Alunan musik klasik mengalun di udara menambah kesan mewah pada pesta kali ini. Seluruh rekan bisnis Adinata group berkumpul di hall salah satu hotel terbesar milik Adinata Group untuk menikmati pesta perayaan 50 tahun kesuksesan perusahaan itu. Satu persatu tamu menyapa sang tuan rumah dengan beberapa kata sanjungan dan setelahnya beberapa dari mereka berkumpul sembari membicarakan kesuksesan masing-masing perusahaan. Semuanya penuh dengan kepalsuan, senyum dan tawa yang mereka ciptaan hanya sebagai formalitas menutupi tatapan selidik yang mereka lemparkan satu sama lain untuk mencari tahu kelemahan masing-masing.
Tuan, nyonya serta calon pemimpin Adinata di masa depan sibuk menyapa tamu undangan yang hadir, namun sepertinya yang menjadi sorotan pada pesta hari ini bukanlah Nathan Adinata atapun Jayden Adinata melainkan putri bungsu Adinata, Elina Adinata. Kepulangannya dari Swiss menyita perhatian dari rekan bisnis sang papa, banyak dari mereka yang secara terus terang menginginkan dirinya menjadi bagian dari keluarga mereka, menawarkan perjodohan.
Penampilan Elina malam ini sungguhlah menawan, long dress berwarna navy buatan Bibi Jessica membalut tubuh rampingnya dan jangan lupakan kalung berlian kupu-kupu biru yang menghiasi leher jenjangnya, kini kalung entah pemberian siapa itu menjadi kalung favorite Elina. Namun sayang Elina tetaplah Elina, dirinya memilih untuk duduk di kursi yang ada di salah satu sudut ruangan.
“Malam Elina,” sapa seorang laki-laki yang baru datang dan mendudukkan dirinya di hadapan Elina.
“Tidak bergabung dengan kakakmu?” tanya laki-laki itu.
“Tidak, aku terlalu malas untuk membicarakan bisnis,” jawab Elina.
“Malas membicarakan bisnis tapi mempunyai kafe di Swiss,”
“Dari mana kau tahu?” tanya Elina dengan tatapan tajamnya.
“Paman Nathan sempat bercerita padaku,”
“Ahh begitu. Erik, kurasa aku harus permisi. Selamat menikmati pesta,” ucap Elina yang kemudian pergi dari hadapan Erik.
“Red Flag,”
Nathan banyak mengenalkan tamu-tamu penting kepada putri bungsunya mengingat ini adalah untuk pertama kalinya Elina menghadiri acara perusahaan setelah sepuluh tahun menetap di Swiss.
“Nathan,” Nathan Adinata menolehkan kepalanya, dia melihat Theo Winarta menghampirinya bersama istri dan anaknya yang telah dia temui sebelumnya.
“Selamat atas 50 tahun kesuksesan Adinata Group,” ucap Theo seraya mengulurkan tangannya untuk memberi selamat.
“Terima kasih banyak Theo,” Nathan membalas uluran tangan itu.
“Elina semakin mirip dengan Irene, cantik dan anggun,” puji Shintia, istri Theo.
Elina mengangkat sebelah alisnya sebelum akhirnya membalas pujian yang ditujukan padanya, “Terima kasih banyak Bibi, semoga bibi sehat selalu,”
“Kuharap kita berdua bisa melalukan malam keluarga Nathan,” ucap Theo.
“Tentu saja, akan segera kuatur jadwal untuk kita,” ucap Nathan sembari menatap sang putri, sedangkan yang di tatap tak menunjukkan reaksi apa pun.
“Sial, benar-benar red flag,” batin Elina setelah menangkap maksud tersembunyi percakapan sang papa dengan rekan bisnisnya itu.
“Papa, bisakah aku izin sebentar? Aku ingin menemui Karina,”
“Tentu saja, nikmati pestanya sayang,”
“Terima kasih pa, kalau begitu Elina permisi,” Elina membungkuk memberi salam kepada keluarga Winarta sebelum akhirnya keluar dari lingkaran kecil itu.
“Karina,” Panggil Elina begitu mendapati gadis itu beberapa langkah darinya.
“Selamat malam paman,” sapa Elina begitu melihat Rendy yang tengah bersama dengan sahabatnya.
“Hai Elina, apa kabar? Sudah hampir dua bulan kau pulang tapi kita hanya bertemu ketika aku menjemputmu,”
“Kabarku baik paman, paman apa kabar? Hahaha iya paman, aku lebih banyak berdiam diri di rumah bermain bersama Rocky,”
“Kabarku baik, ah iya Wendy merindukanmu sesekali berkunjunglah ke rumah bersama Karina ya, ingin mengobrol dengan Karina?”
“Aku juga merindukan Bibi Wendy, mungkin lusa aku akan berkunjung paman. Iya paman, jadi bisakah aku meminjam Karina sebentar?” tanya Elina pada Rendy.
“Tentu saja, kalau begitu paman permisi. Karina, ayah akan bergabung dengan yang lain kalau sudah selesai kau bisa menghubungi ayah. Ingat jangan terlalu banyak minum,” pesan Rendy pada sang anak.
“Iya ayah,” jawab Karina dan setelahnya Rendy berlalu menjauh dari sang anak.
Elina memutar gelas yang berisi wine itu secara pelan, kini dirinya dan Karina tengah berdiri di sudut hall yang sepi. Saat ini kepala sungguh pusing di tambah lagi sinyal dari sang papa yang menambah beban pikirannya, ingin sekali dirinya kembali ke kamar hotel dan tidur tapi sayang sekali itu hanya anggan belaka karena nyatanya dirinya harus mengikuti pesta hingga akhir.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya Karina setelah meneguk wine miliknya.
“Aku mendapatkan red flag dari papa,” jawab Elina tanpa basa-basi.
“Red flag apa?”
“Winarta,” jawab Elina singkat namun mampu dipahami oleh sang sahabat.
“Bukankah mereka bersih?”
Elina tersenyum, senyum ragu. Dia menyesap wine miliknya.
“Aku ... tidak tahu. Aku merasa ada yang aneh dengan diriku,”
“Aneh bagaimana? Kau tak sakitkan?”
Elina tertawa pelan, “Karina ... tahukah dirimu semenjak pulang dari festival itu aku mengalami banyak hal yang menurutku tak masuk akal? Aku tidak tahu apa yang sebenarnya tengah kurasakan karena ini pertama kalinya aku merasakannya, aku bingung tapi di sisi lain aku juga takut,”
Karina mengejapkan matanya, dirinya menatap Elina dengan bingung.
“Kau merasakan apa El? Tolong ceritalah dengan jelas,” pinta Karina.
Elina memandang gelas yang ada digenggamnya dan kemudian memejamkan mata, “Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tak tahu apa yang sedang kurasakan. Rasanya aku ingin menggenggamnya dengan erat,” Elina membuka matanya, “Namun aku sadar jika pada akhirnya hal itu membuatku terluka,”
PYARR
Berbarengan dengan ucapannya yang selesai gelas wine yang digenggam oleh Elina pecah dan melukai telapak tangannya.
“Seperti inilah rasanya,” ucap Elina sembari menatap telapak tangannya yang mulai berlumuran darah.
Karina memandangi Elina dengan tatapan yang sulit diartikan, kepalanya mendadak pusing ketika melihat darah yang mulai mengalir di pergelangan tangan sang sahabat.
“Persetan dengan apa yang kau rasakan saat ini, apa kau gila?!,” sentak Karina begitu kewarasannya kembali dan tentu saja hal itu mengundang perhatian dari orang-orang di sekitarnya.
Tanpa memedulikan tatapan orang-orang, Karina menarik tangan Elina yang lain untuk menyeret gadis itu keluar dari area pesta menuju klinik terdekat untuk mengobati tangan sang sahabat.
Elina menatap telapak tangan kanannya yang kini berbalut perban, semalam setelah mengobati tangannya Karina membawa Elina kembali ke pesta yang untung saja pesta telah usai dan menyisakan beberapa orang saja. Tentu saja sang mama panik begitu melihat tangannya yang berbalut perban.
“Astaga Elina, apa yang terjadi dengan tanganmu sayang?” tanya Irene sembari memegang telapak tangan sang anak untuk melihat keadaannya.
“Shhhh,” Elina hanya mendesis kesakitan ketika telapak tangannya di pegang sang mama.
“Apa yang terjadi Karina?” tanya Nathan pada putri asisten pribadinya.
“Kecelakaan kecil paman, Elina memegang gelasnya terlalu kuat, gelas itu pecah di genggaman Elina dan ya ... tangan Elina terluka. Paman tenang saja kata dokter luka Elina tidak dalam jadi hanya butuh beberapa hari saja untuk sembuh,” jelas Karina.
“Astaga kamu ini, lain kali hati-hati sayang,” ucap Irene sembari memukul pelan lengan sang anak.
“Aduh ... iya Ma iya,”
“Sayang,”
Panggilan Irene menyadarkan Elina dari lamunannya tentang kejadian semalam.
“Iya Ma?”
“Sudah siap? Bibi Shintia baru saja menghubungi mama kalau dia sudah sampai di restoran,”
“Ah iya Ma, Elina sudah siap,”
“Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang ya,”
Tebakan Elina tentang red flag yang diberikan oleh sang papa tidaklah meleset, terbukti pagi ini sang mama mengajaknya untuk pergi menemui nyonya Winarta untuk acara minum teh, tapi Elina jelas tahu bahwa acara hari ini sebenarnya untuk mendekatkan dirinya dengan nyonya Winarta.
“Shin,” sapa Irene begitu dirinya dan Elina begitu sampai.
“Ren, El sudah sampai? Silakan duduk,”
“Maaf ya menunggu lama, biasa Jakarta macet,” ucap Irene tak enak karena membuat temannya menunggu.
“Tidak apa, mau langsung pesan makanan?” tanya Shintia
“Boleh,” Shintia kemudian memanggil waiters yang kemudian mencatat pesanan ibu dan anak itu.
“Sudah lama sekali aku ingin berbincang denganmu, sayangnya baru sekarang terlaksana,” ucap Shintia yang kemudian menyesap aroma vanila latte yang telah di pesan sebelumnya.
“Iya, aku juga ingin berbincang denganmu seperti ini, sayangnya baru ada waktu sekarang,”
“Elina, bagaimana kehidupan di Swiss? Bibi ingin mendengarnya, apakah nyaman tinggal di sana?” tanya Shintia pada Elina yang sejak tadi hanya mengamati sekitarnya.
“Swiss menyenangkan bibi, orang-orang di sana sangat ramah dan ya sangat nyaman tinggal di sana,” jawab Elina sopan.
“Benarkah? Bisa menjadi referensi tempat tinggal setelah menikah, bukan seperti itu Irene?” Shintia meminta jawaban dari Irene untuk validasi pernyataannya.
“Ah ... iya,” Irene ragu untuk menjawabnya karena takut membuat tak nyaman sang anak.
“Kalau bibi boleh tahu, kamu sudah memiliki pasa-“
Ucapan Shintia terputus oleh ponsel Elina yang tiba-tiba berdering.
“Maaf, Ma Elina izin angkat telepon ya,” izin Elina yang kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah luar restoran.
“Halo Hen,” jawab Elina seraya menempelkan poselnya ditelinganya.
“Halo El, apakah aku menganggumu?”
“Tidak, kau menelepon di saat yang tepat. Terima kasih,” jawab Elina.
“Maksudnya?”
“Benar-benar memuakkan, aku rasa papa dan mama berencana menjodohkanku dengan anak dari Winarta, saat ini aku sedang terjebak dalam pertemuan mama dan Bibi Winarta. Untung saja kau menghubungiku jadi paling tidak aku bisa menghindar sebentar dari pembicaraan yang tidak penting,”
“Jadi begitu ...,”
“Lalu ada tujuan apa kau menghubungiku?”
“Ah iya, jadi begini kemarin Mora membuat menu baru untuk kafe dan aku menghubungimu untuk meminta izin memasukkan masakan Mora ke dalam menu kafe, apakah boleh?”
“Astaga Hendery, tentu saja boleh. Pokoknya selama aku tidak ada, kafe di bawah kendalimu, semua keputusan ada padamu. Kau ingin menambah menu? Silakan tak perlu sungkan. Ah iya ngomong-ngomong tentang Mora, aku merindukannya. Apa dia sedang bersamamu?”
“Sayangnya tidak, hari ini dia tidak datang membantu mengurus kafe,” jawab Hendery
“Ahh jadi begitu, kalau begitu kututup ya,”
“Eh El, tunggu sebentar. Tentang permintaanmu yang waktu itu aku sudah mendapatkan hasilnya dan telah kukirim ke email mu,”
“Benarkah? Terima kasih banyak Dery,”
“Iya sama-sama, ya sudah kututup ya. Bye Elina,”
Benar-benar acara yang membosankan, selama pertemuan Nyonya Winarta tak henti-hentinya mengirim sinyal pada Elina bahwa wanita itu menginginkan dirinya menjadi bagian dari Winata. Beruntung sang mama tak terlalu merespons sinyal dari temannya itu. Semoga saja sang papa tidak benar-benar memiliki niatan itu.
Sesampainya di rumah, Elina segera membuka e-mail yang dikirimkan oleh Hendery. Dibacanya dengan teliti setiap data yang ada, diserapnya setiap kata yang ada dan pada akhirnya Elina berdecak kagum dengan hasil kerja sang sahabat. Tak salah dirinya mempercayai Hendery.
“Dari tiga orang hanya satu yang bersih? Benar-benar mengerikan,” komentar Elina begitu selesai membaca hasil kerja Hendery.
“Baiklah mari kita lihat apa yang akan kulakukan pada mereka.” Sebuah senyum yang jarang atau bahkan tak pernah Elina tunjukkan di hadapan orang-orang muncul dari bibir mungilnya. Senyum licik dan tatapan penuh dendam yang terus bertambah setiap detiknya, jika orang melihat maka mereka akan tahu seberapa terlukanya gadis dengan manik karamel itu.