Siang itu jalanan relatif senggang dibandingkan pagi tadi yang cukup padat dengan kendaraan bermotor. Akhirnya pukul 11.30 Elina dan Karina menyelesaikan urusannya di butik Jessica dan Karina memutuskan untuk mengajak Elina makan siang di restoran langganannya. Tiga puluh menit berlalu akhirnya Elina dan Karina telah sampai di restoran tujuan mereka.
“Selamat datang, untuk berapa orang?” tanya seorang pegawai restoran begitu dua gadis itu memasuki restoran.
“Dua orang,” jawab Karina.
“Mari ikuti saya,” Jawab si pegawai dan melangkah menuntun Elina dan Karina menuju meja untuk mereka.
“Silahkan, ini menunya,” ucap si pegawai sembari memberikan buku menu kepada Elina dan Karina.
“Saya teriyaki salmon 1, salad buah 1 lalu untuk minumnya lemon tea 1, “ ucap Elina pada sang pelayan.
“Saya chicken katsu 1, tiramisu cakenya 1 slice lalu untuk minumnya orange jus 1,”
“Baik, saya ulangi lagi untuk pesanannya teriyaki salmon 1, salad buah 1, lemon tea 1, dan untuk mbak chiken katsu 1, tiramisu cake 1 slice dan orange jus 1. Ada tambahan?” tanya pelayan pada Elina dan Karina.
“Tidak mbak, cukup itu saja,” jawab Elina.
“Kalau begitu mohon tunggu sebentar. Pesanannya akan segera dibuatkan, terimakasih.” ucap pelayan tersebut sebelum akhirnya undur diri.
“Kar ...,” panggil Elina pada Karina yang tengah sibuk dengan ponselnya.
“Hmm?”
“Kau merasa tidak kalau dari tadi seperti ada yang memperhatikan kita?” tanya Elina pelan.
“Tidak,” Karina melihat keselilingnya.
“Mungkin orang suruhan papamu,” lanjutnya.
“Bisa jadi sih, papa memang ga pernah berubah. Selalu protektif,” keluh Elina.
“Permisi, pesanannya mbak,” ucap seorang pelayan dengan membawa service stand trolley yang berisi makanan pesanan mereka.
“Terimakasih Mas,” ucap Karina ketika sang pelayan selesai meletakkan semua pesanan mereka di meja.
“Selamat menikmati,” kata pelayan tersebut yang kemudian undur diri.
Di detik berikutnya suasana sunyi hadir di tengah-tengah Elina dan Karina. Gadis-gadis itu terlalu sibuk dengan makanan masing-masing dan melupakan sejenak topik obrolan yang telah mereka siapkan.
“Tugas darimu sudah kuselesaikan, kau akan terkejut mendengar apa yang kudapatkan,” Karina memulai pembicaaraan setelah sekian menit diam guna menikmati makan siangnya.
“Tugas? Yang mana?” tanya Elina bingung.
“Hubungan mereka, darimana mereka mengenal satu sama lain,” ucap Karina
“Ahh, itu ... kurasa nanti saja kita membahasnya. Di sini terlalu banyak telinga,” ucap Elina sembari melirik sekitarnya.
“Baiklah kalau begitu,”
“Setelah ini kita akan ke mana?” tanya Elina setelah menelan suapan terakhir salad buahnya.
“Masih terlalu siang untuk ke festival, bagaimana kalau kita mall?”
“Tidak, akan terlalu lelah kalau jalan-jalan ke mall lalu pergi ke festival. Ah aku baru ingat, antar aku ke suatu tempat ya,” pinta Elina.
“Kemana?”
“Ke tempat mereka,” ucap Elina lirih menyiratkan sebuah kesedihan.
“Baik lah,”
Selanjutnya Elina dan Karina melanjutkan makan siang mereka yang sempat tertunda karena obrolan singkat mereka. Sementara itu di sisi lain Jakarta tampak seorang pria yang usianya hampir mendekati 30 tahun menatap serius ponsel yang tengah digenggamnya.
“Mereka memiliki jadwal ke festival kota tua sore ini tuan.”
“Beritahu aku bila mereka telah menuju kota tua. Setelah itu kau boleh kembali,” ucap pria itu pada sang pemberi pesan yang kini tengah dihubunginya.
“Sampai kapan kau akan menguntitnya?” tanya sosok pria lain yang ada di hadapan pria tadi.
“Sampai dia ada digenggaman ku,” jawabnya setelah mematikan sambungan teleponnya.
“Kau gila,”
“Cinta memang membuat gila bukan?”
“Tapi kau bisa dibunuhnya!”
“Kalaupun aku harus mati ditangannya, aku tak mempermasalahkannya,” ucap pria itu datar.
“Aku tak mengerti jalan pikiranmu.”
