Chapter 8 : Kupu-Kupu Biru

2089 Kata
Tidak seperti biasanya, Elina terbangun lebih pagi dari biasanya bahkan kini dirinya sudah siap dengan pakaian olahraganya. Dengan riang gadis itu menuruni tangga menuju pintu utama. Elina menarik nafas dalam-dalam menikmati udara pagi yang menurutnya membuat candu. Bau tanah yang basah akibat hujan di malam hari membuatnya rileks dan seketika beban yang dia pikul hilang walau hanya sementara. Dengan langkah kecil dirinya memulai berlari meninggalkan rumahnya menuju taman yang tak jauh dari kompleks perumahannya. Butuh waktu 20 menit bagi Elina untuk sampai di taman itu dan tak jarang pula selama perjalanan orang-orang menyapanya dan hanya sebuah senyum tipis darinya untuk membalas sapaan-sapaan itu. Taman Anggrek namanya, sebuah taman yang cukup luas untuk melakukan kegiatan olahraga ringan seperti jogging atau hanya berjalan santai dengan pasangan ataupun hewan peliharaan. Setiap pagi taman ini akan dipenuhi oleh pedagang makanan seperti bubur ayam, bubur kacang hijau, sate hingga pecel lele. Sebenarnya Elina ingin mencoba makan di pinggir jalan seperti orang-orang namun sayang pesan sang mama untuk tidak makan sembarang melekat sampai dirinya dewasa. Tiga putaran sudah Elina lalui, kini gadis yang genap berusia dua puluh tujuh tahun itu memilih untuk duduk di salah satu bangku yang ada guna mengistirahatkan kakinya sembari menikmati segarnya air mineral dingin yang telah dia beli sebelumnya. “Hai,” sapa seseorang yang baru saja menghampiri Elina. “Oh ... hai,” balas Elina sembari menatap kaget orang tersebut. “Boleh duduk?” “Silakan,” jawab Elina sembari menggeser badannya untuk memberikan ruang duduk bagi orang tersebut. “Sepertinya kita selalu tidak sengaja bertemu,” ucap Elina sembari menatap laki-laki yang kini disampingnya. “Mungkin takdir,” jawab laki-laki tersebut sembari tersenyum tipis. “Kau ... sendirian saja?” tanya Elina. “Iya. Kau juga? Sepertinya baru kali ini aku melihatmu jogging di taman ini,” “Ini pertama kalinya aku jogging di sini dan ya aku sendirian,” “Jadi begitu, sudah lama di sini?” “Hmmm mungkin hampir 1 jam,” jawab Elina sembari melihat jam tangan berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Pantas saja kau terlihat pucat pasti karena sudah kelelahan,” “Oh ya? Mungkin efek karena belum sarapan,” “Kau belum sarapan? Kalau begitu ayo ikut aku, kebetulan aku juga belum sarapan,” ucap laki-laki tersebut seraya berdiri dari duduknya dan meraih pergelangan tangan Elina. “Eh Jev,” ucap Elina terkejut dengan tindakan tiba-tibanya. Ya, Jevan lagi Jevan lagi orang yang dijumpainya. Semesta seakan-akan membuat sebuah skenario untuk mereka berdua agar selalu bertemu. “Sudah ayo ikut saja,” ucap Jevan seraya menarik pergelangan tangan Elina agar gadis itu mengikuti langkahnya. “Bubur ayam?” ucap Elina begitu langkahnya berhenti. “Iya bubur ayam, sedikit informasi untukmu ini adalah bubur ayam terenak di daerah sini selain itu harganya juga murah,” “Tunggu sebentar Jev,” cegah Elina pada Jevan yang hendak memesan. “Ada apa?” Jevan menyerit bingung. “Sebenarnya ... sebenarnya aku tidak pernah makan di pinggir jalan,” ucap Elina lirih sembari memilin ujung jaketnya. Jevan mengangkat sebelah alisnya, “Tidak pernah makan di pinggir jalan?” Yang ditanya hanya mengangguk, “Aku juga tidak suka bubur ayam,” ucap Elina sembari menunduk. Jevan tidak lagi menanggapi ucapan Elina dan memilih untuk memesan bubur ayam. “Ayo, duduk di situ saja ya,” ucap Jevan setelah memesan dan mengajak Elina duduk tak jauh dari gerobak penjual bubur ayam. “Jadi kau tak pernah makan di pinggir jalan? Kenapa?” tanya Jevan begitu keduanya mendudukkan diri di kursi. “Sejak kecil mama selalu melarang anak-anaknya untuk tidak membeli makanan yang di jual di pinggir jalan, tidak higienis katanya,” jelas Elina. “Yah ...sayang sekali padahal banyak makanan enak yang di jual di pinggir jalan. Kalau begitu kau juga tidak tahu betapa enaknya telur gulung dan cilok yang sering di jual di depan sekolah-sekolah umum,” “Kalau telur gulung aku sudah pernah mencobanya ya walaupun hanya satu tusuk dan berakhir dengan ketahuan mama,” ucap Elina dengan diakhiri kekehan geli mengingat masa lalunya. “Sebuah kenangan yang lucu,” komentar Jevan. Elina hanya tertawa mendengarnya. “Permisi mas, maaf ini buburnya,” ucap penjual bubur yang datang dengan nampan yang berisi semangkok bubur ayam. “Terima kasih pak,” ucap Jevan menerima mangkok tersebut. “Kenapa sendoknya dua?” tanya spontan Elina begitu melihat ada dua sendok di dalam mangkok bubur itu. “Satu untukku dan satu untukmu,” ucap Jevan seraya memberi Elina sendok. “Untuk apa?” tanya Elina sembari menerima sendok pemberian Jevan. “Ya tentu saja untuk makan, aku tidak memaksamu tapi siapa tahu kau penasaran dengan rasa bubur ini jadi ya ... aku meminta dua sendok,”  Elina menatap ragu mangkok yang dipegang oleh Jevan, ada rasa ingin mencoba tapi lagi-lagi pesan sang mama melintas dalam otaknya. “Tidak perlu takut Elina, ini aman tapi kalau kau ragu tak apa masih ada hari esok,” ucap Jevan. Perlahan namun pasti sendok yang di pegang oleh Elina mendekat ke arah mangkok bubur yang di pegang oleh Jevan dan mulai menyendok sedikit bubur itu dan memakannya dengan pelan. “Bagaimana? Enak?” tanya Jevan begitu Elina selesai menelan. “Hmmm tidak buruk,” “Kalau begitu ayo makan bersama,” ucap Jevan. “Eh ... tidak usah. Ini kau saja yang memakannya, kau bilang tadi belum sarapan,” tolak halus Elina. “Sudah tidak apa, kali ini aku memaksa. Apa mau kusuapi?” tanya Jevan menggoda Elina. “Tidak terima kasih,” tolak Elina yang kemudian mulai menyendok lagi bubur ayam tersebut. Di menit selanjutnya hanya ada obrolan obrolan ringan mengenai kehidupan keduanya dan sesekali Jevan melontarkan candaan pada Elina yang membuat gadis itu tertawa. Dua puluh menit berlalu setelah membayar, Jevano dan Elina jalan beriringan menuju pintu keluar taman sembari membahas hal-hal kecil. “Mari kuantar pulang,” tawar Jevan pada Elina begitu mereka sampai di depan mobil milik Jevano. “Eh tidak usah. Aku jalan kaki saja, lagi pula hanya dua puluh menit dari sini,” tolak Elina pada tawaran Jevano. “Sudah tidak apa, ayo,” ucap Jevano seraya membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Elina dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil serta jangan lupakan tangan Jevano yang siap melindungi kepala Elina agar tak terantuk bagian mobilnya. Gadis itu hanya diam menuruti Jevano dan duduk dalam mobil dengan tenang walau tidak dengan hatinya. Setelah memastikan Elina duduk dengan nyaman, Jevano berjalan mengitari mobil menyusul Elina yang telah menunggu di dalam mobilnya. Perjalanan dari taman anggrek menuju kediaman Adinata benar-benar terasa singkat, saking singkatnya tidak ada topik yang mereka bicarakan. “Terima kasih atas tumpangannya Jev,” ucap Elina seraya melepas sabuk pengamannya begitu mobil Jevano berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. “Sama-sama Elina,” jawab Jevano. “Kalau begitu aku turun, sekali lagi terima kasih dan hati-hati di jalan,” ucap Elina yang setelahnya membuka pintu mobil dan keluar. Jevano menurunkan kaca mobilnya. ”Sampai jumpa lagi El,” ucap Jevano yang kemudian membunyikan klakson mobilnya sebagai tanda berpamitan pada Elina. Setelah memastikan mobil Jevano hilang dari pandangannya, Elina memutuskan untuk masuk ke rumah. “Maaf Non, ini ada paket buat Non Elina,” ucap Pak Agus seraya menyerahkan paper bag berwarna silver pada anak majikannya. “Dari siapa pak?” tanya Elina sembari menerima paper bag itu. “Maaf Non, saya kurang tahu karena kurir yang mengirim ke sini,” jawab Pak Agus. Elina mengangguk paham, “Kalau begitu terima kasih pak, paketnya saya terima,” Dengan langkah ringan, Elina memasuki rumahnya yang mulai ramai dengan para pelayan yang tengah melakukan tugasnya dan di sambut oleh sang mama yang tengah menyiapkan sarapan begitu dirinya melewati dapur. Ada dua peraturan yang harus ditaati oleh seluruh pegawai di kediaman Adinata, tidak ada yang boleh menyentuh dapur dan kamar utama selain Nyonya Adinata. Maka dari itu sesibuk apa pun Irene dirinya tetap menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya serta membersihkan sendiri kamar yang dia tempati bersama sang suami. Baginya dapur dan kamar utama merupakan tempat yang sakral bagi seseorang yang telah menikah, maka dari itu tidak ada satu pun orang yang boleh menyentuhnya. “Elina? Dari mana sayang? Tadi mama cek ke kamar tidak ada?” tanya Irene begitu melihat anaknya datang. “Pagi Ma, Elina dari taman depan kompleks Ma. Jogging,” jawab Elina seraya melangkah mendekat ke arah sang mama dan mencium pipi wanita yang hampir setengah abad itu. “Lalu itu apa?” tanya Irene ketika melihat paper bag yang dibawa sang anak. “Ah ... ini, ini paket Ma,” jawab Elina seraya mengangkat paper bag itu sejajar dengan wajahnya. “Dari siapa?” “Elina tidak tahu, mungkin dari teman Elina yang ada di Swiss,” “Ya sudah kalau begitu kamu lekas bersih-bersih lalu kembali kesini untuk sarapan. Sebentar lagi papa dan kakak akan turun,” suruh Irene. “Siap Ma,” ucap Elina yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Elina melirik paper bag yang dia taruh di atas meja riasnya. Diraihnya paper bag itu dan mengeluarkan sebuah kotak beserta kartu ucapan yang ada didalamnya. “Happy birthday E,” ucap Elina membaca ucapan yang diberikan kepadanya. “Bahkan ketika aku telah pulang ke Indonesia pun kau tetap mengirim hadiah. Siapa sebenarnya dirimu?” Sarapan pagi ini menjadi sedikit meriah mengingat hari ini adalah hari ulang tahun bungsu Adinata, 13 Agustus. “Morning,” sapa Nathan begitu bergabung dengan keluarganya di meja makan. “Ah iya, selamat ulang tahun Elina,” lanjutnya sembari menatap lembut