Jam sepuluh malam, jujur Naira belum bisa memejamkan mata nya. Kepala nya pusing, pundak nya terasa berat mungkin saking banyak nya menanggung beban. jiwa dan batin nya menangis, entah apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Naira.
Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan? Apakah Naira harus memperjuangkan nya atau malah mundur begitu saja. Rasa nya Naira ingin pergi jauh jauh saja dari kehidupan Kenzi. Tetapi semesta seolah menahan nya, terbukti sekarang Naira sedang berada di rumah Kenzi. Ah lebih tepat nya di balkon kamar milik Kenzi jam sepuluh malam.
Naira tak takut hantu, Naira juga tak takut sendiri. Kesendirian sudah menjadi makanan nya sehari-hari. Siapa sangka wanita yang sangat cerita dan petakilan ini ternyata begitu banyak menanggung beban hidup. Wanita yang mempunyai tekanan mental dan batin sedari kecil, wanita yang kurang mempunyai kasih sayang dari kedua orang tua. Semenjak Ayah nya meninggal atas kecelakaan itu waktu diri nya masih menginjak bangku sekolah dasar, Mamih-Nya Popi sangat berubah drastis. Selalu lebih mementingkan pekerjaan dari pada diri nya, selalu lebih mementingkan kesenangan diri nya sendiri dari pada kesenangan anak nya. Miris memang, tapi Naira mencoba memaklumi dan bersabar, atas semua cobaan yang Tuhan berikan ini. Ia berpikir untuk meredakan hati yang kesepian ini jika Mamih nya bekerja memang untuk diri nya, untuk masa depan nya juga. Melihat mamih nya sehat sudah lebih cukup dari apapun versi Naira.
"Ngelamun aja," tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang, membuat Naira terkejut. Naira menetralisir degup jantung nya yang berpacu lebih cepat dari biasa nya.
"Ahhhh- kenapa bapak ngagetin sih!" ucap Naira, sungguh dia ingin cuek pada Kenzi tetapi aneh nya tak bisa. Hanya ucapan dan pikiran saja yang bisa Naira lakukan, sedang kan kenyataan nya saat Kenzi berada di hadapan nya ia tak bisa melakukan hal lebih selain mejadi sisi lain dari Naira, yaitu petakilan dan ceria.
"Bunda nyuruh kamu buat tinggal di sini kan?" tanya Kenzi, sembari duduk di samping Naira. Melihat hujan rintik-rintik yang sangat indah di gelap nya malam hari.
"iyaa, kenapa? apa bapak keberatan Naira tinggal di sini, bareng bunda bareng bapak juga?" Tanya Naira membuat Kenzi terkekeh pelan.
Naira segera melihat ke arah Kenzi, diri nya baru pertama melihat Kenzi terkekeh sepeda itu. Jangan kan terkekeh, tersenyum kecil saja Kenzi jarang melakukan nya. lantas apa yang membuat Kenzi seperti itu? apakah dirinya? Atau memang Kenzi sudah ketemuan di luar sehingga di rumah sekarang bahagia tak seperti tadi sore yang terus memojokkan diri nya. Ah edukasi tentang cinta itu kembali Naira ingat.
"Enggak kok. Bagus dong kalau kamu di sini, soalnya di rumah sendiri. Saya gak mau mamih Popi khawatir sama anak nya yang bandel." Ucap Kenzi menbuat mata naira membola. Bukan terkejut dengan perkataan Kenzi, Naira lebih terkejut karena akhirnya Kenzi bisa mengobrol panjang tanpa irit kata lagi. Ada apa dengan kenzi? Apa benar kenzi sedang merasa bahagia. Apa penyebab kebahagiaan kenzi adalah maya atau malah diri nya sendiri, ah rasa nya jika kenzi seperti ini karena diri nya itu sangat tidak mungkin sekali. Mengingat jika kenzi sudah ilfil dengan nya.
"Umhhhh, iya sih. Tapi sebenarnya naira pengen pulang. Bapak bisa anterin gak?" Tanya Naira sendu.
Kenzi melihat ke arah wanita itu, dan ia baru sadar jika Naira seperti habis menangis. Ah apakah naira menangis karena diri nya tadi sore, atau memang menangis ingin pulang seperti anak kecil yang sedang di bawa arisan oleh orang tua nya.
"kenapa?"
"Apa nya yang kenapa pak?" Tanya naira, dia menghela nafas kasar karena Kenzi kembali dingin terbukti dengan nada ucapan nya yang berubah seperti sebelum-sebelumnya.
"Kamu pengen pulang, gara-gara saya?" Tanya kenzi membuat naira menggeleng pelan. Sebenarnya dalam hati iya berkata iya.
"Jangan bohong naira,"
"Naira cuman pengen pulang aja, gak enak ada di tengah-tengah kalian." Jawab Naira membuat Kenzi menghela nafas kasar.
"Kamu harus terbiasa dari mulai sekarang," ucap Kenzi membuat Naira tak bisa mengartikan apa yang Kenzi kata kan barusan. Maksud nya harus terbiasa dengan apa? Dan apa sangkut pautnya dengan diri nya yang harus terbiasa tinggal di sini?
"Saya mau mandi dulu,"
Kenzi berpamitan, tanpa menunggu persetujuan Naira kenzi melangkah masuk ke dalam meninggalkan naira seorang diri lagi, mandi jam segini? Apa kenzi?
Ya di lihat sari seragam yang di pakai oleh Kenzi, Naira jadi tahu kalau kenzi habis melakukan tugas. Dia tak terlalu bodoh tentang dunia kepolisian karena diri nya adalah anak hukum.
Tunggu! Ada noda darah di leher Kenzi.
"Apa pekerjaan pak Kenzi sangat berbahaya seperti itu?" Lirih Naira.
Dan sekarang Naira sangat merasa bersalah karena telah menuduh kenzi yang bukan-bukan, ia kira kenzi pergi menemui maya tetapi kenzi pergi bertugas. Ah kenapa diri nya harus menuduh tanpa bukti? Sangat memalukan cemburu tanpa sebab.
Cemburu adalah perasaan natural yang pernah muncul di setiap diri manusia. Memiliki rasa cemburu sesekali memang wajar, namun tidak baik jika dirasakan secara terus-menerus. Contoh nya seperti Naira sekarang ini dia memikirkan banyak hal sampai tak nafsu melakukan hal apapun karena Kenzi.
Cemburu harus dibatasi dan rasa percaya harus ditingkatkan. Percaya diri, Dirinya jauh lebih cantik dari pada maya meskipun badan nya tak sebagus badan Maya.
Cemburu memang merupakan perasaan alami ketika seseorang merasa khawatir terhadap kedekatan orang yang di sayangi dengan orang lain. Perasaan ini bisa muncul atas dasar rasa takut kehilangan. Pada hubungan percintaan, rasa kehilangan seorang kekasih atau pacar adalah suatu kewajaran. Tetapi jika tak mempunyai status apa masih harus di katakan wajar?
Banyak orang mengatakan bahwa cemburu itu tanda cinta. Memang benar, tetapi ada salah juga. Boleh cemburu asal jangan terlalu over karena itu hanya akan membuat pasangan ilfil dan malas dengan tingkah kekanakan.
*
"Astaga Naira, ini sudah jam setengah sebelas. Kamu gak mau masuk kamar terus tidur?" Tanya Kenzi tiba-tiba membuat Naira terkejut kembali
Naira melihat Kenzi yang kembali dengan wajah segar, seperti nya kenzi habis meng keramas rambut nya. Wangi mint tercium sangat intens, ia sangat suka wangi nya Kenzi.
"Belum bisa tidur," jawab Naira sembari masih melihat rintik-rintik hujan yang tak berhenti turun sedari tadi. Angin juga semakin kencang, membuat Naira yang hanya memakai piyama tidur kedinginan.
"Besok saya antar kamu ke rumah ya, ngambil beberapa baju buat seminggu ke depan." Ucap Kenzi, karena malas berdebat Akhirnya Naira menangguk kan kepala nya saja. Percuma berdebat dengan seorang seperti Kenzi tak akan pernah menang.
Kenzi menghela nafas kasar, "Mau tidur kapan, ini sudah malam?" Tanya Kenzi.
"Nanti." Jawab Naira,
Kenzi menganggap, berdiri dan masuk ke dalam kamar. Naira menghela nafas, sudah ia kira jika Kenzi tak akan memperdulikan diri nya, Kenzi tak akan pernah mau melirik diri nya bahkan mustahil membalas rasa nya.
Kenzi memang sulit untuk di taklukkan seperti ombak di samudera, Kenzi memang sulit di dapatkan seperti bintang yang bersinar di langit. Tetapi sampai saat ini, Kenzi masih menjadi orang yang Naira langit kan untuk segera tersemogakan.
Naira terkejut, hampir menjerit kala ada selimut tebal yang membungkus badan nya. Terkejut dengan perlakuan Kenzi ternyata kenzi pergi ke dalam hanya mengambil selimut dan dua s**u di atas nampan, itu mungkin untuk dirinya dan satu untuk Kenzi.
Naira menatap Kenzi dengan intens. Apa benar cuek bukan berarti tidak peduli. Ah naira jadi semakin bingung, sebenarnya cuek nya Kenzi tuh untuk apa?
"Biar badan kamu hangat," ucap Kenzi membuat Naira termenung.
"Pak?" Naira memanggil kenzi, Refleks Kenzi melihat ke arah Naira dengan gitar yang berada di tangan nya.
"Hmm?" Jawab Kenzi, sama seperti biasanya cuek.
"Gak jadi," jawab Naira membuat Kenzi mengerutkan kening nya.
Banyak tanya di pikiran Naira, banyak sesuatu yang Naira pikirkan tetapi itu tak bisa ia tanyakan pada Kenzi, ia tak ingin merusak momen yang menurut diri nya sangat romantis ini, seperti orang yang tengah berpacaran aja.
"Permisi.."
Mereka berdua terkejut dan reflek melihat ke arah belakang, di sana ada Melati dengan banyak cemilan di tangan nya.
"Masa nongkrong gak bawa cemilan sih?" Ucap Melati membuat Naira dan Kenzi menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Ingat ya, jaga kesehatan kalian berdua. Bunda gak mau kalian sakit, Kenzi kamu juga di luar pakai baju hangat mentang-mentang kuat dingin kamu ini," ucap Melati membuat Kenzi menghela nafas.
"Ini udah pake sweater bunda, ya meskipun celana pendek." Jawab Kenzi membuat Melati menggeleng kan kepala nya.
Melati menaruh cemilan di depan meja mereka, dan berpamitan kembali untuk tidur. Melati sangat percaya kepada anak nya, jika tidak akan berbuat macam-macam pada Naira. Mereka berdua juga sudah dewasa.
"Bun, gak mau ikutan nongkrong nih?" Tanya Kenzi sedikit berteriak.
"Enggak, bunda gak mau ganggu moment kalian." Ucap melati sembari pergi sembari tertawa kecil.
Tadi, saat Kenzi membuatkan dua gelas s**u Melati baru saja akan melangkah ke kamar. Ia menyempatkan diri untuk bertanya kepada anak nya, dan Kenzi menjawab nya dengan jujur. Jika dia dan Naira sedang berada di balkon kamar nya. Naira tak bisa tertidur sehingga Kenzi akan menemani sampai Naira tertidur.
Melati tersenyum senang di balik pintu, dan setelah itu benar-benar masuk ke dalam kamar nya.
*
Kenzi duduk di sofa kecil, ia tak duduk dengan Naira. Sementara Naira duduk sembari menaikkan kaki nya ke atas, menekuk lutut nya dan menaikkan selimut tebal milik Kenzi yang wangi sampai menutup badan nya yang kedinginan sedari tadi.
"Nai?" Panggil Kenzi.
Naira segera menoleh, mata nya memang terlihat sembab, sorot nya yang tajam walah tak sedang marah menarik perhatian Kenzi, jika sedang seperti ini Kenzi akui Naira sangat cantik sekali .
"Apa?" Tanya Naira dengan suara yang sudah agak lemas.
"Mau saya nyanyikan lagu?" Tanya Kenzi membuat Naira membulatkan mata nya.
"Emang bapak bisa nyanyi?" Tanya Naira .
Kenzi terkekeh kecil, lalu segera memetik senar gitar menyanyikan lagu yang mungkin cocok untuk di nyanyikan sekarang.
Pagi telah pergi
Mentari tak bersinar lagi
Entah sampai kapan ku mengingat
Tentang dirimu
Tak bisa di pungkiri, suara Kenzi memang sangat rindu. Bernyanyi dengan hati, sampai membuat Naira menikmati.
Ku hanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Memanggil namamu
Di setiap malam
Ingin engkau datang dan hadir
Di mimpiku rindu....
Mungkin ungkapan perasaan 'rindu itu berat' memang benar demikian dan dirasakan banyak orang. Terasa begitu menyakitkan ketika seseorang merasakan rindu terhadap seseorang namun hanya bisa membayangkan kenangan dulu berulang-ulang. Memutar musik dengan playlist lagu rindu dan berharap perasaan itu segera sirna. Namun yang terjadi perasaan itu malah kian bergejolak dan menyiksa diri, apalagi saat Kenzi yang menyanyikan nya.
Tentang rindu yang memang benar-benar tak bisa lagi di ucapkan dengan kata-kata.
Dan waktu kan menjawab
Pertemuan ku dan dirimu
Hingga sampai kini aku masih ada disini...
iyaa benar, entah sampai kapan rindu nya Kenzi itu mampu terbayar. Sudah lama sekali diri nya merindukan sosok yang sampai kini masih di pertanyakan?
Kuhanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Memanggil namamu
Di setiap malam
Ingin engkau datang dan hadir
Di mimpiku rindu.....
Dan mereka tidak bisa mengerti, apa yang lebih menyakitkan, merindukan orang lain atau berpura-pura tidak melakukannya. Itulah yang sedikit nya Kenzi rasakan. Masih bergelung dengan masa lalu memang tak baik, tetapi rindu itu selalu muncul tanpa Kenzi minta.
Dan bayangmu akan slalu bersandar di hatiku
Janjiku pastikan pulang bersamamu
Kuhanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Memanggil namamu
Di setiap malam
Ingin engkau datang dan hadir
Di mimpiku
Kuhanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Memanggil namamu
Di setiap malam
Ingin engkau datang dan hadir
Di mimpiku
Slalu di mimpiku
Rindu
Naira sampai berkaca-kaca mendengar lagu tentang rindu yang di nyanyikan oleh Kenzi. Dia juga merindukan sosok pahlawan dalam hidup nya. Pernah menjadi bahagia bersama dengan papih nya dulu, dia sangat merindukan itu. Dan lagi ia merindukan sikap mamih nya yang ceria.
"Gak usah nangis, cengeng banget sih kamu." Ucap Kenzi sembari tersenyum kecil.
Kenzi tahu bagaimana Naira bersedih, tetapi ia tak ingin masuk ke dalam hidup Naira lebih jauh. Biarkan lah ini mengalir apa ada nya saja. Seperti air. ia tak ingin terburu-buru dengan segala hal apa saja.
Naira segera mengusap kasar air mata nya.
"Nai?" Kembali Kenzi memanggil.
"Iya kenapa, pak?" Tanya Naira.
"Bisa gak jangan panggil bapak?" Tanya Kenzi, "Saya belum tua-tua amat." Jawab nya membuat Naira tertawa.
"Terus mau di panggil apa?" Naira malah balik bertanya.
"Yang penting bukan bapak." Jawab Kenzi membuat Naira mengangguk.
"Kakak aja, gimana pak?"
"Saya benci panggilan kakak, Nai."
Naira menghela nafas, "Karena bapak benci dengan panggil itu, maka saya akan memanggil bapak dengan sebutan kakak. Ini valid no debat, gak boleh di ganti!" sewot Naira
Kenzi mendesah kesal, keras kepala sekali Naira.
****
"Siapa bilang menunggu itu indah, siapa bilang menanti itu mudah?" Said Kenzi.
"Merindukan seseorang dan tidak bisa melihatnya adalah perasaan terburuk yang pernah ada." Naira
Karena nyata nya menunggu dan rindu itu sangat menyiksa dan menyakitkan.