Elina dan Karina telah sampai di tempat yang Elina tuju, namun mereka tak menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari mobil.
“Kita tetap di mobil saja Kar, sepertinya benar ada yang mengikuti kita sejak tadi. Dan aku rasa dia bukan orang suruhan papaku, ada orang yang penasaran denganku sepertinya,” ucap Elina dengan menatap kaca spion mobil Karina .
“Maksudmu?” tanya Karina tak paham.
“Mobil itu ... mobil itu telah mengikuti kita sejak kita keluar dari rumahku, dan ingat sekali kemarin aku melihat mobil itu ketika keluar dari bandara,” ucap Elina yang masih menatap kaca spion mobil Karina, melihat mobil berwarna hitam yang di maksud olehnya
Karina yang mendengar ucapan Elina reflek menoleh ke belakang dan benar saja ada mobil berwarna hitam yang berhenti tak jauh darinya.
“Lalu kita harus bagaimana? Kita hampiri saja bagaimana? Kita tanya maunya apa,” usul Karina.
“Jangan, kita tetap berpura-pura tidak mengetahuinya,” cegah Elina.
“Ya sudah kalau mau mu begitu, lalu mau sampai kapan kita di dalam mobil?”
“Tunggu sebentar,” ucap Elina yang kemudian menyatukan telapak tangannya lalu memejamkan mata dan menundukkan kepalanya.
Tahu Elina sedang berdoa, Karina memberikan sedikit ruang dan kemudian ikut melakukan apa yang Elina lakukan.
“Yuk, kita pergi dari sini,” ucap Elina setelah selesai berdoa.
Karina hanya mengangguk dan kemudian menghidupkan mobilnya lalu dari tempat itu dan benar saja mobil hitam yang berhenti tak jauh darinya juga ikut bergerak.
“Kita langsung saja ke festival Kar,”
“Siapp, hey mobil hitam ... mau bermain kejar-kejaran? Let’s go, “ ucap Karina yang kemudian menaikkan kecepatan mobilnya dan tentu saja mobil hitam itu juga menaikkan kecepatannya.
Setelah tiga puluh menit berlalu aksi kejar-kejaran itupun berakhir, menurut Karina. Nyatanya pengemudi mobil hitam itu hanya mengakhiri tugasnya karena tahu Karina dan Elina tengah menuju kota tua.
“Lapor tuan, mereka sudah dalam perjalanan menuju kota tua dan sepertinya mereka sadar akan keberadaan saya. Saya minta maaf.” Ucapnya pada seseorang yang tengah dihubunginya dan setelah itu sambungan telepon itu terputus.
Sementara itu di mobil Karina.
“Akhirnya dia menyerah juga. Siapa sih dia? Kau punya musuh El? Atau jangan-jangan mereka mengetahui tentangmu El?”
“Entahlah. Aku tidak akan ambil pusing olehnya,” jawab Elina lelah.
“Ya sudah kalau begitu ayo turun, kita sudah sampai,” ucap Karina seraya melepas selt belt nya.
“Ramai,” Kata yang pertama keluar dari Elina begitu melihat tempat festival didepannya.
“Ya namanya saja festival pasti ramai. Ayo kita wisata kuliner. Banyak makanan kekinian yang harus kau coba,” ucap Karina seraya membuka pintu mobilnya yang kemudian di susul oleh Elina.
“Wisata kuliner? Tapi kita baru saja fitting kalau gaunnya jadi tidak muat bagaimana?” tanya Elina begitu turun dari mobil.
“Masih ada enam hari untuk diet, jadi tenang aja bungsu Adinata,” ucap Karina sambil terkekeh.
“Sudah jangan pikirankan gaunnya ayo kita coba semua makanan yang ada,” ucap Karina sembari menyeret lengan Elina untuk masuk ke area festival.
Suasana festival kota tua kali masih sedikit sepi karena mengingat jam masih menunjukkan pukul tiga sore. Festival kota tua kali ini mengambil tema kembali ke masa lalu jadi tidak heran banyak stand makanan tradisional yang dimodifikasi menjadi makanan kekinian dan tak jarang pula ada stand yang menjual pernak pernik khas jaman Belanda. Karina mulai mengajak Elina berkunjung ke stand jajanan masa kecil mereka sewaktu sekolah dasar, telur gulung dengan saus tomat yang melimpah. Elina ingat dulu orang tua nya tak mengijinkan dia untuk memakan itu dengan alasan tidak sehat makanya dulu saat ingin beli itu dia menyuruh temannya yang lain untuk membelikannya, Elina terkekeh kecil ketika mengingat kenangan masa lalunya. Puas dengan telur gulung, Karina kini mengajak Elina untuk mendatangi stand es doger, siapa yang tak suka dengan es yang memadukan rasa manis dari s**u, buah alpukat dan rasa creemy dari santan kelapa. Karena asik berkeliling tanpa sadar waktu telah menunjukkan pukul 7 malam dan kini saatnya Karina mengajak Elina ke tujuan utamanya di festival itu.