sang anak yang duduk di samping kirinya. “Terima kasih papa,” ucap Elina dengan senyum manisnya. “Malam ini kita akan dinner di restoran teman papa, jadi papa harap Jayden mengosongkan jadwalnya,” “Siap Pa, mana mungkin Jay tidak datang. Kan dinner malam nanti spesial untuk Elina,” ucap Jayden. “Mah, Jihane jangan lupa di beritahu,” pesan Nathan pada sang istri. “Iya sayang, kalau begitu ayo makan,” Tuan Adinata menatap anak bungsunya dengan tatapan penuh cinta kasih, tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Bayi mungil yang selalu dia timang-timang kini telah menjelma menjadi gadis cantik nan anggun. Adinata benar-benar menyayanginya, diberkatilah Elina yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Malam harinya, Nathan membawa keluarganya ke salah satu restoran Italia yang ada di daerah Jakarta Selatan, sudah ada Jihane dan Adrian yang menunggu mereka. “Akhirnya papa datang juga,” ucap Jihane yang kemudian memeluk satu persatu anggota keluarganya. “Selamat ulang tahun Elina,” ucap Jihane seraya memeluk sang adik. “Terima kasih Kak,” ucap Elina seraya mengurai pelukannya dengan sang kakak. “Halo Kak,” sapa Elina pada sang kakak ipar yang hanya dibalas dengan sebuah senyum. “Sudah lama menunggu?” tanya Irene setelah menempatkan dirinya duduk di samping sang suami. “Baru 10 menit Ma,” jawab Adrian. “Maaf ya menunggu lama,” Adrian hanya tersenyum menanggapi permintamaafan ibu mertuanya. “Pelayan,” Nathan mengintruksi pelayan untuk segera mengeluarkan makanan yang telah dia pesan sebelumnya. Satu persatu masakan Italia dihidangkan, mulai dari appetizer mulai tertata rapi meja berbentuk oval itu. “Elina sudah genap 27 tahun, jadi kapan akan mengenalkan kekasihnya pada papa?” tanya Jihane tiba-tiba yang tentu saja membuat Elina yang tengah meminum beer tersedak. “Astaga sayang pelan-pelan saja minumnya,” ucap Irene seraya memberikan selembar tisu pada sang anak. “Maaf Ma,” ucap Elina sembari menerima tisu tersebut dan membersihkan area mulutnya. “Ah itu ... nanti pasti Elina kenalkan pada Papa dan Mama. Lagi pula saat ini Elina tidak memiliki kekasih, jadi ya ... tunggu saja,” jawab Elina sedikit tergagap. “Loh bukannya waktu itu kau bilang sudah – aduh,” ucap Jayden terputus karena ulah Elina yang sengaja menginjak kaki kakaknya. “Kenapa Jay?” tanya Nathan bingung pada anak keduanya yang tiba-tiba kesakitan. “Itu Pa ... ada semut yang mengigit kaki Jay,” jawab Jayden tergagap ketika melihat sinyal dari sang adik. Sebuah pesan masuk pada ponsel Jayden. “Itu hanya alibi agar tak terjebak di topik yang membosankan.” “Kalungmu baru El?” tanya Jihane yang mengganti topik pembicaraan mereka malam itu. Reflek Elina menyentuh kalung dengan liontin berlian berbentuk kupu-kupu berwarna biru. “Iya kak, hadiah dari teman,” jawab Elina. “Temanmu mempunyai selera yang bagus,” puji sang kakak atas kalung yang dirinya pakai. Makan malam kali benar-benar intens. Tak ada pembicaraan tentang bisnis, selayaknya keluarga pada umumnya keluarga Adinata bersendau gurau dengan berbagai lelucon yang kadang Jayden lontarkan ataupun cerita-cerita masa lalu ketika mereka anak-anak yang membuat Adrian juga semakin memahami adik-adik iparnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN