32. Makanan

2531 Kata
Dan kenapa bisa Naira dapat melewati jalanan yang di jaga ketat ini, ah entah apa alasan Naira pada penjaga yang ada di tengah hutan sehingga dia dan kendaraan nya lolos begitu saja. Makan nya saat Naira sedari kemarin masuk ke sini, dan Gara tak memberi tahu apapun tentang kampung ini, Gara takut jika Naira jadi panik dan khawatir. Gara menyelesaikan makanan tak terlalu cepat, karena ia ingin menikmati nya. Setelah kurang lebih sepuluh menit minuman yang di bawakan oleh Naira Gara minum juga. "Terimakasih, Naira." Ucap Gara membuat Naira mengangguk dan tersenyum. "Sama-sama, Gara." Entah perbedaan umur berapa tahun dengan Gara, tetapi Naira tak ingin menyebut gara dengan memakai embel-embel kakak atau abang, atau mas. Dia hanya ingin berteman dengan Gara tanpa ada sekat. Gara merupakan pria yang menyenangkan versi Naira. "Ayo, kata nya kamu mau di antar." Ucap Gara membuat mata Nara berbinar. "Ternyata beneran," gumam Naira. "Umhh, bisa minta bantuan lagi enggak?" Tanya Naira sedikit memelas, membuat Gara lagi-lagi tersenyum. Aneh padahal dengan wanita lain, Gara jarang sekali tersenyum. "Umh apa?" Tanya Gara dengan lembut. "Bisa minta bantuan, bawain sebagian makanan nya gak?" Tanya Naira dengan cukup manja. "Bisa, ayo ke mobil." Ucap Gara lalu diri nya dan Naira pergi ke mobil untuk membawa makanan. Gara cukup terkejut dengan apa yang Naira bawa, karena ini lebih dari cukup dan sangat banyak. Gara menatap Naira dengan tatapan tak percaya. "Apa kamu sudah bekerja, Naira?" Tanya Gara, akhirnya penasaran dengan pekerjaan Naira. Bisa-bisa nya menyumbang kan makanan cukup banyak, bahkan saat ada relawan yang menyumbang kan makanan kesini pun hanya sedikit, paling bagus tiga dus mie instan saja. Tetapi lihat lah, Naira membawa banyak makanan dan ini adalah makanan yang enak-enak. "Hum aku belum bekerja Gara, aku hanya mahasiswi semester lima yang mau masuk ke semester enam." Ucap Naira berterus terang. "Lalu, masuk jurusan apa?" Tanya Gara semakin penasaran dengan sosok wanita bernama Naira yang berada di hadapan nya. "Umhh, ambil jurusan hukum Gar." "Wah bagus tuh." Jawab Gara membuat Naira tersenyum kecil. "Jadi aku mau telepon teman-teman ku dulu ya, buat bantuin bawa ini." Naira termenung, "Emang nya gak ngerepotin ya?" Tanya Naira membuat Nara menggeleng. Dia mulai mengeluarkan telepon khusus tentara dan mulai berbicara. "Tiger di tempat, ada apa bigbos." "Bigboss memanggil Elang untuk ke depan perkampungan, sekarang juga." "Elang di sini. Baik laksanakan bigbos." Naira membulatkan mata nya tak percaya, alat yang di gunakan oleh Gara seperti alat yang pernah ia tonton di drama korea, yaitu descendats of the sun. Bukan hanya itu panggilan mereka pada Gara juga adalah 'bigboss' ah apakah Gara? "Gara?" Lirih Naira membuat Gara menoleh ke arah Naira cepat. "Kenapa Naira?" Tanya Gara. "Ka... Kamu? Pa..pasukan khusus kah?" Tanya Naira membuat Gara menghela nafas pelan. "Lupakan saja Naira, itu tak penting bukan?" Ekhemm Naira berdehem untuk menetralisir keterkejutan nya, dia masih tak menyangka jika Kenzi adalah bigbos itu bisa saja Kenzi adalah Captain atau setara dengan Komandan. Dan apa mereka di perkampungan ini sedang menjalankan misi khusus? Itu berarti Naira dalam