17. Ganti baju?

1705 Kata
Kepala nya sangat pusing sekali, bahkan yang ia lihat sudah remang-remang tak jelas. Ini pasti efek diri nya yang tidak makan sedari pagi serta kedinginan yang membalut tubuh nya. Bahkan jika mobil itu adalah penculik pun Naira akan rela di culik, jujur kali ini dia tak bisa melakukan perlawanan lebih, karena badan nya sangat lemas sekali. "Naira!" Sebelum kehilangan kesadaran Naira sangat hafal betul siapa pemilik suara itu, karena sudah beberapa kali Naira bertemu dengan orang itu. Kini Naira benar-benar tak sadarkan diri, tergeletak di tanah yang basah karena air hujan, sebagian baju dan badan nya nya ikut basah karena hujan sangat deras sekali. Dengan langkah tegap nya, Kenzi segera menghampiri Naira dan menggendong nya ala bridal style. Pria itu buru-buru memasukkan Naira ke dalam Mobil "Nai, bangun dong. jangan lemah kayak gini," Ya! Seseorang pria yang menolong Naira itu adalah Kenzi, pria itu tak sengaja menemukan Naira di depan kampus, awal nya setelah mengantarkan Maya, Kenzi akan kembali ke kampus menandatangani sesuatu sekalian berpamitan karena tugas nya sudah selesai, tetapi saat melihat Naira yang hampir tak sadarkan diri Kenzi mengurung kan niat nya. Pria itu segera keluar da menolong Naira. Kenzi akan membawa Naira ke rumah nya, di sana pasti ada bunda nya. Ketimbang membawa perempuan ke apartemen mending ke rumah nya, lagi bunda nya sudah kenal Naira. dan bunda nya sudha menyayangi Naira layak nya anak sendiri. Kenzi membawa mobil begitu kencang, hujan senan tiasa mengguyur dengan sangat deras. Kasihan melihat Naira pasti kedinginan dengan baju basah, sial nya Naira memakai baju tipis dan dirinya juga tak membawa jaket. Memang sangat tidak mendukung sekali bukan? "Nai!" Kenzi terus menerus memanggil nama Naira, tak peduli jika suara nya akan terdengar atau pun tidak. Jujur kali ini Kenzi sangat khawatir pada Naira, seperti bukan Kenzi mengkhawatirkan wanita selain keluarga nya. Sekitar tiga puluh menit, Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Kenzi, pria itu mengklakson beberapa kali sampai ada satpam yang membukakan dengan hujan-hujanan, ya hujan masih belum berhenti, dan terus mengguyur bumi. Kenzi memasukkan Mobil ke dalam carpot, membuka pintu dan mengitarinya, setelah itu menggendong kembali Naira seperti tadi. "Bundaaaaaa!" teriak Kenzi tetapi bunda nya tak menyahut sama sekali. "Bundaaaaaa!!" kembali Kenzi berteriak. kenzi membawa Naira menaiki tangga, ia yakin bunda nya sedang berada di lantai dua. "Bundaaaaaa!!!" "Kenapa sih nak, kok teriak-teriak kayak di hut--Astagaaaaaa!!" Sunggu Melati sangat terkejut kala melihat Kenzi menggendong Naira. Mata nya membola. "Kenzi! Kamu apakah Naira hah!" Kenzi menidurkan Naira di sofa, "Naira pingsan di depan kampus dan kehujanan, untung ada Kenzi." jawab Kenzi sembari menghela nafas. Melati mengangguk, "Kalau begitu bawa ke kamar tamu aja. Nanti bunda gantiin baju nya," ucap Melati membuat Kenzi mengangguk dan menuruti perkataan bunda nya. Ia menggendong kembali Naira sampai ke kamar tamu, persis di depan kamar diri nya, di ikuti oleh Melati. "Kamu panggil mbak, dan bawakan handuk, lap sama air hangat ya! Cepat!" ucap Melati. tanpa menunggu lama lagi, Kenzi melaksanakan perintah ibu Negara nya. Ia pergi ke bawah mencari mbak Mina-Asisten rumah tangga. Tetapi tidak ketemu, akhirmya Kenzi memutuskan untuk diri nya sendiri yang mengambil kain serta air hangat untuk Naira. Setelah itu Kenzi buru-buru masuk ke dalam kamar dan memberikan semuanya pada Bunda-Nya. "Kamu keluar ajak, Ken. bunda yang tangani ini," Kenzi mengangguk, lalu mulai meninggalkan ruangan. sebelumnya, saat kenzi bergegas ke bawah tadi Melati sudah menyiapkan piyama milik nya yang bernama pink, dia mengelap tubuh Naira dan terakhir memakai kan baju di tubuh Naira. * kenzi kembali ke dapur, dan berinisiatif untuk membuatkan s**u hangat untuk Naira saat bangun nanti. Setelah membawa segelas s**u hangat Kenzi membawa nya ke atas dan mengetuk pintu. "Masuk!" ucap Melati dari dalam kamar. Kenzi masuk ke kamar dengan perlahan, melihat Bunda nya yang tengah mencoba membangunkan Naira dari pingsan nya. Melati menggunakan kayu putih yang di taruh di depan hidung Naira. "Gimana, bun?" tanya Kenzi. Melati menggeleng pelan, "Kamu coba aja. Bunda mau keluar sebentar mau mengabari mamih nya Naira." ucap Melati, membuat Kenzi mengangguk. Kenzi Menaruh s**u hangat itu di atas nakas. Dia mencoba membangunkan Naira. Setelah sepuluh menit berlalu, Naira mulai mengerjap-ngerjap kan mata nya, Naira melihat ke arah kanan dan kiri sangat merasa asing di ruangan ini. Apakah benar jika dirinya telah di culik? Jika iya, kenapa ada di sebuah kamar dan di tempat tidur yang nyaman? "Nai," suara seorang pria yang sangat familiar. Iya Naira sangat tahu jika suara itu adalah suara nya Kenzi. Naira sontak bangun dari tidur nya dan duduk dengan segera, dia menatap Kenzi sembari membulatkan mata nya. Bingung, hingga pikiran dimana Kenzi menyelamatkan diri nya itu datang. "Minum dulu, gak usah kaget gitu." ucap Kenzi sambil menyodorkan s**u yang masih hangat ke depan Naira. Wanita itu mengambil nya dan meneguk cepat hingga tandas, membuat Kenzi menggeleng-gelengkan kepala nya. Sebegitu haus nya wanita itu atau memang terkejut dengan kehadiran nya. Sebenarnya, saat Kenzi melihat Naira terkejut dan repleks bangun Kenzi menahan ketawa nya. Menurut nya Naira itu sangat lucu sekali. Naira melihat ke arah baju nya, dan semakin terkejut kala baju yang di pakai nya itu bukan lah baju milik nya. Melainkan piyama cantik berwarna pink agak longgar. Naira menatap Kenzi tak percaya lalu menggelengkan kepala nya beberapa kali. "Pantas saja Maya mengejar-ngejar bapak, ternyata ini yang bapak lakukan juga ke Maya, bukan?" Kenzi mengerut kan kening nya bingung, kenapa dalam situasi-situasi ini harus bawa bawa nama Maya. Bahkan untuk mengingat nya saja Kenzi tak sudi, itu kejadian yang sangat memalukan sekali. "Gak usah pura-pura lupa! Naira tahu apa yang bapak lakukan dengan Maya di apartemen waktu itu." ucap Naira dengan wajah yang memerah. Pasti apa yang di lakukan oleh kedua nya lebih dari seperti ini. Bukan Naira menuduh, tetapi maya lah yang berbicara waktu itu, jika dirinya dan Kenzi memang sudah melakukan sesuatu hubungan layak nya seorang kekasih. Bahkan Maya sudah beberapa kali menginap di apartemen milik Kenzi, yang sekarang ini sedang Naira singgahi. Apakah Kenzi sebejat itu? Tidak seperti kelihatan nya. Kenzi masih bingung dengan kata-kata Naira, bukan bingung karena sok polos pura-pura tidak tahu. Tetapi bingung, maksud Naira berbicara seperti itu tuh apa "Pantas ya bapak, bisa nganterin Maya dan menolak buat nganterin aku. Memang aku kalah dari Maya, Maya cantik, super goals, gak kayak aku!" Naira berbicara seperti itu penuh penekanan. "Pantas saja, Maya di terima dengan baik oleh Bapak sedangkan aku, di mata bapak tuh kayak sampah! Ada namun tak di butuhkan dan seperti sangat menjijikan." kembali Naira berbicara, Kenzi tak berniat menjawab dia lebih memilih untuk mendengarkan semua yang ingin Naira katakan. "Iya memang benar. Maya bisa bebas keluar masuk apartemen bapak, dia juga bilang kalau dirinya beberapa kali pernah menginap dan tidur bareng sama bapak. Dan sekarang, bapak juga melakukan hal yang sama pada saya?" "Saya masih punya harga diri, Pak! Setidak nya bapak jangan bersikap seperti ini. Maya boleh menang dalam segi looking, tapi saya jamin saya lebih unggul dalam segi attitude!" kembali Naira mengeluarkan unek-unek yang selama ini ia pendam untuk Kenzi. "Dan kalau bapak sudah berpacaran sama Maya, seenggaknya jangan buat saya baper gara-gara perhatian yang bapak kasih selama ini ke saya!" bahkan kosa kata Naira sudah formal. Yang awal dengan nama kini Naira mengganti nya dengan kata 'Saya' untuk pembicarannya sekarang. Kenzi menahan diri untuk tidak meledakkan tawa nya, wajah Naira sangat lucu ketika marah. Apalagi masih banyak sisa-sisa bekas minum s**u cokelat di bibir nya, pipi nya yang ke merah-merahan bibir nya yang tipis membuat Kenzi candu untuk selalu melihat nya. "Ya ampun sayang, akhirnya kamu udah bangun juga. Bunda khawatir," Naira segera melihat ke arah pintu, dan membulatkan mata nya tak percaya. Di sana ada bunda Nya Kenzi, itu berarti bisa jadi yang mengganti pakaiannya itu adalah Bunda nya, dan ini adalah rumah bukan apartemen. Naira melirik ke arah Kenzi yang sedari tadi memasang wajah datar, sungguh Naira sangat malu sekarang ini. Bisa-bisanya dia berkata seperti tadi. "Aahhhh gue malu, Tuhan tolong Naira!" Memang benar jangan terlalu menaruh curiga pada orang lain jika tak ingin malu sendiri, Naira kira dia sedang berada di apartemen milik Kenzi, dan Kenzi yang menggantikan baju nya. Ternyata dugaan nya salah, Naira malah membawa Kenzi ke rumah nya dan di gantikan oleh bunda Melati. Rasanya Naira ingin menghilang saja sekarang dari hadapan Kenzi. Ia seperti tak punya muka, diri nya benar benar malu, dan sekarang entah apa yang harus Naira lakukan disini. Tetapi, apakah setidak penting itu Naira sehingga tak di bawa ke apartemen nya, tak mengijinkan mereka berdua bersama. Apakah benar, Kenzi mempunyai wanita lain? ** jangan berprasangka buruk terhadap orang lain karena itu dapat memberikan manusia pelajaran berharga, yang mendorong nya menjadi pribadi yang lebih baik. Satu di antara kelemahan manusia adalah mudah sekali menilai orang hanya dari penampilan luar atau mendengar dari perkataan orang lain saja. Padahal melihat hanya dari cover saja itu tak cukup membuktikan kalau seseorang itu benar-benar buruk di mata orang yang menghakimi nya. Tidak hanya dapat merugikan orang lain, berprasangka buruk terhadap orang lain dapat merugikan diri sendiri, bukan? Manusia cenderung suka apabila menilai orang lain, tetapi tidak suka jika orang lain berbalik menilainya. Hal semacam ini dapat dengan mudah memicu manusia, untuk merendahkan orang lain dengan perbuatan atau perkataan yang sangat menyakitkan. Saat selalu merasa di atas orang lain, pasti akan muncul perasaan angkuh, yang pada akhirnya membuat manusia berprasangka buruk dan memandang remeh. Sebagai makhkluk sosial, manusia harus saling menghargai sesama, satu di antara caranya tidak memandang remeh dan berprasangka buruk, karena manusia sejatinya akan selalu membutuhkan orang lain. Tidak hanya kepada sesama manusia, kita juga tidak boleh berprasangka buruk kepada Tuhan agar segala nikmat dari-Nya dapat dirasakan. Dengan begitu, yang bersyukur dan tak mudah emosi akan memiliki kehidupan yang lebih baik dan siapapun akan menjadi pribadi yang disegani serta disukai banyak orang. Sungguh indah sebenarnya jika tak terlalu memperdulikan kehidupan orang lain, tetapi nama nya juga sikap dan sifat manusia. Jika tak berkomentar rasa nya gatal. berkomentar akan kebaikan dan menasehati nya secara lembut dan perlahan memang paling baik, tetapi jika menyindir dengan k********r bahkan hati nya merasa sakit atas sindiran. Maka pasti akan ada KARMA yang akan membuat orang itu berkata "Maaf" semua orang mampu memaafkan tetapi satu hal tak semua orang mampu untuk melupakan. karena luka nya akan membekas di hati, walau sudah lama. Perlahan tapi pasti, apakah kebencian jadi penentu ujung nya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN