Waktu terus berjalan hingga kini matahari menggantikan tugas bulan untuk menyinari bumi. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang namun Elina belum menunjukkan tanda-tanda bangun dari tempat tidurnya. Gadis dengan mata caramel itu sebenarnya telah bangun sejak 5 menit yang lalu, namun bukannya segera bangun dan membersihkan diri Elina justru melamun, hanya melamun.
Ting Tong!
Suara bel kamar hotel yeng berbunyi membuat Elina tersadar dan kembali ke alam sadarnya. Elina dengan segera bangkit dari tempat tidurnya dan menuju pintu, pintu pun terbuka dan menampilkan sang mama yang tersenyum kepadanya.
“Kamu baru bangun sayang?” Irene merasa bersalah karena telah mengganggu tidur nyenyak sang anak.
“Ngga Mah, udah dari tadi kok, Ada apa Mah?”
Irene menyerahkan gaun milik Elina yang akan digunakan malam nanti. “Ini gaun punya kamu ternyata masih ada di kamar mamah, jadi mamah bawa ke sini deh,”
“Terima kasih Mah,” ucap Elina sembari menerima gaun yang di bawa oleh sang mama.
“Kalau begitu mamah ke venue dulu ya, kamu mandi lalu brunch, jangan sampai skip makan nanti mama jewer kalau ketahuan ga makan,” ucap Irene.
“Iya mamah, mamah juga jangan kecapean ya,” ingat Elina pada sang mama.
“Iya sayang ... sudah sana tutup pintu lalu mandi,” ucap Irene yang kemudian melenggang pergi dari hadapan sang anak. Setelah sang mama pergi Elina bergegas mandi sesuai pesan sang mama.
Tiga puluh menit kemudian Elina sudah duduk di restauran hotel sembari menikmati puding pandan kesukaannya. Namun lagi-lagi waktunya terganggu dengan laki-laki semalam yang juga mengganggu waktunya, menurut Elina.
“Hai ketemu lagi,” sapa Hadden.
Dan lagi-lagi Elina enggan membalas sapaan Hadden, gadis itu hanya menatap datar laki-laki yang kini duduk dihadapannya.
“Suka dengan puding pandan?” tanya Hadden yang mencoba membuka obrolan dengan Elina.
Elina menghentikan suapannya dan menyandarkan punggungnya pada kursi sembari menatap tajam pria dihadapannya. “Ada kepentingan apa kau dengan ku?” tanya Elina.
“Hmmm, sebenarnya karena ... berhubung kita telah menjadi keluarga bisakah aku meminta nomer handphone mu?” ucap Hadden sedikit ragu setelah melihat respon tak mengenakan dari Elina.
Elina mengangkat sebelah alisnya begitu mendengar ucapan Hadden, keluarga katanya?
“Ku rasa kau salah. Yang menjadi bagian Bamantara bukan diriku, bukan Elina Adinata melainkan Jihane Adinata. Jadi kurasa kau tak bisa mendapatkannya, permisi. Oh ya satu lagi, aku tak suka pada orang yang tiba-tiba duduk dihadapanku tanpa meminta izin,” ucap Elina sembari berdiri dan kemudian melangkah kembali ke kamar.
“Sedikit sulit untuk didekati,” ucap Hadden sembari menatap punggung Elina yang kian lama kian menghilang dari pandangannya.
Pikir Elina ini adalah hari yang buruk, semenjak bangun tidur gadis itu sudah mencoba untuk mempertahankan moodnya untuk tetap bagus namun semua itu hancur ketika laki-laki dari keluarga Bamantara datang menghampirinya. Elina begitu tak suka jika ada seseorang yang mencoba melewati garis yang telah dia buat sebagai pertahanan dirinya, maka dari itu dia bersikap dingin pada semua orang tanpa melihat nama belakang orang tersebut. Enggan memikirkannya lebih jauh Elina memilih bergegas kembali ke kamar guna mempersiapkan diri untuk acara malam nanti, karena Elina yakin jiwa dan raganya akan lebih lelah dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Malam begitu tenang mengiringi kebahagian Jihane Adinata yang kini telah sah menjadi bagian dari Bamantara, musik-musik klasik terdengar di setiap sudut ballroom yang telah di sulap bak istana. Berbagai bunga segar dan batuan kristal menghiasi singgahsana sang pengantin, jika semalam tamu undangan adalah keluarga besar dari kedua belah pihak maka tamu yang hadir pada malam ini lebih beragam. Rekan-rekan bisnis baik dari Adinata maupun Bamantara berkumpul menjadi satu untuk merasakan kebahagian sang pengantin. Jika Jihane dan sang suami sibuk menyalami tamu yang memberikan ucapan selamat maka berbeda dengan Elina yang harus di seret kesana kemari oleh kakak laki-laki nya untuk menyapa rekan bisnis sang papa yang tak pernah dijumpainya. Meskipun tak suka dengan apa yang tengah dilakukannya, Elina tetap tersenyum saat menyapa rekan-rekan bisnis keluarganya. Sebagai anak seorang pengusaha, Elina sadar bahwa ini sudah menjadi ‘tradisi’ untuk menambah relasi sekaligus menilai seberapa hebat orang-orang yang di anggap rival dalam berbisnis. Dengan senyum tipis yang menghiasi bibir tipisnya menyapa satu persatu orang yang ada dihadapannya, hingga akhirnya dirinya menyapa salah seorang rival bisnis orangtuanya, Dominic Nareswara.
“Jadi ini putri bungsu Adinata, cantik sekali,” puji laki-laki setengah abad itu pada Elina yang kini menatap laki-laki itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Selamat malam paman, terima kasih atas pujiannya,” ucap Elina sopan dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya.
“Ku dengar kau lama tinggal di Swiss, apakah menyenangkan tinggal di sana?”
“Sebuah negara dengan berbagai kota yang tenang, sangat nyaman untuk menenangkan pikiran,” jawab Elina dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibir tipisnya.
“Perusahaan jenis apa yang kau tangani di sana?”
“Mencari informasi melalui diriku? Kau salah target,” batin Elina.
“Aku rasa paman salah paham, aku tidak bekerja dengan perusahaan papa, aku hanya mengelola kafe kecil,” jawab Elina.
“Ahh ternyata kau membuka bisnis sendiri, lalu apakah menurutmu ada perusahaan yang perkembangannya pesat di Swiss? Jujur aku tertarik untuk mengembangkan di sana,”
Senyum Elina melebar ketika mendengar pertanyaan Dominic, sangat terburu-buru pikir gadis itu.
“Ku dengar ada sebuah perusahaan bernama Crystal Corp yang hampir menguasai seperempat sektor ekonomi di Swiss dan baru-baru ini mereka menandatangi kontrak kerja dengan perusahaan asal Korea Selatan White Company,” jawab Elina tenang dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.
“Ternyata kau tahu banyak tentang perusahaan di Swiss, lantas apa kau akan kembali ke Swiss?”
“Crystal Corp sama terkenalnya dengan perusahaan milik paman jadi hampir setiap orang mengetahuinya. Untuk kembali ke Swiss tidak, aku akan kembali menetap di Jakarta paman,”
“Kau ini bisa saja kalau memuji. Apakah kau sudah memiliki kekasih? Kulihat kau serasi dengan putra sulungku, Yohan Nareswara,” ucap Dominic dengan guraunya seraya menatap seorang laki-laki yang tak jauh darinya.
Elina menahan nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari laki-laki dihadapannya.
“Maaf paman, tapi aku telah memiliki kekasih,” jawab Elina sedikit datar.
Jayden yang mendengar jawaban dari sang adik sontak menatap gadis itu. “Kekasih? Apa iya dia memilikinya atau hanya akal-akalannya saja?” batin Jayden berkata.
“Sayang sekali, ku kira kau masih melajang,” ucap Dominic sedikit kecewa.
“Tidak. Aku sudah terikat dengan seseorang. Kalau begitu, semuanya saya permisi,” pamit Elina kepada semua orang dan berkata pada sang kakak bahwa dirinya haus.
Setelah lepas dari obrolan yang membosankan, Elina berjalan menuju meja bundar yang ada di pojok ruangan, jauh dari keramaian. Setelah mendudukkan diri, gadis itu menghirup banyak udara untuk mengurangi sesak yang dirasakannya.
“Bagus Elina, kau mampu menanganinya,” ucap Elina sembar memukul-mukul pelan dadanya.
“Terikat dengan seseorang? Bodoh sekali kau Elina, bagaimana kalau kakak mengadukan pada papa,” gerutu Elina.
“Butuh minuman?” tanya seorang pria yang menyodorkan segelas orange jus padanya.
Elina mendonggakkan kepala lalu menerima gelas itu kemudian meminumnya setelah mengucapkan terima kasih.
‘Perkenalkan namaku Jevano Danendra panggil saja Jevan,” ucap pria itu tiba-tiba yang membuat Elina tersedak.
“Maaf, apa aku mengejutkanmu?” laki-laki bernama Jevano itu memberikan selembar tissu kepada Elina untuk membersikan mulutnya.
“Tidak, aku tidak apa. Danendra tadi katamu?” tanya Elina setelah berhasil menetralkan nafasnya.
“Iya, ada yang salah?”
“Tidak, tidak ada yang salah,”
“Jadi namamu?” tanya Jevan sembari mengulurkan tangannya.
Elina menatap uluran tangan itu dengan ragu sebelum akhirnya membalasnya sembari menyebutkan namanya. “Elina Adinata,”
“Senang berkenalan dengamu Elina, apa aku boleh duduk?” tanya Jevan.
“Oh silahkan,” ucap Elina mengizinkan Jevan duduk dihadapannya.
“Ternyata kau putri bungsu paman Nathan yang lama tinggal di Swiss, maaf aku tak mengenalimu,” ucap Jevan tak enak.
“Tak masalah, lagi pula siapa aku sehingga harus di kenal banyak orang,” ucap Elina santai.
“Ngomong-ngomong kau tinggal di daerah mana selama tinggal di Swiss?” tanya Jevan.
“Geneva, kau pernah ke sana?”
“Geneva? Aku beberapa kali ke sana. Kau tahu ada sebuah kafe yang menyediakan banyak kue lezat. Ku harap kau tahu kafe itu,” ucap Jevan antusias.
“Memangnya apa nama kafe itu?” tanya Elina penasaran.
“Sebentar, ku ingat-ingat dahulu. Namanya sedikit sulit untuk di ingat,” ucap Jevan sembari menyeritkan keningnya mencoba mengingat nama kafe yang dimaksudnya.
“Na ... Navi ...,” ucap Jevan terputus-putus.
“Navillera maksudmu?” tanya Elina.
“Iya itu Navillera, kue dan pasta di sana sangat enak. Jarang aku menemukan kafe kecil yang menyediakan makanan yang enak. Kau pernah ke sana?” tanya Jevan.
“Maaf Jevano, tapi kafe yang kau maksud adalah milikku,” ucap Elina sungkan.
“Milikmu?” tanya Jevan tak percaya.
“Iya, kafe itu kubangun bersama teman kuliahku, di sana hanya ada 1 pelayan laki-laki jika kau ingat, dia adalah temanku dan terima kasih juga telah memuji masakanku enak,” ucap Elina.
“Kau juga yang memasak? Luar biasa. Apa jangan-jangan kita pernah bertemu di kafe itu sebelumnya? Karena semakin lama wajahmu semakin familiar,”
“Mungkin, mengingat hanya aku dan temanku saja yang mengelola kafe itu,” jawab Elina ragu.
“Ah iya aku ingat, satu tahun lalu aku mengunjungi kafe mu dan aku tidak sengaja menabrakmu ketika kau membawa nampan berisi gelas-gelas kotor,” ucap Jevan.
“Oh ya? Maaf sepertinya aku tidak mengingatnya,” ucap Elina.
“Tak masalah. Oh iya kenapa kau tidak bergabung dengan yang lain?” tanya Jevan.
“Aku sudah terlalu lelah untuk menikmati pesta, bahkan jika diizinkan untuk kembali ke kamar aku sudah kembali sejak tadi,” keluh Elina.
“El,” panggil seseorang dari arah belakang Elina.
“Eh, Kar. Kenalkan ini Jevano,” ucap Elina mengenalkan Jevan pada Karina.
Karina menyeritkan dahinya, dirinya merasa ada yang aneh dari Elina.
“Sudah kok, sudah kenal. Ikut aku sebentar yuk El,”
“Kemana?” tanya Elina penasaran.
“Sudah ikut saja,” ucap Karina sembari menarik lengan Elina agar sang sahabat berdiri dari duduknya dan mengikuti langkahnya.
“Duluan Jev,” ucap Karina yang kemudian berlalu meninggalkan Jevan.
Setelah mengikuti langkah Karina, Elina tahu bahwa sang sahabat membawanya kembali ke kamar.
“El,” panggil Karina.
“Hmmm,” Elina hanya mengumam.
“Tumben ngobrol banyak dengan orang asing,” ucap Karina heran.
“Masa sih? Perasaan biasa saja,”
“Ngga El, ini ngga biasa. Ini aneh, kau berbicara banyak dengan Jevano yang baru pertama kali kau temui,” ucap Karina pelan.
Elina menghentikan langkahnya sejenak untuk merenungi ucapan Karina. Karina benar, ini aneh. Tak biasanya Elina mau berbicara banyak pada orang yang baru ditemuinya bahkan mengizinkan orang asing untuk duduk dihadapannya, namun Elina merasa ada yang lebih aneh, dirinya merasa sudah dekat dengan Jevano dan dia merasa nyaman jika berbicara dengan laki-laki itu. Namun ada hal yang terlewatkan untuk disadari oleh Elina, gadis itu terlalu fokus pada kepala hingga melupakan ekor.
Flashback ...
Siang ini suasana kafe milik Elina dan Hendery lebih ramai dari biasanya karena mereka baru saja merilis menu baru yang langsung menjadi incaran pelanggan mereka. Satu orang pergi maka satu orang baru akan langsung mengisi meja yang baru saja kosong. Elina dan Hendery sepakat untuk tidak menyewa pegawai untuk membantu mereka mengelola karena suatu hal yang sangat penting.
Karena terburu-buru ketika membawa nampan yang berisi gelas dan piring kotor, Elina sampai tidak memperhatikan jalan dan alhasil dirinya bertabrakan dengan seorang pelanggan yang baru saja datang. Piring dan gelaspun tercecer di lantai dan untungnya bahan dari gelas dan piring tersebut bukan dari bahan pecah belah jadi tidak ada tragedi tangan terluka namun tetap saja menimbulkan keributan yang menjadikan mereka tontonan bagi pengunjung kafe.
“Maaf, saya tidak sengaja,” ucap Elina dalam Bahasa Inggris dan kemudian berjongkok mengambil piring dan gelas yang tercecer di lantai.
“Tidak masalah, apa ada yang terluka?” ucap pelanggan yang di tabrak oleh Elina sembari membantu Elina.
“Tidak, tidak ada yang terluka. Sekali lagi saya minta maaf,” ucap Elina seraya bangkit dari jongkoknya.
“Lain kali tidak usah terburu-buru,” ucap pelanggan tersebut yang masih dalam Bahasa Inggris yang kemudian berjalan ke arah meja yang kosong.
Flashback End