Seperti yang telah dijadwalkan oleh sang mama, pukul sebelas siang Elina telah sampai di restoran milik mamanya untuk melakukan food testing menu baru di restoran itu.
“Selamat datang nona, mari saya antar ke ruang VVIP,” ucap seorang pelayan begitu Elina memasuki restoran milik sang mama.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya Elina begitu sampai di ruang yang telah disiapkan oleh pihak restoran.
“Sudah nona, semua sedang disiapkan oleh Chef Danu,” jawab sang pelayan.
“Baiklah kalau begitu, kau boleh kembali ke depan,” ucap Elina pada sang pelayan.
“Baik nona,” pelayan tersebut undur diri.
Lima menit Elina menunggu akhirnya head chef restoran datang dengan service stand trolley yang berisi makanan yang akan di test kelayakannya.
“Selamat siang Nona Elina,” sapa Chef Danu, si head chef.
“Hai chef,” sapa Elina riang.
Chef Danu mulai meletakkan satu-persatu makanannya, kali ini hanya ada 2 macam menu yang akan dicicipi oleh Elina.
“Pizza kimbap dan Chiken Steak dengan saus ubi,” ucap Chef Danu seraya meletakaan dua hidangan tersebut di meja.
“Wow,” ucap Elina begitu melihat plating hidangan itu.
“Selamat menikmati nona,”
“Hanya aku saja? Chef tidak?” tanya Elina ketika hanya ada masing-masing satu piring dish.
“Saya tidak,”
“Kalau begitu selamat makan chef,”
Elina mulai memotong pizza kimbap yang dihidangkan untuknya dan memakannya secara pelan-pelan untuk merasakan setiap rasa yang di hidangan itu.
“Apakah isinya udang?” tanya Elina setelah menelan habis pizza itu.
“Iya nona, udang saus merah. Secara basic pembuatannya sama seperti kimbap pada umumnya yang kemudian kita kreasikan dengan bentuk pizza dan melted chees sebagai toping,” jelas Chef Danu.
“Apakah chef hanya membuat satu varian saja?” tanya Elina.
“Untuk saat ini ya, hanya udang saja,”
“Bukankah kalau udang akan mirip dengan sushi? Tapi menurutku itu tidak masalah asalkan bau amis yang ada di udang diatasi dengan sempurna, sayang sekali hanya ada satu varian. Bisakah kita menambah variannya? Ayam, tuna, beef, perlu juga kita mencoba dengan alpukat,” ucap Elina memberi masukan pada sang head chef.
“Itu masukan yang berarti bagi kita nona,”
“Baiklah sekarang kita coba Chiken Steak,” ucap Elina sembari mendekatkan piring berisi chiken steak dengan saus ubi kepada nya.
Elina mencium terlebih dahulu steak tersebut sebelum akhirnya mengambil potongan kecil untuk dia cicipi.
“Apakah ini resep pertama? Maksudnya apakah sebelumnya chef telah coba-coba resep sebelumnya?” tanya Elina setelah merasakan steak tersebut.
“Ini adalah percobaan ketiga dan saya merasa resep ini yang paling sempurna,” jawab Chef Danu.
“Begitukah? Sausnya masih sedikit terasa pahit,” ucap Elina sembari menyerahkan piring yang berisi cake itu.
Chef Danu mencoba sedikit saus buatannya dan benar saja dia melewatkan sedikit bagian dari saus itu.
“Benarkan?”
“Sayang sekali, padahal saya sudah mencicipinya berulang kali,” jawab sang chef.
“Ini menjadi tugas chef untuk mencari tahunya,” ucap Elina.
“Baiklah kalau begitu akan saya perbaiki lagi dish ini,” ucap Chef Danu.
“Oh iya, apakah mama sudah melakukan food testing dish ini?” tanya Elina setelah meminum lemon tea kesukaannya.
“Nyonya akan food testing besok nona,”
“Syukurlah, itu artinya chef bisa memperbaiki resepnya dan menambah varian menu untuk pizza kimbap ini,” ucap Elina.
“Kenapa tidak membuka restoran sendiri nona? Saya lihat nona mempunyai potensi di makanan,”
“Tujuanku pulang ke Indonesia bukan untuk berbisnis chef, lagi pula restoran mama sudah cukup besar dan akan terus berkembang bukan begitu chef,” jawab Elina.
Tok Tok
Pintu ruangan VVIP itu diketuk dari arah luar.
“Ya, masuk,” ucap Elina.
“Maaf Nona Elina, Chef Danu. Ada yang ingin bertemu dengan nona Elina,” ucap pelayan tadi yang mengantarkan Elina.
“Siapa?” tanya Elina bingung karena tidak ada yang tahu dia di sini selain keluarganya.
Dan seorang laki-laki muncul dari balik badan si pelayan itu.
“Hadden?” Elina menatap tak suka laki-laki itu.
“Chef, kurasa food testing kita sampai di sini saja ya,” ucap Elina seraya mengalihkan pandangannya menatap Chef Danu.
“Baiklah nona, semoga hari anda menyenangkan,” ucap Chef Danu sembari membereskan hidangan yang dia bawa.
“Tolong bersihkan,” perintah Elina pada pelayan tersebut untuk membersihkan meja yang ada di hadapannya.
“Silahkan duduk,” ucap Elina pada Hadden setelah meja tersebut bersih.
“Mau apalagi kau ?” tanya Elina tanpa basa-basi.
“Sebelumnya maaf telah mengganggu waktumu El, tapi ada yang ingin aku bicarakan padamu,” ucap Hadden.
“Masalah apalagi? Bukankah sudah sangat jelas kalau aku menolak kehadiranmu disekitarku? Dan kurasa sepupumu Adrian juga sudah mengatakannya padamu, jadi kupikir tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,” ucap Elina
“Aku meminta maaf sekali padamu, tapi tak bisakah kau memberiku kesempatan? ”
“Tak tahu malu,” batin Elina.
“Kesempatan untuk apa? Untuk menjadikanku batu loncatan?” tanya Elina sarkas.
“Jaga ucapanmu Elina, aku benar-benar tertarik padamu. Kusinggirkan harga diriku demi meminta izin padamu untuk mendekatimu,” ucap Hadden dengan sedikit menaikkan oktav suaranya karena tak terima dengan ucapan Elina, dirinya merasa direndahkan.
“Hadden Bamantara, sekali lagi kutegaskan padamu bahwa aku menolak perasaanmu. Aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu. Maaf dan permisi,” ucap Elina yang kemudian keluar dari ruangan itu.
Begitulah Elina Adinata bila dirinya merasa tak suka hal yang mengganggunya maka secara nyata dirinya akan langsung menunjukkan ketidaksukaannya pada hal tersebut. Begitu pula dengan apa yang dia lakukan pada Hadden Bamantara. Elina secara langsung menyatakan bahwa tak ada kesempatan bagi Hadden untuk mendekatinnya. Selain karena tak ingin dijadikan batu loncatan, Elina juga tak suka dengan kepribadian Hadden yang sombong. Memang sedikit berbeda dengan Adinata yang lain namun inilah Elina yang sebenarnya.
“Hadden Bamatara ... kuharap kau tak melewati batas lebih jauh lagi,” ucap Elina sembari mencengkram kemudinya.
Tak mau menunggu lama lagi akhirnya Elina memutuskan melajukan mobilnya untuk kembali membelah jalanan Kota Jakarta hingga tanpa terasa dirinya berhenti di sebuah taman yang tak jauh dari komplek perumahannya dan Elina memutuskan untuk singgah sebentar di sana sembari mendinginkan pikirannya.
“Banyak yang berubah, dulu masih banyak pohon-pohon besar sekarang sudah dipenuhi wahana bermain. Time flies to fast, “ ucap Elina setelah memilih untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman itu.
Ingatan-ingatan masa kecilnya tiba-tiba saja menghampirinya, di taman ini dulu dia bermain sepatu roda bersama Jadyen dan di taman ini pula dia sering tertangkap basah oleh mama ataupun Jihane ketika tengah membeli makanan yang di jual disekitaran taman. Senyum kecil muncul pada bibir tipis Elina, betapa menyenangkannya masa kecilnya. Namun tiba-tiba lamunan Elina dibuyarkan dengan satu cup ice cream yang muncul tiba-tiba di hadapannya.
“Jevan?” Elina menyeritkan keningnya ketika mengetahui orang yang memberinya ice cream adalah Jevano, laki-laki yang dia jumpai ketika pernikahan kakaknya.
“Sendirian saja?” tanya Jevan seraya memberi isyarat pada Elina untuk menerima ice cream yang dia tawarkan.
“Terima kasih,” ujar Elina seraya mengambil ice cream yang disodorkan padanya.
“Sedang apa di sini?” tanya Jevan sekali lagi.
“Hanya mengingat masa kecil,” jawab Elina sebelum akhirnya memasukkan sesendok ice cream kemulutnya.
“Kau sendiri mengapa ada di sini?” tanya Elina begitu ice cream yang di makan telah meleleh sepenuhnya di dalam mulut mungilnya.
Elina hanya mengangguk paham setelah mendengar jawaban Jevan.
“Kau darimana? Baru menyelesaikan jadwal?” tanya Jevan sebelum menyuap sesendok ice cream ke mulutnya.
“Hmmm, aku baru saja dari restoran mama untuk food testing, kau?” Elina kembali menyendok ice cream rasa vanilanya.
“Aku hanya kebetulan lewat dan tak sengaja melihatmu di sini jadi ya ... aku menghampirimu,” jawab Jevan.
“Sama sepertimu, aku baru saja dari kantor,” jawab Jevan.
“Jevan ...” panggil Elina.
“Hmmm?” Jevan menatap gadis di sampingnya dengan tatapan bertanya.
Elina yang semula menatap lurus ke depan kini beralih menatap laki-laki yang ada di sampingnya.
Manik karamel itu menatap obsidian hitam yang kini tengah menatapanya dengan tatapan yang sulit baginya untuk mengartikannya. Ada perasaan aneh yang Elina rasakan diseperkian detiknya yang membuat dirinya dengan cepat memutus interaksi matanya dengan Jevan dan kembali menatap ke arah depan.
“Mmmm, apakah menurutmu menjadi anak seorang pembisnis yang di kenal banyak orang menyenangkan?” tanya Elina lirih.
“Bagiku itu menyenangkan,” jawab Jevan tanpa pikir panjang.
“Walaupun privasi kita di langgar dan juga dengan rentetan jadwal yang menanti kita setiap harinya?”
“Bukankah itu semua konsekuensi yang harus kita tanggung? Memang menyebalkan ketika banyak orang mulai mengorek informasi kehidupan pribadi kita tapi asalkan tidak sampai menganggu keluarga bagiku tidak masalah dan untuk jadwal itu sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang anak bukan? Aku sebagai calon pemimpin untuk Danendra group memiliki jadwal yang dapat menunjang performa dan pembelajaranku di masa depan, kau sebagai anak bungsu mungkin jadwalmu tidak sebanyak Kak Jayden tapi tetap saja itu semua juga demi dirimu. Ada satu hal yang dapat kita petik dari semua jadwal itu, pengalaman. Kita bisa menceritakan pada anak-anak kita, mereka bisa tahu hal apa yang harus dilakukan ketika menjumpai sebuah masalah, ya walaupun semua itu terkadang melelahkan,” jelas Jevan.
“Kau benar, pengalaman. Kau hebat bisa berpikir sejauh itu, pasti perempuan yang menjadi istrimu sangat beruntung,” puji Elina.
“Tidak, kau yang beruntung Elina,” sanggah Jevan.
“Huh? Maksudnya?”
“Sudah hampir pukul satu, aku duluan ya. Ada rapat yang harus kuhadiri, bye Elina,” ucap Jevan yang kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh meninggalkan Elina yang masih kebingungan karena ucapannya.