23. Belajar bersama?

1207 Kata
Kenzi mengetuk pintu beberapa kali، pintu kamar yang ia ketuk adalah milik Naira sekarang. "Cil sarapan ayo," ajak Kenzi. "Iya sebentarrrrrr." teriak Naira di dalam sana membuat Kenzi menggeleng-geleng kan kepala nya pelan. Kenzi akan menunggu Naira di ruang keluarga yang masih satu lantai saja... Kenzi menunggu Naira sembari melihat televisi, kartun kesukaan nya di pagi hari apalagi kalau bukan Spongebob. Itu adalah tontonan wajib bagi Kenzi, bahkan dulu ia sering membawa sarapan ke depan televisi hanya agar tayangan Spongebob yang berulang itu tak ia lewat kan. Kenzi tak kesal menunggu Naira, bahkan ia ingin Naira lebih lama lagi di kamar. Sungguh, ini adalah tonton yang sangat seru versi diri nya. "Kakak..." ucap Naira membuat Kenzi segera menoleh ke arah wanita itu. Kenzi mengerutkan kening, dia bingung baju siapa yang di pakai oleh Naira. "Ini baju bunda lagi, bagus gak?" ucap Naira sembari tersenyum. Seperti biasanya, melupakan kesakitan dan kerapuhan tadi malam, dan hanya menyisakan bekas mata yang menghitam dan sifit saja. Soal sikap nya, Naira kembali ceria dan berhasil menutupi wajah dengan topeng nya kembali. "cantik..." Naira tersenyum malu-malu membuat Kenzi menghela nafas, namun dalam hati juga ikut tersenyum. "Makasih kak," jawab Naira "Maksud saya itu, cantik baju nya." jawab Kenzi dengan wajah menahan senyum nya. Ah naira harus nya sudah persiapan dengan rasa sakit ini, Naira harus nya sudah tak terkejut akan hal ini. Dan memang Naira tak boleh berharap apa-apa dari Kenzi. Pria itu sangat sulit sekali untuk di tebak. Tidak ada yang suka diabaikan, karena semua orang bahkan ingin sedikit perhatian orang yang dicintai nya. Ini adalah kebenaran, Naira bertanya seperti itu karena diri nya ingin di perhatikan ingin di puji oleh Kenzi. Tetapi mengapa? Kenzi tak sesuai ekspektasi, tak sesuai apa yang ia harapkan kan dan tak sesuai dengan apa yang ia ingin kan. Naira memang cantik, dengan dress berwarna pink muda dan polos, rambut Naira agak basah seperti habis keramas, wajah nya pun natural membuat Kenzi beberapa kali memberikan jempol untuk wajah Naira yang sudah cantik alami tanpa make up di umur nya yang sekarang. "Ayo sarapan, cil." ucap Kenzi membuat Naira sedikit berdecak. Ia kesal sekaligus senang dengan Kenzi yang menyebut nya bocil alias bocah cilik. sebocah itukah diri nya? Mereka berdua menuruni anak tangga bersama-sama, hal itu membuat Melati tersenyum dengan keakraban kedua nya, jujur saya Melati berharap lebih dengan mereka berdua, semoga rasa timbul cinta itu ada. "Akrab banget kalian," ucap Melati sembari menata nasi goreng di depan meja. "Ah bunda, biasa aja kok." jawab Naira ",Naira bangun nya kesiangan ya. Maaf ya bun, jadi gak bantuin masak." sambung Naira sungkan, karena merasa tidak enak. Kenzi segera duduk di kursi biasa yang sering ia tempati untuk sarapan. "Kayak bisa masak aja, cil." ucap Kenzi lagi-lagi membuat Naira kesal, Kenzi tak tahu saja jika masakan nya itu sangat enak, jika Kenzi mencicipi sedikit lalu meminta lebih akan Naira pastikan itu tak akan terjadi, biarkan saja Kenzi memohon ingin di masakin diri nya. Ah sangat percaya diri sekali Naira. "Ayo gak apa-apa sayang, duduk kita sarapan." ucap Melati membuat Naira mengangguk. Di depan meja sudah ada nasi goreng lengkap dengan telur ceplok dan kerupuk, serta s**u putih yang hangat. Sama seperti menu sarapan Kenzi, sedangkan Melati lebih suka dengan teh manis yang hangat. Mereka menikmati sarapan dengan tenang. "Enak banget bun, masakan nya." ucap Kenzi membuat Melati tersenyum, memang tidak aneh setiap hari jika Melati memasakkan makanan untuk Kenzi, maka Kenzi akan mengatakan enak sekali masakannya. Kenzi akan memakan apapun yang di masak oleh Melati, menurut nya masakan bunda nya tak ada dua nya. Ia sangat sayang kepada bunda nya, lebih dari diri nya menyayangi diri sendiri. Sedangkan Naira mulai merasakan bagaimana keluarga hangat itu, Naira memang bukan dari keluarga broken home, tetapi dia kesepian di keluarga nya, tidak mempunyai teman dalam lingkaran keluarga. Padahal menurut definisi keluarga adalah tempat di mana kehidupan dimulai dan cinta yang tak pernah berakhir. Tetapi itu tak bisa Naira rasakan di keluarga nya sendiri. "Cil, kenapa?" tanya Kenzi. Naira menggelengkan kepala nya pelan, ia tak boleh terlihat lemah kali ini. Hanya semalam itu adalah pertama dan terakhir Naira mengeluh depan orang lain. Harus nya dia pasrahkan saja semuanya pada Tuhan, bukan nya mengeluh pada manusia. "Ken, kamu anterin Naira ya ke rumah nya sebelum berangkat ke kantor." pinta Melati. Kenzi menganggap, "Kenzi, berangkat jam sembilan kok mah. jadi agak santai," jawab Kenzi membuat Naira dan Melati mengangguk secara bersamaan. "Bun, Naira seriusan gak enak kalau harus tinggal disini." ucap Naira membuat Naira berdecak kesal. "Kamu ini Nai, pokoknya jangan bicara seperti itu ya. Bunda gak suka," "Bun, Naira takut ngerepotin bunda. Lagian seminggu ke depan Naira ada tugas praktik langsung di lapangan." "Dimana?" tanya Kenzi sambil melihat ke arah Naira. "Hum di kejaksaan lah, tapi kayak nya aku bakalan di tempati di umhh gak tau juga sih." Kenzi mengangguk, "Good job." ucap Kenzi membuat Nair tersenyum. Baru segitu saja sudah membuat Naira tersenyum apalagi jika lebih, ah sepertinya Naira tak tahu di untung, di kasih hati malah minta jantung. "Bagus dong kalau kamu disini, nanti kalau ada soal atau sesuatu yang susah kamu bisa nanya sama Kenzi." ucap Melati membuat Kenzi atau pun Naira membulatkan mata nya. Ini yang Naira mau, niat terselip yang ia inginkan sedari tadi berjalan mulus, jadi Naira ada celah untuk dekat dengan Kenzi. Dan mau tak mau Kenzi harus membantu nya karena sudah ada izin dari pusat. Ah ini akan menjadi seminggu full yang sangat menyenangkan bukan? Naira berpamitan untuk pergi ke kamar, sedari kemari ia tak melihat handphone nya dan belum mengabari sesuatu apapun pada sahabat-sahabat nya pasti mereka khawatir dengan keberadaan nya. Naira pergi ke kamar, dia segera melihat ke arah handphone dan benar grup nya sangat ramai sekali tetapi ada yang menjanggal disana. Maya keluar dari grup Naira menghela nafas kasar, ini yang tak ia inginkan. saat pertemanan nya harus rusak gara-gara satu orang laki-laki yang belum pasti. Bahkan di grup juga ramai sekali Keisha dan Cindy membicarakan tentang keluar nya Maya. Apa Naira harus bercerita semua nya jika dirinya dan Maya sedang perang, ah lebih tepat nya perang dingin. Naira. _ Guys? Cindy. _OMG kemana aya lo, Nai?" Naira. _ Ada tapi bukan di rumah gue. Keisha. _ Naira lo gak apa-apa kan? Lo harus share lock sekarang pokok nya. Gue gak mau tahu ya!" Cindy. _ Bicarain apaan sih? Dede gak ngerti. Naira. _ Gue mau cerita, tapi bukan di rumah gue. Lebih tepat nya di rumah seseorang sih. Keisha. _ Gue bilang share loc! Naira menghela nafas, keputusan nya sangat bulat. perihal nanti menceritakan semuanya itu adalah urusan nanti yang terpenting mereka tahu kalau Naira sedang berada di rumah Kenzi. Naira _ Nanti sore gue share loc, tapi jangan ajakin siapa-siapa lagi ya!. Dan kali ini Naira memutuskan untuk berbagi sedih dan bimbang nya pada kedua sahabat nya yang masih setiap, Naira akan bercerita dan membongkar sifat Maya begitu juga dengan pertemanan mereka yang harus kandas begitu saja. Sebut saja Maya egois! Tapi apakah diri nya baik juga? Entah bagaimana reaksi Keisha dan Cindy saat mendengar jika Maya telah mencintai pria yang sama dengan nya. Entah bagaimana kedepan nya, apakah mereka berdua akan menjauhi Maya, atau akan membenci Maya seperti Naira yang membenci Maya juga? Jika itu terjadi maka Naira tetap tak salah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN