"Rapat akan di laksanakan sepuluh menit lagi, kalian semua bersiap lah." Rio menggantikan Gara untuk berbicara kepada team nya. Rio di sini sebagai wakil Gara, sehingga jika memang Gara tak dapat apa-apa atau sedang sibuk di panggil atasan maka yang akan menggantikan posisi nya Gara adalah Rio. Mereka berdua juga sangat bersahabat baik sejak masa di mana mereka berdua di pertemukan dalam satu team oleh atasan nya.
"SIAP LAKSANAKAN!"
Rio menganggukkan kepala, lantas pergi keluar dia akan segera pergi ke ruang rapat menemui Gara yang sudah duduk di tempat nya sedari tadi. Rio sangat yakin banyak sekali sesuatu yang di pikir kan oleh Gara, akan tetapi pria itu hanya ingin berpikir sendiri setelah menemukan jawaban nya baru lah dia akan berbagi kepada bawahan nya.
Mereka sudah kumpul siap berjumlah tujuh orang, itu adalah team Lintang pasukan Khusus yang sangat bisa di andalkan dan sudah pernah di kirim ke berbagai Negara, serta pernah mempertahankan keamanan Negara dengan sangat baik. Selain otot dan fisik yang begitu unggul, mereka juga mempunyai otak yang cerdas, serta kemampuan yang fantastis.
Misal Rio bisa menaklukkan bom walau itu sulit di jinakkan oleh pemilik nya sekali pun. masih banyak yang mempunyai kemampuan khusus lain nya, dan yang paling unggul adalah V. Anggara sehingga dia di utus menjadi captain untuk pasukan mereka.
"Sebelumnya saya sudah mengingatkan jika tugas kita di sini adalah 'Mengembalikan kedamaian masyarakat'" ucap Gara membuat mereka terdiam-menyimak perkataan apa yang akan Gara ucapkan selanjut nya.
"Jadi keamanan warga di sini lebih penting, bukan begitu?" Tanya Gara dengan tegas.
Mereka semua menjawab, "Siap laksanakan." Jawab Mereka dengan tegas.
"Ada seorang wanita yang bisa masuk ke sini, lalu memberi beberapa makanan. Makanan yang kalian makan tadi adalah pemberian wanita yang kesini. Pertanyaan adalah pertama seperti nya wanita itu bukan wanita penyusup. Dan yang kedua bagaimana bisa wanita itu melewati penjagaan yang ketat di tengah hutan." Ucap Gara menerangkan semua kejanggalan pada kasus ini.
"Itu berarti, penjagaan di tengah hutan tidak benar, atau bisa jadi sudah di sandera dan setiap kita patroli ke tengah-tengah hutan atau hanya sekedar menelepon ternyata telepon itu di genggam oleh para penyandera." Kembali Gara memberikan opini membuat mereka masih menyimak.
"Dan mata-mata pasti ada, mungkin di sekitar kita terdapat mata-mata." Sambung Gara, membuat mereka semua mengerutkan kening, membenarkan ucapan Gara yang sangat masuk akal.
"Izin Ndan, Jika penyusup wanita itu adalah seorang mata-mata yang sengaja mengelabui dengan cara memberi makanan kepada kita dan warga sekitar, apa itu lebih masuk akal?" Tanya Devan, membuat Gara menggelengkan kepala nya kuat.
"Tidak mungkin!" Jawab Gara, entah kenapa saat wanita itu di tuduh Gara tak terima. Ia sangat yakin jika wanita itu adalah wanita baik, yang tak sengaja menemukan tempat ini. Gara terlalu naif jika harus menuduh wanita sebaik Naira, ah rasanya tak boleh di biarkan jika wanita itu malah menjadi tersangka dalam kasus yang tengah ia tangani kali ini. Sungguh! Gara tak terima.
"Izin ndan. Jangan sampai kita memandang sebelah pihak, bukan kah itu yang sering ndan kasih tahu pada kami?" Ucap Rio, membuat Gara terdiam tetapi dia ada sedikit rasa marah juga terhadap mereka yang terus memojokkan Naira.
Gara menggeleng pelan. "Saya akan mengutus tiga orang untuk pergi ke hutan, dan sisa nya kontrol semua penjagaan takut nya memang benar ada penyusup." Ucap Gara akhir nya memutuskan, membuat mereka semua mengangguk setuju dengan keputusan Gara. Walau mereka sedikit kesal, karena wanita yang memberi makan itu tak di curigai sama sekali.
Pikir Rio, apakah Anggara benar-benar menyukai wanita itu? Tertarik pada wanita yang bernama Naira dan berniat ingin mengajak nya berkenalan, lalu berpacaran. Dan akhir nya mereka akan hidup bahagia bersama. Ah apakah pikiran Anggara seperti itu. Bagaimana pun juga jika melibatkan hati dalam bertugas, maka mereka akan kalah.
"SIAP LAKSANAKAN!"
*
"Kemana saja kamu Naira!" Lagi-lagi saat Naira baru saja menginjakkan kaki di rumah besar yang sudah beberapa hari ini menjadi tempat tinggal nya. Pasti di sana bakal ada Kenzi yang sudah menunggu nya di sofa sembari duduk.
Naira memutar bola mata malas, jika dulu dia sangat suka terhadap Kenzi, sekarang Naira malah kebalikan nya. Melihat wajah Kenzi saja rasanya memuakkan dan sangat membosankan. Ternyata benar, Tuhan itu maha membolak-balikkan hati manusia. Jika yang awalnya suka maka bisa jadi benci, begitu juga sebalik nya jika yang awal nya benci bisa jadi suka bukan?
Naira berniat tak menjawab pertanyaan Kenzi, sungguh Naira sangat malas pada Kenzi. Lagi pula, tadi Melati mengabarkan jika Melati tak akan pulang dan Naira harus menjaga diri baik-baik di rumah itu pesan Melati sebelum menutup telepon nya. Sehingga Naira akan melangkah kan kaki ke atas untuk sampai ke kamar tamu, yang sudah ia anggap sebagai kamar nya.
"Naira! Jawab pertanyaan saya!" Tegas Kenzi, rahang nya mengeras. Seperti nya pria itu sangat marah pada Naira saat ini.
"Apa urusan anda?" Tanya Naira sembari tersenyum miring. Apa yang Naira pertanyaan kan memang benar bukan? Ada nya Naira dan tidak ada nya Naira itu bukan lah urusan Kenzi lagi.
"Kamu!" Kenzi murka, dia menunjuk wajah Naira dengan tangan nya sendiri.
"apa?" tanya Naira seolah-olah menantang Kenzi. Naira sebenar nya malas dengan Kenzi tetapi jika di biarkan ia tak ingin selalu menjadi pihak yang salah, Naira tak mau menjadi pihak yang rendah di mata Kenzi.
"berani-berani nya kamu ya!"
Naira tersenyum kecil lalu menatap wajah Kenzi penuh dengan kebencian, Naira malah muak melihat wajah itu. yang awal nya suka menjadi benci seperti ini.
"SAYA BERHAK MENENTUKAN HIDUP SAYA! KARENA ANDA BUKAN SIAPA-SIAPA SAYA. ANDA MENGERTI?!" ucap Naira penuh penekanan membuat rahang Kenzi semakin mengeras.
Naira segera berlari pergi ke hadapan Kenzi untuk sampai ke lantas atas, ia tak menyangka jika Kenzi akan seperti itu. Naira menangis di dalam kamar
Jika tertekan oleh sesuatu di luar, rasa sakit itu bukan karena benda itu sendiri, tetapi karena perkiraan; dan ini yang dapat di cabut kapan saja.
Kenzi tak memikirkan mental siapa yang ia bikin lemah, Kenzi tak memikirkan dampak buruk yang di terima oleh Naira setelah diri nya berkata menyakitkan seperti itu, Kenzi tak tahu bagaimana Naira lepas dari kesedihan dan keterpurukan nya. Kenzi tak tahu, bagaimana perjalanan Naira ada di titik ini, Kenzi tak tahu bagaimana Naira berdiri di kaki nya sendiri untuk tetap tegar. Kenzi juga tak tahu, betapa rapuh nya Naira menghadapi semua nya. Pantas jika Kenzi tak berpikir dan Kenzi seenaknya pada Naira. karena kenzi tak tahu perjuangan Naira sepeda apa.
*
Sementara Kenzi, menyesal telah membentak wanita rapuh itu. bukan tanpa sebab, Naira sedari pagi tak ada pulang saat matahari terbenam. bukan kah itu tak boleh di lakukan oleh gadis seusia Naira?
Kenzi hanya khawatir pada Naira tetapi tak tahu bagaimana cara untuk menyampaikan kekhawatiran nya
****
Ini adalah hari senin,Dimana dhiya akan kembali lagi kesekolahannya setelah kemarin libur akhir pekan
Dan pagi pagi sekali Ali sudah ada Di sofa teras sedang mengobrol dengan Mang Ujang. Supir supir di rumah Anindhiya
""Loh ali. Kok pagi pagi udah disini?"Tanya herman sedikit kaget. Pasalnya ini masih jam 06 : 15 WIB.
"Iya pak,Mau Nganterin dhiya kesekolah"Jawab ali sambil menyalami herman.
"Yasudah,Yuk masuk sarapan dulu"Ajak herman ali pun hanya mengangguk
"Dhiya nya mana pak"Tanya ali setelah mereka berdua sudah duduk di meja makan
"Paling sebentar lagi juga Turun"Terka herman
Ali pun hanya mengangguk,Dan benar saja. tak lama kemudian dhiya datang dengan memakai baju seragam lengkapnya.Tak lupa wajah yang natural menambah kesan kecantikan tersendiri bagi dhiya
"Pagii Pah.."Sapa dhiya pada herman"Loh kak ali kok ada disini pagi pagi?"Tanya dhiya keheranan karena ali sudah ada di rumahnya
"Mulai sekarang,Kalau kakak gak ditugasin. Kakak bakalan Anter jemput kamu kesekolah"jelas ali
"Oh yasudah kalau gitu.Sarapan dulu kak"
Akhirnya mereka bertiga pun sarapan bersama dengan tenang.
**
Sebuah mobil lamborgini Hitam milik ali memasuki area parkiran sekolah. Tentu saja dengan ucapan ali tadi mampu membuat hati dhiya bahagia bukan main. Oke,Bayangkan saja jika kalian yang ada di posisi dhiya sekarang.
Dengan menggunakan Sepatu vans hitam,Celana jeans hitam Baju putih serta kemeja terusan sangat indah di lekuk tubuhnya ali yang atlentik. Apalagi sebelum turun dari mobil ali terlebih dulu memakai kacamata hitamnya.
Setelah turun dari mobil,Ali mengitari Mobil ke bagian penumpang depan,Untuk membukakkan pintu untuk dhiya
dhiya pun tersenyum kala ali menyodorkan tangannya.
Mata Semua siswa dan siswi tertuju kepada mereka berdua yang masih berada di depan mobilnya. lebih tepat nya sih ke ali.
Banyak yang mencibir Dhiya karena mereka iri bisa bersanding dengan laki-laki berparas tampan. Tapi banyak juga yang berbicara bahwa mereka pantas . Dhiya yang di kenal dengan primadona sekolah membuatnya banyak digemari oleh orang lain. tak hanya cantik,Dhiya juga adalah siswi terpintar di sekolahnya. Namun dari semua itu pasti ada saja orang yang iri,Contohnya Sinta dan gank nya
"Niat nganterin atau modus sih"Ujar dhiya kesal. sambil mencebikkan bibir nya
"Nganterin dong sayang,Cuman ya aku kan ganteng,Gimana dong?"Jawab ali dengan pedenya sambil terkekeh
"Iyadeh Kapten Ganteng"
"15 menit lagi upacara. aku masuk dulu ya,Kakak hati hati pulangnya"Pamit dhiya. sambil mencium lengan kanan ali
"Iya sayang. Belajarnya semangat ya.. Nanti kakak jemput lagi ya"Jawab ali sambil mengelus kepala dhiya sayang dan diangguki kepala oleh dhiya
setelah mengucapkan itu Ali pun langsung memasuki mobilnya lalu bergegas pulang.
sementara dhiya,Ia langsung berjalan untuk ke kelasnya tentunya dengan hati yang sangat senang
*