31. Senyum palsu?

1503 Kata
Keinginan Naira untuk membawa Keisha dan Cindy ke kampung yang kemarin dia kunjungi itu tak jadi, Naira mendingan sendiri dari pada Membawa banyak orang yang nanti nya akan kacau-ah maksudnya sampai Ke kenzi atau Melati, dan ia tak ingin ada siapapun yang tahu tentang diri nya mengunjungi kampung itu, yang Naira saja tak tahu kampung apa itu. "Naira, lo mau kemana?" Tanya Keisha saat melihat diri nya masuk ke dalam mobil. "Gue mau ke kantor polisi, habis itu pulang." Teriak Naira, ia berani berbohong agar tidak ada pertanyaan lain yang keluar dari mulut Keisha. Naira tak ingin membuat semuanya menjadi rumit. Keisha menganggukkan kepala nya. "Hati-hati ya, kalau ada apa-apa kabarin gue aja." Jawab keisha membuat Naira mengangguk lalu tersenyum senang. Ternyata masih ada orang yang baik, sahabat yang pengertian. Ia berjanji tak ingin kehilangan sahabat terbaik untuk yang kedua kali nya. Persahabatan bukanlah tentang siapa yang orang kenal paling lama. Tetapi tentang ia yang datang ke kehidupan seseorang dan berkata, 'aku ada di sini untukmu, lalu membuktikan nya. Sebelum Naira pergi ke kampung itu, dia menyempatkan untuk pergi ke supermarket, dia akan membelikan sesuatu untuk anak-anak di sana. Naira membeli banyak makanan ringan hingga mencapai lima ratus ribu. Setelah di rasa cukup dia membeli makanan cepat saji untuk anak-anak di sana. Yang terdiri dari nasi dan ayam goreng, mereka pasti akan senang mendapatkan makanan itu. Langit sangat cerah, tidak mendung seperti kemarin. Mungkin sampai sore nanti akan tetap cerah, semoga saja agar diri nya bisa lebih lama di kampung itu. Sebelum pergi dia akan memberi Melati pesan, supaya wanita paruh baya itu tak khawatir seperti kemarin. Naira masuk ke dalam mobil, mem-full kan bensin nya dan siap untuk melakukan petualangan, ya menurut Naira ini adalah sebuah petualangan yang sangat luar biasa setelah hati nya di patahkan oleh seseorang yang sangat ia cinta. Naira menyetel radio kembali dan mendengarkan lagu Lawas yang di cover ulang sehingga menjadi sangat enak. Lagu itu berjudul Bertepuk sebelah tangan. Mungkin ku tak akan bisa Seperti dirinya Yang mampu membuatmu Merasa sempurna Iya, Naira sangat sadar diri tentang itu. Dimana diri nya memang jauh dari type Kenzi dan merasa banyak sekali kekurangan yang mungkin nanti nya bisa mempermalukan Kenzi. Ada pepatah mengatakan, jika ada satu orang bertemu dengan orang lain nya, menjalin hubungan lalu mereka memutuskan untuk menikah alesan nya karena ingin melengkapi kekurangan sedang kan jika Naira memaksakan cinta pada Kenzi bukan melengkapi nama nya tetapi malah menambah kekurangan. Mungkin ku tak akan mampu Wujudkan pintamu Mencoba tuk mengerti Apa yang kau cari... Benar, Naira juga tak bisa menjadi idaman untuk Kenzi. Terlalu jauh pinta Kenzi untuk menuntut diri nya sempurna. Inikah yang pantas aku dapatkan? Terus tenggelam dalam kesepian, kesendirian. Haruskah setelah berjuang melawan kesakitan dia menahan sakit juga? Sakit yang tak bisa di ceritakan kepada siapapun termasuk orang terdekat nya sekali pun, karena percuma saja paling saran dari mereka hanya menyuruh Naira untuk 'Sabar' dan tak harus berlarut-larut dalam kesedihan nya. Nyata nya itu dapat membuat hati nya merasa kan tenang. Kini ku terluka Kembali terluka Saat menyadari