“Hah? Tarot? Ramalan? Garis tangan? Yang benar saja Karina, kau percaya dengan itu semua?” tanya Elina tak percaya.
Sementara yang di tanya hanya mengedip mata sembari mengangguk kecil.
“Ayooo ini tujuanku mengajakmu ke sini,” ucap Karina sembari menyeret Elina masuk ke tenda yang terlihat misterius dari luar.
Dan begitu sampai di dalam dua gadis itu di sambut oleh seorang wanita setengah baya dengan pakaian serba merah marun.
“Selamat malam madam,” ucap Karina.
“Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?” ucap sang madam.
“Saya dan teman saya mau di ramal madam,” ucap Karina yang sontak mendapat pelototan dari Elina.
“Siapa dulu?” tanya madam.
“Saya madam,” ucap Karina antusias.
Selanjutnya sang madam mulai meraih tangan kanan Karina dan menfokuskan pandangannya pada telapak tangan Karina.
“Kau memiliki kesetiaan yang tinggi namun ada juga rasa utang budi didalamnya. Namun meskipun begitu kau memiliki sifat loyal pada orang yang kau anggap penting dalam hidupmu. Kisah cintamu sedikit menghadapi kerikil, namun itu bukan masalah bagimu,” ucap sang madam.
“Sekarang giliranmu,” ucap sang madam dengan kode untuk melihat telapak tangan Elina.
Dengan ragu gadis itu memperlihatkan telapak tangannya kepada wanita dihadapannya.
“Wow, sangat jarang sekali aku melihat hal seperti ini. Benang merah berwarna merah darah, dipenuhi dendam dan amarah. Terlalu rumit untuk dijelaskan. Kau akan dihadapkan dua pilihan, keraguan akan menghampirimu, hanya hatimu yang dapat menjawabnya,” ucap sang madam sembari memegang kelingking Elina.
“Benang merah?” tanya Elina tak paham.
“Iya El benang merah, benang takdir. Konon katanya orang yang memiliki benang merah itu tanda dia selalu terikat dengan pasangannya baik di masa lalu atau masa sekarang, benarkan madam?”
“Benar, kalau kau meninggal dan terlahir kembali maka pasanganmu akan orang yang sama seperti hidupmu yang dulu dan ini artinya kau terikat kembali dengan pasanganmu dikehidupan sebelumnya hanya saja takdirmu rumit,”
“Maksudnya?”
“Waktu pelayanan telah habis, silahkan isi kotak yang di depan semampu kalian,”
“Terima kasih madam,” ucap Karina kepada wanita itu dan memberi kode pada Elina untuk keluar.
Setelah keluar dari tenda tersebut Elina dan Karina memutuskan untuk pulang namun tepat di depan mobil Elina memanggil Karina, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak keluar tenda tadi.
“Karina,”
“Apa El? Masih ada yang mau di beli?”
“Bukan, bukan itu. Kata madam tadi kesetiaanmu ada rasa utang budi, itu ... bukan ...,” Elina tak mampu melanjutkan ucapannya.
“El, setiaku padamu tulus, sangat tulus. Aku bersyukur tuhan mempertemukan kita, aku jadi merasa mempunyai saudara perempuan dan ya aku merasa utang budi padamu, kalau bukan darah yang kau berikan padaku dua belas tahun lalu mungkin aku tidak akan ada saat ini, maka dari itu aku sangat berterimakasih atas darah yang mengalir dalam tubuhku,”
“Karina ... harusnya kau tak perlu merasa begitu aku ikhlas melakukannya, kau temanku satu-satunya kita selalu bersama sejak kecil aku akan sedih kalau pada saat itu aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkanmu,” ucap Elina dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sudah jangan menangis. Kita sama-sama bersyukur karena tuhan mempertemukan kita. Jadi kalau kau mengalami kesulitan jangan sungkan untuk menghubungiku, aku akan membantu mu,” ucap Karina sembari memeluk Elina.
“Kau juga sama, kalau kau menghadapi masalah beri tahu aku, apalagi kalau Brian macam-macam padamu akan ku hajar dia,” ucap Elina sembari melepaskan pelukan Karina.
“Iya iya , ya sudah ayo pulang, malam ini aku akan menginap,”
Akhirnya sepasang sahabat itu memutuskan untuk pulang setelah lelah berkeliling Jakarta namun tanpa Elina sadari sejak dirinya masuk area festival ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak-geriknya dari jauh. Tatapannya lembut selalu lembut ketika menatap Elina dari kejauhan.
***