Kini jam sudah menunjukkan pukul enam sore, hari juga sudah gelap di tambah dengan hujan yang masih mengguyur kota. Naira takut jika dia akan di marahi oleh Melati karena keluar terlalu lama, sedangkan Kenzi pasti tahu jika diri nya sedari jam dua belas siang sudah pulang meninggalkan kantor polisi. Naira bisa saja beralasan kembali ke kampus, tetapi ia tak ingin membohongi Melati, apalagi Melati sudah sangat percaya pada nya.
menjaga kepercayaan bisa kamu gunakan sebagai pengingat dalam menjalin hubungan. Kepercayaan merupakan satu di antara bekal kehidupan yang amat penting untuk kita jaga.
Tanpa ada kepercayaan, hidup akan terisi dengan kecurigaan dan kebohongan.
Pada hakikatnya, manusia adaah makhluk sosial. Kita tak bisa hidup tanda adanya orang lain. Di saat kita diberi kepercayaan oleh orang lain, kita pun harus percaya pada mereka.
Kepercayaan harus dilandasi kejujuran. Ketika seseorang itu jujur, ia akan bisa dipercaya dan menjaga kepercayaan dari orang lain.
Meski begitu, membangun kepercayaan satu sama lain tak semudah yang dibicarakan dengan kata-kata. Ambil contoh dari hubungan percintaan, kadang diwarnai dengan pengkhianatan dan hal menyakitkan lainnya.
Itulah mengapa, menjaga kepercayaan bukan sekadar omong belaka, melainkan harus dibuktikan dengan tindakan.
Naira menghela nafas, dia akan jujur jika diri nya sudah bermain. Soal Melati marah atau tidak nya itu urusan nanti saja.
Naira membuka pintu mobil lalu mulai berjalan ke arah depan pintu rumah. Beruntung carport di rumah Kenzi beratap, sehingga Naira tak akan terkena air hujan.
"Umhhh, hi." Ucap Naira Canggung, saat melihat Kenzi dan Melati berada di ruang tengah. Mereka nampak khawatir sembari memegangi handphone nya masing-masing, seperti tengah menghubungi seseorang.
"Naira!" Ucap Melati dan segera berjalan cepat ke arah Naira, Melati memeluk Naira.
"Kamu kemana aja sayang? Kita berdua sangat khawatir."
Naira mengerutkan kening kala melihat raut wajah Kenzi ternyata benar seperti khawatir, ah apakah Kenzi beneran khawatir atau hanya sandiwara saja di depan orang tua nya.
Naira menatap Kenzi, sementara Melati masih memeluk nya seakan-akan tak ingin atau tak mau jauh dengan Naira walau hanya sedetik pun.
Kenzi menatap Naira tajam, membuat Naira membulatkan mata nya. Setelah itu Kenzi melenggang pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Naira dan melati segera melepaskan pelukan, Melati membawa Naira untuk duduk di sofa
"Bun maafin Naira ya, tadi Naira abis jalan-jalan dan lupa aktifkan handphone." Ucap Naira membuat melati menghela nafas. Akhirnya Melati tidak marah pada nya, padahal Naira sudah takut jika tadi ia di marahi oleh Melati karena tak mengabari sedikitpun.
"Ini lagi musim-musim nya penculikan, p********n, sama p*********n. Bunda cuman takut aja, kamu gak ada kabar, bahkan Kenzi saja kalau kamu Enggak pulang malam ini bakalan langsung nyari ke kantor polisi."
Naira memaksakan untuk tersenyum, apakah benar Kenzi sepeduli itu pada nya? Atau malah Kenzi hanya ingin menenangkan Melati saja. Karena beberapa hari yang lalu, tepat nya waktu malam, Kenzi bilang kepada Naira jika Naira bukan type nya, kenzi tak bisa menyayangi Naira bahkan mencintai Naira karena dirinya sudah cinta pada wanita lain yang tentu nya lebih baik dan lebih berpendidikan dari pada diri nya. Lalu tidak lain bukan, jika itu hanyalah kata penenang bagi bunda Melati saja.
"Iya bun, sekali lagi maaf ya. Naira gak bakalan lagi deh seperti ini." Ucap Naira membuat Melati mengangguk.
"Kamu pasti belum makan kan? Ayo makan. Bunda udah siapin makanan kesukaan kamu, tumis cumi lada hitam." Ucap Melati sangat bersemangat.
Awal nya Naira ingin menolak, karena ia tidak merasa lapar sama sekali padahal terakhir makan itu waktu tadi pagi sarapan itupun hanya memakan roti dan s**u, tidak sempat jajan di kantin karena pertemuan nya dengan Maya dan orang-orang di kantor polisi. Tetapi saat melihat wajah Melati yang melas membuat Naira tak tega untuk menolak nya
"Umhh ayo bun Naira laper banget kebetulan. Bunda temenin Naira makan ya," ucap Naira manja membuat Melati terkekeh pelan.
"Yaudah ayo sayang, bunda temenin."
Naira tersneyum senang, di sini dia melihat kehangatan keluarga walau Kenzi bersikap dingin sekali pun. Naira sangat senang berada di tengah-tengah Melati dan Kenzi, tetapi itu hanyalah angan Naira saja, kenyataan nya dia tak lebih hanya akan menjadi tamu di rumah ini. Sekarang Melati sangat menyayangi diri nya, lalu saat nanti di saat Kenzi menikah dan membawa wanita lain yang lebih segalanya dari Naira, apakah sikap Melati akan sama atau sudah berbeda? Ah rasanya Naira tak ingin memikirkan tentang itu, sudah sakit hati duluan sebelum itu benar-benar terjadi.
Kenzi yang melihat itu di atas tangga menghela nafas kasar, ia tadi begitu khawatir ketika Naira jam lima belum ada di rumah dan dari pagi tak mengabarkan apapun, tadi diri nya tahu jika Naira pergi ke kantor polisi dari rekan nya, sehingga dia tahu jika Naira pasti sudah pulang. Kenzi juga sempat mengabari pihak kampus dan ternyata Naira tidak ada jadwal kelas. Saat mendengar itu, Kenzi langsung khawatir dan mikir yang tidak-tidak. Ia kira Naira kabur, karena perkataan nya semalam yang mungkin akan menyakiti hati Naira. Tapi itu adalah kebaikan untuk Naira.
Kenzi tersneyum kecil saat melihat kebersamaan antara bunda nya dan juga Naira, entah kenapa itu membuat perasaan nya hangat. Mereka sangat akrab sekali, seperti anak dan ibu beneran. Bunda nya juga semenjak ada Naira jadi lebih banyak bicara, padahal diri nya dan Bunda Melati jarang sekali berbicara banyak, sesekali hanya bertegur sapa. Ternyata Naira di sini juga ada manfaat nya, bisa membuat keluarga ini semakin hangat.
"Naira.." ucap Kenzi lantas dia bergegas pergi ke dalam kamar untuk membersihkan diri, karena diri nya sedari tadi belum bisa makan dan melakukan kewajiban nya serta mandi.
**
Naira masuk ke dalam kamar, setelah makan dia izin untuk pergi ke atas. Naira masuk ke dalam kamar dengan perasaan campur aduk, besok setelah menyelesaikan tugas kuliah nya dia akan membeli dulu sesuatu dan pergi ke kampung yang ia kunjungi tadi. Jika teman nya ingin ikut maka Naira akan mengajak Keisha atau Cindy, mereka pasti senang jika di ajak seperti itu.
Ah memikirkan kampung itu, Naira jadi ingat dengan pria tadi yang memakai baju tentara, bahkan dia saja tak tahu nama pria itu siapa. tadi mereka hanya berbicara saja tanpa perkenalan diri. Ah bahkan bagaimana diri nya bisa bertemu besok dengan pria itu, apakah sudah pulng ke rumah atau sudah selesai dalam menjalankan tugas nya? atau malah dia adalah orang sana.
Saat sudah dewasa, di tuntut ramah pada apapun dan siapapun. karena jika sudah dewasa, maka hidup akan lebih terasa jika 'Kita membutuhkan orang lain' sudah merasa jika ornag tua bukan lah tempat yang harus selalu menolong kita, tetapi saat sudah dewasa harus nya kita lah yang menolong orang tua atau membantu dan anggap saja sebagai balasan jasa untuk nya, walau pun sampai kapan pun jasa orang tua tak akan pernah bisa kita balas, saking banyak nya. Tetapi sedikit membantu dan meringankan beban masalah nya tak apa-apa bukan?
*
Kedewasaan tidak bisa diukur dengan umur. Acapkali bertemu dengan orang yang masih muda, tapi sikapnya sudah dewasa. Begitu pula sebaliknya. Sikap dewasa dilihat dari pola pikir dan sikapnya ketika menghadapi masalah hidup.
Tapi, orang yang sering menghadapi masalah sejak dini, pola pikirnya dipercaya beda dengan lainnya.Datangnya masalah tanpa sadar dapat mempengaruhi kepribadian diri. Bagi orang yang punya sikap dewasa, akan lebih tenang dalam menyikapinya. Meskipun hati tetap sedih dan gundah, ia lebih cenderung mengalihkan perhatiannya ke hal-hal positif lain.