Cintaku bertepuk sebelah tangan Bertepuk sebelah tangan Mencoba 'tuk bertahan Meyakinkanmu, mengharapkan mu.. Meski pedih yang kurasa Sakitnya tak tertahan.... Naira sudah benar-benar ikhlas melepaskan Kenzi, sungguh sangat-sangat ikhlas sekali. Naira tak ingin memperburuk suasana sehingga wanita itu mematikan lagu nya. * Setelah melakukan perjalanan yang syukur tidak ada hambatan sedikit pun sama sekali. Naira turun dan melihat anak-anak yang kemarin. Dengan bahagia, Naira memanggil anak-anak itu untuk mendapatkan makanan. Ternyata anak-anak yang sedang mencabuti rumput itu berjumlah kisaran delapan orang. Tanpa menunggu lama lagi, Naira segera membangunkan makanan itu satu persatu, mereka makan dengan sangat lahap membuat Naira tersenyum senang. Ia bahagia ketika melihat mereka bahagia, anak kecil yang malang itu membuat semangat untuk Naira, dan membuat Naira memetik beberapa pelajaran moral. "Kamu menepati janji, untuk kesini lagi." Ucap seorang pria, yang sama seperti kemarin. Bagai deja vu, Naira kembali menengok ke arah belakang. Dan melihat pria itu berdiri gagah dengan seragam yang sama seperti kemarin. "Apa kamu mau?" Naira membagi satu kepada tentara itu, membuat tentara itu tersenyum lalu menerima nya dengan senyuman manis itu. "Terimakasih." Ucap pria berseragam tentara Indonesia itu. Senyum dan lesung pipit nya sangat manis, membuat Naira tak segan-segan untuk tersenyum juga. "Apa mau di tempat yang kemarin?" Tanya pria itu membuat Naira gelagapan. "Aahhh apa boleh?" Tanya Naira agak sedikit canggung. "Tentu boleh, girl." Ucap pria itu membuat Naira kembali mengembangkan senyum nya. Mereka berdua berjalan lalu duduk di saung yang menghadap langsung ke sawah, seperti kemarin. Duduk berdua layak nya sepasang kekasih yang tengah menikmati. "Nama mu?" Tanya pria itu akhirnya pria itu bertanya soal nama. Jika tidak, mungkin akan seperti kemarin. Sampai sore dan pulang ke rumah Naira tak akan pernah tahu siapa nama pria yang berbincang banyak dengan nya itu. "Naira," ucap Naira memperkenalkan diri dengan singkat. "Dan siapa nama kamu?" Tanya Naira bertanya pada pria itu. "Apa tidak melihat name tag dari kemarin?" Tanya Naira, membuat wanita itu refleks melihat name tag pria yang sedang berada di samping nya. "V. Anggara S?" Tanya Naira membuat pria itu mengangguk. "Kenapa nama awal dan akhir di singkat?" Tanya Naira penasaran. "Tidak! Hanya saja aku lebih suka memakai nama tengah. Jadi panggil saja Angga atau Gara," pinta pria itu membuat Naira menganggukkan kepala tanda mengerti. "Jadi aku akan panggil Gara aja, ah bagus." Ucap Naira sambil tersenyum kecil. "Hanya kamu yang memanggilku Gara, sisa nya memanggil Anggara." Jawab Gara membuat Naira tersenyum kecil. "Kamu tak makan sekarang?" Gara mengangguk. "Ini mau makan," jawab Gara membuat Naira mengangguk senang. Gara mulai membuka kotak makan itu, dan kebetulan isi nya adalah nasi, sambal terpisah, sayur capcay serta ayam bakar." "Kamu menghabiskan uang berapa untuk memberi makan anak-anak di sini? Apa sangat mahal?" Tanya Gara membuat Naira segera menggelengkan kepala nya "Ah ini bukan apa-apa kok, aku berjanji akan lebih banyak lagi membawa makanan." Ucap Naira membuat Gara tersenyum kecil. "Eh tunggu!" Naira mencegah Gara untuk menyentuh makanan itu, membuta Gara mengerutkan kening nya bingung. "Tunggu sebentar ya, kalau kamu mau makan. Silahkan, aku hanya ingin berbicara jika aku mau ke mobil dulu." Ucap Naira membuat Gara mengangguk setuju. Karena sudah di sediakan sendok dan garpu plastik, akhir nya Gara memakan makanan itu cukup lahap. Selain rasa nya yang enak, sudah lama diri nya tak memakan masakan seperti ini mungkin sudah hampir mau enam bulan saat diri nya tinggal di sini, bersama dengan team nya untuk mempertahankan sesuatu yang cukup berharga. Dia tak menyangka akan di pertemukan dengan seorang wanita yang selain cantik juga baik, suka menolong dan jiwa sosial nya sangat tinggi. Wanita mungil, tetapi Gara tak akan mungkin menyebut nya jika wanita itu masih SMA, terlihat dari mobil yang wanita itu bawa. Jika masih SMA, mungkin tak akan di beri dulu mobil karena itu sangat berbahaya. Wanita cantik itu kembali dengan kantong putih yang entah apa isi nya, serta dengan satu botol air kemasan dua liter. "Ini untuk mu," ucap Naira membuat Gara tersenyum. "Terimakasih." Jawab Gara membuat Naira ikut juga tersenyum. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Naira membuat Gara memelankan kunyahan nya, ia takut Naira bertanya tentang kamu terpencil ini, dan kenapa ada diri nya. Bukan apa-apa, karena diri nya tengah memakai baju seragam, yang itu artinya kampung ini sedang di jaga oleh beberapa tentara. "Apa?" Tanya Gara membuat Naira agak canggung, karena Gara menjawab dengan nada yang cukup dingin. "Umhhh, apa di sini rekan mu banyak?" Tanya Naira. Gara menganggukkan kepala. "Rekan ku hanya tujuh orang." Jawab Gara membuat Naira mengangguk. "Ini bagi-bagi untuk rekan mu juga, ya." Ucap Naira sembari menyimpan kantong kresek yang cukup besar di samping Gara. Seketika senyum Gara mengembang, Naira memang sangat baik, selain itu tak ada pertanyaan yang akan membuat privacy nya terbongkar. Sungguh wanita yang luar biasa sekali. "Sebenarnya aku membawa sekitar tiga puluh lima bungkus, tetapi sudah habis sepuluh, tinggal dua puluh lima bungkus lagi, apa kamu mau membagikan makanan nya, membantu aku?" Tanya Naira membuat Gara berhenti mengunyah. "Apa kamu yakin, membawa makanan sebanyak itu?" Tanya Gara membuat Naira mengangguk yakin. "Itu banyak, Nai." Ucap Gara membuat Naira menggeleng. "Belum lagi makanan ringan lain nya." Jawab Gara membuat Nara tersenyum kecil. "Itu bukan apa-apa Gara, mau gak nih bantu aku?" Tanya Naira membuat Gara segera menganggukkan kepala nya. "Ini baru jam satu siang, masih panas sebentar lagi ya kita bagikan nya. Kamu mau pulang jam berapa?" Tanya Gara. "Ah boleh, kapan pun kamu bisa. Lagian aku ingin melihat kampung ini lebih dalam lagi." Jawab Naira semangat. "Begitu semangat nya kamu, Nai." Ucap Gara membuat Naira menampilkan gigi rapi kelinci nya. "Hum, aku hanya senang." Jawab Naira. "Jika kamu mengerti tentang kampung ini, kamu tak akan se senang ini Naira. Bahkan sebagian senyuman ku saja hampir hampir hilang saat atasan menugaskan aku untuk berjaga di kampung ini. Sebenarnya kamu tak boleh masuk ke kampung ini, ini cukup berbahaya untuk kamu yang tak mempunyai apa-apa, tetapi aku melihat kebahagiaan kamu terpancar di kampung ini. Sungguh Naira, aku akan menjaga mu melindungi mu selama kamu tinggal disini." Batin Kenzi sembari tersenyum getir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN