"Kamu keluar aja, Ken. bunda yang tangani Naira dulu," Kenzi mengangguk, lalu mulai meninggalkan ruangan, untuk bergegas keluar.
sebelumnya, saat kenzi bergegas ke bawah tadi Melati sudah menyiapkan piyama milik nya yang bernama pink untuk Naira, dia mengelap tubuh Naira dan terakhir memakai kan baju di tubuh Naira dengan telaten.
*
kenzi kembali ke dapur, dan berinisiatif untuk membuatkan s**u hangat untuk Naira agar saat bangun nanti Naira bisa meminum nya langsung, mungkin Naira haus dan kedinginan juga. Setelah membawa segelas s**u hangat Kenzi membawa nya ke atas dan segera mengetuk pintu. Ia tahu apa yang bunda nya lakukan pada Naira yaitu mengganti baju wanita itu.
Naira tersenyum malu-malu sambil menatap Kenzi, ia benar-benar malu sekarang ini sudah menuduh Kenzi yang tidak-tidak. Logika nya Kenzi memang tak akan seburuk apa yang ia pikirkan.
"Puas?" Tanya Kenzi membuat Naira menunduk malu dan merasa sangat bersalah.
"maaf, pak. Naira salah," ucap Naira membuat Kenzi menghela nafas kasar nya.
"Sayang, kamu kenapa bisa pingsan?" Ucap Melati, kepada Naira. Wanita itu sekarang berjalan untuk sampai ke ranjang yang di tempati oleh Naira.
"Umhhh, kedinginan aja Bun." Jawab Naira membuat Melati menggeleng-gelengkan kepala nya pelan.
"Kata mamih kamu, kamu belum makan dari pagi. bunda udah telponan barusan sama mamih kamu." Ucap Melati membuat Naira mendesah pelan. Iya memang benar nafsu makan nya sedang menurun akhir-akhir ini.
kenzi menghela nafas pelan, dia pergi keluar kamar dan pergi ke dapur untuk mengambilkan Naira makan.
Saat di dapur, Kenzi segera mengambil nasi hangat. tempe goreng, dan ayam goreng serta sayur brokoli. Kenzi segera naik ke atas lagi dan membawa makanan itu ke kamar.
melati tersneyum kala anak nya membawa makanan, ia barusan sedang menasehati Naira agar makan teratur setiap hari, saat dia akan mengambilkan makan ternyata Kenzi lebih dulu mengambil kan untuk Naira
"Bunda masih ada kerjaan nih, maaf ya kalau gak bisa nemenin kamu makan." Ucap Fina dengan sedikit rasa bersalah nya, karena jujur pekerjaan di butik nya sangat banyak, dan dia sedang mengurus keuangan di kamar nya sendiri
Naira melihat ke arah Fina, "Bunda kerja aja. Maafin Nai ya ngerepotin bunda terus." Ucap Naira, Fina segera mengelus rambut Naira dengan penuh kasih sayang sebelum meninggalkan ruangan
Naira agak canggung berada di dalam kamar berdua dengan seorang pria yang bukan siapa-siapa nya. itu terbukti dari selimut yang terus saja ia genggam dan manik wajah nya tidak bisa bohong kalau Naira benar-benar merasa gugup.
"Cil, mau makan gak?" Ucap Kenzi membuat Naira membulatkan mata nya.
Panggilan bocil yang di berikan oleh Kenzi itu muncul kembali, Naira sedikit kesal dan juga bahagia karena ia menamai nya jika itu adalah panggilan sayang Kenzi untuk nya
Naira mengangguk, "Makan dong, dari pagi belum makan." Ucap Naira dengan sinis, membuat Kenzi tersenyum tipis. Saking tipis nya Naira tak dapat melihat senyuman langka itu.
"Mau sendiri atau mau di suapin." Sekali lagi, ucapan Kenzi sangat tak bisa di cerna oleh logika. Kenzi itu cuek tetapi kenapa saat berada di rumah nya sangat hangat pada Naira. Apa inj hanya kedok Kenzi saja supaya tak di marahi oleh bunda?
Fina putri Melati, adalah seorang wanita paruh baya. Suami nya sering pulang pergi tugas, Fina atau melati tak mempunyai anak lagi selain Kenzi. Dulu sempat mempunyai anak perempuan, tetapi-Ah itu Naira tak tahu kemana anak perempuan itu, yang ia tahu anak itu di asuh oleh nenek nya di Singapura.
Sedangkan Kenzi anak pertama, dan sekarang menjelma menjadi anak tunggal.
"Gimana cil?" Tanya Kenzi sekali lagi.
Naira seperti berpikir, "Hum. Boleh gak di balkon makan nya? Aku suka pemandangan rumah ini soalnya langsung ngelihat ke lapangan golf yang hijau." Ucap Naira membuat kenzi berpikir sejenak.
Naira merasa tak enak, sudah merepotkan sedari tadi dan sekarang kini dia meminta sesuatu yang mustahil untuk di kabulkan oleh Kenzi.
"Balkon yang enak itu di kamar saya, mau kesana?"
Sekali lagi Naira tak percaya atas tawaran Kenzi yang nyata, ia kira Kenzi akan menolak nya mentah mentah seperti tadi saat dirinya ingin di antarkan pulang oleh pria itu.
"Mau gak nih, penawaran terakhir?" tanya Kenzi yang langsung di angguki antusias oleh Naira. Kenzi segera bangun dari tidur nya, dan berjalan bersama dengan Kenzi yang membawa satu nampan baki berisi nasi dan air putih.
Saat Naira membuka pintu kamar Kenzi karena di suruh oleh orang nya, Naira terpesona. Kamar Kenzi begitu rapi dan wangi maskulin. Nuansa kamar Kenzi berwarna hitam dan putih.
"Jangan bengong cil, ayo kata nya mau ke balkon?" tanya Kenzi yang langsung di angguki kembali oleh Naira. Jujur saja, Naira speechless-tak bisa berkata-kata dengan apa yang menimpa nya sekarang ini. Kalau sudah begini, tak sia-sia dirinya tadi pingsan.
Kenzi menyuruh Naira kembali untuk membuka pintu balkon kamar, kembali Naira di buat takjub dan terkejut atas apa yang ada di balkon. Memang balkon nya tidak besar tetapi nyaman.
Ada sofa panjang satu berwarna abu, karpet bludru berwarna hitam, di ujung ada meja bundar dan pot bunga yang tidak terlalu besar serta aksen aksen tembok nya di sulap menjadi sangat nyaman. Ini adalah balkon yang Naira inginkan.
"Duduk," tanpa sadar Kenzi sudah duduk terlebih dahulu di susul oleh Naira yang ragu-ragu untuk duduk di samping Kenzi.
"Nih...aaaa" Kenzi mulai menyuapi Naira dengan telaten, dan tanpa sadar Naira membuka mulut nya dan mengunyah makanan itu. karena memang awal nya Naira lapar sehingga makan nya sangat lahap, seperti orang yang tak di beri makan beberapa hari saja. Dan kenzi pun tak keberatan akan hal itu, melihat Naira makan dengan lahap seperti suatu kebahagiaan untuk dirinya, ada apa dengan Kenzi? Mengapa bisa senyaman ini dengan Naira.
"Kenapa gak pulang cepet? udah tau lagi musim-"
"p********n, pencopetan, p*********n! Iya kan pak!" potong Naira dengan cepat.
Kenzi mengangguk, "Itu kamu tau." jawab Kenzi.
Naira menghela nafas tak habis pikir dengan jalan Kenzi. "Mau pulang gimana sih! Orang bapak nya aja pulang sama Maya,"
Kenzi mengerutkan kening nya bingung, "Memang apa masalah nya jika saya pulang dengan Maya."
Naira tersneyum kecil, "Iya pak gak ada yang salah. Seharusnya Naira dari awal gak berharap terlalu dalam untuk bapak, bapak suka nya sama sahabat Naira sendiri soalnya bukan sama Naira." Naira merendah.
Memang benar, kali ini harus lebih banyak sabar dan sadar.
"Nai...."
*
Kadang sikap Kenzi berubah-ubah, membuat Naira bingung sebenarnya sikap cuek Kenzi itu menguji Naira atau menyuruh Naira pergi.
Memang perubahan sebenarnya jadi hal yang lumrah terjadi. Perubahan bisa terjadi pada apapun yang ada di bumi ini, mulai dari cuaca, situasi, dan sebagainya. Bahkan, manusia juga kerap mengalami perubahan. Bukan saja dalam hal fisik tapi juga sikap. Sayangnya, terkadang perubahan sikap terkesan tanpa sebab bisa membuat orang lain merasa bingung. Perubahan seseorang yang tanpa sebab juga sering kali terjadi secara tiba-tiba. Hal ini kemudian sering kali membuat orang-orang di sekitar merasa bingung, penasaran, hingga seolah tak habis pikir. Tak jarang, perubahan tiba-tiba juga menghasilkan kekecewaan. Sebab, perubahan sikap atau karakter juga akan sangat berdampak pada hubungan yang telah terjalin, tetapi masalah Kenzi dan Naira belum ada hubungan apa-apa yang memastikan jika Naira boleh berpikir lebih tentang Kenzi.
Sifat manusia yang berubah seiring berjalannya waktu memang menjadi suatu hal yang normal terjadi. Di mana masing-masing orang mempunyai pengalaman hidup yang berbeda satu dengan yang lain. Pengalaman inilah yang bisa memengaruhi hingga membentuk bagaimana seseorang berpikir dan bersikap dalam menghadapi berbagai macam masalah.
Tentu adanya perubahan yang mengarah ke hal positif adalah suatu hal yang baik. Perubahan ini bersifat membangun, di mana seseorang belajar dari pengalamannya untuk menjadi orang yang lebih baik. Pengalaman juga dapat mengajarkan seseorang agar tidak melakukan kesalahan atau keburukan yang sama di masa lalu.
Hubungan percintaan tidak selamanya berjalan dengan mulus dan tanpa hambatan. Pasti ada saatnya salah satu dari pasangan menunjukkan sikap-sikap yang lain dari biasanya, seperti cuek dan sedikit berubah. Meski normal, namun ada baiknya Anda cepat mengomunikasikan hal tersebut.
Pacar yang cuek dan berubah pasti melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan. Daripada menebak-nebak dan bermain dengan pikiran Anda sendiri, sebaiknya segera menanyakan sebab dan mencari solusi bersama.
tak bisa di pungkiri, Naira memang berharap lebih pada Kenzi, berharap jika cinta nya akan terbalas. Padahal itu sangat mustahil, dia dan diri nya beda kasta. Kenzi mungkin lebih tertarik dengan seorang wanita yang sudah mempunyai pekerjaan dan karir yang cemerlang, misalnya modeling, Dokter, bidan, guru atau sebagainya yang pendidikan nya sudah terbukti. Berbeda dengan dirinya yang hanya anak kuliah semester lima, Naira tak mempunyai di bidang hukum tetapi dia ingin belajar. sedari kecil cita-cita nya menjadi anak hukum dan bisa bekerja di bidang nya. Naira pernah berjanji pada diri nya sendiri, jika Naira tak akan dulu berpacaran dan jatuh cinta pada seorang pria, karena itu hanya akan membuat pendidikannya kacau. Tetapi lihat lah sekarang? Dirinya ingkar!
Naira jatuh cinta pada Kenzi, pandangan pertama. Cinta yang sangat sulit untuk Naira jelaskan.
Terkadang Naira berpikir, apakah jatuh cinta pada Kenzi adalah suatu kesalahan? Atau memang benar.
Apakah jatuh cinta pada Kenzi memang tak mudah, atau memang jatuh cinta pada siapapun juga tak mudah.
Rasanya Naira sangat tak beruntung dalam masalah percintaan, tak berjalan mulus seperti kebanyakan orang-orang di luaran sana, Naira melihat orang yang menjalin sebuah hubungan sangat bahagia tetapi dirinya? Ah mau bahagia bagaimana, Kenzi bukan siapa-siapa bagi diri nya!