Chapter 5 : Menyadari Keanehan

1354 Kata
Masih di bulan Juli, jika di awal bulan netizen dikejutkan sekaligus dimanjakan oleh royal wedding dari keluarga Adinata, maka dipenghujung bulan netizen disuguhkan oleh gosip putra tunggal Danendra yang akan menikah. “Danendra akan menikahkan putra tunggalnya?”  “Dengan siapa Jevano akan menikah?” “Bukankah Jevano lajang? Kurasa dia akan dijodohkan,” “Menurutku perempuan itu Sisil Nareswara. Keluarga mereka sangat akrab,” “Huh? Pernikahan bisnis?” “Akankah menjadi royal wedding selanjutnya?” Elina hanya menghembuskan nafasnya malas setelah membaca komentar-komentar warganet di salah satu headline berita. Menjadi anak dari seseorang yang di kenal oleh banyak orang benar-benar menyebalkan. Tak ada ruang bebas bagi mereka, tapi terlepas dari itu semua Elina merasa bersyukur karena mempunyai orang tua bak malaikat, semua yang dilakukan oleh orang tuanya tulus tanpa mengharapkan sorotan dari publik.   Pagi ini putri bungsu Adinata itu telah memiliki janji dengan Karina untuk mengunjungi salah satu kafe yang baru saja buka di salah satu mall yang ada di dekat rumahnya. Dua gadis itu telah duduk santai sembari menunggu pesanan mereka datang. “Apa kau tidak berniat membuka cabang kafemu di sini El?” tanya Karina “Sempat ada niat itu tapi aku tidak yakin akan berjalan lancar mengingat tujuanku pulang ke Indonesia bukan untuk menikmati hidup,” jawab Elina Karina hampir tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar jawaban dari Elina. Sungguh Karina sedikit gemas dengan sahabatnya itu, sudah dinasihati supaya menikmati hidup barang sebentar saja namun tetap kekeh pada pendiriannya. “Jangan terlalu dipaksakan El, jangan sampai sejatimu berubah karena hal yang itu,” nasihat Karina pada Elina. Elina tersenyum mendengar ucapan Karina, karena pada dasarnya apa yang diucapkan oleh Karina benar. Elina merasa semakin lama ada yang berubah pada dirinya, Elina sadar dirinya telah kehilangan Elina yang selalu ceria, Elina yang selalu tersenyum dan Elina yang selalu menceritakan apa pun yang terjadi padanya kepada keluarganya. Namun nasi telah menjadi bubur dan tidak ada asap jika tidak ada api yang memicunya. Elina berjanji pada dirinya sendiri bahwa semua ini akan segera selesai dan akan dibayar lunas. “Bagaimana menurutmu? Apakah kafe ini bisa kita masukan dalam daftar kunjungan?” tanya Karina sembari menatap Elina yang tengah meminum jus mangga pesannya. “Untuk dikunjungi sesekali menurutku tak masalah. Tapi untuk rutin tidak bisa, menu di sini masih standar belum ada yang istimewa,” jawab Elina setelah menghabiskan minumannya. “Benar-benar seperti seorang kritikus,” ucap Karina. “Mau bagaimana lagi, aku juga memiliki kafe jadi bukan masalah besar untukku,” ucap Elina penuh percaya diri. “Lalu setiap kau membuat menu baru siapa yang akan menjadi food tasternya?” tanya Karina. “Tentu saja Hendery dan ... astaga aku hampir lupa,” ucap Elina sembari memukul pelan mejanya. “Lupa apa?” tanya Karina panik. “Besok aku harus ke restoran mama untuk mencoba menu barunya,” ucap Elina merasa lega karena tidak jadi melupakan jadwalnya esok hari. “Yah ... sayang sekali besok aku tidak bisa mengantarmu, aku harus menemani mama ke rumah oma,” ucap Karina. “Tidak apa, lagi pula aku sudah membawa mobil sendiri jadi tidak usah sedih begitu,” ucap Elina. “Kalau begitu bagaimana kalau kita belanja? Aku ingin membelikan Brian pakaian,” ucap Karina seraya membereskan barangnya. “Baiklah,” ucap Elina menyetujui ajakan Karina. Sembari menunggu Karina yang tengah memilih kemeja untuk sang kekasih, Elina melihat-lihat koleksi jas dan dasi mahal dihadapannya. Mata karamelnya tertuju pada sebuah jas dan dasi berwarna navi dan entah bagaimana ceritanya dua barang tersebut telah berada di genggaman Elina. “Kau membeli jas dan dasi? Untuk siapa?” tanya Karina setelah menyelesaikan pembayarannya dan melihat barang belanjaan Elina. “Tidak tahu, tiba-tiba ingin membelinya,” ucap Elina. “Aneh, jangan-jangan kau memiliki kekasih dan jas itu untuknya, benarkan? Tanya Karina penuh selidik. “Astaga Karina, harus berapa kali harus kubilang kalau aku memang tidak memiliki kekasih. Aku hanya ingin membelinya siapa tahu jas itu cocok untuk papa ataupun kakak,” ucap Elina Iya iya aku percaya, tapi jangan sampai kau bilang hari ini kau lajang tapi besok kau menikah. Oke lalu sekarang kita akan ke mana lagi?” tanya Karina. Elina memandang jam berwarna rose gold yang melingkar di tangan kanannya, “Sudah jam 12, aku masih terlalu kenyang untuk makan siang,” ucap Elina setelah melihat jam tangannya. “Bagaimana kalau nonton? Ku dengar ada beberapa film baru rilis kemarin. Mau tidak?” ajak Karina pada Elina yang sebenarnya yakin kalau ajakannya akan Elina tolak. “Boleh, aku juga sudah lama tidak ke bioskop,” ucap Elina mengiyakan ajakan Karina. “Hah? Kau yakin mau?” Karina heran karena Elina bukanlah tipe orang yang mau di ajak untuk menonton film, kecuali series Harry Potter. “Yakin, sudah ayo,” ucap Elina seraya menarik tangan Karina menuju arah bioskop. Dan sesampainya mereka di bioskop, gadis-gadis itu sepakat untuk menonton film genre komedi. Pukul tiga sore mereka telah keluar dari bioskop dan memutuskan untuk makan siang yang telah tertunda selama mereka menonton film. “Apakah orang yang sempat mengikuti kita waktu itu masih mengikutimu El?” tanya Karina sembari menikmati makanannya. “Aku sudah tidak pernah melihat mobil itu lagi tapi aku yakin aku masih diikuti,” ucap Elina. “Kau sudah bilang pada Paman Nathan?” Elina hanya menggelengkan kepalanya. “Kenapa tidak bilang? Bagaimana kalau orang itu berbuat jahat padamu?!” tanya Karina geram. “Aku tidak bilang pada papa karena aku tidak mau dia khawatir lagipula kalau aku bilang papa pasti mengirim orangnya untuk menjadi bodyguard ku, aku tidak mau ruang gerakku menjadi terbatas,” jelas Elina. “Tapi bagaimana kalau dia berbuat jahat padamu?” “Feeling ku siapa pun orang yang menyuruhnya bukanlah orang jahat. Dia hanya mengawasiku saja tidak berbuat lebih,” yakin Elina. “Dasar keras kepala,” cibir Karina. “Aku sudah selesai, kurasa setelah ini aku akan pulang saja. Mama sudah mengirimiku berbagai pesan,” ucap Elina setelah menelan suapan terakhirnya. “Baiklah kalau begitu, sekarang giliran aku yang membayar,” ucap Karina sembari mengeluarkan cardnya. “Terserah kau saja Karina Wijaya,” ucap Elina. Tepat pukul lima sore Elina telah sampai di rumah dan mengistirahatkan sebentar tubuhnya di kamar- sebelum berkumpul dengan keluarganya untuk makan malam. “Kalau di pikir-pikir aku memang sedikit aneh belakangan ini. Semenjak pulang dari festival itu aku sering bermimpi aneh, lalu semenjak bertemu dengan Jevano sering tanpa sadar aku memikirkannya dan sekarang tanpa sadar juga membeli jas dan dasi,” ucap Elina sembari menatap barang belanjaannya. “Ah iya, aku harus menghubungi Hendery,” ucap Elina yang kemudian mengambil gawainya dan menghubungi Hendery. “Hallo Der,” ucap Elina setelah sambungan teleponnya di jawab oleh sang sahabat. “Hai El, apa kabar? Apa terjadi sesuatu?” tanya Hendery di seberang sana. “Aku baik-baik saja, tidak ada yang terjadi di sini hanya saja aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” jawab Elina. “Sesuatu tentang apa?” “Kau tahu, ternyata selama ini kita atau lebih tepatnya aku melupakan sesuatu yang penting. Kita terlalu fokus pada kepala hingga melupakan ekornya,” ucap Elina serius. “Astaga kau benar, lantas apa yang kau lakukan pada ekor mereka?” “Tentu saja mencari tahu tentang mereka dan menjadikan mereka bidak catur untuk menghancurkan kepalanya,” ucap Elina dengan tatapan tajam menerawang jauh ke depan. “Ada berapa ekor?” “Tiga dan aku meminta bantuanmu untuk mencari tahu tentang mereka. Semenjak kembali ke rumah pergerakanku menjadi terbatas, papa selalu mengawasiku sehingga aku tidak bisa berbuat banyak bahkan sampai sekarang aku belum melakukan apa pun,” ucap Elina. “Tidak masalah lagi pula aku sudah sering melakukannya. Oh iya kalau kau telah bertemu dengan ekornya kau pasti sudah bertemu dengan kepalanya bukan? Apa seperti yang kau bayangkan?” tanya Hendery penasaran. “Sesuai dengan dugaan kita, sangat serakah. Oh iya aku juga hampir lupa, kurasa salah satu dari mereka akan menghubungi Mr. James, tolong kau bilang padanya untuk menghubungiku besok siang,” pinta Elina. “Baiklah kalau begitu, kalau begitu kututup teleponnya ya papa memanggilku,” ucap Hendery.  “Oke, sampaikan salamku pada Paman Jhony ya,” "Tunggu sebentar lagi, semua tawa itu akan berubah menjadi tangisan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN