41. Pertemuan yang tidak sengaja

1136 Kata
Entah mengapa, jadwal menjadi di rubah. Team Kenzi lah yang harus menjadi relawan langsung untuk kampung yang tak mempunyai nama itu. Kenzi beserta team nya harus menangani itu bersama dengan tentara yang sudah lebih lama berada di sana. Padahal entah mengapa Kenzi sangat malas sekali untuk pergi ke sana sekarang. Sudah memakai baju serba hitam, dan alat-alat lain nya sudah menempel di badan nya. Team nya satu persatu memasuki helikopter yang akan membawa nya untuk sampai ke sana. Dua helikopter tetapi terbang nya beda jam, karena mereka akan mengirimkan pangan untuk korban yang berada di sana. Soal Naira, Kenzi tak terlalu mempersalahkan semua itu. Iya yakin, Naira yang di maksud oleh kedua sahabat nya bukan lah Naira yang sama dengan nya. Nama Naira kan banyak, bukan begitu? * "Nai, bakalan ada pasukan kesini buat ikut jadi team relawan." Ucap Gara saat kini keduanya tengah menikmati pemandangan sawah yang sangat indah di belakang rumah. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, sebentar lagi akan sunset kebetulan sangat keliatan sekali dari kampung ini. "Umh, syukur kalau begitu Gar. jadi team kamu gak terlalu capek." Ucap Naira membuat Gara mengembangkan senyum nya. "Maksud aku, kamu ikut nyambut mereka ya, mau gak? Di bandara?" Pinta Kenzi membuat Naira segera mengerutkan kening nya bingung, Bandara? "Apa kita harus ke kota? Untuk ke bandara?" Tanya Naira membuat Gara tertawa karena pertanyaan gadis itu. "Kok kamu malah ketawa sih, Gar." Jawab Naira sembari mengerutkan kening nya; pura-pura marah. "Enggak bukan gitu Nai, maksud aku itu kita nyambut mereka di bandara buatan, ya kali ke kota akses jalan nya aja susah." Jawab Gara membuat Naira menggaruk tengkuk nya tak tak terlalu gatal. Tiba-tiba saja angin berhembus sangat kencang, membuat rambut Naira kesana dan kemari, hal itu membuat Naira tertawa. Tetapi ada yang aneh, saat suara yang sama terdengar di telinga Naira. "Gar, kayak suara ombak. Aku gak salah denger kan?" Tanya Naira membuat Gara tertawa kecil. "Kamu ada-ada aja deh, Nai. Ke bawa angin mungkin," jawab Gara. Karena tak ingin memperpanjang akhirnya Naira mengangguk pasrah dan bertanya lagi. Mungkin benar ada gangguan di telinga nya, atau ia malah sedang halusinasi bukan? "Hum entahlah, Gar. Tapi yaudah lah gak apa-apa sih." Jawab Naira, dia juga seolah-olah tak ingin membahas kehaluan nya. * Bohong jika Kenzi tak memikirkan Naira, wanita unik dengan ketidak jelasan nya, bohong sekali jika Kenzi baik-baik saja setelah berbicara sesuatu yang menyakitkan yang di terima oleh Naira. Bohong jika Kenzi tak merasa bersalah setelah berucap seperti itu. Perasaan nya sama tetapi waktu yang tidak tepat. flash back on "Kenzi tunggu!" Teriak seorang gadis dengan postur tubuh tinggi bak model, serta kulit yang eksotis menggoda. Kenzi refleks menghentikan langkah, dan segera melihat ke arah belakang. menghela nafas karena sebenarnya Kenzi malas sekali berhubungan dengan Maya. Jangankan berhubungan berbicara walau hanya sedikit saja rasanya sudah sangat malas sekali di lakukan oleh Kenzi. saat Kenzi akan memasuki sebuah mobil, tiba-tiba saja Maya menghadang nya. "Gue ikut! Gue mau bicara serius." ucap Maya membuat Kenzi tak bisa berkutik. segera Maya membuka pintu mobil yang tak terkunci dan duduk di jok depan bagian penumpang, sementara Kenzi beberapa kali menghela nafas yang terasa sangat berat. Saat dia akan masuk ke dalam mobil, tak sengaja mata nya menatap sosok Naira mematung di depan sana, dengan mata sayu tersirat kekecewaan yang mendalam, sementara Kenzi tak bisa menjelaskan atau berkata sedikit pun pada wanita itu. "Kenzi, ayo dong. Ini penting udah di tunggu!" Kenzi tahu, apa yang Maya lakukan hanya sekedar ingin memanas-manasi Naira yang berdiri di sana. Naira segera berlari tak tentu arah dan Kenzi bingung untuk mengejar pun rasa nya ego nya terlalu tinggi. Akhirnya dengan segala pertimbangan, Kenzi lebih memilih masuk ke dalam Maya dan semobil dengan w*************a itu, ah sudah benar kah apa yang Kenzi katakan, WANITA P E N G G O D A? "Mau bicara apa? Saya gak punya banyak waktu untuk anda." ucap Kenzi langsung to the point, jujur saja sudah malas sekali diri nya bersama dengan Maya! Beberapa kali sampai Maya keluar, Kenzi akan menggerutu dalam hati kalau diri nya malas berdampingan dengan wanita semacam Maya, wanita yang kurang malu atau memang tak tahu malu itu. "Gue bisa aja nyelamatin, Naira." ucap Maya membuat Kenzi hampir saja mengerem mobil nya secara mendadak. "Maksud lo apa!" Kenzi tak bisa lagi menahan segala bentuk emosi nya, padahal ia belum tahu apa yang akan di katakan Maya selanjutnya. Maya mengeluarkan sebuah handphone, dan memperlihatkan sebuah vidio yang menayangkan Naira. "Gampang, untuk membuat Naira ketakutan. wanita sok kuat itu asli nya sangat rapuh dan lemah." jawab Maya membuat Kenzi mengepalkan tangan nya. Flash back of. Iya benar! Naira banyak sekali ketakutan. Harus nya Kenzi mendampingi Naira, jangan menyerah hanya karena sebuah vidio ancaman dari Maya diri nya tak bisa melawan. padahal Kenzi adalah seorang abdi Negara, seorang aparatur pemerintah, seorang pria yang bisa melakukan sesuatu hal yang sulit menjadi mudah. Pria dengan jabatan yang cukup tinggi, pria dengan prestasi yang tak usah di ragukan lagi, dan pria yang mempunyai segudang ide untuk mengelabuhi musuh nya. Tetapi apa-apaan kemarin? Hanya karena seorang perempuan murahan bernama Maya, maka dia harus kehilangan seseorang seperti Naira. Ah kali ini, selesai tugas ini, Kenzi akan menemui Naira, memeluk nya, dan meminta Naira baik-baik supaya bisa kembali ke pelukan nya. Dan semoga tak ada yang menggagalkan semua nya. ** Cuaca menyerang kota dengan sangat panas, ah ralat bukan kota tetapi desa. di pesawahan ini, memang pasti akan sangat panas sekali, walau memang sejuk. Karena Naira tak ingin mengecewakan Gara, sehingga wanita itu pergi menunggu. dan di sinilah mereka menyaksikan helikopter di atas yang akan bersiap-siap untuk turun ke bawah. Di tengah lapangan, dengan banyak sekali pria memakai baju seragam, serta sebagian warga dan team relawan ikut menyaksikan. Mereka semua sangat antusias kala ada tenaga baru untuk membantu kampung yang sampai sekarang belum mempunyai nama. padahal sangat di sayang kan, kampung ini begitu indah sekali dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Helikopter sudah landing di lapangan seadanya, mereka tersenyum kala beberapa orang berseragam hitam turun dari helikopter. tetapi, saat ada orang terlahir turun dari sana, Naira membulatkan mata nya. Pria itu tersenyum, mereka berdua berhadap-hadapan dan saling tatap satu sama lain. "Apa kabar, Naira?" Sapaan itu tak Naira balas, bukan karena benci tetapi memang sesulit itu untuk Naira membalas sapaan dari Kenzi. Kedatangan Kenzi sangat tiba-tiba membuat diri nya sangat terkejut sekali. Bayangkan, kurang lebih satu bulan tak berkabar karena memang w******p Naira di blokir oleh Kenzi, sementara Naira juga enggan untuk mengirim DM ke i********: milik Kenzi. Rasanya Naira sudah mati rasa dengan luka yang di berikan oleh Kenzi, haha! Memang terlalu banyak luka sedari kecil. Wanita yang sudah terbiasa menerima tekanan batin, tekanan mental sejak kecil, dan di paksa dewasa saat belum waktu nya. Maka jangan salahkan Naira jika dia mudah tersinggung, kecewa, marah dan menangis, karena dia memang punya trauma yang dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN