Makan malam di kediaman Danendra malam ini terasa canggung dan Jevano menyadari itu, ingin dirinya bertanya namun dia masih mempunyai batasan sebagai anak. “Elina, bolehkah papa bertanya padamu?” suara Dimas memecah keheningan. “Tentu boleh Pa, papa ingin bertanya mengenai hal apa?” “Itu ...apakah kamu di beri wewenang untuk memimpin perusahaan milik Adinata?” tanya Dimas tanpa basa-basi yang membuat seluruh orang di meja makan memandangannya. Elina menurunkan pandangannya, sudut bibirnya berkedut, “Ternyata sudah di mulai,” “Tidak Pa,” jawab Elina tenang. “Mengapa bisa? Apakah Nathan tidak mempercayaimu?” “Papa selalu mempercayai anak-anaknya,” jawab Elina dengan menatap sang mertua. “Lalu mengapa kau tidak di beri kepercayaan?” Dimas tak paham. “Karena aku menolaknya. Sebagai an

