mereka mempunyai ide yang di jamin akan berhasil sepeda nya. Ah semoga saja! *** "Makan mau?" Tanya Gara kepada Naira, kini jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, mereka- para tentara baru saja Mengamankan warga sekitar untuk tinggal di tempat yang layak. Dengan cepat, karena memang di kampung tersebut ada lapangan, sehingga mereka tidak perlu membuat capek-capek lapangan untuk pendaratan helikopter. Hanya perlu merubah nya sedikit saja. "Suapin.." jawab Naira manja, membuat Gara tersenyum. Ia sangat suka jika Naira manja pada nya seperti ini. Gara menganggukkan kepala, Gara saja belum makan karena tidak ada selera. "Mau makan apa? Stok makanan masih banyak juga kok." Jawab Gara kepada Naira. Karena belum ada pemasokan dari luar. Termasuk dari kesatuan nya. "Mie sama telur." "Double buk." Jawab Gara tertawa, membuat Naira juga tertawa. "Nasi gak nih?" "Enak aja, aku gak se rakus itu tau." Jawab Naira membuat Gara tertawa lepas. "Tunggu sebentar ya tuan puteri, di buatin dulu." Jawab Gara membuat Naira menggeleng-gelengkan kepala nya. Ah Gar sungguh menyenangkan sekali, Gara selalu bisa menjadi apa yang di mau oleh Naira. Bohong jika Naira tidak suka atau bahkan cinta kepada Gara yang selalu membuat ny nyaman dan menjadi ratu satu-satu nya di dunia ini. Gara, selalu peka dengan keinginan nya sampai detik ini pria itu tak pernah membuat diri nya kecewa, tak pernah memberikan luka walau hanya sedikit, Gara selalu bisa.. menempatkan diri nya sendiri, walau sedang tugas sekali pun. Menurut Naira Gara itu istimewa, Gara itu dewasa dan Gara adalah pria sempurna yang menjadi idaman nya. "Indomie toping telur setengah mateng sudah siap." Ucap Gara membuat Naira segera menoleh ke arah Gara. Gara membawa satu mangkok mie dan segelas air putih di dalam gelas ke hadapan Naira. Perlahan menyimpan terlebih dahulu gelas itu dan menyodorkan mie ke arah Naira. "Perkataan aku tadi gak main-main loh, Gar." Ucap Naira membuat Gara tertawa, sungguh Gara masih ingat dengan ucapan yang tadi di lontarkan oleh Naira. "Yaudah iya, manja banget uuhhh." ucap Gara lalu mulai menyuapi mie yang ia buatkan tadi menggunakan, sayuran dan dua telur sekaligus. karena mana cukup Naira makan hanya dengan satu telur. jika wanita lain akan jaga image di hadapan pria mana pun, maka lain dengan Naira. perempuan itu malah semakin ingin menunjukkan kekurangan pada laki-laki yang berbicara mencintai nya, Karena Naira hanya ingin mereka mencintai diri nya dengan tulus. (Nanti malam silahkan di cek lagi siapa tahu ada tambahan kalau mood ya) Naira begitu lahap menerima suapan demi suapan dari nya, andai mereka berdua sudah mempunyai status yang bisa menjadikan keduanya lebih dekat. andai mereka berdua bisa menjalin sebuah hubungan tanpa ada penghalang, andai semua yang di ucapkan nya itu menjadi sebuah doa yang nanti nya akan menjadi sebuah kenyataan. Ah begitu bahagia nya nanti hidup Gara bisa berdampingan dengan wanita seperti Naira, tetapi apakah sudi Naira bersanding dengan diri nya? "Akhirnya habis." tak lama mie dengan dua telur itu habis di santap oleh Naira. Gara jadi tak tega mencicipi nya, melihat Naira makan dengan lahap saja sudah membuat diri nya kenyang dan tentu saja bahagia, apalagi itu adalah buatan diri nya sendiri. "Iya, enak sih. Indomie sama telur gak pernah gagal." jawab Naira membuat Gara terkekeh pelan. "Nai..." tanya Gara mulai serius. Naira melirik ke arah Gara yang memandang nya cukup serius, ini yang Naira takut kan. takut jika Gara menagih jawaban dari nya, sedangkan Naira saja tidak tahu rasa apa yang ia berikan kepada Gara selain rasa nyaman dan ingin terus bersama. apakah itu sudah bisa di sebut dengan cinta? "Ke..kenapa?" tanya Naira sedikit terbata-bata membuat Gara menghela nafas lagi dan lagi. "Kenapa suka dua telur? Apa satu tidak cukup?" tanya Gara, pertanyaan yang di berikan oleh Gara sangat random sekali, membuat Naira hampir tertawa terbahak-bahak karena pertanyaan itu. "Gara, kamu ada-ada aja sih." jawab Naira membuat Gara segera menggaruk tengkuk nya yang sama sekali tak gatal. "Ya aneh aja, tiap makan telur nya gak mau satu." jawab Gara membuat Naira terkikik sendirian. Iya! Naira tahu kalau di sini itu sedang kekurangan makanan akibat bencana alam yang datang secara bertubi-tubi, stok makanan menipis. bahkan relawan dari luar hanya diri nya, Keisha dan Cindy yang menyumbang sandang dan pangan. karena tak semua orang peduli dengan hal yangs seperti ini bukan? "Gak tau kenapa, aku suka banget sama telur itu. Jadi kalau satu enggak akan cukup," jawab Naira membuat Gara tertawa kecil. Jika hampir semua wanita yang Gara temukan akan jaga image, misal menyiksa makan untuk sedikit, dan jaga image ketika makan. Lain hal nya dengan Naira, wanita yang ia temui sudah kurang lebih satu bulan itu tak ada jaga image-image nya. Meskipun sepeda itu, Naira tetap cantik di mata nya, bahkan di mata semua orang. Bohong kalau Naira mempunyai kekurangan besar yang membuat orang tak menyukai nya. Naira, meskipun wanita itu orang berada tetapi tidak manja untuk turun langsung ke hutan, sawah atau kampung-kampung terpencil, gaya nya tidak selangit walau pun Naira bisa membeli barang apa saja yang di mau, bahkan kendaraan yang di bawa pun tak mewah seperti orang kayak pada umum nya. Bahkan, makan Naira tidak sama seperti makan orang kaya pada umum nya, Naira di bawa sederhana pun tidak komplen apapun. Ini buktinya, dia rela menjadi team relawan. "Harusnya kamu seneng aku makan nya gak neko-neko, jadi kalau kita nikah telur aja aku mah udah bahagia." ucap Naira sembari tersenyum membanggakan diri nya sendiri. Gara mengerutkan kening bingung dengan ucapan Naira yang terasa ada yang janggal di pendengaran nya. "Emang kamu mau nikah sama aku?" SKAKMAT NAIRA b**o! SELALU KECEPLOSAN. mau di taruh di mana wajah nya, sudah beberapa kali bikin malu di depan Gara. Ah sungguh wanita ceplas-ceplos yang sesungguhnya bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN