Jam telah menunjukkan pukul 1 dini hari namun Elina masih tetap terjaga dengan mata yang menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya berkeliling buana memikirkan ucapan peramal tadi.
“Benang merah?” Elina bermonolog sembari menatap kelingkingnya.
“Apa benar ada benang merah di sini? Dendam ? Amarah? Kurasa itu benar. Dendamku begitu besar hingga menyesakkan d**a namun tetap saja aku penasaran dengan ucapan peramal tadi, ishhh kenapa tidak diucapkan secara gamblang siapa pasanganku,” ucap Elina sembari menendang-nendang selimutnya di udara.
“El, tidurlah pagi nanti kau akan ikut Bibi Irene ke restoran miliknya,” ucap Karina setengah sadar.
“Kau terganggu ya, maaf ya,” ucap Elina merasa tak enak karena telah mengganggu tidur nyenyak Karina.
Karena berniat tak ingin mengganggu Karina lagi, Elina memutuskan untuk menyusul Karina menjelajah alam mimpi mengingat jadwalnya pagi nanti sudah menunggu.
Sesuai perkataan Karina pagi tadi Elina kini telah tiba di salah satu restoran sang mama dan tentu saja bersama Irene.
“Tumben sekali mama mengajakku ke restoran,”
“Mama ingin mengenalkan kamu pada pegawai mama,” ucap Irene.
“Tiba-tiba?” Elina bingung.
“Sebenarnya tidak, mama berencana memberikan tanggung jawab restoran ini pada kamu sayang,” jawab Irene.
“Kenapa aku?”
“Karena mama ingin, Jihane sudah memiliki toko kue dan Jayden juga akan mengambil alih perusahaan jadi tidak adil rasanya kalau kamu tidak diberi kepercayaan untuk mengelola bisnis keluarga,” jelas Irene.
Helaan nafas panjang terdengar begitu Irene selesai berbicara.
“Padahal Elina tidak apa-apa kalau tidak diberi kepercayaan untuk bisnis keluarga Mah, malahan Elina senang karena tidak perlu pusing memikirkan provit dan lain-lain,” ucap Elina yang diakhiri dengan kekehan.
“Kamu ini, sudah ayo kita ke kantor,” ucap Irene seraya mengaitkan lengannya pada lengan sang anak dan berjalan menuju lift yang hanya bisa di akses oleh orang-orang tertentu.
Hari berganti siang bertukar malam hingga tak terasa hari yang ditunggu oleh dua keluarga Adinata ataupun Bamantara tiba. Hari pernikahan Jihane Adinata dengan putra tunggal Adipati Bamantara, Adrian Bamantara.
SAH!
“Jihane Adinata resmi menikah dengan Adrian Bamantara.”
Setelah mengumunkan rencana pernikahan beberapa waktu lalu, Jihane Adinata kini sah menjadi bagian dari Bamantara. Mereka berdua melangsungkan pemberkatan pagi tadi di salah satu gereja yang ada di Jakarta Selatan dan diketahui kini pasangan yang baru menikah itu tengah menggelar private party di Neo Hotel. Ucapan dan doa dari warganet mengalir untuk keduanya. Berikut yang berhasil di kutip oleh tim @ anaksultan.
“Selamat untuk Jihane dan Adrian, semoga bahagia selalu,”
“Selamat Jihane, semoga Bamantara junior segera hadir,”
“Jadi Adinata Group diberikan kepada Jayden? Tidak heran karena Bamantara masih jauh di bawah Adinata,”
“Apakah selanjutnya Jayden?”
“Ku rasa si bungsu Adinata yang akan menikah selanjutnya,”
“Selamat atas pernikahannya, semoga langgeng sampai maut memisahkan,”
----***----
Selamat untuk Jihane Adinata dan Adrian Bamantara, semoga Tuhan memberkati.
[Written by Anaksultan]
Waktu terus berlalu dan tanpa terasa hari pernikahan Jihane Adinata dan Adrian Bamantara telah tiba, pemberkataan telah dilakukan secara khitmad pagi tadi di gereja yang hanya dihadiri oleh keluarga kedua mempelai. Nathan Adinata sangat menjaga privasi keluarga sehingga mau tidak mau para awak media menunggu di luar lokasi pemberkatan dan kini dua keluarga besar yang tengah berbahagia itu tengah menikmati private party yang diselenggarakan di Neo Hotel, salah satu hotel milik Adinata. Pesta itu hanya dihadiri oleh anggota keluarga besar dari Adinata maupun Bamantara. Kedua mempelai, Jihane dan Adrian menghampiri satu persatu meja yang ada sembari mengucapkan terimakasih atas kehadiran dan doa dari sanak saudara. Sedangkan sang tokoh utama cerita, Elina sedari tadi hanya duduk menikmati hidangan yang ada sembari menatap satu-persatu keluarga Bamantara yang hadir karena Elina yakin di masa depan akan banyak dari mereka yang menyetorkan wajah padanya.
“Hei El,” sapa seseorang yang baru saja duduk di samping Elina.
“Hai Kak Ly,” sapa Elina pada orang tersebut, Lily calon kakak ipar Elina selanjutnya.
“Tidak menikmati pesta?” tanya Lily sembari mengambil minuman yang ditawarkan oleh waiters padanya.
“Tidak, tubuhku sudah terlalu lelah untuk menikmati pesta kak,” ucap Elina lesu.
“Dimana Kak Jayden? Kenapa kakak sendirian?” tanya Elina ketika tak melihat kakak laki-lakinya bersama sang tunangan.
“Menyapa para Bamantara, biasa bisnis,” jawab Lily.
“Lalu kapan kakak akan menyusul Kak Jihane?” tanya Elina menggoda Lily.
“El ... jujur aku sedih jika di tanya begini. Aku tahu Jayden sangat ingin segera menikah tapi sayang aku masiih terikat kontrak dengan agensi satu tahun. Jika aku memutuskan kontrak sekarang maka akan banyak sekali hal yang harus diatasi, maka dari itu aku meminta Jayden untuk menundanya setahun lagi,” ucap Lily sedih.
Elina jadi merasa bersalah setelah mendengar jawaban Lily.
“Kak ... maaf, aku tak bermaksud membuatmu sedih,” ucap Elina seraya menggenggam tangan Lily.
“Sudah, tidak usah merasa bersalah. Aku sudah terbiasa akan pertanyaan itu El. Jadi santai saja, sekarang giliranku bertanya padamu,”
“Bertanya tentang apa?”
“Kapan kamu akan mengenalkan kekasihmu pada papa dan mama?”
“Ah kakak ... aku tidak memiliki kekasih jadi untuk apa mengenalkannya,” Elina merajuk.
“Yang benar?? Kamu tidak takut dijodohkan oleh Papa jika terus melajang?”
“Ya takut tapi hanya sedikit, selama orang yang dijodohkan denganku adalah orang yang baik dan bertanggung jawab aku tidak keberatan,” jawab Elina.
“Ya sudah kalau memang kamu tidak keberatan jadi kakak tidak perlu khawatir lagi, kalau begitu kakak akan menghampiri Jayden,” ucap Lily yang kemudian bangkit dari kursinya dan menghampiri Jayden.
Baru saja Elina ingin menikmati waktu sendiri sudah ada yang menyapanya lagi.
“Hai,” sapa seorang pria yang dengan lancangnya duduk dihadapannya.
“Sendirian saja?” tanya pria itu yang sayangnya tak mendapat jawaban dari Elina.
“Perkenalkan namaku Hadden Bamantara,” ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya.
Elina hanya menatap datar uluran tangan itu tanpa berniat menjabatnya dan membuat pria itu segera menarik tangannya kembali.
“Elina Adinata,” ucap Elina singkat.
“Tidak bergabung dengan yang lain?” tanya pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Hadden basa-basi.
“Tidak,” jawab Elina singkat.
“Ku dengar kau tinggal lama di Swiss, apakah ada rekomendasi tempat yang bagus untuk dikunjungi?”
“Kau bisa menggunakan jasa biro perjalanan untuk mendapatkannya, permisi,” ucap Elina yang kemudian meninggalkan pria itu dan menghampiri orang tuanya.
Setelah Elina pergi dari hadapannya, Hadden hanya bisa menghela nafas kasar.
Sesampainya di tempat duduk orang tuanya Elina meminta izin untuk kembali ke kamar lebih dulu dan beruntung mereka mengizinkannya dan tak lupa Elina memberi salam pada tuan dan nyonya Bamantara yang duduk satu meja dengan orang tuanya. Disusurinya koridor hotel dengan lesu, Elina tak berbohong tentang dirinya yang lelah, badannya benar-benar lelah setelah mengikuti serangkaian acara pernikahan kakaknya sejak dua hari lalu dan tanpa sadar dirinya menabrak orang yang berjalan berlainan arah dengannya.
“Maaf, saya tidak sengaja,” Elina meminta maaf pada pria yang ditabraknya.
“Tidak apa-apa, sepertinya anda terlalu lelah lebih baik anda segera beristirahat. Saya permisi, selamat malam,” ucap pria yang di tabrak oleh Elina.
“Selamat malam,” ucap Elina sembari menggeser tubuhnya agar tak menghalangi jalan pria itu.
Setelah pria itu cukup jauh darinya, Elina melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Sesampainya dikamarnya Elina bergegas membersihkan diri dan mengganti gaunnya dengan piyama dan tanpa memikirkan apapun Elina langsung menjelajah ke alam bawah sadarnya.
Sementara itu di kamar lain Hotel Neo, seorang laki-laki tengah tersenyum dengan lebarnya menandakan dirinya tengah bahagia.
“Permainan akan segera di mulai. Kuharap dirinya telah menyiapkan yang mental kuat,” ucap laki-laki itu sembari memutar-mutar pelan gelas yang berisi wine.
***