Dewi mengernyit saat dadanya tiba-tiba terasa sakit. Rasanya seperti ada jarum yang menusuknya tajam. “Ada apa?” Steven memergokinya. Dia menatap Dewi khawatir. “Ada yang sakit?” tanyanya, dengan raut yang terukir cemas. Dewi mencoba mengatur napasnya, menarik dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. “Kita masuk aja yuk, aku takut kamu kedinginan di sini,” usul Steven. “Aku enggak pa-pa,” ujar Dewi, perlahan rasa sakit itu lenyap dari dadanya. “Tapi barusan kamu—” “Tadi dadaku cuma agak nyeri dikit, tapi sekarang udah hilang,” kata Dewi. Steven menghela napasnya pelan. “Ayo masuk ke dalam,” ajaknya. “Aku masih mau di sini,” cakap Dewi, tangannya memegang erat cup mie instan yang masih terasa hangat. “Seharusnya aku enggak bawa kamu ke sini,” ujar Steven, dia kembali duduk di samp