bahaya bukan? Dan apakah diri nya akan menjadi beauty atau dr. Kang seperti di film descendats ofg the sun? Tapi diri nya bukan seorang dokter kuliah saja belum lulus. Ah bagaimana bisa Naira terjebak zona nyaman di perkampungan yang tidak aman? Naira jadi salah tingkah setelah mengetahui semua nya, ada pikiran was-was juga saat dia telah mengetahui apa yang seharus nya tidak ia ketahui. Hanya memerlukan waktu beberapa saat saja, pria yang memakai baju sama seperti Gara menghampiri mereka berdua. "Siap, Capt." Ucap Elang dengan hormat dan sopan, itu sudah menandakan jika Gara memiliki jabatan yang tinggi di antara teman nya. "Gak usah formal gitu lo," Pria yang ber name tag Rio itu tersenyum. "Butuh apa, Gar?" Ah dari gaya bahasa nya seperti nya mereka berdua bersahabat baik. "Bantuin bagikan makanan itu yuk," tunjuk Gara pada bagasi yang di depan nya ada Naira. Mata Rio melotot. "Gilak banyak banget. Mbak, relawan dari mana?" Tanya Rio membuat Naira menghela nafas. "Aku bukan relawan, tak sengaja aja bisa masuk ke perkampungan ini kemarin, dan kembali lagi hari ini." Ucap Rio, membuat Rio menatap Gara, begitu pun sebalik nya "Gar, Lo ngerti gak apa yang gue pikirin." Gara menganggukkan kepala. "Gue sangat ngerti, Rio. Tapi, lebih baik bahas ini nanti malam aja gimana? Sekarang ayo kita bagikan lagi." "Umhh, apa ada sesuatu yang membahayakan?" Tiba-tiba saja Naira berbicara seperti itu membuat keduanya kembali saling tatap dan segera menggeleng cepat. "Tidak ada." Jawab Gara dingin, kalau nada bicara Gara sudah dingin seperti itu. Berarti ada privacy yang Gara sembunyikan dan itu tak ingin di ganggu atau di bongkar sedikit pun. "Gue kebagian gak nih?" Tanya Rio membuat Naira menganggukkan kepala nya. "Ambil aja, sekalian sama temen kakak yang ada di basecamp mungkin. Dan sisa nya bagiin ke warga, gimana?" Tanya Naira membuat Rio mematung dan tangan kanan nya meraba saku celana nya. "Lo bukan mata-mata kan?" Tanya Rio penuh penekanan membuat Naira terkejut dan gelagapan. Yang benar saja diri nya di tuduh menjadi mata-mata, apa kata dunia? Karena ketidak sengajaan nanti diri nya di hukum oleh para tentara, yang sial nya dua-duanya nya sangat tampan. Naira mencoba tenang supaya mereka tak curiga, ah curiga apa nya diri nya benar bukan mata-mata kok. Naira sekarang tahu, kenapa Rio begitu khawatir, karena nyata nya pasti di sini sedang ada pemberontakan. Dan satu hal, pasti ada mata-mata di sekitar mereka. Bukan hanya itu saja, berarti Naira masuk ke dalam kampung yang sangat tidak aman, sebut saja zona merah, tetapi aneh nya Naira malah merasa tenang di perkampungan ini. "Sodara Naira adalah seorang polisi, kalau masalah begini tuh udah enggak aneh." Jawab Naira membuat Rio menghela nafas. "Awas kalau macam-macam, kamu ada di zona merah di dalam buku saya." Ucap Rio membuat Naira menghela nafas kasar nya. Ah masa iya! "Ayo cepetan ini makin sore aja kalau gak berhenti bicara." Ucap Gara menengahi perdebatan mereka berdua. Mereka berdua menganggap, lalu mulai mengeluarkan semua makanan. Rio membawa semua kotak makan yang seperti catering, sedangkan sisa nya adalah makanan ringan yang di bawa oleh Gara. "Naira, seperti nya kamu pulang saja deh." Ucap Gara membuat Naira mengerutkan kening. "Apa tidak boleh masuk ke dalam?" Tanya Naira bingung, pasal nya ia tak bisa bertemu dengan warga sini. Gara menggeleng pelan, "belum waktu nya Naira." Jawab Gara membuat Naira terdiam. Apa kampung ini begitu rahasia Sehingga orang biasa seperti Naira sangat di larang masuk, lantas sebenarnya ada apa dengan perkampungan ini? Apakah ada sesuatu ah atau malah banyak sesuatu yang Gara sembunyikan dari nya dan dari banyak masyarakat lain nya atau malah sesuatu yang lain- Naira jadi pusing memikirkan semua itu. "Umh baiklah, aku pulang sekarang." Mendengar jawaban yang terlontar dari bibir mungil Naira membuat Gara menghela nafas lega lalu tersenyum, seperti itu kah menyembunyikan rahasia yang tak ingin terbongkar? "Umhh jika aku ingin menghubungi kamu, bagaimana?" Tanya Naira kepada Gara "Siapa tahu, aku bisa membantu dengan mengirimkan banyak makanan." Sambung Naira. Gara menggeleng pelan. "Apa kamu punya sebuah kertas? Tuliskan nama mu di sana." Naira menggeleng, "aku gak punya kertas tapi aku mempunyai kartu nama yang berisi nomor handphone." Gara menganggukkan kepala, "Baiklah Naira, nanti aku yang akan mengabari diri mu terlebih dahulu, tetapi tidak janji. Soalnya sinyal di sini sangat susah." Ucap Gara membuat Naira menganggukkan kepala nya. "Umhh, sebenarnya aku ingin melihat perkampungan ini terlalu jauh, tetapi jika kalian berdua tak mengizinkan ya tidak apa-apa juga sih, aku akan pulang cepat." Jawab Naira membuat keduanya menggeleng pelan. "Suatu saat nanti, kamu akan ku ajak berkeliling kampung ini. Untuk saat ini pulang lah, sebelum semua nya menjadi ru-" Gara tak meneruskan perkataan nya, dia sadar apa yang ia ucapkan pada Naira ternyata terlalu jauh. Bisa-bisa ia membongkar rahasia besar ini, karena Naira seperti nya bukan orang yang bodoh tetapi malah sangat pintar, terlebih jika wanita itu menguasai hampir semua materi yang dosen ajar kan ah mungkin akan mengerti dengan masalah ini bukan? "Ru-? Ru apa Gara? Apakah rumit? Kenapa jika aku berada di sini harus rumit, umh apa benar kampung ini jauh dari kata aman? Atau.." Gara segera menggeleng cepat, "Tidak Naira! Jangan berpikiran macam-macam. Aku hanya tidak ingin jika kamu di sini terlalu sore nanti pulang ke rumah akan kemalaman, aku tahu kamu berani menyebrangi hutan walau malam-malam sekali pun tetapi, bagaimana dengan orang tua mu? Dengan orang yang berada di rumah mu? Apakah mereka tidak khawatir? Di tambah sodara mu tadi adalah seorang polisi, dan kamu adalah seorang perempuan. Apakah tidak menutup kemungkinan kamu akan di lacak dan di cari? Semua nya akan rumit bukan?" gara berbicara panjang lebar, membuat Naira mengangguk mengerti dengan jawaban Gara yang cukup masuk akal. Tetapi Rio yang mendengar itu sebelum nya memang ingin tertawa, tak biasa nya Gara berbicara panjang kali lebar terhadap seorang wanita. Apalagi jika di lihat, wanita yang sekarang berada di hadapan nya adalah wanita asing yang seperti nya baru Gara kenal. Apakah Gara menyukai wanita itu? Atau masih dalam tahap tertarik? "Baiklah, aku akan pulang." Gara menganggukkan kepala. "Jika ingin ke sini datang lah pagi agar tidak ke sorean pulang nya." Kembali Gara mengeluarkan suara membuat Rio membulatkan mata nya tak percaya, kampung ini sedang berada di zona merah dalam hitungan nya. Mengapa Gara seberani itu memasukkan wanita sebut saja warga sipil terjerumus ke dalam masalah ini, ah apakah Gara sudah gila! "Tentu, tanpa kamu minta aku akan kesini. Nanti setelah tugas ku selesai, dan akan libur. Itu akan ku pergunakan untuk pergi ke sini, ke kampung indah ini. Permisi!" Naira berjalan dan segera masuk ke dalam mobil nya lalu mulai menyalakan mesin. Sebelum benar-benar pergi, Gara mengetuk terlebih dahulu kaca mobil Naira membuat wanita itu segera membuka nya. "Kenapa?" Tanya Naira sembari mengerutkan kening nya bingung. Sebelum berbicara, Gara tersenyum. "Hati-hati ya di jalan. Kunci semua jendela dan pintu, jangan sampai ada orang untuk menyuruh kamu membuka pintu dan kamu malam membuka nya, itu tak boleh walau orang itu sedang meminta bantuan. Mau itu anak kecil, kakek-kakek nenek-nenek, ibu-ibu atau bahkan remaja." Ucap Gara membuat Naira kembali mengembangkan senyum nya karena perkataan khawatir yang di lontarkan oleh Gara. "Jika sudah terlanjur, bawalah ini. Kamu bisa mencongkel mata nya," kembali Gara berbicara sambil menyerahkan satu buah pisau kecil membuat Naira membulatkan mata nya. Pisau itu sangat lah cantik, pisau itu berwana gold, dengan tulisan romawi kuno di setiap pegangan nya. Di ukir dengan sangat cantik, pahatan itu begitu sempura sekali. "Ah kamu serius? Seorang abdi Negara menyuruh ku untuk menjadi psikopat?" Tanya Naira dengan wajah polis nya. Gara tertawa kecil lalu menggeleng. "Jika kamu mau, aku akan mendukung mu." Kembali jawaban Gara membuat Naira membulatkan mata nya. Benarkah? "Ini simpan baik-baik, suatu saat aku akan menagih nya, dan kamu harus tetap membawa nya kemana pun. Apa mengerti?" Refleks Naira menganggukkan kepala nya, "Terimakasih." Jawab Naira akhir nya, karena ia bingung harus berbicara apa selain kata 'terimakasih.' "Tidak! Aku yang seharus nya berterimakasih, hati-hati Naira. Kamu bisa pulang sekarang," ucap Gara membuat Naira menganggukkan kepala nya. Gara tersenyum melihat mobil Naira terparkir dan sudah mulai memasuki gapura kampung, Gara hanya berdoa semoga Naira selamat. Itu saja sudah cukup, wanita baik itu pasti di lindungi oleh Tuhan yang maha Esa. "cie ada yang jatuh cinta, nih!" Ucap Rio membuat Gara menghela nafas pelan. Apa salah jika diri nya berbaik sedikit kepada seorang wanita? Atau mencoba hangat, ah tetapi apa benar yang di ucapkan oleh Rio jika diri nya jatuh cinta? "Yuk gak usah di jawab, gue becanda bos. Ayo kita bagikan makanan nya." Ucap Rio membuat Gara mengangguk, lagi pula ada yang ingin Gara bahas bersama dengan team nya. Tentang penjagaan yang berada di dalam hutan, dan tentang wanita yang baru dua hari ia temui. Ia tak bisa membiarkan sesuatu yang buruk terjadi walau hanya sedikit saja, tak akan pernah Gara menjamin nya. Mereka mulai melangkahkan kaki ke arah lebih dalam lagi perkampungan itu, dan segera membagikan makanan. Mereka begitu senang, mendapat makanan. Apalagi makanan yang di beli oleh Naira adalah makanan enak semua, entah sudah berapa lama mereka tak makan makanan enak seperti ini lagi. Rasa nya hati Gara menghangat melihat mereka semua makan dengan lahap, sudah tak ada lagi pakaian yang layak, makanan yang bergizi dan tempat tinggal yang layak. Mereka masih di perbudak di kampung nya sendiri, jika kemarin tak ada satu warga yang berhasil kabur dan melaporkan semua nya mungkin mereka akan tetap di perlakukan tak baik. Tetapi meskipun sebagian sudah ada yang di tangkap, bos penjahat berhasil kabur dan pasti sekarang sedang menyusun rencana untuk merebut atau bahkan hanya sekedar balas dendam. "Rio, kumpulkan anak-anak malam ini. Kita harus mengadakan rapat gelap seperti nya." Ucap Gara membuat Rio segera menatap Gara. "Gue... Gue yakin ada yang enggak beres di sini." Gara menganggukkan kepala lalu setelah puas melihat mereka makan dengan lahap Gara putar arah dan balik ke markas nya yang tak jauh dari sana. Kampung seindah ini, sayang sekali jika penduduk nya tidak makmur. Mereka merasa di jajah di negara nya sendiri, padi yang mereka tanam di sawah nya sendiri, di rebut secara paksa oleh komplotan orang-orang yang berkedok dasi. Sayuran dan umbia-umbian yang ada di ladang seolah menjadi milik mereka, bukan hanya itu saja, ikan di parit, seakan-akan mereka lah pemilik kampung ini karena pemandangan sebuah janji. Yang sampai sekarang janji itu belum di ketahui oleh Gara mau pun warga kampung di sana. Pesawahan, perkebunan, perikanan, serta air terjun yang sangat indah itu tak membuktikan jika di sini memang indah. Indah jika di lihat dari luar, sedang kan jika sudah berkecimpung di dalam maka semua orang akan menangis. Hak segala bangsa, hak kemanusiaan. Sudah tak mereka dapat kan selama beberapa bulan terakhir, mereka seperti kembali pada zaman beberapa puluh, ratus tahun yang lalu saat diri nya di jajah oleh Bangsa lain. Ketentraman, kedamaian tak mereka dapat kan, sedangkan satu dari mereka tak ingin membuka suara sedikit pun. Mereka hanya diam, menunduk dan menangis dengan wajah dan baju yang kumuh seolah-olah para Tentara dan polisi yang membantu itu bukan harapan bagi mereka. Seperti nya mereka sudah cukup trauma dan tekanan dalam hati nya. Sehingga untuk berbicara pun enggan mereka lakukan. Hanya terkadang, ada anak-anak saja yang bermain sampai depan itu pun masih dalam pengawasan ketat yang hari itu berjaga. Anak-anak malang yang tak tahu apa-apa, beruntung anak-anak itu tak banyak bicara, bertanya dan tak trauma dengan apa yang mereka semua alami. Miris sekali melihat kampung yang sangat indah ini harus kacau seperti ini, tak bisa di pungkiri Gara juga merasakan amat sangat sakit saat melihat kampung ini terjajah begitu saja. Gara berjanji dia akan membuat kampung ini makmur kembali, ia ingin semuanya aman dan tentram tanpa ada penjajah dalam Negeri lagi. Gara berjanji tak akan pernah ceroboh. "Bocah itu siapa?" tanya Rio, yang asal bicara begitu saja. "Nama nya Naira, masih kuliah fakultas Hukum semester lima yang mau ke semester enam." "lo tau dia kenapa kesini?" tanya Rio kembali. Gara menggeleng kan kepala nya beberapa kali, "Gue gak tau sih, tapi yang gue tau waktu itu dia keluar dari mobil dengan tatapan bingung anak-anak ngerumunin dia minta makanan tetapi dia cuman punya beberapa makanan sehingga yang lain tak kebahagian, terus yang gue denger dia janji bakalan balik lagi ke sini dan membawa banyak makanan. ini lah hasil nya, Naira menepati janji." ucap Gara penuh kagum, membuat Rio mengerti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN