Cinta memberikan banyak rasa dalam kehidupan, baik senang, sedih, penasaran, galau, sampai kecewa. Terkadang saat cinta datang juga akan membuatmu untuk sulit mengutarakannya. Entah karena belum adanya keberanian atau takut untuk merasa kecewa.
Dalam mengutarakan perasaan memang harus penuh dengan kehati-hatian. Salah satu yang perlu orang pastikan adalah ia juga sedang dalam keadaan sendiri. Karena kalau rupanya ia sudah memiliki seseorang, yang ada hanya tenggelam dalam perasaan yang tak berbalas.
Cinta bertepuk sebelah tangan memang bisa datang pada siapa saja. Nggak hanya karena ia sudah ada yang punya, namun juga bisa karena faktor lain yang membuatmu harus lebih bersabar.
Mungkin pada awalnya dia akan merasa sedih dan tidak terima. Namun pada akhirnya, sikap bijak yang perlu ia lakukan adalah ikhlas dengan memahami keputusannya. Dengan begitu, seseorang itu akan lebih mudah untuk melangkah ke hari yang lebih indah.
Cinta juga memiliki musim. Terkadang kita tersorot cerahnya keindahan, terkadang terguyur derasnya kesedihan.
*
"Bun, Naira izin pulang ya." ucap Naira kepada Melati yang tengah duduk di ruangan televisi.
Kening Melati mengkerut. "Kata Kenzi barusan kamu betah ada di kamar nya Kenzi." ucap Melati membuat Naira tersenyum kecil
jujur emang kamar Kenzi membuat siapapun betah dan nyaman, akan tetapi jika yang menghuni kamar itu cuek dan dingin seperti es di kutub utara, apakah harus Naira memaksakan diri?
Naira tak ingin menjadi lilin untuk orang yang tak menyukai cahaya, Naira tak ingin menjadi cahaya untuk orang yang suka dengan gelap.
tentang lilin. Lilin bisa mengajarkan seseorang akan banyak hal, terutama seperti harapan, pengorbanan, dan perhatian pada hal-hal kecil di sekitar nya.
Lilin menandakan banyak hal yang berbeda. Bagi sebagian orang, itu melambangkan harapan dan bimbingan. Bagi orang lain, mereka mewakili kehidupan, kebijaksanaan, dan kepemimpinan.
Lilin juga kerap menjadi simbol pengorbanan. Dia rela memberikan dirinya untuk menolong dengan memberi penerangan di saat kegelapan melanda.
Lilin mungkin terabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, saat momen penting dalam hidup manusia, dia muncul. Saat rumah gelap, saat perayaan ulang tahun, perayaan keagamaan, makan malam romantis, lilin hadir menjadi satu di antara bagian nya.
Terlepas dari berbagai hal yang diwakili lilin, semua orang setuju bahwa lilin dapat mengajarimu pelajaran hidup yang tidak boleh kamu anggap enteng.
Sebagaimana lilin tidak dapat menyala tanpa api, lalu bagaimana lilin yang di bawa Naira menyala jika Kenzi saja bersikap dingin seperti itu.
"Umhh, Naira takut Mamih khawatir bun." ucap Naira membuat Melati tersenyum.
"Sini duduk dulu," Melati menepuk kursi sofa di sebelah nya. Sehingga membuat Naira mau tak mau berjalan perlahan dan duduk di samping Melati.
"Mamih kamu lagi di Amsterdam, ada urusan bisnis sampai Minggu depan kan?" ucap Melati membuat Naira membulatkan mata nya. Ah berbohong pada Melati memang tak akan pernah lancar, mengapa Naira melupakan sesuatu jika Mamih nya itu berteman baik dengan Bunda nya Kenzi.
"Unh itu a-anu bu..." Naira gelagapan, karena ketahuan berbohong, sangat memalukan sekali bukan?
"Bunda bakalan khawatir kalau kamu tinggal sendirian di rumah. Pokok nya untuk satu minggu ke depan kamu tinggal di sini, bunda bukan nawarin tapi ini sudah termasuk kewajiban yang harus kamu taati." ucap Melati dengan tegas.
Ah bagaimana bisa Naira satu rumah dengan seseorang yang ingin ia lupakan nama nya. bagaimana bisa Naira satu rumah dengan seseorang yang sudah menolak cinta nya mentah-mentah. Bagaimana bisa Naira satu tempat tinggal dengan pria yang tak suka dengan diri nya? Bukan kah itu hanya akan jadi Boomerang bagi Naira? Malapetaka besar, jika dia sampai tinggal bersama dengan Kenzi.
"Tapi bun a-"
"Gak ada tapi-tapian sayang, nanti bunda bilang ke Kenzi supaya besok antar kamu bawa keperluan. Nah kamar tadi di depan Kenzi, itu bakalan jadi kamar kamu, gimana?" tanya Melati membuat Naira semakin membulatkan mata nya. Sungguh ia tak percaya dengan apa yang Melati katakan, atau dia salah dengar. Bisa jadi ini adalah mimpi, jika mimpi tolong bangunkan Naira sekarang juga.
"Tap-"
"Bunda bilang gak ada tapi-tapian ya, anggap bunda ini bunda kamu sendiri, oke?"
"Hum bunda, Naira gak enak deh seriusan."
Melati menghela nafas, "Mau denger cerita apa enggak?" tanya Melati pada Naira.
Naira mengerutkan kening, "Cerita?"
Melati mengangguk, membenarkan.
"Cerita apaan, Bun?" tanya Naira.
Sebelum mulai bercerita, Melati menghela nafas kasar. ia harus mengungkit kembali masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam, tetapi tak bisa di pungkiri jika Melati ingin berbagi kisah ini pada seseorang selain anak dan suami nya. Popi sudah tau dengan masalah nya, jadi tak masalah juga bukan jika Naira juga tahu.
"Jadi dulu Bunda punya anak perempuan," ucap Melati, membuat Naira terkejut tak percaya. dan tak percaya dengan apa yang Melati pikirkan.
"Maksud bunda, adek nya pak Kenzi?"
Melati terkekeh pelan, Naira sangat lucu dengan ekspresi wajah seperti itu.
"Bukan sayang, jadi Bunda itu punya anak perempuan, sebut saja kakak nya Kenzi." ucap Melati membuat Naira lebih intens mendengar kan. penasaran juga dimana keberadaan kakak nya Kenzi, apakah kerja, kuliah atau malah meninggal?
"Jadi, nama nya tuh Keyra. Satu tahun lebih tua dari Kenzi." ucap Melati membuat Naira mengangguk-anggukan kepala nya mengerti.
"Dia di culik sama sahabat Bunda sendiri, dan bunda sudah mencarinya kemana-mana, bahkan ke berbagai Negara tetapi hasil nya nihil. Sudah hampir dua puluh dua tahun tetapi keberadaan nya belum juga di temukan." ucap Melati, Naira hanya mengangguk dengan ekspresi seperti anak kecil yang tengah mendengarkan dongeng dari orang tua nya.
"Jadi gimana lagi, Bun?" tanya Naira semakin penasaran dengan Kisah nyata keluarga Melati di masa lalu nya.
"Sejak dulu, saat kecil Kenzi bercita-cita untuk menjadi seorang polisi agar bisa mencari kakak nya yang hilang."
"Dan sekarang cita-cita Kenzi terbukti. Kenzi tak ingin dulu mengenal cinta dan wanita, sampai benar-benar dia menemukan kakak nya." ucap Melati, membuat Naira terkejut bukan main. Pantas saja, Kenzi begitu cuek terhadap wanita. Tetapi bagaimana dengan Maya? Seperti nya Kenzi sudah mulai menyukai Maya, dan alhasil dirinya kalah dari Maya.
"Kenapa bengong, Nai?" tanya Bunda Melati, membuat Naira sedikit gelagapan. Tidak mungkin bukan jika diri nya bercerita tentang Kenzi pada Bunda Melati. sangat memalukan sekali?
Yang jadi pertanyaan nya sekarang adalah, apakah diri nya akan pergi dari rumah ini mengecewakan beberapa pihak atau bertahan disini dengan kehadiran Kenzi yang tak mengharap kan nya. Lantas Naira harus apa?
"Bun... Naira pulang aja deh,"
Sekali lagi Melati menggeleng. "Anggap aja ini permintaan bunda sama kamu Nai. Plis ya temenin bunda disini."
karena tak tega melihat wajah melas bunda melati, akhir nya Naira menyetujui apa yang menjadi keinginan Bunda Melati.