Chapter 6 : Masalah

1929 Kata
Pukul tujuh malam Elina keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama dengan keluarganya namun dirinya dikagetkan dengan kedatangan kakak pertamanya yang kini tengah di ruang makan membantu sang mama mempersiapkan hidangan.  “Loh kakak ke rumah?” tanya Elina begitu melihat kakak pertamanya di ruang makan, karena setelah menikah Jihane langsung di boyong ke kediaman Bamantara jelas saja Elina sedikit kaget melihat sang kakak ada di rumah.  “Hai El, iya kakak ke rumah. Mamah titip bolu pisang dari toko jadi kakak mampir ke rumah,” jelas Jihane pada adik bungsunya. “Menginap?”  “Tidak, sebentar lagi Adrian ke sini untuk dinner bersama lalu pulang,” jawab Jihane. “Kukira kakak akan menginap, ya sudah kalau begitu aku izin ke taman depan ya,” ucap Elina meminta izin. “Taman depan? Untuk apa? Sebentar lagi makanan siap Elina,” ucap Irene yang sejak tadi fokus menyiapakan makan malam bersama pelayan akhirnya bersuara. “Mau bermain dengan Rocky mah, sebentar saja kok,” ucap Elina. “Ya sudah sana, hanya lima menit saja ya sudah malam kasian Rocky kalau harus bermain terus,” ucap Irene memberikan izin pada putri bungsunya. “Siap ibu negara,” ucap Elina sembari memberi hormat pada sang mama. “Kamu ini ada-ada saja sudah sana ke depan,”  Elina hanya mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda sang mama dan kemudian berjalan keluar menuju kandang anjing keluarganya, Rocky. “Rockyyy ...,” panggil Elina pada seekor anjing berwarna putih salju berjenis samoyed. Rocky yang mendengar sang pemilik memanggilnya dengan antusias bangun dari tidurnya dan mendekati pintu kandang. “Kau kenapa tampan sekali? Tapi sayang belum memiliki pasangan,” ucap Elina sembari memainkan bulu halus Rocky dari sela-sela besi kandang. “Sama seperti pemiliknya,” ucap seseorang tiba-tiba dari belakang Elina yang membuat Elina menoleh ke belakang. “Kak Adrian,” ucap Elina setelah mengetahui orang yang datang. “Hai El, apa kabar?” tanya Adrian. “Baik kak, kakak mau jemput Kak Jihane ya? Dia ada di ruang makan bersama mama,” ucap Elina. “Iya, tadi Jihane sudah memberitahu kakak. El ada yang ingin kakak tanyakan padamu,” ucap Adrian. “Bertanya tentang apa?” “Apa benar waktu pernikahan kami Hadden mendekatimu?” tanya Adrian pada Elina yang dapat dia lihat jelas perubahan ekspresi wajah adik iparnya ketika menyebut nama Hadden. “Ada apa memangnya?” tanya Elina. “Benar dia meminta nomor teleponmu?” “Benar, tapi tidak ku berikan. Apakah dia mengadu padamu dan meminta padamu?” tanya Elina mulai menunjukkan ketidaksukaannya pada topik pembicaraan. “Tidak, dia tidak mengadu pada kakak. Dia sempat memintanya padaku tapi aku tidak memberikannya padanya,” jawab Adrian. “Lantas apa yang menganjal padamu sehingga menanyakannya padaku?” tanya Elina. “Hadden adalah anak dari sepupu ayahku dan aku mengenalnya sebagai anak yang baik dan bertanggungjawab ...” ucap Adrian mengantung seraya memperhatikan wajah adik iparnya dan yang di tatap tentu saja tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Lalu?” tanya Elina jengah. “Ini pertama kalinya dia bercerita mengenai seorang perempuan padaku ...,” “Itu karena perempuan yang dia maksud berasal dari Adinata, keluarga istrimu,” ucap Elina memotong ucapan Adrian. “El, bisakah kakak meminta padamu untuk sekali ini saja membuka hati untuk seorang pria? Karena kurasa Hadden bener-benar menaruh rasa padamu,” ucap Adrian memohon pada adik iparnya. Sudut bibir Elina berkedut ketika mendengar ucapan kakak iparnya. “Adrian Bamantara ...,” ucap Elina sinis pada laki-laki dihadapannya sedangkan yang di panggil hanya mampu kaget, karena untuk pertama kalinya seorang Elina berkata tak sopan padanya. “Ketika kau mengajak kakakku untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih aku tidaklah setuju, karena apa? Karena keluarga kita sama-sama pembisnis, cinta karena bisnis sudah lazim di lingkungan kita. Namun ketika kau menunjukkan keseriusan cintamu dengan melamar kakakku dan menunjukkan ketulusanmu padanya maka sejak saat itu aku menghormatimu sebagai kakak iparku. Namun kurasa kau belum pantas mendapatkan hormatku sebagai adik ipar secara penuh, karena kau telah melewati batas,” ucap Elina sembari menatap datar lawan bicaranya. “Kau tahu mengapa aku menolak kehadiran Hadden secara terus terang? Karena dia hanya akan menjadikanku batu loncatan menuju kesuksesan,” ucap Elina sarkas. “Kau ...,” Adrian tidak bisa berkata-kata setelah mendengar ucapan adik iparnya. “Aku tahu kau tidak berpikir seperti itu, kau tulus mencintai kakakku namun sayang Bamantara yang lain tidak berpikir seperti itu. Bamantara yang lain menganggap dirimu sebagai gerbang kesuksesan mereka, sebagai batu loncatan untuk mendekati Adinata,” ucap Elina yang kemudian berlalu meninggalkan Adrian yang tengah termenung memikirkan ucapan dirinya. “El, apa kau bertemu dengan Adrian di taman? Dia mengabari kalau hampir sampai,” tanya Jihane pada Elina ketika gadis itu melewati ruang makan. “Ada di depan,” jawab Elina tanpa berhenti dan memandang sang kakak, dirinya terus berjalan menuju tangga untuk menuju kamar. Jihane yang melihatnya hanya menyeritkan alis dan merasa aneh pada adik perempuannya yang terpaut 6 tahun dengannya. “Elina kenapa Ji? Bukankah tadi baik-baik saja?” tanya Irene. “Tidak tau mah, mungkin terjadi sesuatu di depan,” Sesampainya di kamar Elina hanya mampu menghembuskan nafasnya, tidak ada ruang baginya untuk melampiaskan amarah. Semuanya dia tahan dan tetap tersimpan dalam hati. Diambilnya telepon genggam, dompet serta kunci mobil yang tergelak di nakas samping tempat tidurnya dan kemudian keluar dari kamarnya. “El? Mau ke mana?” tanya Jayden ketika melihat adiknya berjalan melewati ruang makan. “Aku harus menemui Karina,” jawab Elina. “Tapi ini sudah waktunya makan malam sayang, besok saja ya ketemunya lagi pula ini sudah malam,” ucap Nathan menahan putrinya pergi. “Tidak bisa pah, kalian makan saja. Aku pergi dulu,” ucap Elina yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobilnya terparkir di garasi. Mini Cooper merah milik Elina membelah jalanan Jakarta yang masih terpantau ramai menuju ke arah selatan. Mengabaikan panggilan telepon dan pesan yang masuk, satu setengah jam Elina mengemudi hingga akhirnya dirinya sampai di tempat yang dia tuju. Apartemen pribadi miliknya, tak ada seorang pun yang tahu tentang tempat itu. Apartemen yang di beli dua setengah tahun lalu merupakan saksi bisu untuk segala keluh kesah Elina yang tak mampu Elina tunjukkan di hadapan keluarganya. Dibukanya pintu kamar dengar kasar dan seditik kemudian terdengar tangisan yang terdengar pilu bagi yang mendengarnya. “Bunda ... aku lelah,” ucap Elina di sela-sela tangisannya. “Aku lelah terus berpura-pura, rasanya sesak sekali di sini,” ucap Elina semari memukul-mukul dadanya. “Apa yang harus ku lakukan,” ucap Elina sembari menatap refleksi dirinya di cermin yang ada dihadapannya. Elina paling tidak suka jika seseorang mencoba menembus pertahanannya, sejauh ini hanya dua orang yang mendapat kepercayaan darinya, Karina dan Hendery lah orangnya. Namun tentu saja perlu waktu yang lama untuk mendapatkannya. Sudah disebutkan di awal jika Elina sulit untuk mempercayai orang dan tentu saja ada alasan yang kuat dibaliknya yang akan terungkap seiring berjalannya waktu. Sementara itu di kediaman Adinata, sang nyonya besar mondar mandir di ruang keluarga sembari terus mencoba menghubungi putrinya. Setengah jam yang lalu dirinya menghubungi Karina apakah Elina masih bersama atau tidak namun yang jawabannya yang diterimanya justru membuatnya panik. “Maaf bibi, tapi Elina tidak bersamaku. Kami berpisah di mall sore tadi,” “Irene, sudah kau duduk saja. Tenang, aku yakin Elina akan baik-baik saja,” ucap Nathan menenangkan sang istri. “Bagaimana bisa aku tenang kalau Elina saja tidak bisa dihubungi!” ucap Irene. “Mah, aku sudah mendapatkan lokasi terakhir Elina sebelum ponselnya tidak aktif,” ucap Jayden. “Di mana lokasinya?” tanya Irene tak sabar. “Menurut Theo GPS Elina terakhir menuju arah Bogor,” ucap Jayden sembari menunjukkan hasil pelacakan yang dilakukan oleh temannya. “Bogor? Mengapa dia kesana?” Nathan bingung dengan yang sedang terjadi. “Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Sepulang pergi dengan Karina dia masih baik-baik saja, namun setelah bermain dengan Rocky dia terlihat sangat emosi,” ucap Irene. “Aku yakin telah terjadi sesuatu antara Elina dan Adrian. Elina bertemu dengan Adrian ketika Elina bermain dengan Rocky, tapi mengapa tadi sikap Adrian biasa saja,” Jayden mengungkapkan praduganya. “Sudah, tenang semua. Kalau sampai besok pagi Elina belum bisa dihubungi kita lapor polisi, sekarang semuanya kembali ke kamar,” putus Nathan yang sebenarnya juga khawatir akan keadaan sang anak. Pagi menjelang, mata karamel yang semalam dipenuhi air mata kini perlahan mengerjab menyesuaikan cahaya yang masuk, pusing mendera kepala gadis itu. Elina ketiduran akibat lelah menangis di tambah lagi semalam tidak ada satupun makanan yang di cerna oleh perutnya.  “Shhh,” desis Elina pelan sembari memegang kepalanya diambilnya ponsel yang tergelak di sampingnya dan kemudian menghidupkannya. “Pukul 8? Pasti mama panik mencariku,” ucap Elina begitu layar handphonenya menunjukkan jam digital dan benar saja setelah sistem handphone. “Aku harus bergegas pulang, mari Elina gunakan topengmu kembali dan bersiap menjawab pertanyaan tuan dan nyonya Adinata,” ucap Elina yang kemudian bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Tepat sesuai dugaan Elina, begitu gadis itu memasuki ruang utama terlihat kedua orangtuanya telah duduk menunggu kedatangannya. “Elina Putri Adinata,” ucap Nathan begitu sang putri datang. Elina memejamkan mata begitu mendengar sang papa memanggil namanya secara lengkap, sudah pasti papanya marah besar. “Ya pa,” ucap Elina lirih. “Duduk, papa mau bicara,” perintah Nathan pada anak gadisnya dan tentu saja dilaksanakan oleh Elina “Dari mana saja kamu?” tanya Nathan to the point begitu Elina mendudukkan dirinya di hadapan orangtuanya. “Elin ... Elina ...” jawab Elina terbata-bata. “Jawab Elina, kau bilang akan bertemu dengan Karina tapi apa? Kau tidak bertemu dengannya bukan? Semalam pergi ke mana dirimu?” tanya Nathan menggebu. “Maaf telah berbohong pada mama dan papa, semalam ... Elina pergi ke Bogor pah,” jawab Elina jujur. Tentu saja dia menjawab jujur karena bagaimapun Elina yakin kedua orangtuanya telah melacaknya melalui GPS handphone nya. “Bogor? Bagaimana bisa kamu sampai ke sana? Menemui siapa kamu?” tanya Irene yang akhirnya bersuara. “Tidak, Elina tidak menemui siapa pun. Elina hanya terus mengemudi hingga tanpa sadar sudah sampai Bogor,” jawab Elina. “Elina ... jujur dengan mamah apa terjadi sesuatu antara kamu dan Adrian?” tanya Irene. Mata Elina bergerak gelisah, tak menyangka bahwa sang mama menanyakan hal itu. “Itu ...” “Jawab yang jujur sayang,” “Elina dan Kak Adrian ... hanya terlibat perdebatan kecil yang membuat Elina tidak bisa mengontrol emosi jadi Elina memilih untuk menenangkan diri daripada merusak suasana makan malam, Elina menginap di hotel kok, sendirian,” jelas Elina. “Perdebatan apa?” tanya Nathan pada Elina. “Hanya ... perdebatan kecil pah bukan hal yang serius. Elina meminta maaf ya kalau semalam membuat papa, mama dan Kak Jayden panik, sungguh Elina tidak bermaksud begitu,” ucap Elina meminta maaf tulus karena telah membuat keluarganya panik. “Mama maafkan tapi kamu harus janji ini yang pertama dan terakhir kali,” ucap Irene. “Janji, Elina janji mah pah,” ucap Elina sembari mengacungkan jari kelingking kanannya sebagai tanda janjinya. “Ya sudah kalau begitu cepat kamu mandi lagi lalu jangan lupa ke restoran untuk food testing,” ingat Irene pada sang bungsu. “Iya mama, Elina ingat. Kalau begitu Elina pamit ke kamar ya,” ucap Elina yang kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya. “Pah, apa sebaiknya kita tanya pada Adrian tentang perdebatan antara dia dan Elina?” tanya Irene pada sang suami begitu Elina telah menjauh dari mereka berdua. “Tidak perlu sayang, baik Elina dan Adrian sudah sama dewasanya. Aku yakin mereka mampu menyelesaikannya, kita tidak perlu ikut campur,” ucap Nathan pada sang istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN